Brother & Sister [Chapter 8]

Brother and sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 8]

Genre : Family, Fluff

Length : Chapter

Rating : T

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

 

 Brother & Sister [Chapter 1] | Brother & Sister [Chapter 2]|Brother & Sister [Chapter 3] |Brother & Sister [Chapter 4]|Brother & Sister [Chapter 5]Brother & Sister [Chapter 6] | Brother & Sister [Chapter 7]

Trailer Fanfic Brother & Sister

CHAPTER 8  

Changmin sonsaengnim siap meniup peluitnya, dimana pengambilan nilai baseball akan dimulai dan kedua tim tampak antusias. Tim 2 memulai permainan dimana posisi Better (pemukul)  pertama dilakukan oleh Jungkook, Jackson yang merupakan Pitcher (pelempar) siap melemparkan bola kearah Jungkook. pada Home base Jungkook tampak siap untuk memukul bola yang akan dilemparkan Jackson, sedang Mark sebagai Cathcer (Penangkap) memberi beberapa isyarat pada Jackson. Isyarat yang kerap dilakukan pemain baseball, pertanda untuk melemparkan bola dengan arahannya. Saat itu Jackson pun siap melemparkan bola, Jungkook mengayunkan bat miliknya dan tepat Jackson melemparkan bola kearah Jungkook saat itu juga wasit berteriak “Walk” menyadari bolanya dapat dipukulnya dengan tinggi, Jungkook berlari kearah base pertama.

Taehyung yang merupakan Firstbase dengan cepat berlari untuk meraih bola tersebut dan ketika Jungkook nyaris sampai pada base pertama. Namun tampaknya Taehyung sudah meraih bola yang dilemparkan Jungkook tadi lalu wasit pun berteriak “Ground out” Jungkook membulatkan matanya seketika, tak pelak ia pun berkata “Sial”.

Mendapati hal ini Mark tersenyum kearah Taehyung dan mereka kembali bermain dengan posisi Yoora yang berada pada Home base, sebenarnya posisi Yoora bukanlah sebagai Better. Namun ia memaksa Changmin sonsaengnim agar ia menjadi better, tatapan Yoora bukan tertuju pada bola ia justru tertuju pada Jieun yang menjaga pada base kedua. Entah apa yang ada dipikiran Yoora, Jungkook pun hanya menatap kearah Yoora.

Jackson melemparkan bola kearah Yoora dan “Strike” kegagalan Yoora membuatnya mendengus kesal. Ia pun masih diberi kesempatan untuk memukul bola yang akan Jackson lempar, ketika Jackson melemparkan bola “Walk” Yoora dapat memukul bola dan saat itu juga ia berlari menuju base pertama.

Tampaknya Yoora cukup mahir dalam memukul, ia memukul dengan tinggi hingga membuat Taehyung kesulitan meraih bola. Yoora pun menyentuh base pertama dan berlari pada base kedua, ia pun menatap tajam Jieun “Kau harus menerima ini Jieun” umpat Yoora senyum penuh seringai dan ketika Yoora mulai mendekat pada base kedua.

BUGGGGGG

Entah disengaja atau tidak dapat dirasakan oleh Jieun sebuah tendangan Yoora tepat mengenai kakinya. Sehingga membuat Jieun dan Yoora terjatuh dilapangan, sontak saat itu juga semua menatap kearah mereka dan menghentikan permainan.

“Jieun-ah” Seru Mark melepas sarung tangannya dan berlari kearah Jieun.

Sama halnya dengan Mark, Jungkook membulatkan kedua matanya “Jieun-ah” dengan reflek Jungkook mengucapkan nama itu, padahal terlihat jelas Yoora pun yang tersungkur jatuh namun entah kenapa  Jieun terlintas begitu saja ketika melihat kejadian tersebut.

Jieun merintih kesakitan karena menerima pukulan keras dari kaki Yoora, cukup disadari Yoora berseringai kecil kearah Jieun. tampak jelas kalau Yoora melakukan hal tersebut dengan sengaja, Jieun tak mampu berbuat apa-apa karena merasakan sakit dikakinya. Bahkan saat itu Yoora berteriak “Ahhhh appo, appo” seakan merasakan sakit Yoora memegang kakinya.

Ketika yang lain menghampiri kearah keduanya, Yoora terus berteriak seolah ingin mendapat simpati dari yang lain, sontak semua tertuju pada Yoora.

Lain halnya dengan Mark yang sudah berada dihadapan Jieun “Ghwencanayo?” tanya Mark dengan nada khawatir dan itu tampak jelas dari ekpresi Mark.

Jieun tak menjawab, ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit pada kakinya “Jieun-ah ghwencana?” seru Jackson, Taehyung dan Bambam yang diikuti tim 1 lainnya, cukup khawatir dengan Jieun. Karena diantaranya pun menyaksikan jelas Yoora menendang kaki Jieun, namun mereka hanya diam saja.

“Ghwencanayo” ujar Jieun menahan rasa sakit dan berusaha berdiri, namun “Auuu” tanpa sengaja rintihan keluar dari mulut Jieun, tak tinggal diam tanpa berbicara apa-apa Mark langsung membopoh Jieun menuju uks “Markeu”

“Jangan protes, kau tak dapat menahan rasa sakit ini jika tidak segera diobati” ujar Mark membuat Jieun terdiam.

Jungkook yang memang berada disamping Yoora, sebenarnya sedari tadi ia menatap kearah Jieun. Bahkan ketika ia ingin berlari kearah Jieun, Yoora menahannya. Hingga Yoora pun menatap tajam kearah Mark dan Jieun “Kau benar-benar ingin merebutnya dariku Lee Jieun” umpat Yoora namun didengar jelas oleh Jungkook.

“Gheumanhae Kang Yoora” ujar Jungkook menghelakan napas beratnya.

Seakan tak memperdulikan ucapan Jungkook, Yoora berkata “Ya, cepat bopoh aku.”

“Kau tak terluka Yoora, kau masih mampu berjalan bukan?” ujar Jungkook entah kenapa kalimat terserbut keluar begitu saja dari mulut Jungkook, karena memang terlihat jelas tak ada luka sedikit pun pada tubuh Yoora.

Percakapan Jungkook memang tak begitu didengar oleh yang lain, ketika Jungkook ingin berdiri dan meninggalkan Yoora. Saat itu Yoora menarik tangan Jungkook dan menatap sendu ‘Lagi-lagi seperti ini’ batin Jungkook yang selalu tak tega dengan tatapan sendu Yoora dan ia pun membopoh Yoora.

^^^^

Jieun sudah selesai diobati oleh dokter yang ada pada uks sekolahnya ini dan kerap disapa Lee Sonsaengnim, luka memar begitu jelas pada kaki Jieun hingga Lee sonsaengnim pun membalut tipis dengan perban. Mark yang sedari tadi berada diruang uks ini tampak menatap Jieun, tak ada pembicaraan diantara mereka. Namun Jieun sadar akan tatapan Mark “Wae? Kau begitu mengkhawatirkanku, sampai tak beranjak dari ruangan ini?” tanya Jieun asal.

Mark memutar bola matanya “Aniyo” jawab Mark seakan tak sesuai hatinya untuk berkata demikian, Jieun hanya tersenyum tipis. Namun matanya justru menatap Jungkook yang tengah menjaga Yoora dari jarak yang lumayan dari ranjang yang tengah diduduki Jieun.

“Sam, kenapa kau tak memperban kakiku. Kakiku benar-benar sakit” ujar Yoora yang hanya diperiksa sebentar oleh Lee Sonsaengnim.

“Kakimu baik-baik saja Yoora-ya, tak ada luka memar” ujar Lee Sonsaengnim.

“Keundae sam, kakiku benar-benar sakit. Aku yang merasakan sakit ini” ujar Yoora penuh penekanan, membuat Jungkook yang berada disampingnya menghelakan napas begitu juga dengan Lee Sonsaengnim tampak menatap Jungkook yang memberi isyarat anggukan untuk memperban kaki Yoora.

Jungkook memang menemani Yoora, hanya saja sedari tadi ia pun menatap kearah Mark dan Jieun. Ia pun ingin sekali menghampiri Jieun, namun Yoora terus menahannya entah apa yang ada dipikiran Yoora.

Mark dan Jieun yang cukup mendengar ucapan Yoora pada Lee sonsaengnim, keduanya saling bertukar tatap “Ya, apa yeoja itu melakukan hal padamu dengan sengaja?” tanya Mark tiba-tiba pada Jieun.

Jieun sontak menatap kearah Yoora, ia sadar akan seringai yang diberikan Yoora padanya tadi. Namun ia tak ingin asal menuduh “Molla….” hanya itu yang keluar dari mulut Jieun, karena entah kenapa ia merasa teriris dengan sikap Jungkook yang begitu peduli terhadap Yoora.

Mark pun tampak mengerti dengan sikap Jieun, tiba-tiba dari arah pintu tampak jelas Jackson, Taehyung dan Bambam yang memasuki ruangan ini menghampiri Jieun. Begitu juga dengan Seora dan Hana yang langsung menghampiri Yoora.

“Jieun-ah Jinjja ghwencana?” seru Jackson, Taehyung dan Bambam ketika berada dihadapan Jieun.

Senyuman ciri khas Jieun tampak jelas “Eung… Ghwencanayo, lagi pula kakiku sudah diobati” ujar Jieun meyakinkan.

“Syukurlah, kami sangat mengkhawatirkanmu” ujar Taehyung yang disambut anggukan Jackson dan Bambam.

Mendapati hal itu Jieun justru tersenyum haru, tidak dengan Mark yang menatap teman-temannya ini “Kalian berkata seperti itu tidak sedang menggodanya kan?” ujar Mark.

“Wae? Wae? Lagi pula kenapa jika kami menggodanya? Kau cemburu?” ujar Bambam yang justru bertanya balik pada Mark.

Dengan cepat Mark menjawab “Aniyo, hanya saja jangan pernah memberi harapan palsu pada seorang wanita”

Ketiga temannya saling bertatapan “Markeu jika kau bersikap seperti ini semakin ketahuan kalau kau tampak memeliki perasaan pada Jieun” ledek Jackson disambut tawaan kedua teman lainnya, namun sukses membuat Mark menatap tajam Jackson.

Mendengar hal ini Jieun mengelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, ia sadar ucapan Mark tidak seperti seseorang yang cemburu melainkan sebuah peringatan yang tak dipaham oleh Jieun. Disisi lain Jungkook memperhatikan hal tersebut, ia justru hanya menatap kearah Mark entah apa yang ada dipikirannya.

Lain halnya dengan Yoora yang meremas telapak tangannya seolah tak suka dengan keakraban yang ditunjukan Mark pada Jieun “Aku panas jika lama-lama berada diruangan ini, bisa kita pergi dari ruangan ini? Jungkook-ah bantu aku berjalan” dengan penekanan Yoora mengucapkan kalimat tersebut. Jungkook cukup mengerti ia langsung membantu Yoora keluar dari uks, bahkan tak segan Yoora menggamitkan sebelah tanganya di pundak Jungkook agar dengan mudah membantunya berjalan. Dengan diikuti Seora dan Hana, mereka keluar dari ruangan ini meski sebelumnya Yoora dan Jungkook tampak menatap sebentar kesatu arah yaitu Mark dan Jieun.

“Tas kalian, tak mungkin jika kalian kembali kekelas disaat bel pulang sudah berbunyi” ujar Jackson tiba-tiba menyodorkan tas milik Mark dan Jieun yang memang ia bawa dari kelas.

“Gomawoyo” seru Mark dan Jieun tanpa sengaja berucap bersamaan disambut senyuman oleh Jackson.

“Jieun-ah, Kau masih mampu berjalan kah untuk pulang? Jika tidak, kami bersedia mengantarmu pulang” ujar Bambam disambut anggukan mantap Taehyung dan Jackson.

“Tentu saja, berdiri pun aku mampu..” baru saja Jieun turun dari ranjang saat itu “Auuuu” rintihan keluar begitu saja dari mulutnya, bahkan ia nyaris terjatuh jika Mark dan Jackson tak menahannya berdiri.

“Aigo, Lee Jieun aku cukup sadar luka memarmu. Jangan anggap sepele” ujar Taehyung seakan menceramahi.

Namun saat itu juga Mark melepaskan tangan Jieun, ia langsung berdiri membelakangi Jieun dan membungkukkan tubuhnya “Naiklah kepunggungku” kata Mark membuat semua menatap Mark tak percaya, seakan tak memperdulikan tatapan teman-temannya Mark kembali berkata “Aku akan mengantar Jieun pulang, cepat naik sebelum aku berubah pikiran”

Mendapati hal ini ketiga temannya tampak mengerti “Arasseo, kalau begitu kami duluan” ujar Jackson yang disambut anggukan Mark, seraya meninggalkan Mark dan Jieun.

Setelah ketiga temannya pergi, Jieun masih tak bergeming dengan tindakan Mark “Ya, kau mau pulang atau tidak?” kata Mark yang menyadari akan Jieun masih diam saja, sontak saat itu juga tanpa berkata apa-apa Jieun langsung menaiki punggung Mark membiarkannya membawa Jieun keluar dari ruangan ini.

Dipekarangan sekolah tampak jelas beberapa siswa dan siswi yang masih berada disekolah menatap kearah Mark dan Jieun. “Markeu, apa mereka akan berpikiran yang tidak-tidak. Mereka menatap kearah kita dengan tatapan yang sulit diartikan” kata Jieun tepat ditelinga Mark.

“Ya, apa kau hidup dengan perkataan orang lain?” ujar Mark membuat Jieun terdiam karena paham akan ucapan Mark “Tak usah dengarkan ucapan orang lain, tetap berdiri tegak dan berjalan sesuai tujuanmu” kembali Mark mengucapkan kalimat klise namun memiliki makna yang kuat.

Seketika Jieun tersenyum tipis “Arasseo uri oppa” ucap Jieun sedikit berbisik mengucapkan kata ‘oppa’ diakhir kalimatnya.

“Aigo, aku merinding mendengar kau mengucapkan kata itu. Kau ingin kuturunkan disini” ledek Mark seakan tak terima dengan ucapan Jieun tadi.

Namun dengan cepat Jieun mengeratkan gamitan tangannya pada leher Mark “Andhwaeee, kau harus bertanggung jawab untuk mengantarku sampai rumah aisshh” ujar Jieun mengerucutkan bibirnya.

Tak ada jawaban dari Mark, namun membuat segores senyuman mengembang dari bibir Mark. Begitu juga dengan Jieun yang tersenyum simpul.

Tanpa disadari ketika mereka berjalan diterotoar sekolah, Jungkook dan Yoora tengah menatap kearah mereka. Tak pelak Yoora mengepalkan kedua tangannya “Wae Mark? Wae??????” penuh penekanan Yoora berkata demikian.

Sedang Jungkook menghelakan napas beratnya, ia semakin tak mengerti dengan keadaan ini. namun satu pertanyaan dalam benaknya ‘Ada hubungan apa antara Mark dan Jieun?’ seolah tak ingin berlama-lama melihat pemandangan tersebut, ia memilih mengalihkan pandangannya kearah depan memokuskan menyetirnya,sesungguhnya ia merasa tak suka dengan pemandangan tersebut.

^^^^

Waktu menunjukkan pukul 8 malam dimana Jieun tengah membaca buku diranjangnya, luka memar dikakinya pun membuatnya tak dapat beranjak dari ranjang bahkan makan malam tadi pun diantar ibunya. Sebenarnya bisa saja jika ia dibantu untuk keruang makan, hanya saja kedua orangtuanya yang mengetahui luka pada kaki Jieun tak memperbolehkan Jieun beranjak dari ranjangnya.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering membuatnya sontak menatap layar ponselnya dan mendapati nama ‘Jeon Jungkook’ tertera jelas pada layar ponselnya , seketika Jieun membulatkan kedua matanya setengah tak percaya Jungkook menghubunginya. Setelah cukup lama Jieun hanya mampu menatap layar ponsel, ia langsung menerima telpon Jungkook “Eoh? Jungkook-ah” seru Jieun

“Aigo, apa kau sedang sibuk sampai menerima telponku begitu lama?” ujar Jungkook dengan nada suara kecewanya.

Jieun tersenyum simpul mendengar ucapan Jungkook dan berkata “Mian….”

“Ya seharusnya aku yang meminta maaf karena sedari tadi aku belum sempat menanyai keadaanmu”

Jieun cukup terhenyak dengan ucapan Jungkook “Ghwencanayo, lagi pula aku tahu kau harus menjaga Yoora” nada suara Jieun sedikit melemah mengucapkan kalimat tersebut.

“Bagaimana dengan kakimu? Apa sudah baikan?” Jungkook tampak mengalihkan pembicaraan seakan enggan membicarakan topik yang dibicarakan Jieun.

Jieun yang cukup bingung dengan sikap Jungkook berusaha biasa saja “Ahh… iya, kakiku sudah membaik.”

“Syukurlah” nada lega terdengar jelas dari suara Jungkook.

“Wae? Kau mengkhawatirkanku sampai menelponku?” gurau Jieun

 “Ne, aku mengkhawatirkanmu” mendengar jawaban yang tak disangka dari seorang Jungkook membuat Jieun terdiam seketika, menyadari Jieun yang hanya diam saja Jungkook pun kembali berucap “Keundae, tampaknya aku tak perlu mencemaskanmu. Karena Mark mengantarmu dengan selamat”

Entah kenapa nada suara Jungkook seakan berubah ketika mengucapkan kalimat tersebut. Ucapan Jungkook pun membuat Jieun bingung “Bagaimana kau tahu aku diantar Mark?” tanya Jieun

“Kau naik dipunggung Mark, aku melihatnya” ujar Jungkook tampak tak biasanya ketika melihat dimana Jieun bersama Mark, ia memilih diam. Namun kali ini entah apa yang ada dipikirannya ia justru mengutarakan apa yang dilihatnya tadi.

Jieun memutar bola matanya “Ahhh itu… rumah kami dekat jadi akan lebih mudah jika Mark mengantarku” jelas Jieun, namun sesaat ia terdiam kenapa dirinya harus menjelaskan seakan Jungkook salah paham padanya.

“Ahhh arasseo, bukankah sudah seharusnya kalau teman sekelas harus saling menolong” ujar Jungkook seakan berbicara asal.

Jieun teringat akan ucapan yang kerap dikatakan Jungkook ini ketika ia menolong Jieun disaat Yoora mengerjainya “Ne, sepertimu ketika menolongku bukan?”

Tak ada jawaban dari Jungkook, namun sesaat ia berucap “Ne….” begitu jelas nada berat dari ucapan Jungkook “Jieun-ah, ada yang ingin kutanyakan padamu?” tiba-tiba Jungkook berkata demikian.

Jieun mengerutkan keningnya “Bertanya apa?”

“Ahh, aniyo.. Lukamu sudah diobati lagi?” ujar Jungkook seakan mengalihkan pembicaraan dari awal ucapannya tadi.

Jieun cukup sadar akan pengalihan pembicaraan Jungkook, namun ia tak memperdulikannya dan berkata “Tentu saja sudah”

“Syukurlah, jika besok kesulitan berjalan. Minta tolonglah padaku”

“Ne?” spontan Jieun berucap demikian

“Istirahatlah, annyeong” ujar Jungkook yang tanpa menunggu respon Jieun sudah menutup sambungannya.

Jieun hanya terdiam mencerna kembali tiap perkata yang keluar dari seorang Jungkook, sesaat senyuman pun mengembang dari bibir Jieun. “Aigo, seperti inikah seseorang yang sedang kasmaran” ujar Mark yang ternyata sedari tadi berada diambang pintu kamar Jieun.

“Ya, kau menguping pembicaraanku dengan Jungkook?” ujar Jieun menatap kesal Mark.

“Aniyo. Keundae, jangan mudah percaya dengan ucapan namja” kata Mark seakan menasihati Jieun.

“Arasseo, kalau begitu aku pun tak akan mempercayai ucapanmu. Karena kau seorang namja” timpal Jieun membuat Mark menatap frustasi adik tirinya ini.

“Aissh geu yeoja, aku benar-benar menasihatinya justru ditanggapi seolah lelucon. Terserah kau” tekan Mark dengan kesal, namun Jieun menahan tawanya mendapati hal tersebut. Hingga Mark kembali berucap “Aku tak mengerti apa yang ada dipikiran Jungkook, satu sekolah sudah tahu kalau Jungkook hanya menyukai seorang Kang Yoora dan Yoora adalah cinta pertamanya. Aku berkata seperti ini hanya tak ingin kau kecewa dikemudian hari, karena kau adikku”

Saat itu juga Mark berlalu meninggalkan Jieun yan masih tak percaya akan ucapan Mark. Ia pun hanya mampu menatap punggung Mark yang kian menjauh dari kamarnya, entah kenapa ia merasa Mark semakin berubah kepadanya, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Mark.

Diwaktu yang sama namun berbeda tempat, dimana Jungkook baru saja menutup telpon. Ia menatap sketsa wajah  buatannya, dimana seorang gadis yang ada pada sketsa tersebut membuatnya merasa nyaman.

****

Jieun dan Mark baru saja memasuki kelas, keduanya dengan santai menaruh tas milik mereka dimeja. Kaki Jieun cukup membaik membuatnya mampu berjalan meski sesekali dibantu oleh Mark berjalan, tanpa disadari beberapa diantara teman-temannya tengah menatap kearah keduanya. Terutama Seora dan Hana yang merupakan teman Yoora, bahkan Jungkook yang baru memasuki kelas cukup dibuat bingung dengan tatapan yang sulit diartikan tersebut.

Jam pelajaran belum dimulai, namun Kangin sonsaengnim sudah memasuki kelas. “Jieun-ah, bisa ikut aku kekantor. Kepala sekolah ingin berbicara denganmu” ujar Kangin sonsaengnim ketika beliau berdiri tepat dihadapan Jieun.

Jieun sempat dibuat bingung dengan keadaan ini, namun ia mengerti seraya berdiri. Begitu juga dengan Mark yang berdiri dan berkata “Sam, aku akan membantu Jieun untuk kekantor”

“Kau tak perlu khawatir Mark, aku akan membantunya sampai kantor” ujar Kangin sonsaengnim seakan meyakinkan Mark.

“Ghwencana sam, aku mampu berjalan sendiri” ujar Jieun membuat semua menatapnya, namun Kangin sonsaengnim menghargai keinginan Jieun. Bahkan tanpa ragu kali ini Jieun mengikuti langkah Kangin sonsaengnim, tak segan Kangin sonsaengnim pun membantu Jieun.

Mendapati hal tersebut seisi kelas hanya menatap Jieun yang sudah tak terlihat dari arah jendela kelas. Mark  tak mengerti dengan keadaan tersebut, sama halnya dengan Jungkook tak paham kenapa Jieun dipanggil kepala sekolah. Lain halnya dengan Mark dan Jungkook, tampak jelas ekpresi yang sulit diartikan terpancar jelas dari beberapa siswa dan siswi dikelas ini seolah ada sesuatu yang tak diketahui dua pria ini.

“Tsk! Sepertinya ia akan menerima ganjaran membuat Yoora kesal” ujar Seora membuat Mark menatap kearahnya, begitu juga dengan Jungkook.

“Ya, apa yang kau bicarakan? Jelaskan padaku” ujar Mark yang menghampiri Seora akan ucapannya tadi.

“Aigo bahkan satu sekolahan mungkin sudah mengetahui hal ini, tapi sepertinya kau tak tahu” ujar Seora

“Yoora menerima luka dalam, kakinya digif dan pagi-pagi sekali orangtua Yoora kesekolah untuk menuntut Jieun. dapat dipastikan Jieun terancam dikeluarkan” jelas Hana

Seisi kelas tampak menundukkan kepalanya karena tak mampu menjelaskan pada Mark, sedang Mark tanpa berkata apa-apa ia berlari keluar kelas menuju ruang kepala sekolah. Jungkook yang mendengar hal tersebut pun, langsung menghubungi seseorang “Haraboji, bisa kita bertemu hari ini” ujar Jungkook sambil tergesa keluar kelas entah apa yang ada dipikiran Jungkook, ia tampak menuju parkiran.

^^^

Di waktu yang sama dimana Jieun berada diruang kepala sekolah, ia tampak bingung karena diruang kepala sekolah pun terdapat Yoora dengan kaki digif dan kedua orangtuanya.

“Jieun-ah duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu” ujar kepala sekolah yang kerap disapa Jisu Sonsaengnim, sedikit ragu Jieun duduk tepat dihadapan kepala sekolah namun Jisu sonsaengnim justru menyodorkan sebuah surat pada Jieun.

“Ige mwoya?” dengan ragu Jieun meraih surat tersebut dan membukanya, tertera jelas surat peringatan untuk orangtua dimana pada surat tersebut tertera jelas peringatan pengeluaran siswi.

“Mianhae Jieun-ah. Kau terancam dikeluarkan, kesalahanmu kemarin ketika pelajaran olahraga kau dengan sengaja menendang kaki Yoora hingga menyebabkan luka dalam pada kakinya” jelas Jisu sonsaengnim.

Jieun terdiam tak percaya dengan ucapan yang terlontar oleh Jisu sonsaengnim, namun spontan ia menatap Yoora yang tersenyum puas “Mwoya? Aku menedangnya? Apa dia memutar balikkan fakta?” penuh penenakan Jieun mengucapkan kalimat tersebut dan menatap tajam Yoora.

 “Agasshi, kau berbicara seperti itu seolah Yoora yang melakukannya. Tidak jelas perlakuanmu pada Yoora membuat luka dalam pada kakinya” ujar ibu Yoora

Jieun menghelakan napasnya “Ahjjuma, aku benar-benar tak melakukan hal itu padanya” tampak jelas ibu Yoora menatap Jieun dengan kesal.

“Jieun-ah….” belum sempat Jisu sonsaengnim ingin berucap, dari arah pintu masuk tiba-tiba saja seseorang bersua.

“Sonsaengnim, Jieun tak melakukan hal seperti itu” ujar Mark yang memang tengah mendengar pembicaraan dari pintu dan menerobos masuk kedalam ruang kepala sekolah, hingga semua mata tertuju kepadanya terutama Jieun dan Yoora yang menatap penuh tak percaya dengan tindakan Mark “Jieun, tak mungkin melakukan hal itu. Sam jangan keluarkan dia dari sekolah” kembali Mark bersua membuat Jieun terhenyak dengan tindakan Mark.

Tak ada ucapan dari Jisu sonsaengnim, namun ia memberi isyarat kepada Kangin sonsaengnim mengerti maksud Jisu sonsaengnim “Mark” ujarnya yang langsung merangkul Mark dan  meminta Mark untuk keluar ruangan. Ia sadar akan tindakannya yang tidak sopan, mau tak mau ia pun keluar ruangan.

Mata Jieun dan Yoora masih menatap Mark yang sudah menghilang dari ruangan ini,  Jieun memejamkan matanya sejenak tindakan Mark diluar dugaannya, sedang Yoora tampak meremas kedua tangannya dan berbisik pada kedua orangtuanya.

“Jisu sonsaengnim, aku tak ingin bertele-tele. Jika sekolahan ini masih membutuhkan donasiku, maka bertindaklah tegas.” Ujar ibu Yoora

“Jieun-ah, katakan pada walimu untuk datang kesekolah dan mengurus pengeluaranmu dari sekolah” ujar Jisu sonsaengnim.

Mendengar hal ini tak pelak Jieun menatap Yoora yang terlihat jelas tersenyum puas “Waeyo? Apa donasi begitu penting dibanding keadilan?” ujar Jieun membuat seisi ruangan ini terdiam seketika, tanpa bericara apa-apa lagi Jieun keluar dari ruangan ini.

Ketika Jieun keluar dari ruangan kepala sekolah, terlihat jelas Mark yang masih bersandar ditembok ruangan ini. Spontan Mark pun menatap kearah Jieun, hanya senyuman yang terpancar dari bibir Jieun dang ingin berlalu meninggalkan Mark, namun dengan cepat Mark meraih tangan Jieun.

“Ghwencanayo, bukankah sejak awal kau pun menginginkan aku keluar dari sekolah?” ujar Jieun membuat Mark diam membeku, rasa bersalah semakin menyeruak dihati Mark.

“Aniyo…” hanya kata itu yang keluar dari mulut Mark, namun tak ada jawaban dari Jieun. ia melepaskan genggaman Mark hanya senyuman yang diberikan Jieun dan berlalu meninggalkan Mark, baru beberapa langkah Jieun berjalan “Eoddiga?” seru Mark

“Molla” jawab Jieun dengan tatapan kosong, Mark dapat merasakan senyuman Jieun tadi bukanlah sesungguhnya.

“Tunggu aku disungai dekat sekolah, kita pulang bersama” ujar Mark membuat Jieun membulatkan kedua matanya.

“Markeuu….”

“Jebal…” ujar Mark dengan nada lirih, Jieun hanya mengangguk mengerti dan berlalu meninggalkan Mark.

Ketika Jieun pergi, tampak kedua orangtua Yoora yang keluar dari ruangan kepala sekolah dengan diikuti Yoora yang berada dibelakang orangtuanya. Namun langkah Yoora terhenti ketika Mark mengenggam tangannya membuat keduanya bertukar tatap, mengerti maksud tatapan Mark yang seolah ingin berbicara dengannya Yoora berkata “eomma, appa kalian duluan saja. Nanti aku menyusul” disambut anggukan orangtuanya.

Di taman yang berada dibelakang sekolah kali ini Yoora dan Mark tengah berdiri seraya bertukar tatap. “Waeyo? Kau sengaja melakukan ini bukan?” ujar Mark tak ingin bertele-tele.

“Ne, aku tak suka jika ia berada disekolah ini” ujar Yoora

“Waeyo?” kembali Mark mengucapkan kata tersebut

“Waeyo? Katamu kenapa? Semua karenamu Mark, semenjak kehadirannya disekolah kau tampak berubah. meski kau acuh tak acuh namun begitu jelas kau memperhatikannya, belum pernah kau bersikap seperti ini pada seorang yeoja. Bahkan padaku tak pernah kau sedikit pun perduli” ujar Yoora yang seakan meluapkan emosinya dan tanpa terasa airmatanya jatuh.

“Mianhae…” seketika Mark berkata demikian membuat Yoora membulatkan kedua matanya “Keundae Yoora, dapat kau membatalkan pengeluaran Jieun dari sekolah. Jebal”

Yoora semakin tak percaya dengan ucapan Mark kali ini, ia menatap Mark penuh tanya “Waeyo? Kenapa kau melakukan ini untuknya, kau menyukainya?” ujar Yoora

Mark menghelakan napasnya “Aniyo. Keundae, Jieun merupakan tanggung jawabku” kata Mark sukses membuat Yoora semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Mark.

“Neo micheosseo….” pekik Yoora

“Ne… Jebal Kang Yoora, bujuk orangtuamu untuk membatalkan pengeluaran Jieun. Jebal” ujar Mark dengan nada lirih

Untuk pertama kali bagi Yoora seorang Mark memohon seperti ini padanya, sambil menghelakan napas beratnya Yoora berkata “Kau tahu, orangtuaku tak dapat menarik apa yang sudah dikatakannya pada oranglain.”

“Jebal….” hanya kata itu yang keluar dari mulut Mark.

“Akan kuusahakan dengan satu syarat” ujar Yoora

Sontak Mark menatap Yoora dengan tatapan curiga “Mwoya?”

“Jika aku berhasil membujuk orangtuaku, kau harus menjadi kekasihku” ujar Yoora

Sudah dapat ditebak seorang Yoora tak akan membiarkan kelemahan seseorang, ketika ada celah ia selalu memanfaatkannya. Mark pun tersenyum kecut “Baiklah, kupastikan besok Jieun dapat bersekolah dengan tenang” tekan Mark seakan meminta Yoora untuk menepati janjinya.

^^^^

Semilir angin sejuk begitu terasa pada pori-pori Jieun, dimana ia tengah menatap kosong sungai yang berada dihadapannya. Ia masih tak percaya kalau ia harus menerima kenyataan pahit ini, berkali-kali ia mencoba tersenyum tegar tampaknya tak menutupi rasa sedihnya.

Mengingat diruangan kepala sekolah tak pelak saat itu airmata Jieun jatuh begitu saja, ia tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Dalam diam Jieun menangis dan menatap kosong sungai, hingga seseorang berseru “Mianhae, membuatmu menunggu lama” menyadari siapa pemilik suara tersebut buru-buru Jieun menyeka airmatanya.

“Gheurae, kau sangat lama.” Ujar Jieun mengerucutkan bibirnya, namun tak ada jawaban dari Mark. ia tampak sadar wajah sembab Jieun sehabis menangis “Ya, seharusnya kau tak perlu melakukan hal ini hanya untuk mengantarku pulang. Aku dapat pulang sendiri” kembali Jieun bersua karena terlihat jelas Mark dengan ranselnya dapat dipastikan kalau Mark kabur dari sekolah.

Bukan menjawab ucapan Jieun, Mark justru menatap Jieun dan saat itu tanpa ragu ia meraih tubuh Jieun memeluknya dengan erat. Menerima perlakukan tersebut membuat Jieun membulatkan matanya “Menangislah, jika itu membuatmu tenang” kata Mark membuat Jieun terhenyak dan tanpa sadar meneteskan airmatanya.

“Surat peringatan itu jangan kau berikan pada eomma dan appa. Aku yang akan menggantikan mereka besok untuk menjadi walimu, oppa.. oppa…” ujar Mark seakan menunjukkan rasa keperdulian seorang kakak pada adiknya, mendapati hal ini Jieun tak tahu harus berkata apa ia hanya membenamkan wajahnya didada bidang Mark.

Tanpa disadari sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari sungai, Jungkook yang memang tengah mengendarai mobilnya berhenti seketika mendapati Mark dan Jieun yang berdiri didekat sungai. Ia tak tahu apa yang dibicarakan kedua orang tersebut, namun sukses membuat rahangnya mengeras “Jieun-ah” tak pelak Jungkook mengucapkan nama itu dan langsung menutup kaca mobil, seraya memejamkan matanya seakan tak sanggup menyaksikan tindakan Mark.

****

-TBC-

Preview Chapter 9

“Aku menggantikan orangtuaku untuk menjadi wali Jieun”

“pihak sekolah tak jadi mengeluarkan Jieun”

“karena kalian ketahuan kabur dari sekolah. Kalian harus dihukum”

****

“Sam, bagaimana bisa hukumannya seperti ini?”

“Kalau saja waktu itu kau tidak kabur….”

“Wae? Wae? Kau ingin mengkhianatiku?”

“Cepat ulangi lagi? Kau benar-benar menguji kesabaranku Lee Jieun”

“Ya! Kau membawa air hanya satu? Tanpa melihat aku bersama Jieun, bukankah teman sekelas harus saling tolong menolong”

 “Aisshh bagaimana bisa dia memberikan minuman yang sudah diminumnya pada Mark. ahhhh” gerutu Jungkook

*****

“Chagiya”

“Ige mwoyaa???”

“Yoora memberitahu diline Group sekolah, kalau dia berpacaran dengan Mark.”

****

“Waeyo? Apa kau cemburu karena mereka berpacaran?” tanya Jungkook

“Justru aku khawatir jika kau merasa cemburu pada hubungan mereka Jieun-ah” gumam Jungkook dalam hati.

****

“Kalau begitu katakan padaku kenapa kau bisa berpacaran dengan Kang Yoo-ra” penuh penekanan Jieun mengucapkan kalimat tersebut.

 

RCL OK!!!!!!!!

18 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 8]

  1. aah, yakin deh kesel banget sama yoora, dia bener-bener terobsesi sama mark.. tapi aku terharu sama tindakan mark, huhu.. eciee jungkook cemburu ciee.. ditunggu nextnya, hwaiting!

  2. Akhhh,, markkkk,, so sweet banget,, thor gra” author nih aku jd ska Mark-Jieun,,hayo,, tanggung jawab!! Hehe😀 ,coba aku punya kakak kyak mark,,

    • iya Mark so sweet hihi
      Meyy pliss jangan salahkan aku, minta tanggung jawab sama Mark aja ya kkkkk
      aku juga mau punya kakak kaya Mark ganteng gitu🙂🙂
      makasih ya meyy udah mau komen dan baca FFnya🙂🙂

  3. Yah ini feelingnya cuma kakak ke adik ya?tapi kenapa ya thor ngarepnya masih mark sama jieun hehehe…soalnya yg paling ngelindungi jieun cuma mark,, thank you thor buat update…updatenya yg cepet ya thorrr hampir tiap hari ngecek web ini cuma buat liat updatean dari one of the best author hihihi

    • ayo tebak feelingnya gmn? hihi
      yup Mark memang ngelindungin Jieun bngt.
      sama-sama ririn, makasih juga kamu udh mau baca FF ini hehe
      aku update FF ini setiap minggu dek, aku terharu baca komenmu makasih bangat loh ririn🙂🙂

  4. entah knpa lebih suka prhatian mark ke jieun sbg kakak bkan sbg namja,,,nnti ff ini mark bakal jtuh cnta ya sma jieun?? aduh,,ribet ya klo bgitu nnti:-(
    jieun nya sma jungkook aja eonni hehehe:-D

  5. Waaakksss aku kok jadi bingung ya sama mark-jieun sebenernya mereka ini kenapaaa. Gak mungkin kan kalo mereka suka suka an(?)
    Okee aku gak sabar banget nunggu lanjutannya. Semangat terruuss ^0^

  6. Ohh kookie, Ohh Markeu, Oh Jieunnie. kenapa ff ini buat aku ketagihan bacanya. Cinta Mark-Jieun apakah mngkin bisa bersatu kelak? etdah emang itu cinta? terus gimana dengan Kookie? moga aj endingnya mereka ber3 bisa bahagia. kecuali si onoh. si yoora. gerem amat baca klu ada dia.hehe

  7. woahh udah chap 8 aja ya hhehe, kayanya aku ketinggaln nih,
    aduhh itu Mark feelingnya ke Jieun sayang sbgai Kakak atau gmna ya bingung, aku kesel sama Jungkook kayak ngasih php bnget tuh namja, Author kalo Mark cuma nagnggep Jieun adek n gak ada love line Di antra mrka berdua pliss jngan jadiin Mark sama Yoora ya, aku benci bnget tuhh ma tu Yeoja,
    terus adek Jongkook sayang cepet sadar kek kalo kamu tu suka sbnrnya sama Jieun #soktau
    ditunggu chap sljutnya ya Thor

    • halo yeyen…
      wah bacanya ngebutkan ? hihi
      ayo ditebak-tebak bagaimana feel Mark sebenarnya ke Jieun
      ayoo bilang ke kook buat sadar akan perasaannya /?/? hehe
      makasih ya yeyen udah mau baca dan komen🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s