Brother & Sister [Chapter 13]

 Brother and sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 13]

Genre : Family, Fluff

Length : Chapter

Rating : T

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

 

 Brother & Sister [Chapter 1] | Brother & Sister [Chapter 2]|Brother & Sister [Chapter 3] |Brother & Sister [Chapter 4]|Brother & Sister [Chapter 5]Brother & Sister [Chapter 6] | Brother & Sister [Chapter 7]Brother & Sister [Chapter 8] | Brother & Sister [Chapter 9] | Brother & Sister [Chapter 10] | Brother & Sister [Chapter 11] | Brother & Sister [Chapter 12]

Trailer Fanfic Brother & Sister

CHAPTER 13

Jungkook baru saja keluar dari perpustakaan, selang beberapa saat lalu kembalinya Jieun kekelas Jungkook pun berniat untuk kekelas untuk mengambil tasnya. Namun ia dibuat bingung dengan Yoora yang berada didepan perpustakaan tampak tengah menunggunya “Jungkook-ah” dengan nad sendu Yoora berucap, mendapati hl ini Jungkook mengerutkan keningnya “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu Jebal” dengan nada memohon Yoora berucap.

Jungkook mengangguk mengerti, tanpa berkata apa-apa Jungkook berjalan kearah lorong sekolah yang cukup sepi “Waeyo?” tanpa basa-basi Jungkook langsung bertanya pada inti.

Yoora tersenyum tipis “Jungkook-ah bisa kau mengatakan pada kakekmu untuk mengeluarkan Jieun dari sekolah” ujar Yoora sukses membuat Jungkook membulatkan kedua matanya.

“Neo michesseo!!” Pekik Jungkook tak percaya akan ucapan Yoora.

“Orangtuaku sudah meminta pada Jisu sonsaengnim untuk mengeluarkan Jieun, namun tak diguris. Satu-satunya yang dapat membantuku hanya kau, cucu dari pemilik sekolah katakan pada kakekmu untuk mengeluarkannya.” Pinta Yoora

Jungkook menghelakan napas tak percaya dengan sikap Yoora “Shireoyo, aku tak mau melakukan hal itu”

Mendengar ucapan Jungkook seketika Yoora membulatkan kedua matanya dan menatap tajam Jungkook “Waeyo? Kau sudah tak menyukaiku lagi? Kau menyukai Jieun?” tanya Yoora membuat Jungkook terdiam, hingga Yoora kembali berucap “Waeyo? Kenapa hanya diam saja? Bukankah yang membatalkan pengeluaran Jieun adalah kau? Bahkan aku belum membujuk orangtuaku untuk membatalkannya, lagi pula tak mungkin bagi orangtuaku membatalkan hal itu. Tapi kau justru meminta pada kakekmu untuk membatalkan semuanya, benar????” penuh penekanan Yoora berucap

Jungkook masih tak bergeming, seketika ia teringat dimana saat Jieun akan dikeluarkan dari sekolah.

“Haraboji, bisa kita bertemu hari ini” ujar Jungkook sambil tergesa keluar kelas menuju parkiran dan saat itu juga tanpa ragu Jungkook melajukan mobilnya.

Hingga ia sampai disebuah rumah besar dan memasuki rumah tersebut, ia sontak mencari sosok seorang pria yang kerap ia temui. Tepat diruang tengah tampak jelas seorang pria paruh baya sedang membaca koran “Haraboji” ujar Jungkook yang membungkukkan tubuhnya

Menyadari kehadiran cucu semata wayangnya, senyuman mengembang begitu saja “Aigo, cucuku.. Waeyo? tampaknya yeoja itu berulah lagi membuatmu turun tangan kembali” ujarnya seraya menutup koran yang dibacanya tadi.

Jungkook mengerucutkan bibirnya dan duduk tepat disamping kakeknya “Tidak seperti itu haraboji” sanggal Jungkook

“Aisshh, lalu apa? Kau biasanya datang kesini hanya karena Kang Yoora, membelanya padahal jelas-jelas dia salah” ujar kakeknya tampak sudah biasa akan sikap Jungkook yang kerap membela Yoora

“Haraboji…..” Jungkook mengebungkan pipinya.

“Arasseo. Kau membelanya dengan cara yang berbeda, meski anak-anak yang dikeluarkan karena Yoora. Kau meminta penangguhan pemindahan sekolah bukan dikeluarkan, agar anak yang dikeluarkan dapat bersekolah dengan nyaman. Secara tidak langsung kau pun sama saja membela Yoora yang salah” ujar kakek membuat Jungkook terdiam “Waeyo? kau kesini untuk meminta penangguhan pemindahan sekolah seorang siswi bernama ‘Lee Jieun’ yang memang dikeluarkan karena Kang Yoora?” seakan sudah tahu apa yang ada dipikiran Jungkook, kakeknya sudah bertanya demikian.

Jungkook spontan menatap kakeknya “Aniyo.. Haraboji, tolong batalkan pengeluaran siswi bernama ‘Lee Jieun’. Aku tak ingin dia dikeluarkan dari sekolah” kata Jungkook

Kakeknya cukup kaget dengan pernyataan Jungkook, ia menatap Jungkook tak percaya namun tak dapat dipungkiri senyuman mengembang begitu saja dari bibir kakeknya “Waeyo? kau tampak tak biasanya bersikap seperti ini?” tanya kakeknya.

“Uri chingu” jawab Jungkook

“Jinjjayo? Hanya sekedar teman?” goda kakeknya

Jungkook memutar bola matanya “Waeyo? Lagi pula tak mungkin aku terus membela Yoora, karena aku pun sadar haraboji semua sikapnya adalah salah besar.”

Kakeknya tersenyum puas akan ucapan Jungkook “Tampaknya cucuku sudah banyak berubah, johayo. Memang sudah seharusnya kau berhenti membela yeoja itu, kau tenang saja aku akan mengurus semuanya.”

“Gomawoyo haraboji” kata Jungkook yang disambut senyuman kakeknya dan mengacak rambut Jungkook penuh hangat, hal yang biasa dilakukan kakeknya pada Jungkook terlebih ia merasa senang akan perubahan akan sikap cucunya ini.

Jungkook ingat benar kala itu, ia cukup sadar akan sikapnya dulu yang selalu membela Yoora. Bahkan ia menyadari perasaannya terhadap Jieun bukanlah perasaan biasa, ia menatap Yoora  “Gheurae! Aku menyukai Jieun dan aku tak akan membiarkan Jieun keluar dari sekolah ini. Aku pun sudah sangat lelah akan sikapmu Kang Yoora” ujar Jungkook dengan lantangnya.

Yoora menatap tak percaya Jungkook, ia meremas kedua tangannya seakan tak terima akan ucapan Jungkook. “YA!!!!….” belum sempat Yoora berkata, namun seseorang dari balik dinding tengah bertepruk tangan.

“Mark…” pekik Yoora dan Jungkook yang tampak tak percaya akan Mark yang berada diantara mereka.

“Daebak Kang Yoora, kau memiliki bakat akting yang luar biasa untuk membohongi orang lain. Jadi kau belum mengatakan apa-apa pada orangtuamu? Ketika kau tahu kalau Jungkook yang membatalkan semua itu, justru kau manfaatkan begitu saja? Daebak!!!” ujar Mark yang peka akan perbincangan kedua orang dihadapannya, tak pelak Mark menatap tajam Yoora.

“Oppa.. tidak seperti itu…” ujar Yoora yang tampak ingin menjelaskn pada Mark.

“Kau pikir aku bodoh? Berhentilah bersikap seperti itu, kau tahu? Kekuasaan justru akan menyiksamu, karena kau mendapatkan sesuatu tidak dengan ketulusan Kang Yoo-ra” tekan Mark.

Yoora tak bisa berkata apa-apa, berkali-kali menatap tajam Mark dan Jungkook seraya meremas kedua tangannya “Kalian……” Seakan tak mampu berkata-kata dengan kesal Yoora meninggalkan kedua pria ini.

Mark hanya tersenyum kecut, lain halnya dengan Jungkook yang menghelakan napasnya. Spontan keduanya saling bertukar tatap entah apa yang ada dipikiran mereka “Igo….” dengan reflek keduanya berkata demikian.

“Kau duluan” ujar Mark

“Aniyo, kau duluan” ujar Jungkook, keadaan canggung tampak terasa pada kedua orang ini.

“Gomawoyo atas bantuanmu agar Jieun tetap bertahan disekolah” kata Mark

“Bisa kau tak memberi tahu hal ini pada Jieun?” pinta Jungkook

“Ne….” Jawab Mark

“Keundae, kenapa kau yang berterima kasih akan hal ini? Sebenarnya ada apa diantara kau dan Jieun? Waktu itu kau mengatakan tak menyukai Jieun, apakah justru Jieun yang menyukaimu?” tanya Jungkook sedikit ragu, namun tak pelak rasa penasarannya melebihi rasa ragunya.

“Sepertinya kau sangat cemburu kepadaku. Ketahuilah, tak mungkin Jieun menyukaiku. Karena aku pun tahu siapa yang ia suka, tampaknya kau harus berpikir keras Jeon Jungkook. aku duluan” ujar Mark dengan kata-kata klisenya meninggalkan Jungkook sendirian, sedang Jungkook dalam diam berusaha mencerna ucapan Mark.

****

Sore hari dimana Jieun tengah asik menonton televisi dan seperti biasa Mark merebut remot tv mengubah chanel yang ditonton Jieun dengan film kartun. “Ya!!!!” protes Jieun mendapati hal tersebut.

“Tidak  boleh protes, cepat ambilkan aku makanan didapur” perintah Mark disambut tatapan tajam Jieun “Seorang adik harus menuruti perintah kakaknya” seketika Jieun menghelakan napas kesal mau tak mau menuruti ucapan kakaknya ini.

“Aiiisshh haruskah seorang kakak selalu memerintah” sambil begerutu Jieun kearah dapur.

Mark hanya tersenyum puas dan kembali menatap layar kaca, disela menonton tv tampak terdengar ponsel Jieun yang berada disofa berdering. “Ya, ponselmu berbunyi” seru Mark namun tak ada jawaban dari Jieun yang berada didapur. Sesaat Mark tanpa sengaja menatap layar ponsel Jieun dimana ‘Jeon Jungkook’ tertera pada layar ponsel Jieun, sampai Jungkook menyudahi panggilannya Mark cukup kaget karena 20 panggilan tak terjawab dari Jungkook.

“Aigo, apa dia tak menerima telpon dari Jungkook. Sepertinya dia masih marah” gumam Mark mengingat kejadian lalu sempat Jieun tak berbicara dengannya, telebih Jieun mengetahui sikap Jungkook selama ini hanya untuk Yoora. Mark cukup memahami hal tersebut, namun ia pun teringat Jungkook yang sudah membantu Jieun.

Seketik Jieun menaruh makanan ringan dimeja, spontan Mark tersenyum puas dan menyantapnya. Tanpa berkata apa-apa Jieun meraih ponselnya, ia hanya mentap layar ponsel bahkan ponselnya berdering kembali sebuah panggilan dari Jungkook dibiarkan begitu saja oleh Jieun. “Kau tak menerima panggilannya?” tanya Mark

“Biarkan saja” jawab Jieun datar.

Mark cukup mengerutkan keningnya akan sikap Jieun “Aigo, kau begitu menyeramkan ketika sedang marah” kata Mark asal

“Ya!!!” Jieun memukul Mark dengan bantal sofa disambut senyuman polos Mark, belum mengeluarkan argumennya kembali ponselnya berdering lainya sebuah panggilan justru pesan singkat dari Jungkook tertera jelas pada layar ponsel Jieun.

Jieun-ah bisa kita bertemu?

Aku dihalte dekat perumahanmu

-Jungkook-

Jieun tak bergeming ia cukup kaget dengan pesan singkat Jungkook, namun ia bersikap biasa saja. Hingga Jungkook pun mengirim pesan singkat lagi pada Jieun.

Aku akan menunggumu

-Jungkook-

Kembali Jieun tak bergeming, ia langsung memasukan ponselnya pada saku. Mark cukup memperhatikan pesan tersebut dan berkata “Kau tak ingin menemuinya?”

“Ne, aku tak ingin menemuinya”

Mark menatap Jieun “Temuilah”kata Mark

“Ne?” Jieun tampak tak percaya dengan ucapan Mark

“Dia terus memperhatikanmu disekolah dan terlihat frustasi akan sikapmu padanya” kata Mark yang mengingat akan sikap Jungkook waktu lalu pada Jieun, bahkan ia masih tak menyangka secara sembunyi Jungkook melindungi Jieun.

Kembali Jieun dibuat tak percaya akan ucapan Mark “Ya, apa maksudmu? Ia akan terlihat frustasi ketika Yoora mengabaikannya” ujar Jieun

“Aniyo, ini tampak berbeda dari Jungkook yang kukenal dulu” Mark tak tahu harus berkata apa, karena ia sadar pengakuan cinta tak dapat didengar dari mulut orang lain selain dari orang tersebut.

Jieun sama sekali tak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Mark “Geumanhae! Aku tak ingin salah presepsi lagi dan terlalu berharap padanya. Bukankah dulu kau pernah mengatakan agar tak terhanyut akan kebaikannya, jika kau memberitahuku sejak awal kalau ia membantuku hanya demi Yoora. Mungkin aku tak akan membawa perasaanku lebih jauh untuknya, kau tahu? Aku merasa kecewa padanya tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menghindarinya” ujar Jieun dengan lirih.

Mark menatap Jieun penuh makna, ia mengacak rambut Jieun “Arasseo, tapi ketahuilah semakin kau menghindar. Justru semakin membuat hatimu tersiksa dan Jungkook tak seburuk yang kau pikirkan” kata Mark membuat Jieun terdiam sejenak.

“Waeyo? kau begitu membelanya? Kalian sudah baikan?” tanya Jieun

Mark memutar bola matanya “Aniyo, bukankah sudah tugas seorang kakak memberi saran yang benar” ujar Mark

Mendapati hal itu Jieun hanya mampu terdiam, ia benar-benar merasa Mark sudah berubah dari yang dulu rasa pedulinya sebagai kakak tampak jelas ditunjukkan oleh Mark. Disisi lain Jieun tak tahu harus berbuat apa dengan seorang Jeon Jungkook, Jieun mencerna ucapan Mark tadi namun ia berusaha sebisa mungkin tak memperdulikannya.

^^^

Hingga kali ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dimana Jieun tengah memainkan piano mengisi kepenatannya. Berkali-kali ia menatap jarum jam ‘Apa dia masih menunggu?’ batin Jieun bertanya-tanya mengingat Jungkook yang memang menunggunya dihalte bus. Namun tak mungkin juga jika Jungkook masih berada dihalte bus, sedang Jungkook mengirim pesan pukul 4 sore tadi. Bagaimana mungkin Jungkook masih menunggu dihalte, itu sangat mustahil baginya.

Kembali Jieun memainkan piano dan membawakan alunan musik classic yang menenangkan hati, namun lagi-lagi pikirannya tak fokus entahlah ia pun tak paham akan pikirannya. “Eoh Mark, appa baru saja dari minimarket didepan dekat halte. Aku seperti melihat teman lamamu yang kerap bertemu appa didepan gerbang sekolahmu.. hmmmm…” ujar ayahnya seakan mengingat sesuatu

“Jeon Jungkook, ahhh  geurae aku mengingatnya. Aku melihatnya berdiri dihalte, apa dia menunggumu?” kembali ayahnya berucap dan terdengar jelas ditelinga Jieun, bahkan ia baru sadar rupanya Mark memperhatikan permaian piano Jieun dari belakang.

 Mendengar hal tersebut spontan Mark menatap kearah Jieun yang juga tengah menatap kearahnya “Jinjjayo appa?”

“Eung, appa ingin menghampirinya tapi ibumu sudah menelpon membawakan pesanannya. Sebaiknya kau hampiri dia, diluar hujan deras ” jelas ayahnya menepuk punggung Mark, seraya meninggalkan Mark.

Mendengar hal tersebut Mark hanya menatap Jieun, tampak jelas raut wajah khawatir Jieun dan saat itu Jieun meraih dua buah payung seraya berlari kecil keluar rumah “Eomma, appa, oppa. Aku pergi sebentar” seru Jieun

Mark hanya tersenyum dengan tingkah Jieun, tapi ayahnya justru berseru “Ya, Markeu! Jieun mau kemana? Kau harus menyusulnya.”

“Shireoyo, aku tak ingin terlibat pada percintaannya” sahut Mark

“Mwoya?? Percintaan? Apa dia ingin menemui seorang namja? Ya! Kau sebagai kakak harus menahannya jika ia akan bertemu dengan namja dimalam hari, cepat kau susul atau aku akan menghukummu” kata ayahnya membuat Mark tak bisa berkata apa-apa dan meraih payung seraya menyusul Jieun.

^^^^

Denting hujan terngiang jelas ditelinga Jungkook dimana ia tengah duduk dihalte bus dan menatap air hujan yang kian membasahi bumi. Sudah lama Jungkook menunggu sosok Jieun, namun sosok tersebut juga menmpakkan dirinya. Berkali – kali ia menatap arloji, rasa ragu akan kehadiran Jieun terselip dibenaknya terlebih malam ini hujan turun cukup deras ‘Dia tak akan datang Jungkook-ah’ batin Jungkook dan sepertinya ia harus pulang karena waktu akan terus berjalan bahkan sudah larut.

“Igo” tiba-tiba saja seseorang menyodorkan payung kearah Jungkook, sontak ia menatap orang tersebut yang tak lain adalah Jieun. Ia cukup kaget dengan kehadiran Jieun bahkan piyama tidur dengan motif bunny terbalut jelas ditubuhnya.

“Kau datang?” ujar Jungkook yang masih tak percaya akan kehadiran Jieun dan tersenyum lega “Ku pikir kau tak akan datang kesini Jieun-ah” kembali Jungkook berucap.

Jieun hanya menatap Jungkook dan berkata “Pulanglah, malam semakin larut” ia pun memberikan payung tersebut pada Jungkook dan hendak ingin pergi begitu saja.

Namun Jungkook mengenggam erat tangan Jieun, ia tak menyangka Jieun akan berkata demikian padanya “Mianhae membuatmu begitu marah padaku, aku sama sekali tak bermaksud bersikap seperti itu padamu Jieun-ah” kata Jungkook menatap Jieun penuh makna, mendapati hal ini tak pelak Jieun pun membalas tatapan Jungkook.

“Ya, kau tak perlu meminta maaf seperti ini. Aku tak marah padamu” dusta Jieun

“Jika kau tak marah padaku, kenapa kau selalu menghindariku? Setidaknya aku dapat menjelaskan semuanya padamu” kata Jungkook

“Ghwencana Jungkook-ah, untuk apa kau menjelaskan semuanya padaku? Bukankah kau hanya menganggapku teman, begitu juga denganku menganggapmu teman. Jadi kau tak perlu menjelaskan apa-apa, aku mengerti kau bersikap seperti itu karena cintamu pada Yoora. Aku sama sekali tak menghindarimu, mungkin aku terlalu sibuk” kata Jieun berbicara tak sesuai keinginan hatinya.

Jungkook menatap Jieun penuh tanya “Jinjjayo? Kau tak butuh kejelasan dariku? Teman? Kau mengatakan aku membuatmu salah paham dan membuatmu berharap lebih padamu? Apa maksud semua itu?” Jungkook mengingat benar ucapan Jieun waktu lalu dan membuatnya sadar ia melakukan kesalahan besar pada Jieun.

Jieun cukup terpojokkan dengan pertanyaan Jungkook yang bertubi-tubi “Itu.. anggap saja aku tak pernah mengatakannya” ujar Jieun menghelakan napas beratnya.

Jungkook mengigit bibir bawahnya mendapati ucapan Jieun, namun kali ini ia justru menatap dalam Jieun “Bagaimana jika aku tak menganggapmu seorang teman? Dan bagaimana jika aku yang justru berharap padamu?” ujar Jungkook membuat Jieun diam seketika.

Jieun memejamkan matanya sebentar, ia tak ingin terhanyut perasaannya pada Jungkook. “Berhentilah membuat perumpamaan sebelum kau menetapkan hatimu Jungkook-ah. Bukankah kau sangat menyukai Yoora, bahkan kau belum bisa melepaskan Yoora dari hatimu.” Kata Jieun dan melepaskan genggaman tangan Jungkook, saat itu juga Jieun berjalan cepat meninggalkan Jungkook.

Jungkook yang cukup terhentak akan ucapan Jieun, ia menatap punggung Jieun “Perumpamaan? Apakah semua ini belum jelas bagimu Jieun-ah?” gumam Jungkook dan saat itu juga Jungkook berjalan menerobos hujan berniat mengejar Jieun, namun baru beberapa langkah ia mengejar Jieun tampak jelas sosok Mark menghampiri Jieun. Seketika Jungkook terdiam begitu saja, membiarkan hujan menguyur tubuhnya menyaksikan pemandangan dimana Mark dan Jieun berjalan bersama “Apa benar kau tak menyukai Mark?” batin Jungkook tak pelak hatinya terasa teriris melebihi rasa sakit hatinya dulu.

****

Seorang wanita paruh baya menatap tak percaya dengan surat yang tengah dipegangnya, bahkan tertera jelas ‘Pengeluaran siswi Lee Jieun’ pada surat tersebut “Yeobo, ghwencanayo?” tanya seorang pria yang merupakan suaminya.

Tentunya kedua orang yang berada didalam mobil merupakan kedua orangtua Jieun dan Mark. Mereka tak sengaja menemukan secarik surat pengeluaran Jieun ketika ibunya tengah kekamar Jieun berniat untuk menaruh uang dilaci anaknya, namun betapa terkejutnya ia menemukan surat tersebut pada laci kamar anaknya. Hingga kali ini kedua orang tua mereka tengah berada diparkiran dari Saekang high school.

“Ne, ghwencana. Keundae, aku…” ucapan ibu Jieun terasa tercekat begitu saja seakan tak ingin melanjutkan ucapannya.

“Kau tenang saja, aku akan meminta penjelasan pada kepala sekolah. Jika kau tak mau mendengarnya lebih baik kau menunggu disini saja atau dikantin sekolah” ujar Mr.Tuan

“Ne…” hanya kata itu yang keluar dari Ny.Lee dan membiarkan Mr.Tuan meninggalkannya sendirian didalam mobil memasuki gedung utama dari Saekang highschool.

Berkali-kali Ny.Lee menghelakan napas tak percaya, hingga ia memutuskan untuk ketoilet. Didalam toilet terdapat beberapa murid yang bergossip yang tak lain tak bukan Yoora bersama teman-temannya, Ny.Lee tampak mengelengkan kepalanya “Jika Jungkook menyukai Jieun, lalu Mark?” ujar seorang Seora yang dibuat kaget dengan ucapan Yoora.

“Jangan-jangan Mark….” seru Hana yang langsung ditatap tajam oleh Yoora, karena ia tampak tahu apa yang akan diucapkan Hana “Ahhh, sepertinya aku harus kembali kekelas” Hana kembali berucap seakan mengalihkan pembicaraan, karena tahu sorot mata Yoora yang tak suka jika membahas hal tersebut dan tanpa berkata apa-apa lagi Hana dengan Seora keluar begitu saja dari kamar mandi.

“Tsk! Bodoh mana mungkin Mark menyukai Jieun” gumam kesal Yoora yang sibuk memakai lipstick.

Ny.Lee cukup mendengar pecakapan Yoora, seketika Ny.Lee menghampiri Yoora “Haksaeng, kau mengenal Jieun?”  tanya ibunya

“Ne kami sekelas, nuguya?” tanya Yoora

“Aku, Jieun eomma” ujar Ny.Lee

“Ahhh Jieun eomma” ujar Yoora sedikit memaksakan memberi hormat pada Ny.Lee

“Haksaeng tadi tak sengaja kau membicarakan Jieun dan Mark” tanya Ny.Lee

Yoora mengerutkan keningnya dengan arah pembicaraan Ny.Lee “Ne, waeyo?”

“Seperti apa Mark disekolah? Apa Mark bersikap baik pada Jieun?” tanya Ny.Lee

Yoora semakin tak mengerti, namun ia memutar bola matanya “Aniyo, Mark selalu bersikap acuh tak acuh pada Jieun. Bahkan ia menginginkan Jieun keluar dari sekolah” ujar Yoora yang justru memutar balikkan fakta membuat Ny.Lee membulatkan kedua matanya.

“Jinjjayo?” dengan lirih Ny.Lee berucap

“Ne… Ahjjuma, aku permisi duluan” ujar Yoora yang membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan Ny.Lee sendirian, ketika keluar Yoora cukup berseringai puas.

Sedang Ny.Lee menghelekan napas beratnya mendengar kenyataan tersebut “Sudah kuduga Mark akan bersikap seperti itu” lirih Ny.Lee sambil menepuk dadanya.

^^^^

Keadaan kelas 3-A cukup gaduh sejak berakhirnya pelajaran pertama, belum ada  Song sonsaengnim memasuki kelas untuk memberikan materi dipelajaran kedua. Bahkan Jieun tampak bergelut dengan pikirannya, dimana selama pelajaran pertama ia tak fokus karena ucapan Jungkook waktu lalu, tak pelak selama pelajaran pertama matanya cukup tertuju pada Jungkook, namun ia berusaha tidak memperdulikannya.

Hingga saat ini Jungkook  yang memang tak ada dikelas membantu Jung sonsaengnim membawa buku paketnya, Jieun pun tampak menatap kursi kosong Jungkook tapi seketika ia membenamkan wajahnya dimeja “Apa yang kau pikirkan Lee Jieun, teman ingat dia hanya menganggapmu teman” gumam Jieun

Mendapati hal ini Mark hanya mengelengkan kepalanya “Tampaknya kau harus berbicara lagi dengan Jungkook” ujar Mark

“Mwo??” hanya kata itu yang keluar dari mulut Jieun.

“Aniyo, lupakan” ujar Mark yang hanya menghelakan napasnya dengan sikap Jieun.

Belum sempat menyahuti ucapan Mark, seketika sebuah pesan line dari ‘Appa’ terpampang jelas pada layar ponsel Jieun dan Mark. keduanya menerima pesan yang sama dan berisikan.

Aku menemukan ini dan aku sudah berada disekolah kalian

Ayahnya pun mengirim sebuah gambar dan tampak jelas gambar tersebut adalah surat pengeluaran Jieun.

“Mwoooo?” pekik Jieun dan Mark tak percaya menerima pesan dari ayahnya, seketika Mark dan Jieun bertukar tatap. Dalam hitungan detik mereka berdua berlari keluar kelas.

“Ya, kita berpencar. Aku keparkiran dan kau keruang kepala sekolah, setidaknya kita harus mencegat mereka sebelum keruang kepala sekolah” ujar Mark didepan kelas.

“Ne..” Jieun mengangguk mantap dengan usul Mark, dalam sekejap keduanya berpencar berniat untuk mencegah kedua orangtuanya agar tidak menemui kepala sekolah.

Mark yang  baru saja sampai diruang parkiran menengadah kesegala arah, namun matanya spontan menatap kearah mobil yang cukup ia ketahui “Eomma, appa…” bahkan tak pelak ia bergumam pelan ketika mendapati ayah dan ibunya yang memasuki mobil.

Sedang Jieun yang setengah berlari menuju ruangan guru, ia tak mendapati orangtuanya berada disekitar ini. Ia cukup sadar Jungkook yang berada diruangan guru, namun tak ia perdulikan. Ia memilih keluar dan menuju pada ruangan sebelah dimana ruangan kepala sekolah terdapat disebelah ruangan guru.

Ketika ia ingin mengetuk pintu ruang kepala sekolah “Kau, mencari ayah Mark?” ujar seseorang yang cukup jelas suara tersebut adalah Jungkook.

Jieun terdiam sejenak dan berkata “Ne, ahjjusi eoddiseo?”

“Beliau baru saja pulang” ujar Jungkook

“Jinjjayo?” pekik Jieun tak percaya, disambut anggukan oleh Jungkook. Saat itu juga tanpa berkata apa-apa Jieun setengah berlari untuk keparkiran, ketika ia melewati Jungkook dalam sekejap tangannya digenggam erat oleh Jungkook membuat langkah Jieun terhenti.

“Kau dan Mark bersaudara, benar?” ujar Jungkook tiba-tiba dan dalam sekejap Jieun membulatkn kedua matanya, menatap Jungkook yang juga tengah menatapnya.

“Neo… Eottoke arasseo?” pekik Jieun…..

****

-TBC-

Preview Chapter 14

“Chingu?”

“Bagaimana aku tak tinggal diam kalau Jieun anak perempuanku harus menerima surat pengeluaran sekolah” ujar Mr.Tuan

^^^

“Keundae, bisa kau tidak memberitahu hal ini pada siapapun?” kembali Jieun berucap

“Baiklah, aku akan menutupi semua ini. dengan satu syarat”

“Minggu ini berkencanlah denganku”

^^^

“Mianhae abojji, aku yang salah” kata Mark

“Teman sekelas kalian, waeyo Mark? Apa kamu belum bisa menerima Jieun sebagai adikmu?” tanya Ny.Lee dengan nada lirih

“Apa ucapan Mark benar? Jika ia berbohong, haruskah kita bercerai?”

****

“Ige mwoya??” ujar Ny.Lee yang mendapati makanan sarapan pagi sudah ada tepat dimeja makan dan tertata dengan rapi.

“Aigo, ini bukan seperti sebuah rayuan tapi penyuapan agar mereka tak dimarahi eomma dan appa lebih lanjut. Benar?”

^^^^

Aku akan menjemputmu tepat jam 10. Arasseo

-Jeon Jungkook-

“Ketahuilah, sebenarnya yang menolongmu agar tak dikeluarkan dari sekolah adalah Jungkook

^^^^

“Seharusnya aku menjemputnya”

“Jungkook-ah”.

“Sudah data……”

“Eoddi?” tanya Jieun

“Kencan yang sesungguhnya” kata Jungkook

^^^^

“Ya, jangan tertawa.”

“Cepat suapi aku atau aku akan melakukannya?”

“Jieun-ah”

“Eoh Hyunwoo-ya”

“Kau tak bisa memeluknya sembarangan” kata Jungkook penuh penekanan

 “Johayo, Aku menyukaimu, sangat menyukaimu” jujur Jungkook

“Keundae…..”

Chu~

*****

ALANGKAH BAIKNYA JIKA KALIAN MENINGGALKAN JEJAK…

 

30 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 13]

  1. preview nya bkin teriak2 krn senangnya, jungkook jieun kencan:-D
    blm ada tanda2 nih perasaannya mark,,yoora smpai kpan kau akan sadar huh??ckck

  2. Huwaaaa author emang yg paling keren deh baru aja kemarin baca chap 12 eh sekarang chap 13 udah keluar aja…thank you thor buat updateannya makin kesini makin seruuuu berharap ada bonus lagi kayak kemaren jadi nggak perlu nunggu lama updateannya hehehe❤❤

  3. andalan si mark ‘seorang adik harus menuruti perintah kakaknya’.. ckck ayo semangat jungkook! ayeee next ada hyunwoo.. ditunggu nextnya😀

  4. Ah bikiiiin gregeeet tor.
    Haloooooo tor salaaam kenal tor aku reader baru nih hehe FF nya keren tor walaupun cuma baru baca FF yang ini doang sih tapi dari tata bahasany kecee tor bikin pensaran.:) nanti izin ubek ubek blognya yah tor hehehe. Satu lagi tor Perbanyak ff yang cast nya lee jieun a.k.a IU yaah🙂 he
    All the best for you , Fighting and keep writing kekeke

  5. Ah torrrr bikiiiin gregeeeeeet..
    Halooo author salam kenal aku reader baru tor he ff nya kece keece tor walaupun baru baca ff yang ini doang sih tapi tatabahasanya kece abiis tor bikin penasaran he nanti izin ubek ubek blognya tor hee. Satu lagi tor perbanyak ff yang cast nya lee jieun a.k.a IU heee

    All the best for you,fighting and keep writing kekeke

  6. INI AKU MENINGGALKAN JEJAK WKWKWK

    ITU HYUNWOO?!?! NGAPAIN?? ;A;
    huaaaa author sukses buat penasaran T-T kok ada kata2 cerai? :((
    duuuuh penasaran ;~;

  7. Mian gak komen d chapter 12 karna bacanya lgsg 22’a. .baca chapter ini ada rasa2 gmna gtu. terharu liat Jieun-jungkook, tapi ada manis2’a juga. lengkap deh. hyunwoo? nugu? ngapai si hyunwoo muncul? ah pasti penggangu hubungan KookU nih..sepertinya Mark setuju nih. Ah pokoknya Ffny Daebak, jjang deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s