Brother & Sister [Chapter 1]

Poster Brother Sister

Author : Kim Raemi

Tittle : Brother & Sister [Chapter 1]

Genre : Family, Fluff, School

Length : Chapter

Rating : T

A/N : Sebenarnya IU lebih tua dari Mark, tapi saya buat disini Mark yang lebih tua dari IU. Disini juga saya buat Jungkook-IU seumuran. Keep reading

Ini hanya fiktif belaka

Cast :

  • Lee Jieun (IU)
  • Mark Tuan
  • Jeon Jungkook
  • Kang Yoora

Trailer Fanfic Brother & Sister

CHAPTER 1

Waktu malam merupakan kegiatan rutinitas bagi sebuah keluarga dalam makan malam bersama. Sama seperti keluarga lainnya, meski baru 6 bulan mereka berada disatu rumah namun kesan hangat pada keluarga ini tampak terasa. Tak segan mereka bersenda gurau disela makan “Jieun-ah, bagaimana sekolahmu hari ini, apa ada pelajaran yang sulit?” tanya seorang pria paruh baya berwajah blesteran pada seorang gadis yang merupakan anak tirinya dan sudah dianggap seperti anak kandungnya.

“Tentu saja Appa, pelajaran yang sulit begitu banyak dan membuatku pusing. Tapi appa tenang saja, aku masih mampu mencerna pelajaran” ujar Jieun membuat yang lain terkekeh.

“Jieun-ah jika kau kesulitan dalam pelajaran, kau bisa bertanya padaku” ujar seorang pria disamping Jieun dan tersenyum dengan penekanan.

Jieun menatap dan membalas senyuman pria yang memang bernotebane sebagai kakak tirinya “Markeu oppa, apa kau yakin mampu mengerjakan tugasku? Bukankah akhir-akhir ini nilaimu menurun” penuh penekanan Jieun berucap, membuat Mark menatap Jieun.

“Aigo, uri dongsaeng sangat memperhatikanku. Sampai memperhatikan nilaiku yang turun” Mark mengusap rambut Jieun dengan kerterpaksaan biasanya yang ia lakukan pada Jieun.

“Tentu oppa, akan lebih baik jika seorang adik memperhatikan kakaknya. Tampaknya kau tak serius belajar oppa” ujar Jieun penuh penekanan menggenggam tangan Mark yang masih ada dikepalanya.

“Hahahaha tampaknya kau mulai sok tahu uri Dongsaeng. Kakakmu ini adalah siswa teladan disekolah” kali ini Mark justru mencubit hidung Jieun dengan keras dan Jieun tahu benar itu dilakukan secara sengaja oleh Mark.

“Hahaha tentu saja uri oppa, sangat tampan dan pastinya memiliki pribadi yang baik disekolah” tak mau kalah Jieun pun mencubit hidung Mark, mereka saling bertatapan dan tertawa penuh penekanan.

“Aigo, aku senang melihat keakraban kalian” ujar seorang wanita yang tidak lain tidak bukan adalah ibu mereka.

Kali ini keduanya saling melepaskan cubitan pada hidung mereka, bahkan kali ini Mark merangkul Jieun dengan paksa “Tentu eomma, appa. Kita adalah saudara, iya kan uri dongsaeng?” kali ini Mark menatap Jieun untuk memberikan jawaban yang sama dengannya.

“Ne, Markeu oppa benar” Jieun memberi tatapan pada Mark seolah memberi isyarat ‘Lepaskan rangkulan ini’ namun Mark tak menghiraukan ia justru menepuk punggung Jieun seraya tersenyum kepada kedua orangtuanya.

“Mark, tampaknya kau harus banyak bertanya perihal pelajaran pada Jieun. aku pun sadar nilaimu mulai menurun” ujar ayahnya.

Mark terdiam sejenak, namun dengan cepat ia bersua “Tentu saja appa. Aku tak sungkan untuk bertanya karena ia adikku, iya kan??” kembali Mark menatap Jieun dan disambut tawaan renyah dari mulut keduanya, orangtua mereka hanya mampu tersenyum dengan tingkah anak-anak yang tanpa mereka sadari itu hanyalah sebuah kepura-puraan anak-anaknya.

“Jieun-ah, aku dan ibumu sudah merencanakan sesuatu untukmu” ujar Ayahnya

“Jinjja? Rencana apa itu appa?” tanya Jieun dengan antusias.

“Jarak sekolahmu begitu jauh dari rumah, maka kami memutuskan untukmu pindah disekolah Saekang. Sekolahan yang sama dengan Mark” tutur Ayahnya.

Dalam hitungan detik Jieun dan Mark membulatkan mata mereka “MWOOO???? SATU SEKOLAHAN” serempak keduanya berteriak tak percaya.

“Wae? Kalian begitu kaget dengan hal ini?” ujar ibunya.

Tersadar dengan sikap mereka, keduanya justru saling bertukar tatap satu sama lain. Ibu Jieun dan Ayah Mark merupakan sepasang kekasih yang sudah 2 tahun menjalin hubungan, keduanya sama-sama ditinggal pasangan mereka dan memutuskan menjalin hubungan. Saat keduanya berkencan, pasti keduanya membawa Mark dan Jieun agar dapat beradaptasi seraya tidak canggung. Mereka memang tak begitu banyak bicara perihal hubungan orangtua mereka, namun sejak pertama kali bertemu keduanya tampak akrab didepan kedua orangtua mereka. Tapi ketika dibelakang mereka, jangan harap hal yang sama akan terjadi. Justru kebalikan mereka kerap beradu mulut dan menunjukkan rasa kekesalan diantara keduanya, mereka bersikap demikian karena menghargai kedua orang tua mereka.

Hingga Ibu Jieun dan Ayah Mark memutuskan untuk menikah, bahkan kali ini sudah 6 bulan sejak pernikahan orangtuanya. Jieun tinggal satu atap dengan Mark yang berada dikota seoul, namun sampai saat ini sikap keduanya tak ada perubahan sama sekali. Mereka hanya menunjukkan keakraban mereka didepan orangtuanya, panggilan Oppa & Dongsaeng tak akan bertahan lama bagi mereka.

“Aniyo, eomma. Aku merasa nyaman dengan sekolahku yang lama” ujar Jieun

“Geurae, aku pun takut Jieun tak nyaman disekolahku. Terlebih lagi anak disekolahku selalu menggunakan kekuasaannya” ujar Mark seakan membela Jieun, padahal pembelaan tersebut untuk dirinya dan Jieun tahu benar seorang Mark.

“Aku tak perlu khawatir mengenai hal itu, dengan kalian satu sekolah. Setidaknya Mark dapat melindungi Jieun, benar begitu?” ujar ayahnya sambil menatap istrinya.

“Gheurae, kami sengaja memindahkan Jieun ke sekolah Mark karena kalian dapat mengawasi dan belajar  bersama. Terlebih lagi sekolah Jieun yang sekarang sangat jauh dengan rumah ini” jelas Ibu.

“Eomma, mengenai itu kau tak perlu khawatir. Aku dapat tinggal diasrama sekolah” ujar Jieun

“Itu yang kutakutkan Jieun-ah, kau anak perempuanku dan tak mungkin bagiku melepasmu disebuah asrama” ujar Ayah membuat Jieun terdiam, Ayah Mark selalu membuat Jieun merasakan kehangatan seorang ayah disisinya dengan kata bijaknya.

“Eomma pun tak dapat melepaskanmu disebuah asrama, maka dari itu eomma dan appa sudah mendaftarkanmu di Saekang Highschool. Mulai besok kau sudah dapat bersekolah di Saekang, Appamu sudah mengurus semuanya dan mendapat ijin dari sekolah lamamu” jelas Ibunya.

“Eomma, kenapa secepat ini dan tak merundingkan denganku dulu?”

“Berunding denganmu pun dapat dipastikan kau akan menolaknya, Jieun-ah ini untuk kebaikanmu dan appa begitu mengkhawatirkanmu” ujar ibunya, Jieun menatap ayahnya yang tersenyum tulus dan kali ini ia menatap Mark yang juga menatapnya.

“Baiklah eomma, appa. Aku akan menuruti keinginan kalian” ujar Jieun dengan pasrah dan disambut senyuman kedua orangtuanya. Tidak dengan Mark dan Jieun yang kembali bertukar tatap, mereka menghelakan napas berat seakan merasakan beban.

Selang beberapa saat Jieun dan Mark tampak sudah menyelesaikan makan malamnya, bahkan kali ini mereka berjalan santai menuju kamar mereka yang berada dilantai dua dan bersebelahan. “Tsk, seperti malapetaka harus satu sekolah denganmu” ujar Mark ketika keduanya berada didepan pintu kamar dan membuat Jieun menghentikan langkahnya.

“Ya, kau pikir aku ingin satu sekolah denganmu. Tampaknya nasib sial tengah tertuju padaku” ujar Jieun menatap tajam Mark.

“Seharusnya kau lebih menekankan pada ibumu agar tak pindah disekolahku” Sindir Mark dengan tajam.

“Seharusnya pun kau lebih menekankan pada Ayahmu untuk tak mendaftarkanku disekolah yang sama denganmu” Jieun membalas sindiran Mark dan kembali keduanya saling bertukar tatap tajam. Seperti inilah mereka berdua dibelakang orangtuanya, tampak jelas tatapan tajam dan tak suka satu sama lain.

Belum sempat Mark ingin berucap, ibunya yang memang berada diantara dua anaknya ini bersua “Kalian belum masuk kamar?” tanya ibunya.

Mendengar hal itu sontak keduanya tersenyum sumringah “Tentu saja kita ingin mengucapkan selamat malam satu sama lain eomma, Oppa Jaljayo” ujar Jieun dengan lembut dan tersenyum pada Mark.

Sama hal dengan Jieun, Mark pun tersenyum “Ne, uri Dongsaengie jaljayo” tak segan Mark dengan sengaja mencubit pipi Jieun, Jieun pun tersenyum dan dengan paksa melepaskan tangan Mark pada pipinya. Tawaan renyah pun keluar dari mulut mereka.

“Aigo, kalian benar-benar sangat lucu. Masuk dan tidurlah, aku tak ingin kalian terlambat sekolah” ujar ibunya, disambut anggukan Mark dan Jieun seraya memasuki kamar mereka masing-masing. Dalam diam ibunya hanya menatap pintu kamar kedua anaknya “Mau sampai kapan kalian akan bersikap seperti ini” gumam ibunya dengan lirih.

*****

Awan biru tampak menyempurnakan cuaca cerah dipagi hari, kekokohan pohon-pohon dengan dedaunan hijau memperindah suasana perjalanan menuju kesekolah. Tampak seperti biasa sebelum berangkat bekerja, jika sempat ayahnya dan ibunya mengantar kedua anaknya. Namun berbeda dari sebelumnya, dimana mereka berbeda tujuan, kali ini sudah jelas Jieun yang mengenakan pakaian seragam sama dengan Mark menunjukkan bahwa mereka akan kesatu tujuan.

Didalam mobil pun tak ada pembicaraan antara Mark dan Jieun, keduanya tampak bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Kali ini mereka sudah sampai didepan gerbang sekolah “Markeu, kau harus menjaga Jieun adikmu” ujar ayahnya.

“Tentu saja abojji, aku akan menjaga uri Dongsaeng” Mark mencubit pipi Jieun dengan keras, ia pun tahu kalau Mark sengaja mencubitnya dengan keras.

Seakan tak mau kalah Jieun pun berseru “Geurae appa, uri oppa akan menjagaku dengan baik. Aigo uri oppa neomu kiwoyo” Jieun pun mecubit pipi Mark dengan keras dan mereka saling bertatapan.

Kedua orangtua mereka hanya tersenyum “Aku percaya pada kalian, cepat masuklah kesekolah gerbang tampak ingin ditutup” ujar ibunya.

“Ne…” serempak keduanya, bahkan tak segan Mark merangkul Jieun menunjukkan rasa akrabnya didepan orangtua mereka.

“Jangan lupa bekalnya dimakan. Arasseo”

“Ne eomma” kembali keduanya dengan kompak berseru, mendapati hal ini kedua orangtua mereka hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan anak-anaknya.

Setelah memastikan kedua orangtuanya sudah cukup jauh, saat itu juga Mark dan Jieun secara bersamaan saling mendorong satu sama lain. “Aisshh, menjaganya!? Memangnya yeoja ini masih kecil harus dijaga? Tsk!” ujar Mark disambut tatapan tajam Jieun.

“Ya, kau pikir aku sudi dijaga olehmu. Aisshh”

“Bagus, selama disekolah anggap kita tak saling kenal.” Ujar Mark penuh penekanan

“Tentu saja! Siapa juga yang ingin mengenalmu. Kau tenang saja, aku disini hanya menuruti keinginan ibuku dan belajar dengan baik” jelas Jieun

“Bagus jika kau paham” tanpa berkata apa-apa lagi Mark berlalu meninggalkan Jieun, namun tiba-tiba Jieun menjegatnya.

“Chankaman!” tahan Jieun membuat Mark mengerutkan keningnya “Tunjukkan padaku ruang kepala sekolah”

“Molla, kau cari saja sendiri. Jika aku tahu pun aku tak akan memberitahumu” jawab Mark santai, Jieun menatap tajam Mark dan belum sempat bersua Mark berkata “Minggir, aku tak ingin yang lain melihatku bersamamu” Mark meneloyor kepala Jieun dan pergi begitu saja.

“Aisshh, nappeun namja!!!” umpat Jieun dengan kesal. Suasana digerbang sekolah memang sudah terlihat sepi para siswa dan sisiwi tampaknya sudah mulai memasuki sekolah, untungnya tak begitu yang memperhatikan Jieun dan Mark saat tadi.

^^^

 Jieun tampak kesulitan mencari ruang kepala sekolah, karena beberapa kali ia kesalahan memasuki ruangan yang tahunya adalah ruang CCTV. “Aiishh tidak bisa dia menolongku sedikit saja, kakak macam apa dia” gerutu Jieun mengingat Mark yang tak memberitahunya ruang kepala sekolah.

Bahkan kali ini Jieun sudah menaiki anak tangga dan berada dilantai 2, terlihat jelas para siswa dan siswi yang masih berkeliaran di koridor kelas. “Ahh~ tampaknya aku harus bertanya pada mereka” gumam Jieun, namun tanpa sengaja Jieun menoleh kearah sampingnya seorang siswa masih mengenakan tasnya tampak berjalan santai menuju kelas. Dengan cepat Jieun menahan siswa tersebut “Yogiyo, chankamanyo”

Sontak siswa tersebut menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya “Ne?”

“Bisakah kau menunjukkan dimana ruang kepala sekolah?” tanpa basa- basi Jieun berucap demikian, disambut senyuman siswa tersebut.

“Ahh, tampaknya kau baru pertama kali kesekolah ini” ujarnya

“Iya, aku siswi pindahan. Jadi aku tak tahu dimana ruang kepala sekolah”

“Arasseo, sudah tampak jelas dari raut wajah bingungmu. Kajja, aku akan menunjukkan ruangan kepala sekolah” ujar siswa tersebut kembali mengembangkan senyumannya dan belum sempat mereka melangkahkan kakinya.

“Ya, Jeon Jungkook eoddiseo?” seru seorang siswa dari jarak yang lumayan.

Siswa tersebut sadar dirinya dipanggil dan Jieun pun tampak menatap nametag yang terdapat pada almamater siswa dihadapannya ini ‘Jeon Jungkook’. “Aku mengantarnya keruang kepala sekolah dulu” sahut Jungkook pada beberapa temannya yang masih berdiri tepat jendela kelas.

“Nuguya? Apa kau sudah beralih dari Yoora?” tampak jelas teman-temannya melediki, namun Jungkook hanya mengelengkan kepalanya saja.

“Kajja” ia justru mengajak Jieun berlalu dan tak memperdulikan ucapan teman-temannya tadi.

“Neo ireumeun Jeon Jungkook?” ujar Jieun membuat Jungkook sadar kalau Jieun menatap name tagnya.

“Ahh~ Ne” Jungkook pun menatap pada name tagnya, belum sempat bersua dan bertanya siapa Jieun.

Seakan paham Jieun berkata “Lee Jieun imnida” Jieun menunjukkan name tag pada almamaternya, membuat Jungkook tersenyum dan mengangguk paham. Selebihnya tak ada pembicaraan diantara mereka, karena jarak menuju ruang kepala sekolah tak cukuplah jauh. Tak segan Jieun pun berterima kasih pada Jungkook “Gomawoyo”.

“Ne~” jawab Jungkook dengan senyuman manisnya dan meninggal Jieun tepat didepan ruangan kepala sekolah.

^^^^

Jieun sedikit mendapat pengarahan dari kepala sekolah, hingga kali ini Jieun sudah bersama wali kelasnya Kangin seonsaengnim. Dimana banyak pertanyaan yang dilontarkan olehnya perihal sekolah Jieun yang dulu, sesampainya didepan pintu kelas Jieun menatap papan yang terdapat didepan pintu ‘3-A’ batin Jieun menatap kelas barunya.

“Ayo Jieun” Kangin seonsaengnim yang memang berada didepan Jieun tanpa ragu menyuruhnya masuk bersama kedalam kelas. Ketika Jieun memasuki kelas, tampak jelas suasana ricuh dan senda gurau masih dilontarkan seisi kelas. “Ya! Kembali ke kursi kalian masing-masing. PALLI!!!!” Teriak Kangin sonsaengnim membuat seisi kelas spontan kekursi mereka masing-masing.

Jieun yang mendapati ini nyaris menutup telinganya, namun itu tak bertahan lama karena salah seorang siswa berseru “Sam, siapa yang disampingmu?” disambut bisikan seisi kelas.

“Kita kehadiran teman baru” ujar Kangin disambut seruan siswa.

“Huwaaaa bagus seorang yeoja” salah seorang siswa berseru.

“Jieun-ah sebaiknya kau perkenalkan diri” ujar Kangin sonsaeng

Jieun tersenyum dan berkata “Annyeonghaseyo, Jhoneun Lee Jieun imnida. Bangapseumnida.” Tampak jelas seruan dan bisikan seisi kelas, namun Jieun tak memperdulikannya. Ia justru menatap seseorang yang tadi pagi membantunya “Eoh Jeon Jungkook~” pekik Jieun dan cukup disadari oleh Jungkook yang memang duduk dibaris kedua, Jungkook tampak jelas memberi senyuman pada Jieun.

Namun tanpa sengaja mata Jieun terarah pada seseorang yang duduk dibaris pertama dan paling belakang “Aissh, kenapa aku harus sekelas dengannya” umpat Jieun menyadari Mark tengah menatapnya, bahkan kali ini keduanya saling bertukar tatap seakan mengisyaratkan ‘Apa lihat-lihat’ tersirat jelas rasa kesal diantara mereka.

“Jieun, kau dapat duduk disebelah Mark “ ujar Kangin sonsaengnim menunjuk pada kursi kosong disamping Mark.

Ia pun cukup kaget dengan penuturan gurunya “Mwo? Duduk disebelahnya?” pekik Jieun tak percaya, disambut tatapan bingung seisi kelas.

“Waeyo?”

Jieun terdiam dengan pertanyaan gurunya, bahkan beberapa teman kelasnya bergumam “Kursi keramat, siapa yang tahan untuk duduk bersama Mark”

“Sam, apa tidak ada kursi kosong lainnya? Aku merasa aura tidak enak jika duduk dengan namja itu” ujar Jieun membuat seisi kelas tertawa.

Lain halnya dengan Mark yang justru menatap tajam Jieun, bahkan seorang yeoja mengumpat “Sombong sekali yeoja itu”.

Jungkook yang mendengar umpatan siswi tersebut sontak menoleh kebelakang dan menatapnya, seakan paham apa yang ada dipikirannya “Geumanhae Kang Yoora” siswi tersebut tak bergeming dengan ucapan Jungkook, ia masih tampak menatap Jieun.

Kali ini Mark tiba-tiba berdiri dan berseru “Sam, biarkan yeoja itu duduk bersamaku” sukses membuat sisi kelas menatap kearah Mark, terutama Yoora menatap tak percaya karena Mark berucap demikian.

Jieun tersenyum tipis “Heol~ tampaknya ia ingin memulai permaiananya” gumam Jieun dan ia menatap kearah gurunya “Baiklah sam, aku akan duduk dengannya” bahkan tanpa ragu Jieun mulai berjalan menghampiri kursi disebelah Mark.

Mendapati hal ini Mark hanya tersenyum, berbeda dari biasanya senyuman yang sulit diartikan tersirat begitu saja pada diri Mark. Jieun pun sadar dengan senyuman Mark, namun ia tak memperdulikannya.

Seisi kelas tampak menatap kearah Jieun dan Mark berkali-kali, tak jarang beberapa diantaranya bergumam “Ada apa dengan Mark? ia tampak tak biasanya menawari kursinya untuk orang lain” ujar siswa bername tag Jackson.

“Molla, pria satu ini kan memang sulit ditebak” ujar siswa yang duduk disebelahnya.

“Taehyung, lihat Yoora sudah mengeluarkan tanduknya” ujar Jackson sedikit terkekeh mendapati ekpresi siswi tersebut tampak kesal.

“Tampaknya ini akan menjadi beban untuknya” ujar Bambam yang asal masuk pada pembicaraan orang lain, mereka menatap kearah Jungkook.

^^^

Jieun tengah menutup buku miliknya, dimana pelajaran kedua sudah selesai dan waktu sudah menunjukkan istirahat. “Ya Markeu, bukankah kau mengatakan agar kita tak saling kenal? Tapi kau justru menyuruhku duduk bersamamu” ujar Jieun membuat Mark menatapnya.

“Duduk bersama bukan berarti saling kenal bukan?”  ujar Mark

“Kau ingin bermain-main denganku?” tebak Jieun

Mark tampak tersenyum pada Jieun dan mendekatkan diri tepat ditelinga Jieun seraya berbisik “Geurae, uri Dong-saeng” penuh penekanan Mark berucap, ia mengacak rambut Jieun dan berlalu meninggalkannya dikelas.

“Aiisshh namja gila” gerutu Jieun, cukup banyak anak mata yang memperhatikan keduanya. Meski mereka tak tahu apa yang dibicarakan Mark dan Jieun.

“Ya, apa Mark tertarik dengan anak baru itu?” ujar Taehyung

Jackson tampak mengelengkan kepalanya “Molla, kajja” Jackson pun mengikuti Mark dari belakang.

Yoora yang memang memperhatikan Jieun dan Mark sedari tadi. Kali tak segan ia menghampiri Jieun, membuat yang lain menatap kearah Yoora. Terlebih lagi Jungkook tampak menghelakan napasnya dan beberapa teman sekelasnya berucap “Lihat ia mulai beraksi”

“Ya, Lee Jieun” ujar Yoora dengan ekpresi keangkuhan.

“Ne?” Jieun tak mengerti dengan ekpresi gadis dihadapannya ini

“Sebaiknya kau cepat pindah dari kursi yang kau duduki itu” ujar Yoora penuh penekanan, semakin membuat Jieun tak mengerti.

“Memangnya kenapa jika aku duduk disini? Lagi pula tak ada kursi yang kosong lagi” sahut Jieun dengan enteng, justru membuat Yoora menatap tajamnya.

“Ahhh~ yeoja ini.” Yoora tampak mendengus kesal karena ucapan Jieun “Ya, kuberi kesempatan untuk hari ini kau dapat duduk disini. Jika besok kau  tak pindah juga Tsk!” Yoora tak melanjutkan ucapannya, ia justru berkata lain “Aku tak akan melepasmu ini sebuah peringatan!”

“Haruskah kau memperingatkanku hanya karena sebuah kursi? Aigo…” setelah berucap demikian Jieun justru meraih bekal makannya dan meninggalkan Yoora yang masih diam terpaku karena ada yang membantahnya.

“YA!!!! Lee Jieun aku belum selesai bicara!!” teriak Yoora merasa diabaikan. Namun Jieun yang sudah jauh tampaknya tak mendengar teriakan Yoora, meski pun mendengar Jieun tak akan memperdulikannya.

Menyaksikan hal tersebut Jungkook dengan cepat keluar kelas, setengah berlari ia mengejar Jieun yang masih berjalan dikoridor kelas “Lee Jieun” seru Jungkook.

Sontak Jieun menoleh “Eoh, waeyo?” tampak jelas Jungkook mensejajarkan langkahnya dengan Jieun, ia hanya tersenyum.

“Aniyo, kau mau kekantin?” tanya Jungkook dijawab anggukan Jieun “Kajja”. Belum ada beberapa langkah Jungkook kembali berucap “Jieun-ah, sebaiknya besok kau pindah dikursi lain saja.”

Jieun menghentikan langkahnya mendengar ucapan Jungkook, bahkan kali ini ia menatap Jungkook dan berkata “Aku tak mengerti dengan sekolah ini, kenapa hanya sebuah kursi saja harus dipermasalahkan. Dapat kau menjelaskannya padaku?”

Jungkook terdiam, ia tampak bingung harus menjelaskan apa pada gadis didepannya ini “Aniyo, saranku kau pindah saja dikursi lain. Jika kau mau kita dapat bertukar tempat duduk”

Jieun mengerutkan keningnya “Aku sama sekali tak mengerti dengan keadaan ini. Apa kursi itu ada hantu macam disebuah film? Aigo, tampaknya kalian begitu berlebihan. Aku duluan Jungkook-ah” tanpa menunggu respon Jungkook, Jieun sudah berlalu meninggalkan Jungkook.

Jungkook sempat terkekeh dengan lelucon yang keluar dari mulut Jieun, namun raut wajahnya seakan berubah entah apa yang ada dipikirannya ia tampak masih menatap punggung Jieun.

*****

-TBC-

12 thoughts on “Brother & Sister [Chapter 1]

  1. ceritanya menarik thor. jadi penasaran sama jungkook. kenapa muka jungkook tiba2 berubah setelah terkekeh? apa dia psiko.haha. ngarang aja nih aku. pokoknya aku tunggu klnjutanny thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s