Young Detective

Poster Young Detective

Author : Kim Raemi

Tittle : Young Detective

Genre : School, Friendship, Mistery

Length : Oneshoot

Rating : T

A/N : Cerita pada Fanfic ini hanyalah Fiktif belaka

Cast :

  • Jeon Jungkook
  • Choi Junhong
  • Park Jimin

[Trailer Fanfic] Young Detective

‘YOUNG DETECTIVE’

Terik matahari kian menembus kaca pada ruangan ini, dimana para murid yang tengah menerima pengajaran cukup sadar akan terik matahari. Namun itu tidak diperdulikan oleh mereka, terutama oleh seorang siswa  sedari tadi sibuk dengan rumus yang diberikan oleh gurunya.

“Beberapa soal ini kalian kerjakan dirumah dan menggunakan rumus yang tadi aku terangkan. Minggu depan akan ku cek satu-satu dari kalian.” Ujar guru tersebut mengakhiri pelajaran terakhir yang diterima oleh para murid dikelas ini.

“Ige mwoya? Rumus ini sangat rumit dan aku tidak mencatatnya.” Seru beberapa murid setelah guru tersebut pergi dari ruangan ini. Memang kerap terjadi dikelas ini ketika mendapat pekerjaan rumah yang sulit diantaranya pasti akan mengeluh.

IMG_20151120_114858

Tapi tidak dengan seorang siswa yang tengah mengepakkan bukunya kedalam ransel. Siswa berkacamata namun tetap terlihat tampan, ia kerap dianggap cupu oleh teman-teman sekelasnya karena ia jarang sekali bergaul dan kegemarannya membaca buku didalam kelas. Tapi ia tidak akan pernah memperdulikannya, karena logikanya berkata ‘Toh hal ini tidak akan merugikan orang lain.’

“Jeon Jungkook, boleh aku meminjam buku catatanmu.” Seru salah seorang siswi teman sekelasnya. Hal yang biasa ia dengar adalah ‘meminjam buku’ meski ia dianggap cupu teman-temannya tidak mengasingkannya karena seorang Jungkook lah yang sangat rajin dalam mencatat semua pelajaran dan tidak jarang teman sekelas meminjam buku catatan milik Jungkook.

“Eoh Dahyun, ini” Jungkook memang tidak pernah ragu untuk meminjamkan buku catatannya pada yang lain.

“Gomawo Jungkook.” Hanya anggukan yang diberikan Jungkook.

Baru saja Jungkook keluar kelas, seseorang dari kelas lain merangkulnya “Ya, malam ini kita main Basket. Sudah lama kita tidak bermain Basket bersama.”seru siswa tersebut

“Aku tidak bisa Jimin, banyak tugas yang harus ku kerjakan.” Tolak Jungkook.

Jimin mengerucutkan bibirnya “Ya, bermain basket menghilangkan rasa penat dari pelajaran dan kali ini aku menantangmu.”

 “Aigo.. kau meledekku?” cibir Jungkook

“Aniya, aku ingin kau menang dariku”

Jungkook tertawa renyah mendapati ucapan Jimin “Aiissh.. Kau tidak perlu menantangku, hasilnya pun akan sama. Kau yang akan menang!”

“Ya, berhentilah mengalah dariku”

Jungkook mengerutkan keningnya “Kau ini berbicara apa Park Jimin, aku tidak berbakat dibidang olahraga.” Tanpa menghiraukan tanggapan Jimin, Jungkook meninggalkan sahabat kecilnya ini.

“Aiisshh, namja ini.. Tunggu aku.” Berlari kecil Jimin mengejar Jungkook yang berjalan santai kegerbang sekolah.

^^^^^

Jungkook dan Jimin baru saja keluar dari sebuah bus, menuju perumahan yang mereka singgahi. Kedua sahabat ini memang berada di satu perumahan, namun berbeda blok saja. Butuh waktu 5 menit untuk sampai perumahan tersebut, karena jarak antara halte bus pun cukup jauh.

“Eoh, ada apa ramai-ramai diruko itu.” Seru Jimin mendapati sebuah ruko yang tengah diramaikan orang banyak.

“Kasian sekali wanita itu bunuh diri setelah kepergian suaminya.”

“Anak pertama yang menemukan pertama kali.”

“Mayat ditemukan dua hari setelah bunuh diri.”

“Lihat, anak pertamanya terlihat sangat terpukul.”

“Tentu saja ditinggal orang yang dicintai pasti sangat terpukul.”

Desas-desus yang dibicarakan orang sekitarnya terdengar jelas ditelinga Jungkook dan Jimin. Mereka berdua cukup menyaksikan keadaan ini, dimana sebuah mayat dibawa oleh tim medis untuk diotopsi. Tanpa sadar Jungkook memperhatikan tangan mayat yang tergulai lemas ketika dibawa tim medis.

 “Aku tidak mengerti pada orang yang melakukan bunuh diri.” Ujar Jimin yang memperhatikan mayat tersebut.

“Ini bukan bunuh diri.” Spontan Jungkook pelan, namun terdengar jelas ditelinga Jimin.

“Mwo?”

“Perhatikan urat syaraf lengan kirinya terdapat lubang kecil, titik hitam bekas suntikan.” Jimin kembali memperhatikan mayat tersebut dan benar jika diperhatikan titik hitam ditangan cukup jelas dimatanya.

“Gheure!”

“Warna kulit mayat berbeda dari warna kulit mayat biasanya, seperti menggunakan formalin dan logikanya jika mayat 2 hari didalam ruko akan membengkak. Tetapi itu tidak” Jungkook mengarahkan pada mayat tersebut.

Jimin dibuat kagum oleh Jungkook “Daebak, kau menganalisis dengan jelas.”

“Dan satu lagi, kesan yang diberikan anaknya sangat berlebihan. Sepertinya dia tidak pandai berakting.” Terang Jungkook lagi dan Jimin membulatkan matanya memperhatikan apa yang tengah dilihat Jungkook memang benar.

“Ya, jika ini memang pembunuhan. Sebaikanya kita mengatakan pada polisi.” Seru Jimin

Jungkook hanya tersenyum “Orang dewasa tidak akan percaya ucapan anak sekolah.” Jungkook berlalu meninggalkan Jimin, namun dengan cepat Jimin mengejar Jungkook.

“Apa tidak sebaiknya kita saja mengatakan kejanggalan itu.”

“Silahkan, jika kau bisa dan tidak dianggap gila.”

“Ya, sudah berapa kali kau menganalisa pembunuhan. Tetapi kau tidak mengutarakannya, apa karena….” Jimin menggantungkan ucapannya

“Sudah ku katakan orang dewasa tidak akan mempercayai kita” penuh penekanan Jungkook berucap membuat Jimin terdiam paham akan seorang Jungkook yang seperti ini.

^^^^^

Sebuah kamar cukup besar dan bernuansa klasik, corak putih – hitam membuat keadaan kamar elegan. Deretan buku-buku tertata rapi pada kamar ini, pertanda sipemilik kamar gemar membaca buku.

Jungkook si pemilik kamar ini, sedari tadi ia dimeja belajar namun bukan belajar yang ia lakukan. Tetapi kali ini ia tengah memandangi secarik foto kusam, dimana terdapat seorang siswi dengan seragam SMAnya dan anak laki-laki dengan segaram Sdnya.

“Kau merindukannya?” ujar seorang wanita paruh baya yang menaruh segelas susu hangat di meja belajarnya.

“Ne, eomma. Aku sangat merindukannya.”

“Biarkan dia tenang Jungkook, bagaimanapun juga dia menginginkan kita bahagia.” Jungkook hanya menatap kedua bola mata ibunya yang memberi keyakinan “Habiskan susunya dan segeralah tidur.” Lanjut ibunya mengacak lembut rambut Jungkook dan belalu meninggalkan Jungkook tanpa menunggu jawaban dari anaknya.

“Noona, bogoshipda.” Jungkook kembali menatap foto tersebut “Kejadian tadi mengingatkanku padamu Noona.”

-Flashback-

Seorang murid SD yang tidak lain seorang Jungkook sekiranya masih berumur 10 tahun , ia berjalan dengan riang memasuki rumahnya, hal yang biasa ketika pulang sekolah ia berteriak dengan riang “Aku pulang..” serunya, namun tidak ada jawaban. Kedua orangtuanya memang belum pulang bekerja, tapi ia tahu jika kakaknya pasti sudah pulang sekolah.

Ia sadar pulang terlalu siang bahkan hampir menjelang sore, karena bermain dengan teman-temannya. Tapi jika belum pulang kenapa pintu rumahnya tidak dikunci, namun tidak diperdulikannya justru ia menatap pintu kamar kakaknya yang terkunci rapat ‘Apa noona tidur’ batinnya

“Noona mianhae, aku pulang terlambat. Teman-temanku…..” ia tercengang ketika membuka pintu kamar kakaknya dan mendapati kakaknya yang sudah terkapar lemas dilantai “NOONAAAA….”Teriak histeris keluar dari mulutnya

Bagaimana tidak darah yang bercucuran berasal dari tangan kanannya, dimana nadinya disayat oleh pisau yang masih digenggam kakaknya. Pikirannya kalut dan tanpa pikir panjang ia keluar rumah untuk mencari pertolongan.

Ketika ia keluar halaman, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang berjalan tergesa-gesa. Namun ia tidak memperdulikannya, karena dengan spontan ia meminta pertolongan tetangganya yang baru pulang bekerja “Ahjjusi tolong kakakku—“ sambil terbata ia berucap dan tanpa ragu tetangganya membantu.

Cukup lama ia menunggu polisi dan kedua orangtuanya berada dirumahnya, namun dengan cepat perkara ini ditangani polisi. Jungkook yang pertama kali menemukan kakaknya yang tergulai lemas diajui beberapa pertanyaan.

“Apa ada masalah pada anakmu, sampai ia mengakhiri hidupnya sendiri?” tanya seorang polisi, ibu dan ayahnya menjelaskan kalau Harin tidak memiliki masalah apapun.

Namun spontan Jungkook berkata “Noona dibunuh, bukan bunuh diri.” Tekan Jungkook “Aku lihat tangan kanannya yang ia sayat, tetapi kenapa pisaunya tetap ada ditangan noona.”

Para polisi dan kedua orangtuanya menatap Jungkook “Nak, bisa saja ketika kakakmu selesai menyayat, ia memang memegang pisau tersebut ditangan kanannya.”

“Tapi alibiku berkata seperti itu, jika bunuh diri pun pisau akan terjatuh dan aku pun melihat seseorang berjalan tergesa-gesa didekat rumah.” Terang Jungkook

“Sayangnya alibimu kurang kuat nak, terlihat pada bukti. Tidak ada sidik jari pembunuhan dikasus ini. Bukti kuat kalau anakmu bunuh diri.”

“Aniyo, ahjjusi. Noona tidak bunuh diri, aku yakin itu. Karena aku tahu Noona tida akan melakukan hal tesebut.” Jungkook berkali – kali meyakinkan para polisi, namun sayangnya tidak ada yang mempercayainya dan menutup kasus kakaknya dengan kasus bunuh diri.

-End Flasback-

“Siapa pembunuhmu sebenarnya Noona” tanpa terasa Jungkook menitikkan air matanya, ia teringat akan kakaknya yang sangat perhatian dan menyayanginya.  “Kalau saja ada petunjuk kuat pembunuhanmu, aku ingin menangkap pelakunya.” Gumam Jungkook masih menatapi secarik foto kusam tersebut.  Sebenarnya dua tahun terakhir Jungkook terus berusaha mencari tahu kasus yang dialami kakaknya ini, namun sayang hasil sangat nihil tidak ada bukti yang ia temukan. Teman-teman kakaknya yang suka bermain kerumahnya sulit dihubungi, mungkin bisa saja ia bisa mendapat bukti dari teman-teman kakaknya.

Satu yang Jungkook ingat adalah sahabat kakaknya yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Ketika Jungkook mencari tahu yang ia dapat sahabat kakaknya tengah menimba ilmu diluar negeri dan tidak ada info yang didapat Jungkook selain itu.

****

Langit biru menyempurnakan pagi yang cerah ini, dimana semua murid – murid BIG Highschool berbondong-bondong memasuki pekarangan sekolah. Waktu menunjukkan 07.00 hal yang wajar untuk para murid yang bersigap tepat waktu masuk sekolah.

BREEEMMMM

Sebuah motor sport melaju dipekarangan sekolah dan terparkir tepat tidak jauh dari pekarangan ini, terlihat jelas seorang siswa menggunakan jaket jeans melepas helm miliknya. Wajah tampan dengan rahang yang keras, namun memiliki kesan kharisma. Banyak anak mata menatap kearahnya kagum.

“Nuguseyo?” pekik Jimin mengerutkan keningnya, Jungkook yang diajak bicara tidak menghiraukan justu ia langsung memasuki gedung sekolah “Aisshh lagi-lagi seperti ini. Kebiasaan sekali, oke! Aku yakin orang itu anak baru.” Gerutu Jimin yang juga memasuki gedung sekolah.

Kebisingan kelas 2-B tidak dihiraukan Jungkook yang masih asik membaca buku sebelum pelajaran dimulai. Ia memutar pena miliknya dan berkali – kali ia mengerutkan dahinya berpikir akan apa yang ia baca. Namun kebisingan itu seakan pudar dikarenakan kehadiran seorang guru.

“Pagi anak-anak.. hari ini kelas 2-B kehadiran teman baru, masuklah.” Perintah guru Song.

Sepertinya tidak ada keraguan untuk murid itu memasuki kelas ini, karena memang benar semua anak mata langsung terpusat padanya. Terutama para siswi yang terlihat bergunjing membicarakan ketampanannya “Annyeong Choi Junhong imnida.” Dengan santai siswa tersebut berucap membuat siswi histeris karena gaya manlynya.

“Junhong, kau bisa duduk dikursi kosong paling ujung.” Tanpa ragu ia berjalan santai, tanpa sengaja matanya terarah pada Jungkook yang masih sibuk memainkan pena dan membaca seolah tidak menghiraukan kehadiran murid baru.

Entah apa yang Junhong perhatikan, namun ia menarik sebelah bibirnya mendapati barisan kata yang Jungkook beri pena dan kembali berjalan santai pada kursi yang kosong.

Meski Jungkook terlihat tidak menghirauan kehadiran murid baru. Namun sebenarnya ia cukup sadar kalau Junhong memperhatikan buku yang ia baca dan batinnya berucap ‘Siapa kau sebenarnya’.

^^^^

“Kudengar murid pindahan itu merupakan anak sulit diatur disekolah lamanya. Ia sering bermasalah disekolah, bolos dan kabur saat pelajaran berlangsung. Makanya ia sering pindah-pindah sekolah” Seru beberapa orang murid dikoridor kelas membicarakan Junhong.

“Aku tidak perduli, karena dia terlihat keren! Aku menyukainya.” Seru beberapa siswi yang masih dibuat kagum akan ketampanan Junhong.

Jimin mengerutkan dahinya mendengar percakapan yang dibicarakan oleh teman sekolahnya ini “Daebak. Siswa baru dikelasmu menjadi tranding topic sekolah ini.” Ujar Jimin pada Jungkook.

“Geurae dan ketampanan yang sering kau banggakan itu akan memudar Park Jimin” ledek Jungkook membuat Jimin menatapnya kesal, karena memang benar disekolah ini Jimin memang cukup popular bukan hanya karena ketampanan Jimin, permainan basket Jimin pun tidak bisa diragukan membuat para siswi terhipnotis.

“Aissh! Kau meledekku, tetap saja disini tidak ada yang bisa mengalahkan permainan basket ku.” Ujar Jimin membanggakan dirinya.

“Ya! Junhong berdebat dengan senior dan sekarang mereka bertanding basket.” Seru seorang siswa membuat yang lain membulatkan matanya dan menuju ruang olahraga.

Jimin dan Jungkook pun tidak ragu untuk menyaksikannya dan benar saja siswa bertubuh tinggi sebut saja Junhong tengah mendribble bola siap digiring kearah ring. Ia cukup lihai saat mendrible dan senior yang merupakan lawannya, terkecoh dengan teknik permaianan basket Junhong. Bahkan dengan sempurna Junhong memasukan bola pada ring.

“Ige mwoya !” pekik Jimin tidak percaya dengan permainan basket Junhong.

“Dia terlihat sudah mahir bermain basket.” Ujar Jungkook yang juga memperhatikan permainan Junhong.

Terlihat Junhong menyudahi permainannya, seolah dirinya bosan “Sepertinya sampai disini permainan kita sunbaenim. Jika ku teruskan kau tetap akan kalah.” Ujar Junhong berlalu meninggalkan senior yang bergerutu tidak terima, namun tidak dihiraukan Junhong.

“Ya, Choi Junhong.” Ujar Jimin yang menyadari Junhong melewatinya dan menghentikan langkahnya tepat didepan Jimin “Bertandinglah denganku”

Junhong tersenyum “Next time. Tapi aku tidak ingin bertanding denganmu, aku ingin bertanding dengannya…. Jeon Jungkook.”tekan Junhong menunjuk kearah Jungkook.

Jungkook membulatkan kedua matanya tidak percaya, ia hanya menatap tajam Junhong. Tak mengerti apa yang ada dipikiran Junhong dan tanpa menunggu persetujuannya Junhong sudah lebih berkata “Akan kutentukan pertandingannya.” Junhong berlalu meninggalkan ruangan olah raga ini.

“Aiisshh apa-apaan namja itu. Dia mengabaikan tawaranku dan mengajak kau bertanding.” Gerutu Jimin menatap kearah Jungkook yang sedari menatap tajam Junhong. “Tapi kenapa dia mengajakmu bertanding? Atas dasar apa?” lanjut Jimin

“Molla” hanya kata itu yang keluar dari mulut Jungkook, ia terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri ‘Siapa dia? Kenapa wajahnya terlihat tidak asing?’ batin Jungkook

****

“Mohon maaf untuk penumpang kearah selatan, jalur bus ditutup karena ada sebuah kecelakaan.” Ujar seorang supir yang mendapat informasi dari pusat.

BIG Highscool yang memang berada dijalur selatan, membuat Jungkook dan Jimin keluar bus. “Ada-ada saja, padahal sebentar lagi sampai sekolah.” Gerutu Jimin

“Dari pada kau bergerutu, sebaiknya kita segera kesekolah.” Sindir Jungkook yang berjalan santai, kali ini Jimin tidak membalas ucapan Jungkook. Karena ia pun sadar harus segera kesekolah, meski harus berjalan kaki.

Tepat mereka berjalan ditikungan terotoar terlihat jelas keramaian dipinggir terotoar. Sebuah mobil sedan hitam menabrak pohon besar dan bagian depan mobil rusak parah. Banyak anak mata yang memperhatikan kejadian ini, terutama korban yang sedang dikeluarkan dari mobil cukup sulit karena kakinya terjepit. Jungkook dan Jimin hanya dapat memperhatikan kecelakaan ini, tanpa mengeluarkan sebuah argumen.

“Sepertinya ini murni kecelakaan.” Ujar salah satu petugas mendefkripsikan kejadian ini. Jungkook mengerutkan keningnya seolah ingin berargumen menurut pendapatnya.

“Murni kecelakaan? Apa kalian yakin?” ucapan itulah yang ingin diucapkan Jungkook, tetapi ucapan tersebut bukan berasal dari mulut Jungkook. Melainkan seorang siswa berseragam sama dengan Jungkook tengah memberi asumsinya.

“Junhong.” Pekik Jimin tidak percaya, begitu juga dengan Jungkook karena ucapan yang ingin salurkan tersalurkan begitu saja oleh Junhong.

“Apa ahjussi tidak memperhatikan kabel rem bagian bawah mobil yang terputus.” Tunjuk Junhong menunjuk bagian bawah mobil.

“Tsk. Anak ini, kabel itu terputus akibat kecelakaan ini.” Terang petugas ini.

Junhong hanya tersenyum tipis “Sudah kuduga jawabannya akan seperti itu. Jika di perhatikan itu memang terlihat akibat kecelakaan, tapi jika diteliti kabel itu sengaja diputus karena potongan terlihat seperti digunting secara sengaja.” Petugas terdiam memperhatikan bawah mobil.

Jungkook yang memperhatikan ini tidak tinggal diam “Ahjjusi, apa ini benar-benar botol minuman soju?” Jungkook menunjukkan satu botol soju yang kosong.

“Ya, tentu saja itu botol soju. Dasar anak sekarang.” Petugas terlihat frustasi mendapati Junhong dan Jungkook yang beragumen.

“Botol ini memang botol soju, tapi apa bau soju seperti ini?” Jungkook memberikan botol tersebut pada petugas.

“Ini…” petugas menggantungkan kalimatnya, karena Jungkook sudah memberi argumennya.

“Apa gas air mata digunakan sembarangan ditempat ini?” petugas sadar benar bau dari botol ini memang benar aroma gas air mata.

“Rem mobil tersebut sengaja di potong oleh pelaku dan sudah pasti korban tidak merasakannya. Kemungkinan korban menyadari ketika dilampu merah ini” Terang Junhong

“Ketika korban tidak mampu mengerem, saat itu ada yang melemparnya gas air mata. Secara otomatis korban pun tidak berkutik karena merasakan kepeningan. Rem tidak berfungsi kemudian si korban pusing akibat gas airmata, tidak dapat ditepis mobil akan melawan arah dan BANG….” Jungkook menunjuk pohon besar lalu kembali berucap “Mobil tersebut mengenai pohon besar itu”

Jimin hanya mampu menatap kedua teman sekolahnya berargumen dengan seorang petugas, namun baru kali ini Jimin melihat seorang Jungkook yang mengutarakan pendapatnya didepan umum.

Jungkook dan Junhong saling bertukar pandang setelah mengucapkan apa yang ada dipikirannya, terutama Junhong yang tersenyum tipis lalu meninggalkan tempat ini.

“Sepertinya dia memiliki bakat yang sama sepertimu Jungkook.” Ujar Jimin dan Jungkook tidak berkata apa-apa karena pandangannya masih tertuju pada Junhong.

. Sedang petugas diam terpaku mendapati asumsi logika dari para murid ini. “Kita harus periksa ulang kecelakaan ini.” Ujar para petugas.

“Siapa anak-anak itu? ” Tanya salah seorang petugas yang memang memperhatikan pembicaraan mereka.

“Kami tidak tahu ketua, tapi anak-anak itu sangat membantu.” Mendapati ucapan itu sang ketua hanya mampu menatap para murid.

^^^^

“Kau terlihat begitu tertarik dengan sebuah kasus Jeon Jungkook.” Sindir Junhong ketika Jungkook memasuki kelasnya, Jungkook menatap tajam Junhong “Sudah berapa kasus yang kau pecahkan?” tanya Junhong kembali.

Tapi Jungkook memilih diam “Dibalik penampilanmu yang terlihat seolah tidak tahu apa-apa, sebenarnya kau tahu apa yang tidak dipikirkan orang lain. Daebak” ujar Junhong lagi

Entah kenapa Jungkook merasa tidak suka dengan ucapan Junhong “Siapa kau sebenarnya?” tanpa pikir panjang Jungkook bertanya seperti itu.

Junhong hanya tersenyum “Bertanding basket denganku, jika kau menang maka aku akan memberitahumu semuanya.”Tawar Junhong membuat seisi kelas memperhatikan keduanya.

Jungkook tidak mengerti kenapa Junhong memberi tawaran seperti ini padanya, namun Junhong kembali berucap “Harin Noona….” Junhong menggantungkan kalimatnya seolah memancing Jungkook.

Rahang Jungkook mendadak mengeras “Ya! bagaimana kau ….” tanpa menunggu perkataan Jungkook yang menggantung.

Junhong sudah berucap “Kau harus menang dariku, jika kau ingin tahu.” Junhong belalu meninggalkan Jungkook menuju lapangan basket, tanpa pikir panjang Jungkook mengikuti Junhong yang mengajaknya bertanding.

^^^^^

Teman sekelas pun sangat penasaran akan mereka, sampai dari kelas lain menyaksikannya. Terutama Jimin ketika mendengar kabar tersebut, ia langsung bergerak ke lapangan basket.

“Aissh Jeon Jungkook tidak berunding denganku dulu/?” gerutu Jimin memperhatikan Jungkook yang tengah bersiap untuk bertanding basket.

“Siapa yang akan menang?”

“Tentu saja Junhong, karena Jungkook tidak berbakat bermain basket” Beberapa anak bergunjing akan kedua teman sekelasnya ini, Jimin yang mendengar ini sontak menatap kearah beberapa orang pengunjing.

“Ya! Jangan meremehkan seorang Jeon Jungkook.” Ujar Jimin penuh penekanan.

“Omo Jungkook” Pekik para siswi yang diterbelalak kaget dengan tindakan Jungkook.

Terlihat jelas Jungkook melepas almamater dan kacamata miliknya, kemeja yang dikeluarkan dan lengannya sengaja digulung menunjukkan arm lengannya.

“Daebak Jeon Jungkook! Dia telihat tampan seperti itu.” Seru para siswi yang dibuat kagum akan Jungkook.

Jimin hanya tersenyum dengan ucapan para siswi dan mulai memperhatikan pertandingan yang akan dimulai.

Jungkook masih menatap tajam Junhong, namun Junhong hanya memberi senyuman ciri khasnya “Pertama kau harus merebut bola ini dariku.” Menerima ucapan itu Jungkook hanya tersenyum kecut.

 Jungkook berusaha merebut bola dari Junhong dan dengan teknik yang pernah dilakukan Junhong, ia merebut bola seraya menggiring bola kedalam ring dan Jungkook behasil menerima skor pertama.

Tidak mau kalah Junhong merebut bola dari tangan Jungkook dan melempar bola kedalam ring, Junhong pun menerima sebuah skor. Pertandingan kian memanas dikarenakan teriakan para siswa dan siswi yang antusias akan pertandingan ini. Keringat pun bercucuran dari kening keduanya, karena permaianan yang kian menegangkan.

Jungkook dan Junhong pun bergantian merebut bola seraya memasukkannya kedalam ring. Tidak ada yang meleset karena permainan keduanya pun sangat bagus.

Waktu pun tidak terasa keduanya bertaruh dalam 15 menit siapa yang menerima skor yang tinggi dialah yang menang. Tepat didetik terakhir Jungkook merebut bola dari tangan Junhong dan tidak ragu dilemparkannya kearah ring.

“Masuk! Bagus Jungkook” seru Jimin mendapati skor Jungkook lebih unggul dibanding Junhong.

Waktu sudah habis dan permainan selesai, Jungkook tersenyum sumringah.

“KYAAAAAAAAAA Jungkook menang! Kalian lihat itu?” sindir Jimin pada murid yang tadi menggunjing akan Jungkook, memang tidak dapat dipungkiri kalau Jungkook terlihat sangat keren saat bermain bola basket.

Tidak jarang para siswi yang berteriak seorang ‘Jeon Jungkook’.

Jungkook menatap Junhong, seolah menagih janji yang diucapkannya. Junhong pun memberi senyuman khasnya “Aku pasti menepati janji, tapi tidak mungkin bagiku untuk bercerita disini. Sepulang sekolah aku akan mengajakmu dan menunjukkan sesuatu.”

Jungkook terperangah dengan ucapan Junhong “Jika kau tidak percaya, kau bisa simpan kunci motorku.” Junhong meleparkan kunci motornya kearah Jungkook “Satu hal yang harus kau ketahui, aku bukanlah seorang musuh yang ada dipikiranmu Jeon Jungkook. Tetapi aku adalah seseorang yang tengah mencarimu”

Jungkook semakin terperangah karena Junhong mengerti apa yang sekarang ia pikiran “Ya! Kau…” belum Jungkook berucap Junhong sudah berkata.

“Gunakan pertanyaanmu jika aku sudah membawamu ketempat itu.” Kembali Junhong seakan mengerti apa yang ada dipikiran Jungkook dan berlalu meninggalkannya.

Jimin yang mendengar percakapan keduanya hanya mengerutkan dahinya, tapi dalam benaknya terdapat rasa penasaran maksud semua ucapan yang dibicarakan Jungkook dan Junhong.

^^^^

Jungkook dibuat tidak percaya dengan Junhong yang saat ini membawanya ke sebuah pemakaman. Perasaan bingung berkecamuk dibenak Jungkook, namun ia berusaha  bersikap santai dengan tindakan Junhong. Jungkook pun teringat akan kakaknya yang dimakamkan disini, sudah sebulan lebih ia tidak kemakam.

‘apa ia mengajakku kemakam noona?’ batin Jungkook terus bertanya-tanya, ia sangat bingung dengan orang yang berjalan santai didepannya. Jungkook sadar makam kakaknya sudah terlewat, tetapi Junhong tetap berjalan “Ya, sebenarnya kau ini mau membawaku kemana ? hah” Desis Jungkook.

Junhong hanya menatap Jungkook dan tetap berjalan tanpa menjawab ucapan Jungkook. Seketika Junhong menghentikan langkahnya tepat disalah satu makam, ditatap olehnya makam tersebut. Jungkook  sadar benar tatapan Junhong bukan tatapan biasanya, namun ia merasakan kesenduan hati.

“Yerin Noona, apa kau mengingatnya ?” tanya Junhong dan mengambil secarik foto pada makam tersebut lalu diberikannya pada Jungkook.

Mendengar nama ‘Yerin’ pun Jungkook terasa tercekat, seseorang yang memang ia cari keberadaanya. Yerin merupakan petunjuk kematian kakaknya. Jungkook menatap foto tersebut dimana dua orang wanita yang ia kenal, bersama anak laki-laki kecil. Merupakan foto yang pernah ditunjukkan Yerin pada Jungkook, memberitahu wajah adik laki-lakinya.

Berkali-kali Jungkook menatap foto tersebut dan Junhong “Yerin Noo..” Ucapan Jungkook terasa tercekat menyadari makam yang ada dihadapannya bertuliskan ‘Choi Yerin’. “Ige mwoya?” Jungkook menatapi makam tersebut penuh sendu dan rasa tidak percaya.

“Kau pasti sudah bisa menebak siapa aku sekarang bukan?” tanya Junhong. Jungkook hanya mampu menatap Junhong yang memang ia terka adalah Adik dari Yerin Noona. “Gheure! Aku adalah adik Yerin Noona.” Junhong seolah membenarkan apa yang tengah dipikirkan Jungkook saat ini.

“Semenjak meninggalnya Harin noona, mental Yerin noona terganggu. Dia sering menangis sendirian dikamar, bahkan perasaan takut seolah berkecamuk pada dirinya. 3 tahun Noona mengalami gangguan jiwa, dengan rasa tidak ikhlas keluarga kami membawanya kerehabilitasi mental. Namun tidak ada perubahan, setelah itu kami mendengar kalau Yerin noona sudah tiada dikarenakan bunuh diri.” Jelas Junhong menatap makam kakaknya.

Jungkook hanya mampu terdiam mendengar ucapan Junhong, karena ia tahu persahabatan Harin dan Yerin sangatlah dekat. Bahkan mereka beranggapan seperti saudara sendiri.

“Tapi aku tidak percaya jika Yerin Noona bunuh diri, sama ketika Harin noona dinyatakan bunuh diri. Aku tidak mempercayainya”

Jungkook membulatkan kedua matanya “Kau ….” Jungkook menggantungkan ucapannya.

Junhong tersenyum seraya berakata “ Wae? Kau pun tidak mempercayainya kan?” tebak Junhong.

Jungkook mengangguk mantap “Tentu saja, Harin noona bukan orang yang dengan mudah melakukan hal itu. Tapi kenapa kau tidak mempercayainya?”

“Yerin noona selalu berkata ‘Harin tidak bunuh diri, ia dibunuh’ ketika ditanya siapa yang membunuh noona seperti ketakutan. Setelah ku tahu kalau noona dinyatakan bunuh diri, aku teringat akan ucapan noona akan meninggalnya Harin noona.” Terang Junhong

Jungkook mengerti maksud ucapan Junhong “Maka dari itu kau mencariku bukan?” tebak Jungkook.

Junhong tersenyum puas karena kepekaan Jungkook “Tentunya aku ingin mengajakmu mencari pelaku utama kasus yang ditutup dengan bunuh diri. Otte?”

Jungkook tersenyum pertanda ia setuju dengan usul Junhong “Tentu saja! Tapi, kita tidak mempunyai petunjuk.”

“Aniya, aku mempunyai ini.” Junhong memberi sebuah foto pada Jungkook, ia mengerutkan alisnya melihat sebuah benda pada gambar tersebut benda yang bercahaya dan Jungkook sadar benar apa benda ini.

“Lightsaber” pekik Jungkook menerka

“Benar! Itu kata kunci yang harus kita cari.” Mengerti maksud Junhong, Jungkook tersenyum simpul “Kajja”

Baru beberapa langkah mereka berpijak, seseorang menjegatnya “Ya! Kalian menjalani misi hanya berdua saja ! hah “  ujar orang itu

“eoh? Jimin..” Sadar Jungkook

Jimin memang mengikuti keduanya dan sebenarnya keduanya sudah sadar kalau seorang Jimin mengikuti mereka. “Ya, aku akan bergabung dengan kalian.” Terang Jimin.

Jungkook dan Junhong saling bertukar pandang satu sama lain “Ahh, ini sudah sangat sore. Kajja kita harus segera pulang” ujar Junhong yang merangkul Jungkook.

Seperti ini lagi pikir Jimin “Ya! Berhenti mengabaikanku. Tidak perduli aku akan bergabung.” Seru Jimin menyetarakan langkahnya dengan kedua teman sekolahnya ini. Tanpa sadar senyuman mengembang dari bibir mereka masing- masing.

****

FIN~

 

2 thoughts on “Young Detective

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s