Brother & Sister [Chapter 4]

Poster Brother Sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 4]

Genre : Family, Fluff

Length : Chapter

Rating : T

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

  Brother & Sister [Chapter 1] | Brother & Sister [Chapter 2]|Brother & Sister [Chapter 3]

Trailer Fanfic Brother & Sister

  CHAPTER 4

Sudah lebih dari seminggu Jieun bersekolah di Saekang Highschool dan sikap Yoora padanya tampak begitu jelas. Karena ia kerap mengerjai Jieun seakan tak puas dengan perlakuannya, hingga saat ini pun Jieun masih tak mengerti dengan sikap Yoora yang demikian. Terlebih Jungkook selalu ada dan membantu Jieun ketika dikerjai Yoora, sikap baik Jungkook membuat Jieun semakin tak paham dengan Jungkook.

Kali ini Jieun baru saja memasuki kelasnya, ia tak langsung duduk karena ia berpusat pada loker yang berada dibelakang kursi. Mengingat buku paketnya berada diloker, ketika ia membuka loker milikya tumpukan sampah keluar dari lokernya. “Ugh…” tak pelak Jieun menghelakan napas kesalnya, ia menatap kearah Yoora yang hanya tersenyum simpul.

Begitu pula dengan teman-teman sekelasnya yang menertawakan “Ya….” Jieun menggantungkan ucapannya dan masih menatap Yoora, namun sesaat ia hanya menghelakan napasnya karena percuma berdebat dengan Yoora pun tak akan menyelesaikan masalah. Ia memilih diam seakan tak ingin mencari keributan dipagi hari dan membersihkan loker miliknya.

“Ghwencana, biar ku bantu” ujar Jungkook yang tersenyum dan meraih sampah-sampah tersebut kedalam kantung.

“Keundae…” belum menyelesaikan ucapannya, justru Jungkook meraih sampah yang ada ditangan Jieun dan dimasukan kedalam kantung, seraya membuangnya keluar kelas.

Jungkook selalu bersikap seperti ini, padahal Jieun tak pernah meminta untuk dibantu olehnya. Namun Jungkook selalu ada disaat ia butuh pertolongan, sikapnya begitu spontan dan tulus membuat Jieun tak mampu berkata apa-apa jika Jungkook bersikap demikian.

Hingga kali ini loker Jieun sudah tampak bersih “Goma…” ucapan Jieun dipotong begitu saja oleh Jungkook.

“Ya, sudah kukatakan jangan mengucap kata itu lagi. Kita teman sekelas dan sudah seharusnya saling menolong” tutur Jungkook, bahkan kali ini Jungkook meraih buku paket dari lokernya “Pakai ini, buku paketmu tampak kotor. Tak mungkin kau belajar dengan buku kotor itu” Jungkook menaruh tepat dikepala Jieun membuatnya spontan meraih buku terebut.

“Tapi kau bagaimana?” ujar Jieun

“Aku dapat berbagi dengan teman sebangku ku” ujar Jungkook yang tersenyum dan berjalan menuju kursinya, meski sebelumnya ia menatap kearah Mark.

Seakan paham dengan ucapan Jungkook, Jieun yang baru saja duduk dikursinya menatap Mark “Gheurae, tak mungkin juga namja ini akan berbagi denganku”

“Tentu aku tak ingin berbagi denganmu” sahut Mark asal yang memang cukup mendengar ucapan Jieun.

“Aisshh geu namja” Jieun menghelakan napasnya mendapati ucapan Mark.

“Kau, apa nyaman bersekolah disini? Sedang Yoora terus mengganggumu?”  tanya Mark tiba-tiba membuat Jieun menatapnya.

“Mwo?”

“Aniyo, jika kau tak nyaman. Sebaiknya katakan pada ibumu untuk memindahkanmu dari sekolah ini” ujar Mark pelan namun cukup didengar oleh Jieun.

Jieun hanya diam saja, ia tak paham dengan ucapan klise yang terlontar dari mulut Mark. Alhasil ia hanya menatap Mark dengan tatapan yang sulit diartikan.

*****

 Malam hari setelah makan malam, Jieun tampak asik menoton drama. Namun tiba-tiba Mark duduk disampingnya dan meraih remot “Uri Dongsaeng, lebih baik kita nonton ini saja” ujar Mark yang langsung memindahkan chanel televisi menjadi tontonan Larva.

“Ya, Mar……” ucapan Jieun tertahan begitu saja , karena ia sadar berada dirumah dan tak mungkin baginya memanggil Mark hanya dengan nama “Oppa, tampaknya kau lupa dengan kesepakatan kita. Kalau jam ini adalah jam ku untuk menonton drama” tekan Jieun ingin merebut remot dari tangan Mark.

Namun dengan cepat Mark menahan remot tersebut “Uri dongsaeng, kapan kita membuat sebuah kesepakatan macam itu. Sepertinya kau mengada-ada” Mark pun mengucapkan kalimat  penuh penekanan.

 Ayahnya yang menyaksikan kedua anaknya hanya mengelengkan kepalanya, karena pemandangan yang cukup biasa dilihatnya “Mau sampai kapan kalian terus merebutkan sebuah remot” tak pelak ayahnya bersua

Sontak Jieun dan Mark bertatapan seakan memberi isyarat untuk mengalah “Appa, aku hanya ingin menonton drama. Bukankah seorang kakak harus mengalah pada adiknya” ujar Jieun membuat Mark menatapnya tajam.

Belum sempat ayahnya bersua, Mark sudah melepaskan remot tersebut dan bersua “Hahaha, aigo uri dongsaeng. Tentu saja oppa akan mengalah pada adikku yang manis ini” dengan sengaja Mark mencubit pipi Jieun.

“Ya, oppa” tekan Jieun memberi isyarat agar Mark melepaskan tangannya dari pipinya, namun Mark mengelengkan kepalanya dan tersenyum puas. Belum sempat Jieun ingin protes pada Mark.

“Jieun-ah, siapa yang melakukan ini pada kaos olahragamu?” ujar ibunya yang menunjukkan kaos olahraga Jieun robek dan berlubang besar.

Saat itu juga sontak Jieun menepis tangan Mark dan merebut kaos olahraga dari tangan ibunya. Ia tampak bingung harus menjelaskan apa pada ibunya, karena lubang pada kaosnya seperti digunting seseorang. ia teringat kejadian tadi dimana saat pelajaran olahraga dan menemukan kaos olahraganya sudah berlubang.

Jam pelajaran matematika baru saja selesai, mengingat pelajaran selanjutnya adalah pelajaran olahraga buru-buru seisi kelas disibukkan untuk mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga. Ketika Jieun hendak meraih seragam olahraganya dari loker, betapa kaget dirinya mendapati kaos olahraganya berlubang besar.

“Eoh, Jieun-ah. Siapa yang melakukan itu pada seragam olahragamu?” tanya Jackson

“Molla” jawab Jieun menghela napas beratnya dan menatap kearah Yoora yang tampak tersenyum puas.

“Wae? Kenapa kau menatapku? Apa kau ingin menuduhku? Itu salahmu sendiri. Mungkin didalam lokermu terdapat tikus dan mengerogoti kaos olahragamu” ujar Yoora dengan nada meledeknya dan disambut tawaan kedua temannya, saat itu juga tanpa menunggu respon Jieun. Yoora dengan sengaja melewati Jieun dan menyenggol tepat mengenai bahunya.

Mendapati hal ini semua hanya diam saja, itulah yang dapat mereka lakukan. Mereka bukan tak perduli hanya saja mereka enggan mencari masalah dengan Yoora dan Jieun pun sama halnya dengan yang lain. Sedang Mark ia hanya menatap Jieun, entah perasaan apa ia ingin menghampiri Jieun. Namun Jungkook sudah berada tepat dihadapan Jieun.

“Igo, kau pakai kaos olahragaku” Jungkook menjulurkan kaos olahraga miliknya.

Jieun menatap Jungkook “Keundae, neo….”

“Pakai saja, aku bisa meminjam kaos olahraga dengan temanku dikelas lain.” Ujar Jungkook membuat Jieun tak tahu harus berkata apa  pada Jungkook “Cepat pakai, Changmin sonsaeng akan marah jika ada yang terlambat”Jungkook mengacak rambut Jieun dan berlalu keluar kelas.

Mark hanya menyaksikan semua ini dan tanpa berkata apa-apa ia pun meninggalkan kelas.

Jieun masih terdiam mengingat kejadian disekolahnya, namun dengan cepat ia mengelak “Itu kudapat ketika aku berlari dan kaosku tersangkut lalu robek” Jieun tertawa renyah

“Jinjjayo? Apa disekolah ada yang mengganggumu?” tanya ibunya membuat Jieun membulatkan matanya dan Mark pun menatap Jieun.

“Tentu saja tidak eomma, ini benar-benar kesalahanku” ujar Jieun meyakinkan ibunya dan disambut anggukan mengerti oleh ibunya.

“Jieun-ah, jika disekolah ada yang mengganggumu. Sebaiknya kau beritahu Mark biar kakakmu yang memberi peringatan pada orang yang menganggumu. Aku tahu benar sifatmu Jieun-ah, meski kau terlihat tegar tetap saja kau ini seorang yeoja” ujar ayahnya membuat Mark dan Jieun saling bertukar tatap.

“Ne, arasseo appa. Aku kekamar duluan” ujar Jieun yang berlalu menaiki tangga.

Sedang Mark hanya mampu terdiam dan menatap kearah Jieun, entah apa yang ada dipikirannya namun ia mencerna jelas ucapan ayahnya.

******

-Beberapa hari kemudian-

Hari demi hari dilewati oleh Jieun disekolah, tampaknya Yoora tak lelah untuk mengerjainya. Namun disatu sisi ia merasa beruntung karena ada Jungkook yang selalu membantunya, meski pun begitu Jieun merasa enggan untuk meladeni seorang Yoora.

Sisa jam istirahat masih digunakan siswa dan siswi yang berkeliaran dikoridor kelas. Bahkan Mark tampak asik memainkan skateboardnya diantara lorong-lorong kelas, namun tak lama Kangin sonsaengnim menegurnya agar tak bermain skateboard alhasil Mark hanya mengerucutkan bibirnya dan memasuki kelas. Jieun cukup memperhatikan dan membuatnya terkekeh, terlihat jelas para murid mulai memasuki kelas pertanda jam istirahat sudah habis meski masih ada 5 menit sebelum pellajaran dimulai.

Jieun yang awal cukup menikmati pemandangan luar sekolah, kali ini ia pun memasuki kelasnya. Teman-teman sekelasnya pun masih disibukkan dengan senda gurau, bahkan belum sempat Jieun berjalan menuju kursinya tiba-tiba Yoora berdiri tepat dihadapannya.

 “Jieun-ah, chukaeyo karena kau sudah bertahan cukup lama dikelas ini” ujar Yoora menyodorkan kue dan teman-teman Yoora meniupkan terompet kecil, keadaan yang gaduh mendadak hening menyaksikan keadaan tersebut.

Seakan tak ingin ikut campur mereka memilih menyibukkan diri, meski beberapa diantaranya masih menatap kearah Yoora. Begitu juga dengan Mark dan Jungkook yang menatap penuh curiga.

“Ige mwoya?” tanya Jieun tak mengerti dengan sikap Yoora.

Yoora tersenyum manis tampak tak biasanya seorang Yoora yang biasa Jieun lihat penuh kebencian “Mianhaeyo, aku sering mengerjaimu. Aku besikap demikian hanya untuk menyambut teman baru dikelas ini” tuturnya

“Jinjjayo?” entahlan Jieun tak percaya dengan ucapan Yoora.

“Jinjja, jika aku bohong untuk apa aku repot-repot membawa kue ini.”kata  Yoora sambil menunjukkan kue tersebut “Keundae, mian. Aku tak membawa lilin untukmu, namun aku membawa hadiah untukmu” tanpa ragu Yoora langsung menyodorkan kue tersebut kewajah Jieun, hingga kali ini wajah Jieun dilumuri oleh kue.

“Omoooo” sontak seisi kelas berseru akan tindakan Yoora yang diluar batas, bahkan Mark dan Jungkook pun membulatkan mata mereka.

“Yoora geumanhae” Seru Jungkook mengenggam tangan Yoora seolah memberi isyarat untuk menghentikan tindakannya, namun dengan cepat ditepis olehnya.

Bahkan Yoora tersenyum puas “Aigo Jieun-ah mianhae, tanganku salah mengarahkan” ujar Yoora dengan nada dibuat-buat, disambut tawaan Hana dan Seoji.

Mendapati hal ini Jieun masih diam saja, ia memberishkan kue yang berada diwajahnya untuk menegaskan padanganannya. Tak segan ia menatap tajam kearah Yoora dan mengepalkan tangannya seakan menahan emosi. “Nappeun yeoja” ujar Jieun tak pelak air mata Jieun jatuh begitu saja.

“Mwo? Apa yang kau katakan? Coba ulangi?” kali ini Yoora menatap tajam Jieun.

“Nappeun yeoja” Jieun menjelaskan ucapannya membuat Yoora mendorong Jieun dan mengenai meja yang berada dibelakang Jieun. Meski Jieun manahannya tetap saja tangan kiri Jieun terluka, namun Jieun tak memperdulikannya.

Mendapati hal ini Mark ingin menghampiri Jieun, namun Jungkook  dengan cepat membantu Jieun membuat langkah Mark terhenti dan kali ini Jungkook menatap Yoora “Yoora jebal geumanhae” pinta Jungkook  dengan nada lirih. Teman-teman yang lain pun membulatkan mata mereka, namun tak ada yang mampu bergeming karena jika mereka ikut campur sama saja ‘bunuh diri’.

“Aku sudah memperingatkanmu sejak awal Lee Jieun” ujar Yoora penuh penekanan.

Jieun menghelakan napas beratnya, ia berusaha tegar dan tak ingin menunjukkan sisi lemahnya “Karena aku duduk dengan Mark, kau jadi begitu membenciku. Kau begitu menyukai Mark ?” tanya Jieun

Namun disambut tawaan oleh Yoora “Hahaha…. Ya! Kemana saja kau baru menyadari hal ini, sejak awal aku memperingatimu tampaknya kau tak peka. Aku bukan sekedar menyukai Mark, aku menganggapnya adalah milikku” ujar Yoora penuh penekanan.

Tapi kali ini Jieun tampak tersenyum tipis dan menatap Mark sebentar “Jinjjayo? Kau menganggap Mark milikmu, tapi apakah Mark menyukaimu?” untuk pertama kali bagi Yoora seseorang menanyakan hal ini padanya, seolah pukulan berat tengah menghantamnya karena disadari olehnya kalau Mark tak pernah sedikit pun menggubris ucapannya sekali pun Yoora kerap mengatakan suka padanya.

“Mwo???” tatap tajam Yoora dengan petanyaan Jieun.

“Waeyo? Tampaknya cintamu tak terbalaskan, terlalu picik  jika menganggap seseorang adalah milikmu. Orang bukanlah mainan Kang Yoora” Jieun tersenyum tipis

Namun tampak jelas rahang Yoora mengeras seakan tak terima dengan ucapan Jieun “Ya!!! Lee Jieun” tekan Yoora dan ingin mendorong Jieun, tapi dengan cepat Jungkook menahannya “Waeyo? Apa kau pun menyukai Mark?”

“Aniyo, tak mungkin bagiku untuk menyukai seorang Mark” Jieun terdiam sejenak dan kembali berkata “Lagi pula dia bukanlah tipeku” dengan tatapan kosong saat itu juga Jieun berlalu meninggalkan kelas.

Seisi kelas hanya mampu terdiam menyaksikan hal tersebut. Yoora tampak sangat kesal mendengar ucapan Jieun, namun Jungkook menahannya agar tak bertindak lebih. Mata Mark tak lepas dari Jieun, entah  apa yang ada dipikirannya dalam diam ia mengikuti Jieun.

Bahkan kali ini Mark hanya mampu terdiam, mendengar Jieun dari kamar mandi tengah menangis. Meski ia berada diluar, namun tangisan tersebut masih cukup didengarnya dengan jelas. Dari jarak yang tak jauh, Jungkook menatap Mark dengan tatapan yang sulit diartikan. Terlihat jelas Mark yang mulai meninggalkan tempat tersebut ketika menyadari Jieun keluar dari kamar mandi.

Mendapati hal tersebut Jungkook langsung menghampiri Jieun dan menyodorkan tissue padanya. Tanpa berkata apa-apa Jieun meraihnya, seraya meninggalkan tempat ini. Jungkook cukup mengerti dengan keadaan Jieun, maka ia pun memilih diam dan mengikuti Jieun.

^^^^

Makan malam merupakan rutinitas keluarga ini, dimana Jieun dan Mark tampak menikmati hidangan yang dibuat ibunya. Namun berbeda dari biasanya tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mark atau Jieun, ibu dan ayahnya cukup sadar karena meski celoteh kedua anaknya ini sedikit memaksakan dan kerap menimbulkan pertengkaran selalu sukses membuat keadaan rumah lebih hangat.

“Eoh, Jieun-ah. Tanganmu terluka” ujar ibunya yang menyadari luka pada tangan Jieun, namun dengan cepat Jieun menutupinya “Bagaimana kau bisa mendapat luka itu?”

Mark menatap luka pada tangan Jieun dan cukup jelas Jieun tampak bingung menjelaskan pada ibunya “Salahku eomma, ia mendapat luka itu karenaku” ujar Mark membuat Jieun manatapnya.

“Mwo?” bahkan kedua orangtua dibuat bingung dengan ucapan Mark.

belum sempat Mark ingin berucap, namun Jieun sudah berkata “Aniyo eomma, appa. Luka ini karena aku terjatuh dan mengenai meja kelas, aku ceroboh”

kedua orangtuanya saling bertukar tatap, bahkan Mark menatap Jieun akan kebohongan lukanya “Jinjjayo? Apa Mark tak menjagamu dengan baik?” tanya ayahnya.

Dengan cepat Jieun mengelengkan kepalanya “Ani… Oppa menjagaku dengan baik” kali ini Jieun menatap Mark yang cukup ia sadari tengah menatapnya “Ahh, eomma, appa, oppa. Aku kekamar duluan ya, ada beberapa tugas yang harus kukerjakan” ujar Jieun disambut anggukan kedua orangtuanya, seraya meninggalkan tempat ini.

Mark yang sedari tadi menatap Jieun, ia pun menyudahi makan malamnya dan bergegas untuk kemar. Kedua orangtuanya hanya memandang kedua anaknya, mereka tampak bingung dengan keadaan tersebut.

“Ya, ikut aku” ujar Mark menggenggam tangan Jieun, dimana ketika Jieun baru ingin memasuki kamarnya.

Namun Jieun menepis genggaman Mark “Waeyo?”

“Jika tidak segera diobati, lukamu akan infeksi” ujar Mark menatap luka ditangan Jieun dan cukup jelas Mark sudah memegang kotak obat.

Jieun tersenyum memaksa “Apa perdulimu? Bukankah sejak awal ini yang kau inginkan?”

“Mwo?” Mark tampak bingung dengan ucapan Jieun.

“Sejak awal kau menyuruhku untuk duduk bersamamu, agar aku menerima perlakuan tersebut dari Yoora. Kau sengaja melakukan hal itu kan?” tanya Jieun penuh penekanan, membuat Mark terdiam “Yoora sangat menyukaimu, dia akan melakukan apa saja jika ada yeoja yang berani duduk bersamamu atau pun dekat denganmu” Jieun cukup teringat perbincangannya bersama Jackson dan Taehyung yang membuatnya menyadari semua dengan sikap Mark.

Jieun baru saja memasuki kelas, dimana ia baru saja selesai melakukan makan siangnya di kantin. Namun belum banyak murid yang berada dikelas, bahkan ia hanya melihat Jakcson dan Taehyung tampak sibuk memandang keluar jendela kelas. “Aiisshh yeoja itu, harusnya tahu diri sudah ditolak mentah-mentah masih saja mengerjar Mark” ujar Jackson sambil mengelengkan kepalanya.

Jieun cukup penasaran dengan apa yang dilihat kedua teman sekelasnya ini, dapat terlihat jelas dimana Yoora berkali-kali menggamit tangan Mark namun ditepis begitu saja olehnya. “Jika aku jadi Mark, aku pun akan melakukan hal itu.” Ujar Taehyung

“Nado, bagaimana pun cinta tak dapat dipaksakan. Namun seorang Kang Yoora, tak akan melepaskan apa yang sudah ia cap menjadi miliknya. Naif sekali” ujar Jackson

“Keundae, bagaimana Yoora bisa menyukai Mark sampai ia mencap Mark adalah miliknya?” tanya Jieun membuat Taehyung dan Jackson terkaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.

“Omo Jieun.. Kau membuat jantungku hampir copot” ujar Taehyung mengelus dadanya, Jieun hanya tersenyum polos.

 “Sudah seharusnya kau tahu Jieun, sebenarnya ini hanya hal sepele. Orangtua Yoora merupakan penyandang dana terbesar disekolah, dengan begitu ia memiliki cukup kekuasaan disekolah ini. Banyak senior yang mendekatinya karena kekuasaan yang ia miliki, sampai ia tahu kalau senior terebut memanfaatkannya. Emosinya meluap, namun ia dikepung banyak senior membuatnya tak dapat berkutik. Namun Mark menolongnya dan menyelamatkannya dari tindakan lebih para senior. Setelah itu senior yang mengepungnya dituntut oleh orangtua Yoora.” Ujar Jackson

“Semenjak itu Yoora menyukai Mark dan mengatakan kalau Mark adalah miliknya. Sungguh konyol bukan? Maka dari itu ia sangat sensitif ketika Mark dekat dengan yeoja lain, terlebih cukup banyak siswi yang menyukai Mark dan mengirimi coklat, namun Yoora selalu memberi peringatan pada yeoja-yeoja itu . Bahkan tak segan ia meminta pada orangtuanya untuk mengeluarkan orang-orang yang tak disukainya. Karena ia hidup dengan kekuasaan dan apa yang ia inginkan selalu dituruti” ujar Taehyung

“Kursi Mark kosong memang sengaja, karena Yoora kerap pindah ke kursi tersebut untuk mendekati Mark dan tak ada yeoja yang berani untuk duduk dikursi tersebut. Karena akan menerima akibatnya dan Yoora tak akan melepaskan begitu saja.”ujar Jackson menatap Jieun.

“Seperti aku yang tak akan dilepaskannya? Sekalipun aku tak mendekati Mark” ujar Jieun

“Ne, yeoja itu benar-benar kejam. Kami bukan tak berani berhadapan dengannya, hanya saja enggan meladeni sikap egoisnya” ujar Taehyung

Jieun tampak menghelakan napasnya “Aku jadi kasihan padanya, entah kenapa aku merasa kalau Yoora bersikap demikian karena ia merasa tertekan.”

Jackson dan Taehyung saling bertukar tatap “Aigo, kau sering dikerjai olehnya, namun kau masih memberi simpati padanya. Apa yang ada dipikiranmu Lee Jieun”ujar Jackson.

“Dia bukan tertekan, namun ini tampak sebuah kebiasaannya yang tak dapat mengkontrol emosi. Maka tak jarang Jungkook mantan kekasihnya yang sudah tahu akan sikapnya, selalu menahan emosinya.” Jelas Taehyung

“Jinjayo?” entah kata itu keluar dari mulut Jieun mendengar akan Jungkook mantan kekasih Yoora.

Kali ini Jackson dan Taehyung mendekatkan diri pada Jieun “Asal kau tahu, Jungkook diputuskan Yoora karena seorang Mark” bisik keduanya membuat Jieun tak tahu harus berkata apa, ia hanya mencerna ucapan yang terlontar dari teman-temannya ini.

Mengingat Hal tersebut Jieun masih menatap Mark, ia menyadari kalau Mark bersikap demikian karena sengaja. “Kau melakukan ini agar aku tak tahan disekolah?  Benar?”

Mark tak tahu harus berkata apa, ia menghelakan napasnya dan berkata “Gheurae! Aku memang sengaja melakukan itu”

Jieun terhenyak mendengar ucapan Mark “Wae? Naega Wae? Kau melakukan ini apa karena Aku adik tirimu? Kau masih tak bisa menerima kenyataan kalau ibuku sekarang ibumu juga? Awal akupun tak dapat menerima ayahmu, tapi ayahmu benar-benar menunjukkan kasih sayangnya padaku. Apa kasih sayang yang diberikan ibuku masih kurang? Sebegitu bencikah Kau kepada kami?” Tanpa terasa airmata Jieun jatuh begitu saja, belum sempat Mark berucap namun Jieun sudah berkata “Aku pun cukup muak dengan sikapmu yang menyebalkan dibelakang eomma dan appa” Jieun langsung memasuki kamarnya tak menunggu respon Mark.

Mark tak percaya dengan ucapan Jieun hingga sejauh ini, memang benar adanya kalau Mark melakukan hal tersebut agar Jieun tak bertahan lama disekolah. Namun tampaknya seseorang membuatnya bertahan dan sikap Yoora sudah diluar batas bagi Mark.

“Mianhae” gumam Mark pelan masih menatap pintu kamar Jieun “Aku tidak membencimu dan ibumu, kasih sayang yang diberikan oleh ibumu sudah lebih dari cukup. Jieun-ah” kali ini Mark bergumam dalam hati, meski Jieun salah mengartikan maksud Mark. Tak dapat dipungkiri oleh Mark, ia merasa bersalah pada Jieun.

Tanpa disadari oleh mereka, kedua orangtua mereka cukup mendengar percakapan kedua anaknya ini.

****

Seperti biasa Jieun dan Mark dipagi hari kedua remaja ini disibukkan bergegas sekolah, dimana keduanya tengah berada didalam bus. Namun tak seperti biasanya, tak ada pembicaraan antara Mark dan Jieun didalam bus ini. biasanya bumbu beradu mulut kerap terjadi pada keduanya, Mark pun cukup sadar dengan sikap Jieun yang acuh tak acuh padanya, bahkan tak sedikit pun Jieun menatap kearah Mark.

“Ji…” belum sempat Mark ingin berucap, Jieun justru beranjak dari kursinya karena cukup disadari bus sudah berhenti tepat dihalte sekolah. Tanpa berkata apa-apa Jieun melewati Mark dan turun dari bus, mendapati hal ini Mark hanya mampu menghelakan napasnya dalam diam ia mengikuti langkah Jieun dari belakang.

Hingga kali ini keduanya memasuki kelas, dimana Mark masih berada dibelakang Jieun. Tepat ketika Jieun ingin duduk “Chankamanyo” tahan Mark seraya mengenggam tangan Jieun menahan untuk duduk dikursinya.

Mendapati hal ini sontak Jieun menatap tajam Mark dan seisi kelas cukup memperhatikan tindakan Mark…..

-TBC-

Preview Chapter 5

“Mark, andhwaeeeee”

*****

“Tampaknya kau sudah tak marah lagi denganku”

“Ya, apa kau mempunyai uang lebih?”

“Ne?” Mark mengerutkan keningnya.

“Belikan aku cake itu”

****

 

“Ya, Lee Jieun” seru Mark

****

“Mark oppa”

****

“Ahh, kau tampaknya sedang sakit…..”

****

“Ada apa dengan kalian sebenarnya?” batin Jungkook

****

Markeu, Jieun. Jangan lupa pesan eomma tadi pagi, semua belanja bulanan tidak boleh ada yang tertinggal arasseo

 

17 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 4]

  1. makin keren ff nya cuma ada kesel juga sama jieun yang diem muli dikerjain yoora,
    Jungkook jngan phpin jieun dong jangan baik gtu ntr Jieun suka ,
    aku masih bingung sama pikiran si Mark
    dia itu susah Di tebak
    ffnya keren Thor
    ditunggu chap slnjutnya
    kalo bisa jngaan lama2
    smngt ya

  2. ini aku yg terlalu sensitif atau gimana sampe keluar airmata.. yoora keterlaluan sekali, gemes juga sih jieunnya diem aja, tapi gomawo jungkook selalu bntu jieun dan itu bikin jieun jadi berharap huh, dari awal emang mark ini susah ditebak. pengen bisa baca pikiran mark.. author-nim jjang! nextnya ditunggu😀

    • sampe keluar air mata?
      aku baca komenmu terharu dek hehe
      iya Jungkook selalu ada disaat Jieun butuhkan
      ayooo baca pikiran Mark /?/?
      Terima kasih sudah mau membaca🙂🙂🙂

  3. wahh mkin sru aka ff ‘a .. bikn gregtan sma sfat’a mark .aplgi sma jungkook yg sllu bntuin jieun ,tpi dia juga msih pnya prsaan sma yoora..ksian jieun’a ..

  4. Gila keren banget ceritnya 👍 sampai bikin gue nangis 😭 feel nya yang dapet atau gue yang lagi baper 😂 entahlah, yang penting ceritanya keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s