You Don’t Know Love [Chapter 1]

poster-you-dont-know-love-copy

Author : Kim Raemi

Tittle : You Don’t Know Love [Chapter 1]

Genre : Romance, AU, Angst

Length : 2Shoot

Summary : “Jungkookie” seruan itu tampak tak asing lagi untuk Jungkook, namun karena sikapnya semua berubah begitu saja. Tak pelak ia pun begitu merindukan seruan tersebut.

A/N : Maaf saya tidak membawa FF B&S, ini Fanfic lama yang sudah saya buat tapi belum saya post. Buat melepas rindu sama KookU jadi saya post, selamat membaca ^^

Cast :

  • Lee Jieun / IU
  • Jeon Jungkook
  • Kim Seokjin / Jeon Seokjin
  • Choi Junhong

[Trailer Fanfic] You dont know love (Jeon Jungkook and IU)

Harum aroma sayuran segar begitu menyengat pada dapur ini. Dimana seorang wanita tengah disibukkan dengan satu kotak bekal makanan, potongan kimbab buatannya sudah tertata rapi pada kotak makan tersebut.  “Aigo Jieun, kau membuat bekal untuknya lagi?” ujar seorang wanita sambil memakan salah satu kimbab buatan Jieun yang memang sengaja ia sisihkan untuk dicicipi.

“Tentu saja eomma, bagaimana rasanya enak tidak?” Tanya Jieun pada ibunya.

Ibunya memutarkan bola matanya dan mengembangkan senyuman “Tentu saja makanan buatan Jieun ku selalu enak.” Terang ibunya membuat Jieun tersenyum puas “Walau kau berpenampilan tidak layaknya seorang wanita, tapi harus ku akui kalau kau jago memasak.”

Senyuman Jieun luntur begitu saja mendegar ucapan ibunya dan ia mengerucutkan bibirnya. Memang benar adanya seorang Jieun berpenampilan tomboi, ia tidak pernah menggunakan rok atau gaun. Baginya celana jeans dan T-shit sudah nyaman dikenakannya. “Ugh memangnya kenapa dengan penampilanku?”

“Apa kau tidak bercermin atau cermin tidak ada dikamarmu?” sindir ibunya kembali Jieun mengerucutkan bibirnya “Bagaimana dia mau menyukaimu jika penampilan kau seperti ini terus” lanjut ibunya yang sering mengomentari penampilan Jieun.

“Jika ia menyukaiku, ia harus menerimaku yang seperti ini.” ujar Jieun

Ibunya sedikit terkikik, namun sesaat ia menatap Jieun sulit diartikan “ Tapi apa kau benar-benar menyukainya? Jeon Jungkook?” Tanya ibunya sedikit ragu menanyakan hal ini pada Jieun “Sadarlah, ia bukan Yu…” lanjut ibunya namun lidahnya terasa tercekat diakhir kalimat.

“Omo” pekik Jieun seolah mengalihkan pembicaraan ibunya, ia memang menatap pada arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30 “Aku kerumahnya dulu, jika tidak ia akan segera berangkat sekolah.” Jieun meninggalkan ibunya.

“Aigo padahal lewat balkon rumah pun ia sudah bisa memberikan bekal itu padanya.” Sambil menatap Jieun yang berlari kecil ibunya menggelengkan kepala.

#####

Seorang pria baru saja keluar dari kamar namun seseorang dari samping memukulnya dengan sebuah koran.

BUKK

“Ya Seokjin hyung.” Rintih pria pada seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah kakaknya.

“Itu pantas kau dapatkan Jeon Jungkook, jam segini baru bangun.” Ujar Seokjin, belum sempat Jungkook berucap ibunya yang menyaksikan kejadian tersebut bersua.

“Bagus SeokJin, eomma sudah membangunkan anak itu tapi begitu sulit. Cepat mandi atau kau akan terlambat sekolah” Timpal ibunya membuat Jungkook mengerucutkan bibirnya.

Belum sempat Jungkook melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal dan baginya itu seperti kutukan.

“Jungkookieeeee~” suara khas ini benar-benar sudah biasa didengar oleh Jungkook dan keluarganya.

“Aigo~ Noona itu, eomma katakan padanya aku sudah berangkat sekolah.” Tanpa pikir panjang Jungkook berlari kecil kekamar mandi menghindari orang yang tidak henti memanggil namanya dengan riang ‘Jungkookie’.

SeokJin tertawa kecil mendapati adiknya yang bersikap demikian dan ia sadar kalau seseorang yang memanggil Jungkook sudah berada dihadapannya “Pagi ahjumma, SeokJin oppa” sapaan biasa yang diberikannya “Jungkookie apa dia sudah berangkat?”

SeokJin menatap ibunya mendapat pernyataan tersebut “Jieun-ah, tentu saja belum. Dia baru saja masuk kamar mandi.” Seru ibunya yang tidak bisa berbohong pada wanita dihadapannya ini dan SeokJin sudah bisa menebak hal ini akan terjadi.

“Kajja, kita sarapan seperti biasa.” SeokJin merangkul Jieun dan seperti biasa bertanya akan kuliahnya.

Pemandangan yang sudah biasa apabila setiap pagi Jieun sudah datang di kediaman Jeon. Hal ini sudah terjadi sejak 2 tahun dimana keluarga Jeon yang berpindah rumah tepat disebelah rumah Jieun. Jungkook yang terlihat menggemaskan membuat Jieun menyukainya dan selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Awal Jungkook memang merasa nyaman ketika Jieun memperlakukannya seperti adiknya, karena ia tidak mempunyai kakak perempuan.

Namun lambat laun Jungkook merasa risih dengan sikap Jieun yang memperlakukannya seperti anak kecil. Bahkan tidak segan Jieun melontarkan kalau ia menyukai Jungkook dan beberapa kali pernyataan bodoh terlontar dari mulut Jieun ‘Ya, jadi kekasihku saja. Aku akan melindungimu.’ Sungguh Jungkook tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jieun dan saat itu Jungkook tidak pernah menggubris ucapan Jieun.

Jieun pun sering kali ia datang dikediaman Jeon, Jieun memang dekat dengan keluarga Jungkook maka dari itu ia merasa sulit untuk menghindari Jieun. Ada saja ulah yang dilakukan Jieun dan ia sering sekali menggangu Jungkook, ketika Jungkook tengah tertidur di teras Jieun sering kali membangunkannya dengan bulu ayam.

Untuk membuat Jieun jengah dengannya Jungkook tak segan bersikap konyol agar Jieun merasa kesal padanya, tetapi pada kenyataannya itu justru membuat Jieun semakin gemas dan tak segan – segan Jieun sering mencubit pipi Jungkook. Meskipun Jungkook bersikap acuh tak acuh pada Jieun, itu tidak membuatnya jera dan tetap menggangu seorang Jungkook.

Jungkook yang sudah rapi dengan balutan seragam sekolah, ia ingin mengambil roti bakar untuk sarapannya namun terhenti ketika mendapati Jieun bersama keluarganya tengah sarapan. “Eoh Jungkookie, cepat sarapan.” Ujar Jieun menyadari kehadiran Jungkook.

Hal yang biasa ia dapati namun lagi – lagi membuatnya berdesis kesal “Aisshh. Ya Noona, apa kau tidak bosan kesini setiap pagi” ketus Jungkook

Jieun mengelengkan kepalanya “Aniya, aku melakukan ini kan untukmu Jungkookie.” Dan jawaban yang biasa didengar oleh Jungkook.

Pukulan kecil mendarat tepat dikepala Jungkook dan ia sadar siapa yang memukulnya “Auu abojji” ringisnya sambil mengucap puncak kepalanya

“Sudah bagus Jieun noona setiap pagi menyiapkan bekal untukmu, harusnya kau bersyukur.” Ujar ayahnya membela Jieun

“Appa mu benar, karena eomma belum tentu bisa menyiapkan bekalmu setiap hari. Jieun-ah gomawo” ibunya pun ikut membela membuat Jieun tersenyum dan Jungkook hanya mampu menatap kedua orangtuanya yang memang sering sekali membela Jieun.

“Noona, orang disampingmu lebih tampan dariku dan kalian hanya berbeda satu tahun. Seharusnya kau menyukainya dibandingku.” Ujar Jungkook sambil melirik kearah SeokJin.

Seokjin dan Jieun saling bertatapan satu sama lain, sesaat tawaan terlontar dari mulut mereka “HAHAHAHAHA”

“Aku tidak pernah menggangapnya seorang yeoja, dengan adanya Jieun disini, aku benar-benar merasakan memiliki dua adik dan itu membuatku frutasi dengan kelakuan kalian.” Cibir Seokjin sukses membuat kedua orangtuanya tertawa.

Seokjin dan Jieun memang dekat, namun itu hanya sebatas kakak dan adik. Tidak ada perasaan lebih diantara mereka dan keduanya sadar akan itu. Seokjin sering bercerita mengenai pekerjaannya dan wanita teman sekantor yang ia sukai.

“Kau dengar itu Jungkookie. Ya apa kau cemburu dengan kedekatan kami.” Goda Jieun

Jungkook hanya mengerutkan dahinya “Tidak ada alasan bagiku untuk cemburu padamu Jieun noo–na” penuh penekanan Jungkook berucap dan meraih ranselnya, mendapati hal ini Jieun hanya tersenyum kecil dan hal biasa yang ia dapat dari Jungkook itu membuatnya gemas.

*****

Jieun berjalan santai diterotoar menuju rumahnya, ia memang baru saja pulang kuliah. Rasa lelah pun sangat terasa pada tubuh mungilnya ini, bahkan otaknya pun terasa lelah harus menerima mata kuliah yang membuatnya berpikir keras.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat beberapa wanita remaja tengah berdiri didepan rumah Jungkook. Pemandangan ini beberapa kali ia tangkap ‘Apa dia begitu popular disekolah?’ selalu pertanyana itu yang ada dibena Jieun, namun sambil tersenyum evil ia menghampiri para wanita remaja itu.

“Ya, apa kalian menunggu Jungkook untuk memberi hadiah itu?” ujar Jieun sambil menunjuk pada kotak kecil yang mereka bawa.

“Tentu saja, memangnya kau siapa?” ujar salah satu wanita.

Jieun hanya tersenyum dengan pertanyaan tersebut “Bukankah kalian bisa memberikan hadiah itu disekolah?” Justru Jieun melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat mereka terdiam.

“Kami malu dan takut mengganggu Jungkook oppa.”

“Jika kalian menggaguminya untuk apa malu memberi hadiah didepan umum, toh itu menunjukkan rasa kagum secara berkala dan jelas. Sadarlah jika kalian seperti ini justru mengganggu privasinya.” Ceramah Jieun membuat beberapa wanita ini terdiam.

“Ya, memangnya kau siapa menceramahi kami?”

“Aku kakaknya Jungkook.”

Sontak para wanita ini membulatkan matanya “Jinjja????”

“Tentu saja, biasanya jam segini Jungkook tidak dirumah. Ia selalu lari sore agar permainan basketnya semakin bagus.” Jelas Jieun

“Ya bagaimana kau ta-“ ucapan wanita itu terpotong karena Jieun sudah berucap

“Tentu saja aku tahu, karena aku kakaknya Jungkook.” Jieun meyakin para wanita remaja ini dan saat itu juga mereka berucap.

“Jeosonghamnida eonni. Kalau begitu kami akan memberikannya disekolah saja, eonni annyeong” tanpa pikir panjang para wanita remaja itu pergi meninggalkan Jieun.

Mendapati hal ini Jieun tersenyum puas, sudah beberapa kali Jieun melakukan hal ini. Memang hal yang konyol tetapi itulah seorang Jieun.

“Apa kau mengelabuhi teman sekolahku lagi?” ujar seseorang mengagetkan Jieun dan tahu siapa pemilik suara tersebut.

“Aniyo, justru aku melindungimu” jawab enteng Jieun dan Jungkook sudah bisa menebak kalau jawaban Jieun seperti ini. Tanpa menggubris ucapan Jieun, Jungkook berjalan santai melewati Jieun “Ya apa kau ingin lari sore?” tanya Jieun menyetarakan langkahnya dengan Jungkook.

Jungkook hanya menatap seolah-olah berkata ‘Kau tidak melihat setelanku/?’ Jieun tersenyum dengan tatapan Jungkook.

“Aku ikut, kajjaaa” seru Jieun membuat langkah Jungkook terhenti.

“Andhwaeyo! Kau tidak boleh ikut” Tekan Jungkook

“Ani. Aku akan tetap ikut.”

“Andhwae!!!” Jieun seolah tidak menghiraukan ucapan penuh penekanan Jungkook dan ia seperti biasa memasang senyuman evilnya “Eoh Seokjin hyung, kenapa kau pulang cepat sekali.” Ujar Jungkook membuat Jieun menghadap kearah yang tengah Jungkook lihat.

Saat itu juga Jungkook meninggalkan Jieun, ucapan tersebut hanya tipuan untuk Jieun dan ia menyadarinya “Aiisshh bocah ini menipuku. Tunggu aku akan tetap ikut JEON JUNGKOOK !!!!” Jieun berteriak dan mengejar Jungkook yang kian berlari cepat.

****

Diruang tengah tepatnya ruangan TV Jungkook tengah disibukkan dengan beberapa soal tugas yang menurutnya begitu sulit. Disela-sela belajarnya ia pun disibukkan dengan layar televisi dihadapannya, dimana pertandingan basket acara kesukaannya ditayangkan.

“Ya! Bagaimana mau fokus belajar jika sambil menonton tv seperti itu.” Ujar Jieun yang seperti biasa tanpa permisi memasuki dikediaman Jeon, tanpa ragu Jieun meraih remot dan mematikan televisi tersebut.

Jungkook langsung menatap tajam Jieun “Ya Noona. Jangan asal mematikan tv” Jungkook meraih remot dan menyalakan kembali.

“Sebaiknya kau mengerjakan tugasmu dulu baru menonton tv” saran Jieun.

Jungkook mengerucutkan bibirnya “Aku pusing dengan soal matematika ini, jadi aku merefresh otak dulu.” Ucapan yang konyol sukses membuat Jieun mengerutkan keningnya, namun seketika Jungkook menatap Jieun “Noona, bukan kah kau menyukaiku?” Jungkook tersenyum dengan manis.

Hal ini membuat Jieun merasa curiga pada Jungkook karena ia tahu jika Jungkook bersikap seperti ini pasti ada maksud “Wae? Kau ingin aku mengerjakan tugasmu?” tebak Jieun yang sudah memahami seorang Jungkook dan Jungkook masih tersenyum manis “Shireo! Aku tidak mau mengerjakan tugasmu.” Tolak Jieun

Jungkook hanya menatap Jieun dan berkata “Ugh, padahal jika kau mengerjakan tugasku. Aku ingin mentraktirmu ice cream, kalau begitu akan ku tarik ucap—“ Jungkook belum melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh Jieun.

“Ya, Ya! Berikan tugasmu padaku, palli palli.” Pinta Jieun membuat Jungkook tersenyum puas dengan taktiknya ini dan tanpa ragu Jungkook memberikan tugasnya pada Jieun. Hal ini memang sering terjadi Jieun membantu mengerjakan tugas Jungkook, lagi pula ia paling sulit untuk mengerjakan tugas matematika dan Jieun yang memang pintar dalam pelajaran tersebut tidak jarang Jungkook meminta bantuannya, bahkan tidak segan untuk dikerjakan oleh Jieun.

Kali ini Jungkook justru asik menonton pertandingan basket, sedang Jieun masih sibuk dengan tugas Jungkook yang dapat dengan mudah ia kerjakan. Jungkook hanya menatap Jieun dan tersenyum evil ciri khasnya.

“Selesai.” Seru Jieun sambil menutup buku tugas milik Jungkook, Jungkook hanya mengangguk menjawab seruan Jieun. Namun Jieun ingat benar janji Jungkook tadi “Kajja” kali ini Jieun menarik tangan Jungkook untuk beranjak dari kursi besarnya itu.

“Eoddie?” tanya Jungkook yang tidak mau beranjak dari kursinya.

“Ya, ingat janjimu tadi akan mentraktirku” jelas Jieun mengingatkan ucapan Jungkook tadi.

“Ahhh benar. Kau ambil saja ice cream yang ada dikulkas, baru kemarin aku membeli ice cream itu.” Ujar Jungkook santai, namun sukses membuat Jieun diam membeku. Sedang Jungkook terlihat bingung dengan ekpresi Jieun “Apa perlu aku yang ambilkan.” Lanjut Jungkook yang beranjak dari kursi tersebut.

“Ya, bukankah kau mengatakan kalau kau akan mentraktirku ice cream” perjelas Jieun pada Jungkook.

Sadar dengan ucapan Jieun, Jungkook hanya tersenyum polos “Ya noona, ice cream itu aku yang membeli jadi sama saja aku mentraktirmu bukan?” Jungkook menjulurkan lidahnya kearah Jieun dan berlari kecil meninggalkan Jieun.

Jieun dikelabuhi lagi oleh Jungkook dan ini sudah kesekian kalinya, namun mendapati Jungkook seperti ini membuat Jieun tersenyum “Ya, Jungkookie coba kau lakukan hal yang tadi sekali lagi.” Pinta Jieun sambil mengejar Jungkook yang menuju dapur.

“Mwoya?” ujar Jungkook

“Lakukan cepat, kau terlihat sangat lucu Jungkookie.” Kali ini tanpa ragu Jieun mengejutkan Jungkook dengan mencubit pipinya, hal yang sering dilakukan Jieun ketika Jungkook bertingkah konyol dan lucu. Sedang Jungkook selalu menghindar dari apa yang dilakukan Jieun.

Seokjin serta ayah dan ibunya yang melihat hal ini hanya tersenyum kecil, karena hal ini sudah biasa terjadi diantara mereka.

****

Jungkook  baru saja memijaki kakinya dirumah, bersama tiga temannya ia menuju ruang tengah. “Kalian duduk disini saja dulu, aku akan membawakan air.” Hal yang wajar untuk seorang siswa sekolah mengajak teman sekolahnya bermain dirumah.

Jungkook menuju dapur dan aroma harum kue sangat tercium di puncak hidungnya. Terlihat jelas oleh Jungkook ibunya tengah sibuk dengan cupcake yang dihiasnya “Asikk.. kebetulan sekali eomma membuat kue. Didepan ada Jimin, Taehyung dan Hoseok.”

“Jinjja? Kebetulan sekali mereka harus mencicipi kue buatanku dan Jieun.” Jungkook terdiam sejenak mendengar nama Jieun ditelinganya.

“Jungkookie annyeong.” Sapa Jieun yang memang sedari tadi berada didapur namun ia sibuk dengan cupcake yang baru ia panggang.

“Aiisshh aku pikir hidupku akan tenang hari ini, rupanya tidak .” Jungkook memang baru menyadari adanya Jieun dirumah ini, ia pikir Jieun tidak kerumahnya hari ini tapi dugaannya salah besar. Ia tidak bisa bernapas lega, itulah yang ada dipikirannya saat ini.

“Ya, apa kau pikir aku akan mengganggumu dengan teman-temanmu itu. Aniya, kau tenang saja.” Ujar Jieun seolah paham apa yang dipikirkan Jungkook.

“Jinjja?” tanya Jungkook masih tidak percaya dengan ucapan Jieun.

Jieun tersenyum dan mengacak lembut rambut Jungkook “Tentu saja.” Jungkook tersenyum puas dengan ucapan Jieun yang terdengar meyakinkan.

“Cepat ganti seragammu itu, biar eomma yang memberikan minuman dan makanan untuk teman-temanmu.” Ujar ibunya dan Jungkook menangguk patuh. Ketika Jungkook pergi menuju kamarnya ibu Jungkook berucap “Jieun, bisa kau membantuku membawa minuman dan makanan untuk teman-teman Jungkook.” Jieun menjawab dengan anggukan mantapnya dan langsung membantu ibu Jungkook.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jungkook mengganti seragamnya, ia menuju ruang tengah dimana teman –temannya tengah menunggunya. Namun terdengar gelak tawa dari arah ruang tengah dan apa yang Jungkook lihat kali ini cukup membuatnya menghelakan napas sulit diartikan..

Jieun tengah bersenda gurau dengan teman-teman Jungkook, layaknya seorang pelajar sekolah Jieun dan teman-teman Jungkook seperti tidak ada jarak. Sebenarnya bukan keinginan Jieun hanya saja teman-teman Jungkook yang memulai untuknya bergabung dan tidak jarang diantaranya menanyakan tentang seorang wanita, lebih tepat ‘perasaan wanita’.

“Noona, seperti apa yang biasa diinginkan yeoja?”

“Jieun Noona, bagaimana mengatasi yeoja ketika menangis?”

“Noona bagaimana dunia perkuliahan, pasti lebih menyenangkan “ berbagai pertanyaan dilontarkan oleh teman-teman Jungkook dan Jieun dengan senang hati menjawabnya, karena yang mereka tanyakan bukan menyangkut hati saja tetapi mengenai perkuliahan, berhubung mereka sudah menginjak kelas 3 pertanyaan mereka lebih banyak mengenai perkuliahan.

Seperti inilah yang Jungkook tidak inginkan, jika ada Jieun semua temannya pasti akan curhat dengan Jieun dan pembicaraan mereka justru masalah hati, hal ini memang sering terjadi ketika Jungkook membawa teman-temannya kerumah. Alhasil Jungkook tidak bisa berbuat apa-apa, karena terlihat teman-temannya  menyukai seorang Jieun.

****

Jieun tengah asik membaca buku dibalkon kamarnya, ditemani dengan bintang malam yang sangat indah ia sangat menyukai tempat ini. matanya pun tak luput pada kamar yang berhadapan dengannya, kamar tersebut merupakan kamar Jungkook terkadang Jieun usil memanggil Jungkook dari balkon ini dan melempari jendela kamar Jungkook dengan krikil.

            Sayangnya Jungkook enggan keluar ketika Jieun melakukan hal tersebut, Jungkook keluar hanya berceloteh

‘Noona hentikan.’

‘Kau sangat menggangu’

            Entah kenapa hal itu justru membuat Jieun semakin gemas dengan seorang Jeon Jungkook. Balkon ini merupakan tempat favorite Jieun, meski Jungkook enggan keluar ketika dipanggil olehnya. Namun sering kali tanpa sengaja Jungkook keluar untuk menghirup udara segar dan tidak segan Jieun membuat usil pada Jungkook. Maka dari itu Jungkook tidak akan bertahan lama dibalkon karena ulah Jieun.

            Masih asik membaca buku tepat ia membuka lembar berikutnya, jantungnya terasa terhenti seketika mendapati secarik foto. Dimana foto seorang anak perempuan dan laki-laki yang tersenyum dengan cerahnya, anak laki-laki sekiranya berumur 10 tahun tengah merangkul dan memegang kepala perempuan tersebut, padahal perempuan tersebut 4 tahun lebih tua darinya tapi memiliki perawakan kecil.

            “Bogoshipoyo” ucapan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Jieun dan senyuman mengembang dari bibir manisnya.

Krekkk

Terdengar jelas ditelinganya kalau pintu kamar Jungkook terbuka dan terlihat jelas Jungkook yang tengah merentangkan tangannya menghirup udara malam dibalkon.

“Eoh, Jungkookie akhirnya kau keluar juga.” Ujar Jieun dengan senyum sumringahnya.

Sadar dengan keberadaan Jieun “Aiissh kau jangan salah paham, aku keluar bukan karenamu. Aku hanya ingin menghirup udara segar” Jelas Jungkook.

“Arraseo! Tapi aku senang setidaknya dibalkon ini ada yang menemaniku menatap bintang.” Jungkook tidak menggubris ucapan Jieun, ia hanya duduk dan bermain dengan ponselnya “Ya! Dari pada kau melihat ponsel lebih baik, kau lihat kelangit bintangnya terlihat sangat indah.” Lanjut Jieun sambil menunjuk kearah langit.

“Aigo, noona! Kau sepertinya sangat kolot sekali, menatap bintang berharap salah satu bintang jatuh dan meminta sebuah pengharapan atau melihat salah satu bintang paling bersinar yang merupakan orang kesayangan kita. Aku bukan anak kecil lagi” ujar Jungkook

Jieun hanya menatap Jungkook sesaat ia kembali menatap bintang “Ne, aku berharap salah satu bintang jatuh untuk meminta sebuah pengharapan dan bagiku bintang yang paling bersinar itu adalah orang yang sangat aku sayangi” terang Jieun sambil tersenyum pada bintang yang paling bersinar.

Jungkook terdiam mendengar ucapan Jieun, sikap Jieun entah kenapa membuat Jungkook merinding karena tidak biasanya seorang Jieun bersikap seperti ini. Namun tanpa sadar ia menatap lekat seorang Jieun yang masih memandang bintang ‘Apa maksud dari ucapannya?’ batin Jungkook tanpa sadarpun ia menatap bintang tersebut.

****

“Jungkookie” panggil Jieun dini hari dikediaman Jeon, hari minggu merupakan hari dimana setiap pagi Jieun melakukan lari pagi dengan Seokjin dan untuk sekian kalinya ia ingin mengajak Jungkook.

“Kau yakin, anak itu mau diajak lari pagi? Biasanya kan—” Ucapan Seokjin terpotong ketika Jieun memasuki kamar Jungkook dan mendapati Jungkook masih terjaga dalam mimpinya.

“Ya! Irona, kita lari pagi bersama” Jieun berusaha membangunkan Jungkook, hal ini sudah sering ia lakukan namun seorang Jungkook sulit untuk dibanguni. Terlebih lagi hari minggu dimana ia tidak ingin melakukan hal yang membuatnya lelah.

“Lupakan untuk membangunkannya, tidak akan berhasil lagi.” Ujar Seokjin.

Sepertinya ucapan Seokjin tidak didengar oleh Jieun, ia mengambil bulu ayam yang memang ia bawa dari rumah dan berusaha membangunkan Jungkook dengan bulu ayam tersebut. “Errrr” hanya erangan yang didapat dan Jungkook bergulat dengan tubuhnya sendiri hingga tangannya mengenai Jieun.

BUGG

Tubuh Jieun tersungkur kelantai membuat Seokjin tertawa “Aissh bocah ini.” Jieun berdiri dan menatap wajah Jungkook yang terlihat sangat polos ketika sedang tertidur “Ahhh kenapa ia begitu menggemaskan” tanpa ragu Jieun mengusap lembut pipi Jungkook.

Melihat hal ini Seokjin bergerutu “Ya, apa kau ingin aku terus menyaksikan adegan lembutmu padanya.”

Mendengar gerutuan Seokjin, Jieun hanya terkikik “Arasseo. Lupakan untuk membangunkannya, aku tidak tega. Kajja” Seru Jieun senyuman masih mengambang menatap Jungkook. Ia mengacak lembut rambut Jungkook dan menutupi tubuh Jungkook dengan selimut

“Tidur yang nyenyak……….” Jieun bergumam kecil diakhir kalimat bahkan nyaris tak terdengar, baginya itu hanya bisikan yang hanya ia ketahui.

Ketika Jieun meninggalkan kamar Jungkook, saat itu Jungkook terbangun dan menatap kearah pintu kamarnya. ‘Tidur yang nyenyak uri dongsaeng?’ entah kenapa bisikan tersebut terngiang ditelinga Jungkook, suara samar mengucapkan kalimat tersebut membuat Jungkook terdiam dan tanpa sadar ia memegang pipinya. Dimana pipi tersebut disentuh lembut oleh Jieun, entah apa perasaan ini Jungkook pun tidak mengerti.

****

Jieun baru saja keluar dari gerbang rumahnya dan mendapati Jungkook yang baru pulang sekolah “Jungkookieeee” Seruan riang yang biasa Jieun berikan ketika bertemu Jungkook.

Mendapati Jieun yang menghampirinya Jungkook berjalan cepat memasuki rumahnya, namun dengan cepat Jieun berlari kecil menyetarakan langkahnya dengan Jungkook “Ya bagaimana sekolahmu? Menyenangkan ?” Jieun merangkul Jungkook yang memang lebih tinggi darinya.

“Apa aku harus memberitahu semua kegiatan sekolahku padamu.” Cibir Jungkook, namun Jieun hanya tersenyum dengan ucapan Jungkook dan membuatnya terlihat menggemaskan.

“Aigo, kau lucu sekali berbicara seperti ini” Jieun mencubit pipi Jungkook pelan “Ya, aku membuat puding coklat kesukaanmu tadda..” Jieun menunjukkan bingkisan yang memang sudah ia siapkan untuk Jungkook.

Jungkook hanya menatap bingkisan tersebut, namun Jieun berucap kembali “Kau harus menghabiskan pudding ini, arasseo!” Jieun langsung memberikan bingkisan tersebut pada Jungkook.

Tanpa berbicara apa-apa Jungkook menerima bingkisan pudding tersebut dan ingin memasuki kamarnya, namun ia sadar kalau Jieun masih mengikutinya dari belakang “Aku ingin belajar dan tidak sedang ingin diganggu. Bisa kau pulang Jieun Noo-na” tekan Jungkook

Jieun mengangguk patuh, Jungkook dapat bernapas lega dengan tanggapan Jieun. Ia memasuki kamarnya namun tangan Jieun menahan pintu kamar Jungkook “Jungkookie”.

“Wae?” Jungkook tersenyum masam, lebih tepatnya seolah menahan kekesalan.

“Aku bisa membantumu dalam belajar” tawar Jieun, namun dengan cepat Jungkook mengelengkan kepalanya.

“Aniya, aku bisa sendiri.” Jungkook mendorong paksa kepala Jieun yang berusaha menerobos kamarnya.

“Jinjja?” Tanya Jieun dan dijawaban anggukan mantap oleh Jungkook, tapi Jieun masih tetap menahan pintu kamar Jungkook “Jungkookie” lagi-lagi Jungkook terlihat menahan kekesalannya “Aniya, Jungkookie Fighting! Aku hanya ingin menyemangatimu.” Lanjut Jieun

Jungkook menjawab dengan senyuman “Ne Noona” Jungkook kembali mendorong paksa kepala Jieun, sampai akhirnya ia berhasil mendorong kepala Jieun keluar dari ambang pintunya dengan cepat Jungkook mengunci pintu kamarnya. Tapi masih terdengar jelas ditelinga Jungkook, Jieun berteriak.

“Uri Jungkookie Fighting!!!”

*****

“Pagi semua” seru Jieun pada keluarga Jeon yang masih disibukkan dengan sarapan pagi mereka.

“Eoh, Jieun. Cepat kesini sarapan bersama.” Seru ibu Jungkook

Namun Jieun hanya tersenyum “Jeosonghamnida ahjjuma, aku sudah sarapan dirumah. Aku hanya ingin memberi bekal ini” Jieun menaruh bekal tersebut tepat didepan Jungkook “Kau harus mengabiskan bekal ini, arasseo!”

Jungkook hanya menatap Jieun menerima perlakuan ini setiap hari dari seorang Jieun. “Aigo apa kau menyiapkan sarapan untuk Jungkook dulu dibanding dirimu.” Tatap Seokjin tidak percaya mendapati rambut Jieun yang berantakan

“Bukannya sudah biasa Noona ini selalu berpenampilan berantakan.” Sindir Jungkook namun disambut tawa renyah Jieun.

“Lihat tasmu tidak diretsleting.” Seokjin menunjuk tas ransel Jieun yang masih terbuka lebar.

“Omo Jieun, harusnya kau memperhatikan dirimu juga. Jangan hanya anak itu yang kau perhatikan.” Ujar ibu Jungkook yang membantu menutup tas ransel Jieun dan menatap anaknya Jungkook.

“Tapi aku senang memperhatikannya”Ujar Jieun membuat semuanya tersenyum, tidak dengan Jungkook yang hanya menatap Jieun.

“Ahh aku harus pergi.” Seru Jungkook sambil meraih ranselnya dan bekalnya “Eomma, appa, hyung, noona. Aku pamit dulu”

Jungkook ingin beranjak dari tempat ini namun ditahan Jieun “Jungkookie kita pergi bersama.” Ujar Jieun

Jungkook membulatkan kedua matanya “Mwoya?”

“Aiishh aku sengaja menyiapkan bekalmu dini hari, karena aku ada jam kuliah dipagi ini. Kajja” Jieun menggamit tangan Jungkook dengan riang.

Namun dengan cepat Jungkook melepaskan gamitan tersebut “Shireo!”

“Aniya! Pokoknya aku tidak ingin berangkat bersamamu.” Jieun kembali menggamit tangan Jungkook.

“Ya—“ Belum Jungkook melanjutkan ucapannya, ibunya sudah bersua.

“Bukankah sekolahmu dan universitas Jieun berada di satu arah. Tidak ada salahnya berangkat bersama.” Lagi-lagi  ibunya membela seorang Jieun dan kali ini ibunya menatap tajam Jungkook.

Jungkook menghelakan napas beratnya tidak bisa berkata apa – apa kalau ibunya sudah membela Jieun penuh penekanan. Jieun tersenyum puas “Annyeong, kajja” Jieun mempererat gamitan tangannya pada Jungkook dan menarik tangannya untuk beranjak.

Namun Jungkook melepaskan gamitan Jieun “Jangan seperti ini, kita berangkat bersama sampai halte dan naik bus yang berbeda. Tapi aku dulu yang naik bus pertama.” Ujar Jungkook memberi saran sambil berjalan cepat

“Shireo. Aku ingin satu bus dengan mu” kembali Jieun menggamit tangan Jungkook.

“YA!” Jungkook hanya berteriak penuh penekanan dan berusaha melepaskan gamitan Jieun. Namun apa daya Jieun bersikukuh menggamit tangan Jungkook dan menurut Jieun ketika Jungkook terlihat marah itu sangat menggemaskan.

****

“Annyeong” seru Jieun pada keluarga Jeon, mereka terlihat tengah menonton televisi bersama “Aku mencoba membuat macaroni panggang, silahkan dicicipi” Jieun tanpa ragu menaruh macaroni panggang yang memang ia buat sendiri.

“Aigo malam-malam diberi macaroni panggang sebuah keberuntungan” seru ibu Jungkook dan tanpa ragu semua mencicipi beberapa macaroni panggang buatan Jieun dengan beberapa varian rasa.

Jieun sadar ada yang kurang dari keluarga Jeon “Jungkook ada dikamar, kau bawa saja macaroni itu kekamarnya.” Ujar Seokjin mengerti mata Jieun mencari seorang Jungkook.

“Seokjin benar, kau berikan saja dikamarnya.” Timpal ibu Jungkook

Jieun mengangguk namun ketika ia ingin berlangkah ayah Jungkook berseru “Macaroni buatanmu enak Jieun.” Jieun hanya tersenyum dengan pujian yang diberikan ayah Jungkook.

Jieun sudah didepan kamar Jungkook dan seperti biasa ia tidak pernah ragu untuk masuk kekamar Jungkook. Ketika Jieun membuka kamar Jungkook terlihat jelas dari kasat matanya kamar ini tidak ada siapa-siapa “Eoh kemana anak itu?” gumam Jieun.

Namun matanya terhenti mendapati pintu kamar balkon ini terbuka lebar, terlihat oleh Jieun seorang Jungkook tengah berdiri sambil merentangkan tangannya menghirup udara segar malam hari. Mendapati ini Jieun tersenyum kecil dan tersebit keusilan seorang Jieun.

Jieun menaruh macaroni panggang itu dimeja belajar Jungkook dan pelan-pelan ia menghampiri Jungkook yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Jieun. Tepat dibelakang Jungkook saat itu juga Jieun tersenyum dan tanpa ragu memeluk Jungkook dari belakang “Jungkookie” seru Jieun yang masih memeluk Jungkook seraya memiringkan kepalanya untuk melihat kearah Jungkook.

Jungkook terlihat sangat kaget dengan kehadiran Jieun dan asal memeluknya. Hanya tatapan yang diberikan Jungkook saat itu, entah kenapa tatapan Jungkook terlihat berbeda dari biasanya rahangnya seolah mengeras, Jungkook melepaskan tangan Jieun yang melingkar di perutnya dan ia menatap tajam Jieun.

“Ya, waeyo?” entah kenapa Jieun merasa tatapan Jungkook sangat aneh, tanpa  membalas ucapan Jieun saat itu juga Jungkook semakin mendekatkan diri kearah Jieun. Sungguh hal yang tidak biasanya Jungkook bersikap seperti ini, Jieun berjalan mundur kebelakang dan Jungkook tetap menghampirinya.

“Kau ini kenapa?” lagi-lagi Jieun bertanya, namun tidak digubris oleh Jungkook. Ia justru semakin mendekat kearah Jieun dan saat itu Jieun tidak bisa berjalan mundur karena langkahnya sudah terjebak pada sebuah tembok balkon ini, dirasakan oleh Jieun jarak Jungkook sangat dekat dengannya bahkan kali ini tangan Jungkook ia sandarkan ditembok tepat disamping kepala Jieun.

Jungkook mendekatkan wajahnya pada wajah Jieun dan sungguh ia rasakan deru napas Jungkook di pori-pori wajahnya. “Ya, aku kesini hanya—“ ucapan Jieun terpotong karena Jungkook semakin mendekatkan wajahnya pada Jieun……….

-Tbc- 

MOHON TINGGALKAN JEJAK

TERIMA KASIH ^^

buat yang suka dengan Jungkook – IU bisa dicek FMVnya mereka [FMV] Jeon Jungkook and IU

6 thoughts on “You Don’t Know Love [Chapter 1]

  1. asik. aku yg pertama komen #smirk
    ih Jieun agresif bgt ya. jrang2 jieun yg gini. nah ini kebalikan Jungkook yg cuek. eitss yg paling bawa buat penasaran. apa mungkin Jungkook juga mau cium Jieun? tau hnya buat Jieun takut aja? biar Jieun menjauh dri Jungkook gtu? hehe. aku tunggu aj deh thor. fighting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s