Love Is Not Over [Chapter 1]

          Poster Love is Not Over

Author : Kim Raemi

Tittle : Love Is Not Over [Chapter 1]

Genre : School, Romance, fluff, Angst

Length : Songfic, Chaptered 1/4 end

Rating : T

Summary : Perpisahan begitu menyakitkan! Namun siapa yang dapat memaksakan keadaan jika cinta masih ada? Karena cinta memang belum berakhir.

A/N : Entah ini Songfic atau bukan, tapi saya memang terinfirasi dari lagu BTS – Love is not over. Huruf italic yang terdapat pada Fanfic ini merupakan garis besar Flashback. Keep reading J

Cast :

  • Jeon Jungkook 전 정국
  • Lee Jieun (IU) 이 지은
  • No Minwoo 노 민우

[FANFIC TRAILER] Love is Not Over

Love is so painful

Goodbyes are even more painful

Semilir angin malam menghebus dengan lembut, butiran salju dari luar jendela tampak menyempurnakan dinginnya malam ini. Dinginnya udara malam sama halnya yang tengah dirasakan seorang pria, hatinya merasa dingin tanpa kehangatan seseorang yang biasa berada disampingnya. Tut piano yang tengah ia mainkan menjadikan suasana hatinya berkecamuk, alunan melodi yang ia buat melantunkan sebuah lagu yang lembut. Tampak jelas raut wajah kepedihan pada pria ini, berkali-kali ia memejamkan kedua matanya sebuah bayangan yang tak ingin diingatnya kembali menghantuinya. Batinnya pun terus bergemuruh ‘Andai saja kita tak sepakat untuk mengakhiri hubungan itu’.

Sebulan yang lalu

Dibawah lampu lampion tepat didepan rumah besar, dua sejoli tengah berdiam diri satu sama lain. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut keduanya, padahal sudah dua minggu keduanya tak pernah bertemu. Kesibukan urusan masing-masing lah yang membuat keduanya sudah jarang bertemu, Sang gadis yang memang bernotebane mahasiswi tingkat 7 membuatnya begitu sibuk untuk mengejar skripsinya dan terlebih ia membantu beberapa Dosen untuk menjadi asisten Dosen tersebut. Sedang sang pria yang memang masih bernotebane anak SMA dan salah satu anggota tim basket disekolahnya, membuatnya disibukkan dengan eskulnya yang memang akan mengadakan sebuah pertandingan persahabatan. Maka tak pelak keduanya jarang memberi kabar satu sama lain, bahkan ketika sang gadis memberi kabar sang pria hanya membalas sekedarnya, sama halnya sang pria memberi kabar sang gadis pun hanya membalas sekedarnya. Bahkan waktu libur yang biasa mereka lakukan untuk berkencan, itu tidak terjadi pada dua minggu terakhir ini. Mereka pun tak mengerti dengan keadaan ini, namun satu yang cukup mereka sadari hal tersebut membuat mereka seakan jauh dari biasanya.

Bahkan hari ini sang pria memaksa untuk bertemu sang gadis dirumahnya, ia hanya meminta waktu sebentar pada sang gadis. Dua minggu ini ia merasa gamang akan hubungan mereka. “Jieun noona-ya” ucap sang pria memulai pembicaraan.

“Arasseo Jungkook-ah, aku sadar hubungan kita terasa jauh dari biasanya, aku sibuk dengan kuliahku dan kau sibuk dengan sekolahmu. Maaf jarang memberimu kabar” ujar Jieun.

“Aniyo.. Justru aku yang seharusnya memberi kabar padamu lebih dulu, namun kesibukanku membuatku jarang memberi kabar padamu. Mianhae..” ujar Jungkook.

keduanya kembali terdiam bergelut dengan pikiran mereka masing-masing, namun secara bersamaan keduanya bersua “Uri….” kali ini saling bertukar tatap penuh rasa pilu.

“Kau duluan” ujar Jungkook

“Aniyo, kau saja yang bicara” Jieun justru membalikkan ucapan Jungkook.

“Noona-ya, bagaimana bisa seorang namja yang berucap duluan.” Ujar Jungkook

Keduanya memang sudah mengerti maksud arah pembicaraan mereka, namun tak ada dari mereka yang mampu mengucapkan kata pisah. Karena mungkin dengan perpisahan dapat mengubah keadaan, mereka pun begitu kalut namun masih mungkinkah hubungan ini dipertahankan?

Kali ini Jieun hanya menatap Jungkook “Arasseo Jungkook-ah, aku mengerti dengan keadaan ini. Jadi katakan saja jika kau ingin berpisah denganku”lidah Jieun terasa tercekat mengucapkan kalimat tersebut.

Jungkook pun tak dapat memungkiri rasa sesak dengan kalimat itu “Noona-ya mianhae, keadaan membuat kita melakukan hal ini. Didalam lubuk hatiku tidak ingin ada sebuah perpisahan, tapi keadaan ini…” Jungkook tak mampu mengucapkan kata-katanya.

Jieun tersenyum penuh paksa “Arasseo Jungkook-ah, arasseo. Kau tak perlu melanjutkan kata-katamu” tanpa terasa air mata Jieun jatuh begitu saja.

“Uljima. Meski kita tidak berpacaran, kita masih bisa menjadi teman dan bukan berarti aku benar-benar ingin berpisah denganmu” ujar Jungkook seraya menyeka airmata Jieun. meski Jungkook berucap demikian ia pun tak dapat menutupi rasa sedihnya.

Jieun tak mampu berkata apa-apa, ia tak dapat memendung rasa sedihnya. Air matanya kian mengalir membasahi pipi mulusnya. Jungkook terus menatap lekat Jieun, tak pelak air matanya pun jatuh. Saat itu juga ia meraih tubuh Jieun kedalam pelukannya, Jieun ingin melepaskan pelukan Jungkook. Namun Jungkook menarik kembali tubuh Jieun kedalam pelukannya “Ijinkan aku memelukmu seperti ini”

Jieun tak bergeming, seakan membiarkan Jungkook memeluknya dengan erat. Pelukan yang menghangatkan hatinya dan mampu membuatnya nyaman, begitupun dengan Jungkook setiap kali memeluk Jieun, ia merasa tenang dan nyaman.

Perlahan keduanya pun melepaskan pelukan mereka, memang tak ada yang keluar dari keduanya. Namun sebelum memasuki rumah Jieun berucap “Jungkook-ah, aku yakin kau akan mendapatkan yeoja yang seumuran dan lebih baik dariku. Jaga dirimu baik-baik, arasseo” ujar Jieun memberikan senyuman terbaiknya pada Jungkook, tanpa menunggu respon Jungkook. Jieun memasuki rumahnya.

“Aniyo. Tidak ada yang bisa menggantikanmu dihatiku noona-ya” gumam Jungkook pelan sambil menatap punggung Jieun yang kian menghilang memasuki rumahnya.

Sebulan berlalu tidak membuat Jungkook luput melupakan Jieun, ia justru semakin memikirkan seorang Jieun. Bahkan ingin sekali ia mendengar suara Jieun yang biasanya dapat dengan mudah ia dengar, namun kali apa daya ia hanya mampu menatap Jieun pada ponselnya. Perpisahan yang sudah menjadi keputusan justru awal boomerang bagi hatinya dan terasa menyakitkan.

“Semua salahku, aku yang memulai lebih dulu. Jatuh cinta padanya” gumam Jungkook, bayangan indah ketika ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan mengejar seorang Jieun terekam jelas dibenaknya.

^^^^

Pagi hari dimana biasa Jungkook membawa motor sportnya kesekolah, kali ini karena motornya yang mendadak harus ke bengkel membuatnya harus naik bus. Bahkan ia setengah berlari untuk mengejar bus dipagi hari agar tak terlambat sekolah dan benar saja belum sempat ia sampai dihalte bus, terlihat jelas bus sudah berhenti tepat didepan halte. Sontak saat itu juga ia berlari menuju bus utama dipagi hari dan untungnya dia orang terakhir yang memasuki bus tersebut.

Didalam bus yang cukup padat membuat orang-orang didalamnya berdesakan. Bahkan Jungkook tak mendapat kursi, alhasil ia berdiri diantara orang disekitarnya “Kalau saja motorku tidak rusak aisshh”gerutu Jungkook kesal.

“Ahh~ kenapa harus ada mata kuliah pagi” gerutu seorang gadis tepat didepan Jungkook, dimana posisi gadis tersebut tengah berdiri menghadap keluar jendela dan Jungkook tepat berada dibelakangnya. Tampak jelas dari kasat mata Jungkook, gadis tersebut tengah membuka agenda jadwal kuliahnya dan tertera jelas sebuah nama ‘Lee Jieun’.

‘Apakah jadwal kuliah memusingkan? Ahh ~ aku sulit membayangkan jika kuliah nanti’ gumam Jungkook dalam hati.

Susana didalam bus kian dipadati penumpang yang memasuki bus ini, bahkan beberapa ada yang keluar dari bus hingga posisi berdiri pun kian berubah. Terlebih bus yang mengerem mendadak membuat penumpang seakan oleng, beberapa kali Jungkook menghebuskan napas dengan keadaan sekitar. Beberapa kali ia pun mencium aroma parfum segar yang berasal dari gadis didepannya.

Hingga kali ini bus berhenti mendadak membuat seisi bergemuruh, Jungkook pun sadar wanita didepannya yang tak memegang pengaman diatas kepalanya yang memang tengah dipegang Jungkook, membuat gadis bernama Jieun tersebut nyaris tersungkur. Karena dengan cepat Jungkook memegang pinggang Jieun dan memutar tubuh Jieun menghadap kearahnya.

Jungkook dan Jieun bertukar tatap satu sama lain, keduanya pun mengerjapkan mata mereka berkali-kali. Karena posisi mereka seperti orang tengah berpelukan, namun saat itu Jieun mengepalkan kedua tangannya. Mendapati hal ini Jungkook cukup memperhatikan Jieun ‘Yeoppoda’ batin Jungkook terus memandangi wajah Jieun yang jaraknya hanya hitungan senti.

“Ya, lepaskan aku” ujar Jieun menyadarkan Jungkook dari pandangannya.

“Aniyo…” ujar Jungkook singkat

“Mwo???”

Jungkook hanya tersenyum dengan ekpresi kaget Jieun “Jika aku lepaskan, kau akan jatuh dipangkuan ahjjusi itu. Apa kau mau?” Jungkook mengarahkan matanya pada seorang ahjjusi yang duduk tepat dibelakang Jieun.

Mendapati hal ini Jieun tak tahu harus berkata apa, bahkan bus pun kembali berhenti mendadak “Oooo~” pekik Jieun, namun Jungkook semakin menguatkan tangannya pada pinggang Jieun membuat jarak mereka semakin dekat.

“Pengang ini” ujar Jungkook pada pengaman yang dipengangnya, namun tubuh Jieun yang mungil membuatnya kesulitan meraih pengaman tersebut dan tawaan kecil keluar dari mulut Jungkook.

“Wae? Kau menertawakanku?” protes Jieun yang sadar dengan sikap Jungkook.

“Aniyo, kau terlihat lucu” kata Jungkook membuat Jieun terdiam.

“Ya, jangan berusaha menggodaku” tak pelak Jieun berkata demikian, namun sukses membuat Jungkook tersenyum. Sadar Jieun sudah sampai pada tujuan buru-buru ia melepaskan tangan Jungkook dari pinggangnya “Ahjjusi chankamanyo” seru Jieun karena bus tersebut memang sudah ingin jalan kembali, tanpa berkata apa-apa pada Jungkook ia keluar dari bus ini.

“Ahh~ apa yeoja itu tidak ingin berkata terima kasih padaku?” gumam Jungkook yang masih memperhatikan Jieun dari dalam bus “Jadi dia kuliah disini, Lee Jieun” kembali Jungkook bergumam dan ia terus mengembangkan senyumannya.

Mengingat pertama kali ia bertemu Jieun, tak dapat dipungkiri Jungkook kembali tersenyum. Hal tersebut tidak dapat ia lupakan, mungkin sepanjang hidupnya memori itu terus melekat pada benaknya. Semua itu hanya permulaan pada kisahnya, dimana semenjak itu Jungkook terkadang memilih untuk naik bus agar dapat bertemu Jieun. Namun itu ia lakukan dihari tertentu saja, bahkan sikap Jieun yang acuh tak acuh membuat Jungkook semakin penasaran. Semenjak itu pun sebuah kebetulan atau takdir yang membuat mereka dapat bertemu sesering mungkin.

^^^^

 “Palli irona Jeon Jungkook, ikut appa lari pagi” seru ayahnya dipagi hari yang memang sering kali mengajak Jungkook untuk lari pagi, namun selalu ditolak oleh Jungkook dengan alasan masih ngantuk.

“Aboji…” belum sempat Jungkook beralasan.

“Kali ini tidak ada alasan bermalas-malasan dipagi hari minggu, anak muda harus lari pagi agar tubuhmu sehat. Palli palli” ayahnya menarik tangan Jungkook dan mau tak mau Jungkook terbangun.

“Arasseo, arasseo.. Aboji tunggu saja dibawah, aku akan menyusul” ujar Jungkook yang masih duduk diranjang.

Ayahnya tersenyum licik “Alasan klasik. Jika aku menunggumu dibawah pun, dapatku pastikan kau tidak akan turun. Aku akan menunggumu disini untuk rapi-rapi lari pagi.”

Jungkook menghelakan napasnya dan sedikit merengek “Abojji….”

“YA!!!!!” justru teriakanlah yang diterima Jungkook dan mau tak mau Jungkook bergegas meraih sepatunya, mendapati hal tersebut ayahnya hanya terkikik.

Kali ini Jungkook bersama ayahnya tengah berlari pagi mengelilingi komplek perumahannya. “Abojji, kau tidak berniat untuk mengelilingi semua blok dikomplek perumahan kan?” tanya Jungkook

Ayahnya hanya tersenyum dan berkata “Menurutmu?”

Melihat ekpresi ayahnya, Jungkook sudah tahu apa yang ada dipikiran ayahnya “Abojji, geumanhae! Sudah satu jam kita berkeliling komplek perumahan dan ini sudah ada di blok25. Aku lelah”

“Lelah? Anak muda macam apa kau, cepat kejar aku jika kau bisa” seru ayahnya yang berlari duluan, Jungkook tak dapat berkata apa-apa alhasil ia mengejar ayahnya.

Ketika mereka melewati komplek-komplek perumahan ini, tak jarang banyak yang menyapa ayah Jungkook. Karena memang sudah rutinitas ayahnya berlari pagi, sampai orang-orang dikomplek lain cukup mengenal ayah Jungkook.

Sampai ayahnya berhenti ketika seorang gadis menyapanya “Ahjjusi, lari pagi lagi?” seru gadis tersebut

Jungkook yang tertinggal ayahnya, ia justru berjalan santai menghampiri ayahnya yang berhenti tepat didepan sebuah rumah. “Tentu Jieun-ah rutinitas pagiku, kau menyirami bunga lagi?”ujar ayahnya

“Tentunya, rutinitas dihari minggu pagi ahjjusi” ujar Jieun

Mendengar percakapan ayahnya Jungkook sontak menatap pada gadis yang berada dipekarangan rumahnya sibuk menyirami bunga. Awal ia setengah sadar mendengar nama ‘Jieun’ namun kali ini pandangannya sangat jelas, gadis yang pernah ia temui dibus. “Eoh, noona” seru Jungkook dengan senyum sumringah.

Jieun tampak mengingat wajah Jungkook yang tak asing, begitu jelas raut wajah Jieun yang berusaha mengingat. Jungkook seakan tak perduli ia justru berkata “Noona, aku tidak menyangka kita berada disatu perumahan. Meski blokmu lebih jauh dariku, ini benar-benar diluar dugaan.”

Belum sempat Jieun bersua, ayah Jungkook sudah berkata “Kalian saling kenal?”

“Ne” Ujar Jungkook

“Aniyo..” Ujar Jieun secara bersamaan mereka berkata demikian membuat Ayah Jungkook mengerutkan keningnya.

“Terserah kalian, anak muda jaman sekarang sulit dimengerti” ujar ayah Jungkook yang mengelengkan kepalanya dan meninggalkan Jungkook yang masih berdiri didepan rumah Jieun.

“Kau sungguh tak mengingatku?” ujar Jungkook, kali ini ia memberi isyarat dimana ia tengah memegang pinggang Jieun kala di bus.

“Eoh, bocah yang didalam bus “ pekik Jieun tak kalah kagetnya mendapati Jungkook.

“Bocah????” tekan Jungkook seakan tak terima

 “Tentu, kau masih SMA. Sudah berani menggoda seorang mahasiswi” ujar Jieun sambil menjulurkan lidahnya pada Jungkook.

Jungkook tersenyum dengan tingkah Jieun dan seakan tak memperdulikan ucapan Jieun tadi. Ia justru berkata “Ahh~ kita berada diperumahan yang sama, haruskah kita sering bertemu?” goda Jungkook membuat Jieun membulatkan kedua matanya.

“Mwo????”

Seakan tak menghiraukan ucapan Jieun, kembali Jungkook berkata “Noona annyeong. See u next time J, ahh hampir lupa namaku Jeon Jungkook” kala itu Jungkook berlalu begitu saja tanpa menunggu respon dari Jieun.

Kembali Jungkook tersenyum dengan tingkahnya dulu pada Jieun “Gheurae aku yang menggodanya lebih dulu.” Gumam Jungkook, kali ini menatap foto Jieun. Bahkan semenjak itu ia justru sering ikut ayahnya yang berlari pagi, sampai ayah dan ibunya merasa cukup aneh pada anaknya itu.Ia teringat bagaimana ketika ia tak berani mengungkapkan isi hatinya dan memilih mengirimi surat seperti pemuja rahasia “Kau mampu menggodanya, namun berkata langsung suka begitu sulit” gumamnya kembali. Memang kala itu perasaan yang kian berkembang tak mampu ditapik olehnya kalau ia begitu menyukai seorang Jieun.

^^^^

Noona~ya
-JK-

Noona~ya, Noona~ya
-JK-

Noona Saranghaeyo
-JK-

Noona Jeongmal Saranghaeyo
-JK-

 

Sekian kali Jungkook mengirimi surat untuk Jieun, tidak ada satu dari surat tersebut yang terkesan romantis. Ia tak tahu harus berkata apa pada surat, membuat kalimat cinta pun terasa sulit bahkan berkali-kali ia gagal berkata dengan keindahan. Alhasil ia hanya mampu berkata Noona Saranghaeyo, surat yang ia berikan seperti anak kecil. Dimana ia menaruh tepat didepan pintu rumah Jieun dan mengetuk pintu agar pemilik rumah membuka pintu, lalu ia pun mengumpat pada sela pepohonan yang berada dipekarangan rumah Jieun. Memang benar adanya yang keluar dari rumah selalu saja Jieun dan menerima surat yang diberikan Jungkook.

Bahkan kali ini Jungkook bersiap untuk melakukan hal tersebut, ia sudah berdiri didepan pintu rumah Jieun dengan secarik surat yang dibuatnya. Ia menatap surat tersebut karena kali ini ia benar-benar mengungkapkan isi hatinya pada surat tersebut, sebelumnya dirumah pun ia mencium surat ini. kembali Jungkook menaruh surat tepat didepan rumah Jieun dan ia pun mengetuk pintu rumah Jieun. Tepat saat itu Jungkook pun mengumpat dari jarak yang dapat dijangkau, memastikan Jieun benar-benar menerima surat tersebut.

Benar saja Jieun keluar dan langsung membuka surat tersebut. ia membacanya dengan senyuman mengembang dibibir manisnya.

Noona~ya,aku memang tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan surat yang kau terima hanya kata-kata itu saja dariku. Tapi ketahuilah, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu dibus.

-Jeon Jungkook-

Bahkan kali ini Jungkook tak menggunakan  nama singkatannya, ia berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan kebenaran dirinya. Kala itu Jieun hanya tersenyum mendapati surat Jungkook “Keluarlah. Pertama kali bertemu kau mampu menggodaku, untuk mengungkapkan kebenaran hati kenapa kau begitu sulit” ujar Jieun sudah tahu kalau Jungkook berada didekatnya.

Jungkook pun keluar dari persembunyiannya dan berkata “Jika aku mengungkapkan langsung, kalau aku menyukaimu pun mungkin kau akan menolakku.” Kali ini ia menatap Jieun “Apa kau benar-benar menganggapku bocah? Apa seorang bocah tidak boleh berpacaran dengan seorang noona?”lanjut Jungkook.

Jieun hanya terdiam mendengar pengakuan Jungkook, Jieun tersenyum simpul “Berhentilah mengrimiku surat, jika kau benar-benar ingin menjadi kekasihku.” Kata Jieun dengan padat, namun cukup menyentuh hati Jungkook.

“Mwo? Maksudmu?”

“Wae? Apa seorang noona tak boleh menerima pengakuan cinta seorang bocah?” jelas Jieun

“Jinjja? Mulai sekarang anggaplah bocah ini seorang namja, bukan seorang anak SMA yang masih bocah dimatamu”

“Tentu, Jungkook-ah” ujar Jieun dengan lembut membuat Jungkook tak mampu berkata apa-apa. Hanya senyuman yang terus mengembang dari bibirnya, begitu juga dengan Jieun. Tak dapat dipungkiri Jieun pun menyukai Jungkook.

Kisah cinta yang singkat namun begitu mengena dihatinya, karena hari-hari yang ia lewati dengan Jieun benar-benar terasa berwarna. Meski sesekali perseturuan kecil menyerang hubungan mereka, namun itu dapat mereka atasi. Bahkan kisah manis bersama Jieun begitu banyak ia lalui, tak luput senyuman yang kian ia pancarkan ketika berkencan dulu.

Minggu pagi sudah menjadi rutinitas Jungkook berlari pagi mengelilingi komplek perumahan bersama ayahnya. Bahkan seperti biasa Jungkook selalu berhenti tepat didepan rumah Jieun, karena Jieun menyapa ayahnya “Pagi ahjjusi” ujar Jieun sapaan yang sudah menjadi ciri khasnya pada ayah Jungkook.

“Tampaknya bunga-bunga dihalamanmu mulai bermekaran Jieun-ah” ujar Ayah Jungkook

“Ne, ahjjusi. Aku senang melihat bunga mulai bermekaran” ujar Jieun

Jungkook hanya menatap Jieun dan ayahnya yang asik mengobrol, tanpa menghiraukannya yang berada disamping ayahnya. “Ya, apa hanya ahjjusi disampingku saja yang kau sapa. Apa pria tampan ini tidak ingin kau sapa?” lelucon keluar begitu saja dari mulut Jungkook.

Belum sempat Jieun berucap, ayahnya sudah berkata “Aigo, anak ini. padahal nyaris setiap hari menemui Jieun masih saja ingin disapa olehnya”

“Wae? Aku hanya ingin kekasihku menyapaku juga dipagi hari” ujar Jungkook membuat ayahnya tersenyum dengan tingkah anaknya ini “Noona hari ini….” Jungkook baru ingin menghampiri Jieun, namun dengan cepat ayahnya menggamitkan tangannya pada leher Jungkook.

“Berkencannya nanti saja, kau harus menyelesaikan lari pagimu sampai blok 30” ujar ayahnya menarik Jungkook dan mengundang tawa dari mulut Jieun.

Disela gamitan ayahnya “Noona, siang nanti aku akan menyusulmu. Jadi bersiaplah” Jungkook mengedipkan sebelah matanya dan mengikuti langkah ayahnya. Jieun tak bisa berkata apa-apa hal yang biasa dilakukan Jungkook seperti ini.

^^^^^

“Ige Mwoya??? Taman bermain???” pekik Jieun mendapati Jungkook yang mengajaknya berkencan ditaman bermain.

“Wae? Bukankah biasanya orang berkencan ke taman bermain?” ujar Jungkook.

 “Sebelumnya kau melakukan kencan ditaman bermain bersama mantan kekasihmu?” tanya Jieun

Jungkook tampak tersenyum polos “Aku belum pernah berkencan sebelumnya, maka mari kita lakukan petualangan cinta ditaman bermain ini”

Lelucon Jungkook sontak membuat Jieun tertawa “Hahahaha” kala itu ia tak mampu membendung rasa gemasnya pada Jungkook, namun dengan cepat Jungkook menarik tangan Jieun untuk menaiki beberapa wahana yang cukup exstream ditaman bermain.

Banyak wahana yang mereka taiki, dari yang extream sampai yang biasa saja. Bahkan tawa dan canda tak luput dari mulut mereka, mereka begitu menikmati wahana yang ada ditaman bermain ini. Hingga Jieun sengaja membeli dua buah bando mickey mouse, Jungkook sempat menolak. Tapi dengan bujuk rayu Jieun, alhasil Jungkook memakainya dan melakukan selca yang lucu dengan Jieun. Meski tak lama Jungkook dengan cepat melepas bando tersebut, namun sukses membuat Jieun tertawa puas.

“Aku sedikit menyesal mengajakmu kesini” ujar Jungkook sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hahahaha, Wae? Uri namja tampak tak terima dengan bando yang dikenakannya tadi. Kau benar-benar menggemaskan Jungkook-ah” ujar Jieun yang mencubit pipi Jungkook.

Tampak Jungkook ingin protes akan pipinya yang dicubit Jieun, namun buru-buru Jieun berlari menghindari Jungkook “Ya, kau pun harus menerima cubitan dariku” seru Jungkook yang mengejar Jieun.

“Hahaha” lagi-lagi Jieun hanya mampu tertawa lepas mendapati tingkah Jungkook yang mengejarnya diarea taman bermain.

Hingga waktu sudah menunjukkan sore hari, dimana mereka mengakhiri pertualangan cinta mereka dengan menaiki wahana bianglala. Meski belum sampai puncak bianglala, perkotaan Seoul tampak sudah terlihat jelas dari kasat mata mereka. “Noona, pinjamkan ponselmu. Aku ingin melihat selca yang kita ambil tadi diponselmu” ujar Jungkook

Tanpa berkata apa-apa Jieun memberikan ponselnya pada Jungkook dan Jieun masih menatap pemandangan kota yang mulai terlihat jelas. Sedang Jungkook tampak tertawa terbahak mendapati foto-foto selca mereka berdua “Noona lihat ini, ekpresimu begitu lucu hahaha” Jungkook menunjukkan foto tersebut.

“Aigo foto blur begitu kau sebut lucu, hapus cepat” ujar Jieun

Namun Jungkook mengelengkan kepalanya “Aniyo, aku akan mengirim yang ini juga untuk kusimpan diponselku”

Jieun hanya mampu menghelakan napasnya dengan sikap Jungkook. Kembali Jungkook tampak sibuk dengan ponsel Jieun, entah kenapa mendadak raut wajah Jungkook berubah seketika. Ia mendapati sebuah foto dimana Jieun tengah mengenakan seragam sekolahnya selca dengan seorang pria yang juga mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya, foto tersebut menunjukkan sisi kedekatan keduanya. Jieun tampak sadar dengan ekpresi Jungkook yang kian berubah.

“Waeyo?”……..

-Tbc- 

Poster Love is Not Over ver2

4 thoughts on “Love Is Not Over [Chapter 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s