Brother & Sister [Chapter 15]

 Brother and sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 15]

Genre : Family, Fluff, Romance

Length : Chapter

Rating : T

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

 

 Brother & Sister [Chapter 1] | Brother & Sister [Chapter 2]|Brother & Sister [Chapter 3] |Brother & Sister [Chapter 4]|Brother & Sister [Chapter 5]Brother & Sister [Chapter 6] | Brother & Sister [Chapter 7]Brother & Sister [Chapter 8] | Brother & Sister [Chapter 9] | Brother & Sister [Chapter 10] | Brother & Sister [Chapter 11] | Brother & Sister [Chapter 12]Brother & Sister [Chapter 13] | Brother & Sister [Chapter 14]

Trailer Fanfic Brother & Sister

CHAPTER 15

Langit biru tampak menampakan kecerahan dipagi hari, Jieun dan Mark pun seperti biasa rutinitas mereka berangkat sekolah. Hingga kali ini keduanya sudah berada didepan gerbang sekolah dan memasuki halaman sekolah, begitu jelas murid yang lain pun bergegas menuju kelas mereka masing-masing.

“Pagiiii” seru seseorang dengan riang dan berada disamping Jieun, spontan Mark dan Jieun menatap orang tersebut yang tidak lain tidak bukan adalah Jungkook seraya kembali berkara “Pagi ini tampak begitu cerah, benar?” tak pelak ia pun menatap kearah Jieun.

Jieun mengerjap kedua matanya “Ne sangat cerah” ujar Jieun yang tersenyum malu pada Jungkook, lain halnya dengan Mark menatap heran pada Jungkook.

“Jieun-ah, Mark. Aku kekelas duluan” ujar Jungkook yang berjalan lebih dulu, namun sesaat ia memutar tubuhny menatap Jieun “Jieun-ah kutunggu dikelas, arasseo” disambut senyuman dan anggukan Jieun.

Menyaksikan hal tersebut Mark mengerutkan keningnya “Kalian berdua sudah berbaikan?” Tanya Mark

“Ne…” jawab Jieun dengan sumringah

“Kalian tidak sedang membuat drama dibelakangku kan?” Tanya Mark membuat Jieun mengerutkn keningnya tak paham.

“Maksudmu?”

“Kalian tak menusukku dari belakang kan?”

“Mwo? Maksudmu?” Jieun tampak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mark padanya.

Helaan napas pun tak luput dari Mark “Aku merasa ada yang berbeda dari kalian. Ya, meski kalian sudah berbaikan jangan harap aku mengijinkannya berpacaran denganmu.” Tekan Mark membuat Jieun menelan ludah dalam-dalam.

“Ya, apa yang kau bicarakan kkkkk” Jieun tertawa renyah dengan ucapan Mark.

Lain halnya dengan Mark yang justru menatap Jieun “Aigo, apa tidak jelas aku memperingatkan kau layaknya seorang kakak yang harus menjaga adiknya dari seorang pria asing”

“Ya, Jungkook bukanlah pria asing” protes Jieun, namun ditatap tajam oleh Mark membuatnya diam membeku dan mengerjapkan kedua matanya, seraya berjalan mendahului Mark seolah tengah menutupi sebuah rahasia.

Mendapati hal ini Mark sedikit bergumam “Mencurigakan”.

^^^^

Jieun tengah menikmati makan siangnya dikantin, tampak hal yang biasa untuk seorang Jieun bahkan hal ini sudah menjadi rutinitasnya diwaktu istirahat. Hingga Jungkook duduk tepat dihadapannya “Ya, sudah kukatakan kekantin bersama. kau justru pergi duluan” ujar Jungkook menatap Jieun dengan kecewa.

“Mian, lagi pula kau akan menyusulku kekantin bukan?” ujar Jieun sedikit terkekeh dengan ucapannya.

Jungkook tersenyum kecil dibuat tak percaya dengan ucapan Jieun “Aigo, geu yeoja” Jungkook justru mengacak lembut rambut Jieun dan kembali berkata “Tentu aku akan menyusulmu, mana tahan diriku jika tak melihatmu”

Jieun mengerjapkan kedua matanya “Ya, kau menggodaku?”

“Aniyo, aku berkata sejujurnya” ujar Jungkook sukses membuat Jieun sedikit tersipu “Lagi pula, apa salahnya jika aku menggodamu”

Jieun cukup menelan ludah mendengar ucapan yang terlontar dari Jungkook, bahkan mendapati sikap Jieun justu Jungkook tersenyum kecil “Uri….” belum sempat Jungkook melanjutkan ucapannya dan ketika ia ingin meraih tangan Jieun yang berada dimeja.

Tiba-tiba Mark datang begitu saja dan duduk disamping Jieun “Tampaknya makan dikantin jauh lebih asik dibanding diatap” serunya seraya menyantap bekal.

Mendapati hal ini  spontan Jungkook mengurungkan niatnya dan menghelakan napas. Sedang Jieun menatap tajam Mark “Ya, Markeuuu” tekan Jieun.

“Waeyo? Apa aku tak boleh makan disini? Apa kalian merasa ternganggu?” ujar Mark menatap horror kearah Jieun, menyadari tatapan tersebut Jieun menelan ludah dalam-dalam. Bahkan seketika Jieun dan Jungkook bertatapan satu sama lain.

“Ghwencanayo, kami merasa tak terganggu ” ujar Jieun mengelengkan kepalanya.

Mark hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Jieun yang terdengar canggung, namun ia sadar Jungkook tengah menatapnya tajam “Kenapa menatapku seperti itu? Kau menyukaiku? ” gurau Mark

“Isssshh namja ini” desis Jungkook yang langsung menyantap makanannya, Jieun mengelengkan kepalanya dengan tingkah dia pria ini.

*****

Bell pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, tak pelak para murid sudah berkeliaran keluar gerbang. Sama halnya dengan Jieun dan Mark yang tengah berjalan menuju halte bus, namun tiba-tiba seseorang mensejajarkan langkahnya dengan mereka. “Eoh Jungkook-ah” seru Jieun mendapati Jungkook berada disampingnya dan Mark tampak menatap tajam Jungkook.

“Kita pulang bersama, ghwencana? ” tanya Jungkook

Jieun tersenyum sumringah “Tentu”

“Andhwae” secara bersamaan Jieun dan Mark berucap membuat Jungkook terheran dan Jieun menatap Mark.

“Rumahmu tak searah dengan kami” ujar Mark

“Memang”

“Lalu? “

“Aku ada urusan”

“Urusan? Dengan Jieun maksudmu?”

“Ya,Markeuuu! Neo… ” belum sempat Jungkook ingin beucap Jieun yang cukup frustasi dengan perdebatan kedua pria ini dihadapannya, ia memotong pembiraan Jungkook.

“Ya, geumanhae!  Apa hal sekecil ini harus kalian ributkan? Aku malas mendengar perdebatan kalian. lebih baik aku ke cafe membeli amiricano” ujar Jieun membuat keduanya terdiam dan meninggalkan kedua pria ini.

Sadar akan ucapan Jieun, sontak keduanya mengejar Jieun “Kau tunggu saja didepan, aku akan membelikanmu Americano” ujar Jungkook

“Andhwae, biar aku yang membelikanmu” ujar Mark tak mau kalah.

Jieun tak tahu harus berkata apa “Terserah” hanya kata itu yang keluar menunjukkan rasa frustasinya pada dia pria ini.

Sedang Mark dan Jungkook tampak bertukar tatap dalam hitungan detik keduanya berdulu-dulu memasuki caffe tersebut “Ya sebaiknya kau tunggu didepan saja, aku yang akan membelikannya” kata Jungkook

“Tidak, kau saja yang diluar” sahut Mark

Keduanya tampak berdebat sambil memasuki caffe dan Jieun benar-benar tak ingin perduli dengan kedua pria itu.  Ia memilih berdiam diri didepan caffe,  hingga Tanpa sengaja ia mendengar rintihan seseorang dari gang kecil dekat caffe ini, gang yang memang tak terjamah oleh orang.

“Kau tahu sudah lama aku ingin melakukan hal ini padamu” ujar seorang gadis, ucapan tersebut terdengar jelas ditelinga Jieun. Namun ia tak bergeming tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, maka dari itu ia memilih diam.

“Kau pikir kekuasaanmu itu akan bertahan lama? Hey, aku tahu latar belakangmu sebenarnya. Kau bukan anak kandung dari orangtua mu itukan? “

“Ottokhe? ” terdengar nada suara yang bergetar,  entah kenapa jieun merasa tak asing dengan suara gadis tersebut.

“Mau disembunyikan seperti apapun bangkai akan tercium juga bukan? Hahahah” tawaan tampak meledak dari gang “selama ini kau mengumbar kekuasaan yang bukan milikmu, itu benar-benar lucu. Tidak sadar sudah berapa banyak korban, karena ulah kekuasaanmu. Nyaris saja aku tak dapat bersekolah lagi karena ulahmu, namun berkat mantan kekasihmu itu aku dapat diterima disekolahan.  Kau tak tahu bukan mantan kekasihmu itu adalah penolong dari sikap burukmu, aku benar- benar muak terima ini”

BUGGG

“Arggt” suara pukulan dan rintihan terdengar jelas ditelinga Jieun, spontan ia merasa geram mendengarnya. Ia tahu ikut campur urusan orang lain tak baik, tapi ia tak tahan mendengar suara rintihan. Seketika jieun me gang kecil tersebut dan….

 Jieun membulatkan kedua matanya mendapati Yoora yang tampak tak berdaya, bahkan segerombolan gadis yang entah datang dari mana dan seragam berbeda menandakan dari sekolah lain. “Kau, harus menerimanya lagi Kang Yoora” telrihat jelas sang ketua ingin meninju Yoora.

“YA HENTIKAN KALIAN” seru Jieun membuat tangan sang ketua tertahan.

“Ya siapa kau!  Jangan campuri urusan kami”

“Jika kalian mencoba memukulnya lagi, ini sama saja tindakan kekerasan dan aku melihat semuanya. Akan ku telpon Polisi” ujar Jieun yang siap menelpon Polisi.

“Aisshhh geu yeoja, kajja kajja” ujar sang ketua merasa takut jika Jieun menelpon Polisi dan pergi begitu saja.

Jieun merasa lega karena segerombolan gadis itu sudah pergi, ia justru teralih kearah Yoora yang tergeletak dan berusaha bangkit. “Yoora, kau tak apa? ” Tanya Jieun seraya meraih tangan Yoora untuk membantunya bangun.

Namun Yoora menepisnya “Jangan sok untuk perduli” ujarnya yang bangkit sendiri.

“Yoora bibirmu berdarah, sebaiknya lukamu diobati dulu” Jieun cukup khawatir dengan luka Yoora, namun lagi-lagi ditepis oleh Yoora dan kali ini ia justru menatap tajam Jieun.

“Kau mendengar semua percakapanku dengan gadis sial tadi? ” Tanya Yoora membuat jieun terdiam karena Jieun sadar akan percakapan tadi tak patut diungkap kembali “Ya, kau dengarkan!?! ” Teriak Yoora

Jieun menghelakan napas beratnya “Aku mengerti perasaanmu Yoora, selama ini kau bersikap seperti itu karena kau tertekan. Sebenarnya yang butuhkan hanya kasih sayang dan ketulusan, kau bersikap seperti itu untuk menerima perhatian dari orangtuamu bukan dan sebenarnya kau pun tak inginseperti itu”

Yoora tercengang dengan ucapan Jieun, entah kenapa air matanya jatuh begitu saja.  Namun “Ya kau tau apa tentang aku? Jangan sok mengenalku” tekan Yoora bahkan tak segan ia mncengkram kerah Jieun dan didorongnya Jieun pada dinding.

“Lepa… paskan” pinta Jieun karena ia cukup kesulitan bernapas, Yoora tampak tak perduli.

“Kau.. selalu.. melampiaskan kemarahanmu pada orang lain.. apa.. itu.. tak.. melelahkan?” Ucap Jieun terbata,  Yoora hanya diam saja menatap Jieun “Kau.. pasti.. sangat.. lelah” kembali Yoora tak bisa berkutik akan ucapan Jieun, bahkan sangat kelas mata Yoora yang sudah berlinang.

Tak ingin memperdulikan Yoora berkata “Semua yang kau dengar tadi, jangan katakan pada siapapun, aku tak segan akan melukaimu” ancam Yoora dan Jieun berusaha melepaskan tangan Yoora.

“Agggt” rintih Jieun

Namun tiba-tiba seseorang mencengkram tangan Yoora “Hentikan tindakan bodohmu ini Kang Yoora”

“Jungkook-ah” sadar Yoora yang mencengkram tangannya.

“Jieun-ah gwhencana? ” ujar Mark yang meraih Jieun ketika terlepas dari cengkaram Yoora.

“Ghwencana” jawab Jieun sedikit parau

“Kang Yoora, kau… ” Mark benar-benar geram dengan tindakanYoora dan ingin memberi peringatan, tapi Jieun menahan Mark alhasil diurungkan niatnya.

Jungkook pun tampak kesal dengan tindakan Yoora, ia menatap Yoora yang  masih menunduk “Kau tau tindakanmu dapat melukai Jieun, kau… ” belum melanjutkan ucapannya Yoora yang kali ini menatap Jungkook sendu, ia tediam dengan kondisi luka diwajah Yoora. Tak ada kata yang keluar dari mulut Jungkook, ia melepaskan tangan Yoora.

“Jungkook-ah” lirih Yoora

“Pulanglah dan obati lukamu” ujar Jungkook

“Antarkan aku” pinta Yoora

“Mian” Jungkook justru teralih kearah Jieun dan membantu Jieun berdiri.

“Jungkook-ah, sebaiknya kau antar Yoora pulang. ” kata Jieun membuat Jungkook menatapnya “Ghwencanayo, Jinjja ghwencana” seakan paham tatapan Jungkook.

Saat itu mau tak mau Jungkook menuruti ucapan Jieun dan membantu Yoora berjalan seraya mengantar pulang.

Sedang Mark hanya diam saja namun ia menatap Jungkook dan Jieun sedari tadi  ‘apa aku sedang menonton sebuah drama’ batin Mark disaat seperti ini sempat-sempatnya berpikir demikian.

####

“Sudah selesai, aku pulang” ujar Jungkook setelah mengobati luka Yoora dan bangkit dari duduknya diruang tengah kediaman Kang.

Namun Yoora menahan tangan Jungkook “Temani aku” pinta Yoora

“Aku tak bisa” Jungkook melepaskan genggaman Yoora.

“Kau benar- benar sudah berubah Jungkook-ah” Tanpa berkata apa-apa Jungkook hanya menatap Yoora “Apa kau sudah tak menyukaiku? “

“Ne… ” kata itu keluar begitu saja dari mulut Jungkook

“Gheotjimal, mantan kekasih yang selalu membantuku dari belakang benarkah sudah tak menyukaiku? ” penuh penekanan Yoora berucap.

“Waeyo?  Apa aku tak boleh menyukai orang lain? Bukankah kau tak pernah melihat kearahku” ujar Jungkook dan menatap tajam “Kau tahu perasaan lelah lah yang membuatku mengakhirinya dan membuka hati untuk orang lain” Tanpa menunggu respon Yoora, saat itu juga Jungkook meninggalkan Yoora.

Namun seketika Yoora memeluknya dari belakang “Gheotjimal, gheotjimalyo” isak Yoora dengan lirih

“Mian, aku sangat menyukainya, Sangat menyukainya” Jungkook melepaskan tangan Yoora yang melingkar di perutnya dan meninggalkan Yoora.

#####

*LINE ~

Tampak terdengar jelas suara tersebut dari ponsel Jieun, ia hanya tersenyum mendapati chat singkat.

(Jungkook)

Jinjja ghwencana my bae?

 

(Jieun)

Tentu setelah menerima chat darimu kkk

Bagaimana dengan Yoora?

 

(Jungkook)

Baik-baik saja

Dia tadi memelukku

 

(Jieun)

Ughh maksudmu apa berkata seperti itu

 

(Jungkook)

Hanya ingin memberitahumu

Dan jujur padamu

 

(Jieun)

Kau jujur atau ingin membuatku cemburu

Menyebalkan

 

 

(Jungkook)

Dua-duanya hahahaha

Besok sepulang sekolah jangan pulang dengan Mark

 

(Jieun)

Waeyo?

 

(Jungkook)

Aku ingin berkencan denganmu

Seketika Jieun terdiam dan tersipu malu mendapati chat ini, namun Tanpa sadar seseorang memperhatikannya “Kau sudah gila tersenyum dengan ponsel” ujar Mark yang berada disampingnya , mereka berdua memang tengah menonton tv bersama.

Jieun tampak tak perduli, ia justru kembali berpusat pada ponselnya dan membalas chat Jungkook.

(Jieun)

Ugggh Mark tak akan membiarkanku pergi begitu saja ketika pulang sekolah.

 

(Jungkook)

Aisshh pria itu menyebalkan sekali

Selalu saja…

Arggt Mark

 

“UHUKK UHUKK” seketika Jieun mendengar seseorang yang terbatuk, dan tampak jelas Mark terbatuk ketika ia meminum “Ahh tampaknya ada yang membicarakanku, tenggorokanku ahh” gumam Mark menuju toilet

Mendapati hal itu Jieun menahan tawa Karena cukup jelas di chat Jungkook menyebut nama Mark.

(Jieun)

Mark tersedak

Kau membicarakannya

 

(Jungkook)

Jinjja

Hhhahahaha

Mari membicarakannya Mark Mark mark

Tak dapat dipungkiri ia tak dapat menahan tawa membaca chat Jungkook, pria satu ini memang terkesan lucu.

“UHUK UHUKKK” kembali terdengar suaraa batuk yang memang berasal dari seorang Mark “Eomma, sedari tadi aku terbatuk. Tampaknya aku gangguan tenggorokan” kata Mark

Mendengar itu tawa Jieun meledak “HUAHAHAHAHAH”

Mendapati tawaan Jieun, Mark menatap tajam “Kakakmu sedang menderita kau justru tertawa, adik kurang ajar. Terima ini”  seketika Mark melempar wajah Jieun dengan bantal, membuat Jieun diam membeku dan tak bertahan lama Jieun kembali tertawa “HUAHAHAHHA”

“Sial” umpat Mark

****

Jieun yang berada dibelakang Mark tengah berjalan menaiki anak tangga,  hingga Jungkook menggenggam erat jemari tangannya dan sontak Jieun menoleh. Ia ingin berucap namun Jungkook menaruh telunjuknya dibibir Jieun agar Mark tak sadar akan kehadirannya, alhasil Jieun hanya mengangguk mengerti.

“Bogoshipeo~” bisik Jungkook ditelinga Jieun.

“Nado~” balas Jieun membuat keduanya tersenyum.

Namun tiba-tiba “Ya Jieun. Buku catatan sejarahku ….” Ucapan Mark terhenti begitu saja ketika mendapati Jungkook yang berada disamping Jieun “Sejak kapan kau datang?  Dan genggaman tanganmu itu?  Maksudmu apaaaa? ” Tanya Mark bertubi-tubi penuh dengan penekanan.

Jungkook hanya tersenyum “Uri.. ” belum selesai bicara, mulut Jungkook sudah dibekap oleh Jieun dan ia melepaskan genggaman Jungkook.

“Hahaha , bukumu ada padaku..  Ini” kata Jieun menyerahkan buku catatan Mark “aku harus buru-buru” lanjut Jieun dan meninggalkan dua pria ini.

Namun kedua pria ini justru saling bertukar tatap tajam “Kau jangan menggenggam tangan Jieun lagi” ujar Mark memberi peringatan pada Jungkook.

“Waeyo?  Akhir-akhir ini kau sangat sensitif jika aku dekat dengan Jieun. Kau cemburu? Apa kau menyukainya? ” tanya Jungkook

“Ya!  Jangan berbicara sembarangan kau, tak mungkin aku menyukainya” ujar Mark

“Lalu? Kenapa kau bersikap seperti ini, ada hubungan apa sebenarnya kau dan Jieun?” Tanya Jungkook seakan memancing Mark agar jujur padanya mengenai persaudaraan mereka.

Mark diam saja tak menjawab ucapan Jungkook “Ahh tampaknya bell masuk akan berbunyi” ujar Mark mengalihkan pembiraan dan meninggalkan Jungkook, mendapati ini Jungkook hanya tersenyum tipis.

####

Siang hari madding sekolah dibuat heboh dengan artikel ‘Kang Yoora anak adobsi keluarga Kang.’ Semua murid berdesakan melihat artikel tersebut.

Jieun, Mark dan Jungkook yang bingung dengan keramaian lobi sekolah,  tak mungkin juga jika melihat kearah madding yang penuh dengan siswa-siswi lainnya.

“Jadi kang yoora bukan anak kandung keluarga Kang? “

“Daebak selama ini dia sangat berkuasa, rupanya hanya anak adobsi”

“Heol~ tampaknya ia sudah berakhir”

Ucapan yang lain terdengar kelas ditelinga Jieun, Mark dan Jungkook. Terutama Jieun “Seolma~ siapa yang menyebarkan hal itu” gumam Jieun meremas jemarinya,  ia paham perasaan Yoora. Saat itu juga Jieun ingin kearah madding, namun ditahan Mark.

“Apa yang ingin kau lakukan? “

“Tentu saja merobek artikel itu, ini melukai perasaan Yoora”

“Kau… ” spontan Mark dan Jungkook berucap demikian,  seakan tak percaya dengan ucapan Jieun.

Jieun tampak tak perduli, belum sempat Jieun berjalan ke madding  terlihat jelas Yoora yang menerobos madding.

“Lihat orangnya datang”

“Jika aku jadi dia, aku akan malu sekali. Kekuasaan yang selama ini dibanggakan ternyata bukan asli miliknya”

“Heol anak adobsi”

“ARRRGGTTT HENTIKAN KALIAN MEMBUATKU MUAK” teriak Yoora seraya merobek artikel mengenainya “Siapa yang melakukan ini,  KATAKAN? “

“Lihat dia meluapkan emosinya” bukan jawaban yang diterima Yoora, justru ia semakin dikucilkan “Jika kau tahu pun,  apa kau masih mau menggunakan kekuasaan yang bukan milikmu?  Lucu sekali kau” timpal beberapa temannya.

Tanpa berkata apa-apa Yoora meninggalkan kerumunan madding, namun sesaat ia terdiam dan menatap kearah Jieun.  Ia hanya menatap tajam dan berlalu pergi, mendapati hal itu Jieun pun spontan mengejar Yoora.

Menyaksikan itu Jungkook dan Mark tampak mengerti dengan sikap Jieun yang perduli terhadap teman. Mereka membiarkan Jieun yang ingin menenangkan Yoora,  disisi lain dua orang tengah tersenyum puas dengan keadaan sekolah saat ini.

Jieun melewati lorong kelas mengikuti langkah Yoora, namun sosok tersebut tak terlihat lagi. “Kemana perginya dia” gumam Jieun dan sebuah pesan singkat diterima oleh Jieun.

(Kang Yoora)

Temui aku digudang belakang sekolah, kita bicara

Jieun mengerutkan kening,  namun tampaknya Yoora membutuhkan teman untuk bersandar.  Tak ada firasat buruk baginya bertemu dengan Yoora, ia justru berlari menuju belakang sekolah.

Tanpa disadari Jieun, Yoora tengah bersembunyi dibalik dinding lorong kelas.

####

Kelas 3-A disibukkan dengan buku paket mereka,  namun mata Mark dan Jungkook terus menatap kearah pintu. Dimana setelah bell istirahat Yoora dan Jieun belum kembali, terlebih kedua teman Yoora pun tampak tak ada dikelas.

“Ada yang tak beres” gumam Mark dan bangkit dari kursi, ketika Mark hendak ingin berjalan. Yoora memasuki kelas dengan diikuti kedua temannya, saat itu juga Mark menahan lengan Yoora “Jieun eoddi? “

“Molla,  tadi ia mengatakan ingin me toilet.”

“Jinjja? “

“Kalau kau tak percaya, tanyakan saja pada mereka berdua” ujar Yoora terarah pada dua temannya Hana dan Sara.

Tak ada ucapan dari Mark,  ia justru melepas tangan Yoora. Sedang Jungkook  menatap Yoora yang baru duduk dikursinya, meski ia mendengar percakapannya dengan Mark entah kenapa perasaan buruk menyeruak begitu saja.

Yoora hanya tersenyum kecut mendapati Mark dan Jungkook dengan wajah khawatir. Sebenarnya….

Jieun sudah berada di gudang bersama Yoora, sesuai pesan singkat yang diberikan Yoora tadi.

“Yoora-ya… ” belum sempat melanjutkan ucapan Jieun.

Plakk

Sebuah tamparan pedas mengenai pipi Jieun “Wae? ” tak percaya dengan perlakuan Yoora.

“Seharusnya aku bertanya padamu, kenapa kau nenyebar semua itu. Hah?  Sudah kukatakan padamu agar tak menyebarkannya ” Tanya Yoora penuh penekanan

“Aku tak menyebarkan semua itu” ujar Jieun membela diri dan memang  benar adanya bukan Jieun yang menyebar tentang Yoora.

“Gheotjimal, ingat ucapanku waktu itu? Kau harus menerima semuanya Jieun” Yoora mendorong Jieun hingga ia tersungkur kelantai. Saat itu juga Yoora keluar dari gudang dan menguncinya,  menyadari hal tersebut Jieun langsung terbangun.

“Yoora buka pintunya” pinta Jieun

“Aniyo, sudah kukatakan jika kau menyebarnya aku tak segan akan membuatmu terluka. Tampaknya kau pun harus bermalam disini Jieun” kata Yoora

“Bukan aku yang melakukannya” ujar Jieun sambil memukul pintu gudang.

“Berisik sekali, kau harus menikmati ini” Yoora melemparkan gas air mata pada sela atap pintu gudang.

“Ige mwoya?? ” pekik Jieun dan sadar itu gas air mata dan asapnya kian menyebar “Uhuk.. Uhuk… Yoora bukan pintunya kumohon” Jieun mengegedor-gedor pintu.

“Yoo..  ra..  je.. bal.. ” ujar Jieun mulai terbata

Yoora yang masih ada didepan pintu diam saja,  kedua temannya hanya menatap Yoora.

“Yoo… ra… buka.. pin… tu.. ” napas Jieun kian melemah, karena asap gas airmata semakin membuat sesak “Yoo..  ” tak mampu berkata Jieun tersungkur jatuh tak sadarkan diri.

Mengingat itu Yoora hanya tersenyum tipis,  entah apa yang ada dipikirannya namun ia merasa puas.

###

TBC

Preview Chapter 16

“Sebaiknya kau mengaku saja Yoora”

“Sebenarnya gas airmata itu Yoora yang melakukannya… “

“Tindakan bodoh apalagi yang kau lakukan pada Jieun,”

“Jika terjadi sesuatu pada adikku,  aku tak segan akan menuntutmu”

****

“Kenapa kau tak pernah jujur akan persaudaraanmu dengan Jieun” ujar Jungkook

“Yogiyo, bisa kau lepaskan genggaman tanganmu pada Jieun. Aku tak suka jika ada namja yang asal mengenggam tangan adikku”

****

“Tidak adil, seharusnya dia dikeluarkan. “

“Dia meliburkan diri, katanya ingin menjaga kau. Sama seperti namja ini”

“Jungkook?”

“jadi ia menginap dirumah dan tidur bersama Mark”

***

(Eomma)

Mian, uri adeul. Hari ini eomma dan appa akan pulang terlambat, ada beberapa hal yang harus kami urus dipengadilan.

“Mereka mengatakan tak akan melakukannya, tapi sekarang dipengadilan. Penghianat”

***

“Jebal ahjjusi,  kami mencari orangtua kami. Mereka akan bercerai dan kami harus menghentikannya”

***

“Ya angkat kedua tangan kalian”

“Ya Jeon Jungkook, kenapa kau disini? “

“Ghwencanayo Chagiya… “

“MWOOOO?  CHAGIYA?”

“YAK!  BERHENTI MEMANGGILKU HYUNGNIM”

***

 

“Aiiishhhh”

“Kenapa harus namja ini yang keluar? “

“Kenapa harus namja ini yang datang? “

“Kajja, kencan tak boleh hanya berdua. Harus ada orang ketiga”

#EPILOGUE

6 bukan kemudian

A/N:: Maaf ya sekali lagi saya baru bisa post sekarang, part ini kedikitan kah?

Kalau begitu jika dipart ini mencapai komen 20 baik di Blog maupun di page Facebook. Kemungkinan besar hari minggu saya post last chapter [Chapter 16]. Gimana ? saya tunggu komennya terima kasih teman-teman blogger sudah mau menunggu lama Fanfic ini.

14 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 15]

  1. huwaaa akhirnya dilanjut juga,udah nunggu lama.. mark suka sama jieun kah? jadi over protect sama jieun.. aku tunggu nextnya, yah beneran itu ortu mark jieun mau cerai??? semangat!

  2. finally authornya update,,udah lama banget thor sampe agak lupa ceritanya…makin kesini makin seru thor…heran sama si yoora nggak tobat2 berharap endingnya mark gak sama siapa2 hehehe thanks thor buat updatenya

  3. naaaah akhirnya update lagiii :”’) sudah lama ku menunguuuu huhuhu
    ayooooo jieun-mark 😍 kkk
    jangan kelamaan lagi post-nya thor 😂😂😂

    fighting

  4. apa ff ini bakalan END thor? knpa orgtua mereka mau cerai? apa demi anak2’a? aku suka Jungkook-Jieun pacaran. aku harap Mark tetap jadi kakk jieun. dan gak rela bgt klu jungkook balikan ama yoora si wanita rubah.
    #maaf baru komen dan like thor, soalnya baru baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s