Brother & Sister [Chapter 12]

 Brother and sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 12]

Genre : Family, Fluff

Length : Chapter

Rating : T

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

 

 Brother & Sister [Chapter 1] | Brother & Sister [Chapter 2]|Brother & Sister [Chapter 3] |Brother & Sister [Chapter 4]|Brother & Sister [Chapter 5]Brother & Sister [Chapter 6] | Brother & Sister [Chapter 7]Brother & Sister [Chapter 8] | Brother & Sister [Chapter 9] | Brother & Sister [Chapter 10] | Brother & Sister [Chapter 11]

Trailer Fanfic Brother & Sister

CHAPTER 12

Mark menengadah kesegala arah ketika ia memasuki kantin mencari sosok Jieun, tepat ditengah Mark melihat jelas Jieun yang baru duduk dikursi. Tanpa ragu Mark menghampiri Jieun, ketika Jieun ingin menyantap bekalnya dengan cepat Mark menarik bekal Jeun seraya menyantapnya.

“Ya! Kenapa kau memakan bekalku” pekik Jieun tidak percaya akan tindakan Mark.

“Waeyo? Aku masih lapar” dusta Mark dan kembali menyantap bekal tersebut.

Jungkook yang menyaksikan hal tersebut bernapas lega “Syukurlah” setidaknya Mark mencegah Jieun untuk memakan bekalnya. Tidak dengan Yoora yang menyaksikan hal tersebut justru berjalan menghampiri Mark, mendapati hal tersebut “Mau apalagi dia” spontan Jungkook berucap demikian dan berjalan kearah Jieun.

“Kembalikan bekalku” pinta Jieun

“Sayangnya aku akan menghabiskannya”

“Ya! Kau ingin aku mati kelaparan” tekan Jieun

“Aniyo. Aku hanya tak ingin, gatal dan sesak napasmu kumat” ujar Mark membuat Jieun bingung akan ucapannya.

Belum sempat Jieun berucap Yoora menatap kesal Mark “Oppa, kenapa kau yang memakan bekal Jieun?”

Jieun tampak tak mengerti dengan keadaan ini, namun justru membuat Mark menatap tajam Yoora “Seharusnya aku yang bertanya padamu Kang Yoora. Kenapa kau menaruh bumbu udang pada bekal Jieun? Wae????”

Jieun spontan menatap Yoora tak percaya, bahkan Jungkook yang berada dibelakang Jieun berkata “Waeyo? kau melakukan ini dengan sengaja untuk mencelakai Jieun, bahkan kau tahu Jieun memiliki riwayat alergi dengan kadar bumbu udang”

Mark, Jieun dan Yoora spontan menatap Jungkook dengan tatapan tak percaya. Kali ini terdengar secara gamblang Jungkook membela Jieun, bahkan tatapan kecewanya begitu tersirat pada Yoora.

Yoora semakin geram dengan keadaan ini “Ya, kalian kenapa membelanya seperti ini? kalian menyukai yeoja ini???” tutur Yoora tampak tak percaya dan mendorong Jieun kebelakang yang nyaris tersungkur karena dengan cepat Jungkook menahannya, namun reflek Jieun menepis gamitan tangan Jungkook yang membantunya. Jungkook mengerti akan sikap Jieun dan memakluminya, hal ini sudah dikatakan saat lalu.

“Jinjjayo? Kau melakukan ini dengan sengaja? Wae???” tak tahan akan sikap Yoora, Jieun bersua dengan penuh penekanan pada Yoora.

“Ne, aku sengaja melakukan itu. Aku sangat tak menyukaimu” kali Yoora berkata penuh penekanan.

Jieun benar-benar muak akan sikap Yoora, tanpa ragu ia meraih segelas air yang berada dimeja dan melemparkan air tersebut tepat diwajah Yoora. Spontan seisi kantin menatap Jieun tak percaya akan tindakannya, tidak dengan Mark dan Jungkook tampak menahan tawa.

“YA!! LEE JIEUN, Kau melakukan ini dengan sengaja???” pekik Yoora mendapati wajahnya yang basah.

“Ne, aku sengaja melakukannya. Waeyo? Kau kesal? Kau ingin marah? Tidak sadar dengan perlakuanmu padaku selama ini?” tanya Jieun.

Yoora cukup membulatkan kedua matanya karena sikap Jieun yang tak biasanya “Ya, kau benar-benar membuat kesabaranku hilang Lee Jieun. Aku akan meminta pada orangtuaku agar mengeluarkanmu atas perlakuanmu padaku ini” tekan Yoora memberi ancaman pada Jieun.

Sontak semua membulatkan kedua matanya akan ucapan Yoora, Mark pun menatap kesal pada Yoora dan ingin mengeluarkan argumennya. Tapi Jieun sudah lebih dulu berkata “Lakukan semerdekamu Kang Yoora. Kau pikir aku takut dengan ancamanmu, lebih baik aku dikeluarkan dibanding harus mengorbankan orang lain menjalin hubungan dengan orang yang tak disukainya”

Mark spontan menatap Jieun akan ucapannya, begitu juga dengan Jungkook yang menatap Jieun. Yoora mengigit bibirnya dan semakin kesal pada Jieun “Kau menantangku Jieun, baiklah aku akan mengatakan pada orangtuaku untuk mengeluarkanmu. Kau tahu kan orangtuaku cukup berkuasa disekolah ini” ujar Yoora dengan sombong.

Jieun menganggukan kepalanya, semua cukup bingung dengan tindakan Jieun. “Ketahuilah kekuasaan yang kau banggakan itu tak sepenuhnya akan bertahan lama Yoora-ya, mungkin apa yang kau inginkan dapat kau beli dengan uangmu. Tapi kasih sayang tak akan pernah bisa kau beli dengan uang, semua kembali pada sikapmu” saat itu juga tanpa menunggu respon Yoora, Jieun berlalu begitu saja dari kantin.

Semua tampak takjub dengan ucapan Jieun dan tersenyum puas, seakan apa yang selama ini ingin dikatakan pada Yoora sudah tersalurkan oleh Jieun. Tak pelak Jungkook dan Mark pun tersenyum simpul, tidak dengan Yoora yang diam saja mencerna ucapan Jieun yang sangat mengena hatinya.

^^^^

 Jieun menatap langit atap kamar, dalam diam ia teringat kejadian tak terduga. Mengetahui kenyataan bahwa Jungkook menolongnya hanya karena untuk menutupi kesalahan Yoora cukup menyakitkan hatinya, bahkan Mark harus mengorbankan dirinya hanya untuk Jieun tidak dikeluarkan dari sekolah. Meski pun begitu ia harus menerima kenyataan tersebut meski pahit.

Keadaan rumah yang tampak sepi membuat Jieun terbangun dari ranjang, biasanya Mark mendengarkan musik agar rumah tak terlalu sepi atau suara Mark yang tengah menonton tv dan tertawa dengan keras cukup terdengar. Tapi sore ini keadaan rumah sangat hening, ia pun keluar kamar dan memang tak nampak batang hidung seorang Mark “Apa dia tidur?” batin Jieun menatap kamar Mark.

Sedikit ragu Jieun membuka pintu kamar Mark, namun ketika ia memasuki kamar Mark keadaan kamar pun tampak hening menandakan pemilik kamar tak ada ditempat “Markeu, neo eoddi?” teriak Jieun tak ada tanggapan sama sekali.

Jieun hendak keluar kamar Mark, tapi ia menemukan sebuah polaroid yang lusuh dimana foto Mark bersama Jungkook. “Jinjjayo? Kalian dulu benar-benar berteman?” gumam Jieun sambil menatap foto tersebut dan keluar kamar Mark ingin mencari Mark.

Hingga kali ini Jieun tengah berjalan diarea komplek menuju taman, dimana Mark pun kerap ketaman tersebut untuk menghilangkan penatnya. Entah apa yang ada dipikarannya, tapi ia sadar sikapnya pada Mark tampak keterlaluan tak seharusnya ia berdiam diri dari kakaknya yang sudah banyak berkorban untuknya. Tepat Jieun sampai taman dekat komplek rumahnya terlihat jelas dilapangan basket Mark tengah memainkan skateboardnya, Jieun langsung duduk bersila begitu saja dikursi yang tersedia dekat lapangan seraya memakan ice cream yang memang ia bawa dari rumah dan memperhatikan Mark.

“Ya, kau…” sadar Mark ketika mendapati Jieun yang tengah duduk santai dan membuat Mark menghentikan permainan skatebord seraya menghampiri Jieun “Kau pasti kesini karena kesepian dirumah tanpaku, benar?” ujar Mark

“Aniyo” jawab Jieun

“Bohong saja kau..” timpal Mark seakan tahu apa yang dirasakan Jieun dirumah, tanpa pamrih Mark pun meraih sebuah ice cream dikotak yang Jieun bawa.

“Ya, ice cream milikku” protes Jieun ingin meraih ice cream ditangan Mark, namun Mark segera memakan ice cream tersebut dan duduk tepat disamping Jieun.

“Seorang adik tak boleh pelit pada kakaknya, lagi pula aku tahu kau sengaja membawa banyak ice cream karena tahu aku ada disini kan?” ujar Mark

Jieun terdiam, ucapan Mark memang benar. Ia sengaja membawa ice cream banyak untuk memakannya bersama Mark ditaman “Waeyo? kenapa kau lama sekali disini, biasanya kau tak akan berlama-lama ditaman?” tanya Jieun

Mark spontan tertawa “Hahaha benar saja, kau pasti kesepian dirumah” Jieun menatap tajam Mark membuat tawaannya berhenti seketika “Aigo, tidak sadar waktu kau mengatakan apa” Mark justru meneloyor kening Jieun dan kembali berkata “Markeu, aku tak ingin berbicara denganmu”

Mark mengucapkan kalimat yang pernah dikatakan Jieun padanya, Jieun sadar akan tersebut dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal “Mian” kata Jieun.

Mark spontan mentap Jieun dan tersenyum simpul “Aigo, apakah adikku ini sedang ingin membuatku terharu. Terlebih lagi tindakanmu pada Yoora sangat keren, sukses membuatnya bertanduk” Mark menujukkan dua ibu jarinya pada Jieun.

Jieun teringat akan tindakannya pada Yoora yang seakan menantangnya “Waeyo? kau takut dengannya?” tanya Jieun

Mark mengelengkan kepalanya “Aniyo, yang aku takutkan jika kau dikeluarkan dari sekolah”

Jieun terhenyak seketika mendengar ucapan Mark yang tampak seperti pengakuan “Apa karena itu kau sampai rela mengorbankan dirimu berpacaran dengan Yoora?” tanya Jieun.

Mark terdiam dengan pertanyaan Jieun “Ne, tak perlu menjawab kau tampak tahu jawabannya”

“Mian selalu membuatmu repot” kata Jieun dengan lirih.

Mendapati hal tersebut Mark justru tersenyum dan mengacak rambut Jieun “Awal aku memang tak dapat menerimamu sebagai adikku, karena sikapmu yang menyebalkan. Tapi setelah mengenalmu, akan lebih baik jika kehidupanku dijalani bersama keluarga baruku” Jieun sangat terhenyak mendengar ucapan Mark, sangat terasa ketulusan pada tiap kata Mark. Menyadari sikap Jieun, Mark pun kembali berkata “Ya, hal ini bukan berarti aku sedang mengatakan sebuah pengakuan.”

Seketika Jieun yang benar-benar terharu akan ucapan Mark spontan mengerucutkan bibirnya “Aisshh jelas-jelas itu sebuah pengakuan, tampaknya aku benar-benar mempunyai kakak yang bodoh” gurau Jieun

“YAAA!!!!” Mark tampak geram akan ucapan Jieun dan menjentikkan jarinya dikepala Jieun.

Spontan Jieun berseru “Auuu, oppaaaaa” ia cukup merintih kesakitan dan ingin membalas perbuatan Mark, namun dengan cepat Mark menahan Jieun.

“Seorang adik tak boleh memukul kepala kakaknya. Tidak boleh” ujar Mark seakan memberi nasihat pada Jieun membuat mengerucutkan bibirnya, seakan tak perduli Jieun justru ingin membalas tapi justru ia yang menerima jentikan jari dari Mark membuat tawaan keluar dari mulut Mark.

Disela kejahilan Mark pada Jieun, tampak jelas Jieun seakan teringat sesuatu ia merogoh kantung jaketnya dan menunjukkan polaroid yang ditemukannya tadi. Seketika Mark terdim mendapati foto polaroid tersebut “Ya, apa kau menyusup kekamarku?” tanya Mark dengan tatapan curiga.

Jieun tersenyum polos membuat Mark mengelengkan kepalanya akan tingkah adiknya ini. “Apa kau berniat untuk membuangnya?”

“Tadinya, tapi hanya ini yang aku punya saat berteman dengan Jungkook” Mark pun langsung memasukan foto tersebut pada sakunya, tanpa berkata apa-apa Jieun hanya tersenyum mengerti.

****

Jungkook memainkan pena yang dipegangnya, pikirannya melayang begitu saja. Keadaan bising dikelas tampak tak mempengaruhi yang ada dipikirannya saat ini adalah Jieun. Beberapa kali ia menoleh kearah Jieun yang sibuk membaca buku, jam istirahat sudah selesai namun Kim sonsaengnim belum menampakkan dirinya maka tak canda tawa pun terdengar jelas dikelas ini.

Tanpa sadar Jungkook yang tengah menatap kearah Jieun cukup diperhatikan oleh Mark, entah apa yang ada dipikirannya. Menyadari Mark yang tengah memperhatikan tingkah Jungkook, saat itu juga Jungkook mengalihkan pandangannya dari arah Jieun. Sesungguhnya ia tak tahu harus berkata apa akan sikap Jieun yang acuh tak acuh padanya, pagi hari ketika ia berpapasan dengan Jeun tampak jelas Jeun tak menoleh sedikit pun kearah Jungkook, bahkan Jieun berjalan cepat seolah menghindarinya. Jungkook pun teringat saat dikantin tadi, dimana Jieun kembali menghindarinya.

Jieun tengah mencari kursi kosong untuk menyantap bekalnya, Jungkook melambaikan tangannya seperti biasa meninggalkan kursi kosong untuk Jieun. begitu jelas Jieun melihat Jungkook melambaikan tangan namun seolah tak melihat Jieun justru duduk dikursi kosong lainnya. Menerima hal ini ia menghelakan napas dan menatap Jieun yang tengah menyantap bekalnya “Waeyo? Kenapa kau begitu marah padaku Jeun-ah?” gumam Jungkook

Tak tinggal diam Jungkook berjalan menghampiri Jieun, menyadari hal tersebut Jieun spontan meneguk habis air mineralnya dan menyudahi makannya “Eoh nara-ya, baiklah aku akan segera kesana”  Seolah seseorang menelponnya Jieun pergi begitu saja dari kantin.

Jungkook kembali menghelakan napas beratnya “Waeyo? tidak bisa kita berbicara sebentar saja” gumam Jungkook menatap punggung Jieun.

Ketika ia mencoba untuk tak memikirkannya namun hal tersebut justru membuatnya semakin memikirkan, Ia cukup sadar akan kesalahannya, namun menerima sikap Jieun yang acuh padanya membuat merasa kehilangan sosok keceriaan Jieun. “Ya, kau kenapa ?” tanya Yugyeom merupakan teman sebangkunya.

Spontan Jungkook mengelengkan kepalanya “Aniyo” seakan tak tahan Jungkook berdiri, belum sempat ia ingin menghampiri Jieun. Kim Sonsaengnim sudah masuk kelas membuat Jungkook tak jadi untuk menghampiri Jieun.

Disisi lain Jieun cukup sadar Jungkook yang ingin menghampirinya, namun ia sama sekali tak sadar kalau Jungkook terus memperhatikannya. Kali ini ia merasa bersyukur karena kim Sonsaengnim sudah memasuki kelas, ia tak tahu harus bagaimana lagi menghindari Jungkook. Sesungguhnya ia melakukan hal tersebut hanya tak ingin semakin terhanyut akan perasaanya ketika melihat Jungkook dan ia pun masih tak mampu menerima kenyataan akan kebaikan Jungkook semata-mata hanya untuk Yoora.

Dalam diam Mark hanya menatap keduanya yang tampak sulit dipaham jalan pikirannya, seakan tak mau ikut campur Mark mengelengkan kepalanya.

^^^^

Jam pulang pun sudah berbunyi, semua murid disibukkan bergegas keluar kelas. “Oppa, antarkan aku pulang” seru Yoora tiba-tiba menghalangi langkah Mark.

 “Pulanglah sendiri dan satu lagi aku benar-benar sudah tak menganggap perjanjian itu masih berlaku” kata Mark yang tanpa menunggu respon Yoora langsung menarik Jieun keluar kelas.

“Oppa” teriak Yoora dengan kesal dan mengepalkan kedua tangannya “Aku benar-benar akan meminta pada orangtuaku untuk mengeluarkan Jieun” Kembali Yoora berucap dengan lantang namun tak digubris oleh Mark.

Beberapa murid yang masih berada dikelas mengelengkan kepala mereka, begitu juga Jungkook yang menghelakan napas seakan sudah biasa dengan sikap Yoora tanpa berkata apa-apa ia berlalu meninggalkan kelas dan berjalan cepat berniat menyusul Jieun.

“Ya, bagaimana dia benar-benar akan mengeluarkanku?” tanya Jieun tiba-tiba membuat Mark menatapnya.

“Haruskah aku kembali lagi dan mengantarkannya pulang?” ujar Mark

“Andhwae! Lagi pula aku merasa ancamannya adalah lelucon” kata Jieun membuat Mark tertawa “Meskipun aku dikeluarkan, setidaknya momen indah disekolah ini sudah kurasakan dan kau jangan pernah melakukan hal konyol hanya agar aku tak dikeluarkan” kembali Jieun berucap membuat Mark terdiam tak percaya akan ucapan Jieun, sesaat Mark tersenyum dan mengacak rambut Jieun.

Dari jarak yang lumayan Jungkook diam tanpa kata, ia tak tahu apa yang dibicarakan Mark dan Jieun namun pemandangan tersebut cukup melukai hatinya.

Hingga Jaebum menghampiri Mark “Ya, Mark. Sudah berapa lama kau tak latihan baseball? Hari ini kau harus ikut latihan” kata Jaebum merangkul Mark.

Seketika Mark menatap Jieun “Aiisshh, jika aku ikut Jieun akan pulang sendiri” jawaban yang tak diduga oleh Jieun dan Jaebum.

“Kalau begitu Jieun bisa ikut menonton latihan baseball” ujar Jaebum yang tersenyum pada Jieun.

“Andhwae! Jika dia ikut, mungkin anak baseball lainnya akan menggodanya. Kau pulang sendiri ghwencana?” ujar Mark yang langsung terarah pada Jieun.

Mendapati hal ini Jieun mengerutkn alisnya akan tingkah kakaknya ini “Aigo, ada apa dengan namja ini. Ghwencana, kau pikir aku anak kecil yang tak bisa pulang sendiri” kata Jieun disambut tawaan oleh Jaebum.

“Mark jika kau bersikap seperti ini seakan menunjukkan kau menyukai Jieun” ujar Jaebum

“Aniyo” seru Mark dan Jieun spontan keduanya pun bertatapan.

“Tak mungkin aku menyukainya” kata Mark disambut anggukan Jieun membenarkan ucapan Mark.

Jaebum cukup bingung dengan tingkah kedua orang dihadapannya ini “Terserah kalian. Yang jelas aku akan membawa Mark, Jieun ghwencana kau pulang sendiri?” ujar Jaebum

“Tentu.. Aku pergi duluan, annyeong” kata Jieun yang berjalan lebih dulu menuju halte bus, disambut senyuman Mark dan Jaebum.

Jungkook yang cukup mendengar pembicaraan ketiga temannya tadi, saat itu Jungkook memakai topi mengikuti langkah Jieun yang memasuki bus dan duduk tepat dibelakangnya. Mungkin ini terlihat konyol, namun Jungkook hanya memastikan kalau Jieun pulang dengan selamat meski ia tak menunjukkan batang hidungnya didepan Jieun, karena dapati dipastikan Jieun akan menghindarinya. Dengan buku yang seolah tengah dibacanya dalam diam Jungkook hanya mampu menatap Jieun.

Dari luar Mark memang memperhatikan tingkah Jungkook hingga memasuki bus “Ige Mwoya?” gumam Mark mengelengkan kepalanya, namun mendapati hal tersebut entah kenapa senyuman mengembang begitu saja dari bibir Mark.

***

Bell masuk seusai istirahat pun tampak berbunyi dengan tergesa beberapa murid memasuki kelas, hingga keadaan kelas 3-A dibuat gaduh karena seruan Jackson yang tiba-tiba “Hari ini Han Sonsengnim tak dapat masuk dan dapat dipastikan jam pelajaran ke 3 kosong”

Mendengar hal tersebut sontak semua berseru kegirangan “Yeahh” karena cukup jarang kelas ini menerima jam kosong karena tak ada guru. Tak jarang diantaranya bersenda gurau, bahkan lempar kertas pun terjadi dikelas ini. Lain halnya dengan Jieun yang beranjak dari kursi “Eoddiga?” tanya Mark

“Perpustakaan” ujar Jieun, tampak mengerti Mark hanya menganggukan kepalanya saja.

Jungkook memang memperhatikan Jieun yang keluar kelas, ia spontan keluar dan mengikuti langkah Jieun hingga memasuki perpustakaan. Jieun pun memilih duduk paling ujung dekat jendela dan membaca beberapa buku yang sudah dipilihnya. Diantara deretan lemari buku Jungkook memperhatikan Jieun, dari deretan lemari 1 hingga ke 8 dimana jarak tersebut tak begitu jauh dari jarak Jieun berada. Jungkook tampak memperhatikan Jieun, namun tak mungkin baginya untuk menghampiri Jieun. Ia mengembungkan pipinya dan terduduk di lantai diantara deretan lemari, ia pun meraih sebuah buku yang berada didekatnya novel bertemakan ‘Butterfly’. Tanpa ragu ia pun membacanya, namun pikiran tak fokus ia berusaha menahan diri agar tak melihat Jieun ‘Apa yang kau pikirkan Jeon Jungkook’ batin Jungkook untuk pertama kali baginya melakukan hal seperti ini.

Tapi apa daya beberapa lembar buku yang sudah dibacanya, seketika ia justru menatap kearah Jieun. Cukup kaget dengan pemandangan yang tengah dilihatnya, dimana Jieun tengah tertidur diantara tumpukan yang dibacanya. Spontan Jungkook menutup buku tersebut dan berjalan pelan menghampiri Jieun, tepat disamping Jieun tanpa sadar Jungkook tersenyum “Kiyowo” gumamnya menatap Jieun yang begitu tenang terlelap.

“Ehmm” cukup disadari Jieun bergulat sebentar membuat Jungkook terkejut ingin pergi, namun sesaat ia lihat Jieun terlelap kembali. Bahkan Jieun sedikit mengerutkan keningnya karena cahaya matahari dari jendela perpustakaan terpantulkan kewajahnya, menyadari hal itu Jungkook menutupi cahaya tersebut dengan tangan kirinya meneduhkan wajah Jieun dari pantulan cahaya.

Hingga tanpa ragu Jungkook duduk begitu saja disamping Jieun seraya menutupi wajah Jieun dari pantulan cahaya matahari. Dalam diam Jungkook terus memandangi wajah Jieun. Sesaat ponsel Jieun yang terdapat dimeja berdering, untungnya ponsel Jieun memang disilent. Namun Jungkook menatap jelas layar ponsel Jieun yang tertera nama ‘Mark’ yang tengah menelponnya, entah gerakan apa tak ingin Jieun terganggu Jungkook mereject telpon dari Mark. Tak ingin berfikir yang macam-macam Jungkook hanya mampu menatap Jieun hingga batinnya berkata ‘Bisa aku terus melihatmu seperti ini? Bogoshipo, aku merindukanmu yang dulu’.

Disisi lain Mark yang berusaha menghubungi Jieun, namun tak ada jawaban dari Jieun. Ia berniat memberitahu kalau pelajaran terkahir akan segera dimulai, namun ketika sambungannya direject Mark memang berada diperpustakaan menyusul Jieun. Ia cukup terkejut dengan pemandangan dimana Jungkook tengah melindungi Jieun dari sinar matahari dan mereject sambungan Mark, saat itu Mark hany mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan segores senyuman mengembang begitu saja ‘Kau menyukainya Jeon Jungkook’ gumam Mark tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan perpustakan, bahkan senyuman tak luput ia lontarkan.

^^^^

“Ya, kenapa kau tak menghubungiku kalau disaat pelajaran terakhir mau dimulai” gerutu Jieun memasuki kelas ketika semua murid sudah sibuk bergegas, bahkan Jieun terbangun karena bell pulang berbunyi maka dari itu ia begegas kekelas dan pelajaran sudah selesai.

“Jangan salahkan aku, salahkan saja dirimu yang tertidur sangat pulas” ujar Mark yang meraih ranselnya.

Jieun menghelakan napasnya “Aisshh, aku ketinggalan pelajaran. Kalau aku tak bisa dalam ujian, ahhhh” Jieun cukup frustasi karena pelajaran tersebut pun sangat penting.

Mark hanya menatap datar Jieun dan menaruh sebuah buku catatan tepat dimejanya “Ige mwoya?” tanya Jieun.

“Kau lihat saja sendiri” kata Mark dan tanpa ragu Jieun membuka buku tersebut, betapa kaget dirinya semua pembahasan pelajaran terakhir tadi sudah tercatat pada buku tersebut.

“Ya, kau mencatat semunya?” tanya Jieun tak pecaya.

“Waeyo? kau tak percaya?” ujar Mark menatap tajam Jieun

“Aniyo, hanya saja. Tak biasanya kau mencatat hahahaha” seru Jieun yang menertawakan kakaknya ini.

Seketika Mark berkata “Yasudah kalau begitu kuambil kembali bukunya” Mark siap meraih buku tersebut, namun dengan cepat Jieun memeluk buku itu.

“Andhwae! Aku harus mempelajarai catatan ini, Markeu gomawoyo” kata Jieun disambut gelengan kepala Mark, bahkan dengan riang Jieun meraih ranselnya dan bergegas keluar kelas.

“Kau tunggu digerbang, aku ketoilet sebentar” kata Mark dijawab anggukan mantap oleh Jieun.

Sesaat Jieun yang sudah menuruni anak tangga, Mark justru menuju toilet. Namun ketika ia berjalan tepat dilorong sekolah yang sepi, matanya tertuju pada dua orang yang tengah berdiri dan tampak berbicara serius. Begitu jelas untuk Mark siapa kedua orang tersebut “Jungkook? Yoora?” gumam Mark.

“Waeyo?” kata Jungkook, cukup terdengar jelas ditelinga Mark, hingga ia memutuskan untuk bersembunyi dibalik dinding besar diantara lorong kelas.

Tampak jelas sirat senyum tipis dari Yoora “Jungkook-ah bisa kau mengatakan pada kakekmu untuk mengeluarkan Jieun dari sekolah” mendapati hal tersebut Mark spontan mengepalkan kedua tangannya, namun ia masih mampu menahan.

“Neo michesseo!!” Pekik Jungkook tampak jelas ekpresi tak percaya akan ucapan Yoora.

“Orangtuaku sudah meminta pada Jisu sonsaengnim untuk mengeluarkan Jieun, namun tak digubris. Satu-satunya yang dapat membantuku hanya kau, cucu dari pemilik sekolah katakan pada kakekmu untuk mengeluarkannya.” Pinta Yoora.

Mark benar-benar dibuat tak percaya dengan ucapan Yoora ‘Jungkook cucu pemilik sekolah?’ sesungguhnya ia sama sekali tak mengetahui hal ini, tampaknya hanya Yoora dan guru-guru saja yang mengetahui hal tersebut. Bahkan mungkin para murid tak ada yang tahu, Mark sungguh kalut dan tak paham dengan keadaan ini…..

****

-TBC-

Preview Chapter 13

“Waeyo? Kenapa hanya diam saja? Bukankah yang membatalkan pengeluaran Jieun adalah kau? Bahkan aku belum membujuk orangtuaku untuk membatalkannya, lagi pula tak mungkin bagi orangtuaku membatalkan hal itu. Tapi kau justru meminta pada kakekmu untuk membatalkan semuanya, benar????” penuh penekanan Yoora berucap

“Aigo, cucuku.. Waeyo? tampaknya yeoja itu berulah lagi membuatmu turun tangan kembali”

“Kau duluan” ujar Mark

“Aniyo, kau duluan” ujar Jungkook

*****

“Tidak  boleh protes, cepat ambilkan aku makanan didapur” perintah Mark

Jieun-ah bisa kita bertemu?

Aku dihalte dekat perumahanmu

-Jungkook-

“Kau tak ingin menemuinya?”

“Ne, aku tak ingin menemuinya”

^^^^

‘Apa dia masih menunggu?’

“Jeon Jungkook, ahhh  geurae aku mengingatnya. Aku melihatnya berdiri dihalte, apa dia menunggumu?”

“Pulanglah, malam semakin larut” ia pun memberikan payung tersebut pada Jungkook dan hendak ingin pergi begitu saja.

Namun….

^^^

Aku menemukan ini dan aku sudah berada disekolah kalian

Ayahnya pun mengirim sebuah gambar dan tampak jelas gambar tersebut adalah surat pengeluaran Jieun.

“Mwoooo?” pekik Jieun dan Mark

^^^^

“Kau dan Mark bersaudara, benar?” ujar Jungkook tiba-tiba

 

brother and sis new poster

Sebelumnya saya ucapkan

 ‘SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN’.

A/N:  Sesuai Janji saya dimana jika komen mencapai 20 komen saya akan post chapter 12 pada hari rabu. Melihat dari komen diblog dan page Facebook yang mencapai target, maka saya hari rabu, terima kasih buat blogger yang sudah mau bersedia meninggalkan jejak kalian ketika sudah membaca Fanfic ini. Mohon maaf part ini kependekan ? hehe ^^

Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya ^^

17 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 12]

  1. aaa mksih chapter 12nya.. bagus jieun lawan aja udah.. duh jungkook kasian kamu dikacangin jieun terus.. ow dichap selanjutnya bakal ketauan kah mark jieun saudaraan.. btw, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin ya author-nim..

  2. Thank you thor buat hadiah idul fitrinya hehehe minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin,,, kalo ini udah diupdate sekarang minggu besok update lagi nggak thor hehehe….

  3. Waaaaaaaaa gimana nih gimana nih gimanaaaa aaaa penasaran penasaran penasaraaan
    Aduuh beneran beneran beneraan
    Gak bisa ngomong apa apa cuma bisa teriak teriak sambil kakinya gerak gerak gelisah nihhh TT
    ituu di preview next chap jungkook mau ngapain hayooo hayoo kyaaaaa *gila deh lama lama*
    Oh iya selamat hari raya idul fitri juga yaa ^^ semangaaat😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s