What is love ? [Chapter 2] End

what is love poster

Author : Kim Raemi

Tittle : What is love ? [Chapter 2]

Genre : School, Romance, fluff

Length : 2Shoot

Rating : T

Summary : Ketika melihatmu, segores senyuman yang dapat kuberikan. Bayanganmu terus terekam bak sebuah film yang tak henti membuatku tersenyum. Perasaan apakah ini?

A/N : Fanfic ini terinfirasi dari VCR Jungkook🙂🙂

Cast :

  • Jeon Jungkook
  • Lee Jieun
  • Park Jimin

What is love ? [Chapter 1]

Fanfic Trailer

 “Kau yakin tak mau datang ke Coffee Shop?”tanya Bambam mengingat Jungkook mengatakan saat disekolah kalau ia tak akan ikut dengan kedua temannya ke Coffee Shop.

“Tentu, aku kan sudah bilang tidak ingin datang ke coffee Shop” jelas Jungkook.

“Jinjja? Aigo, Jieun sudah ada disini dan dia terlihat begitu cantik hari ini.” ujar Bambam

“Kau sudah di coffee shop?” tanya Jungkook

“Ne….” jawab Bambam dan kali ini terdengar suara Yugyeom yang berseru “Ah~ pantas saja Jungkook tertarik, Jieun terlihat sangat cantik jika terus diperhatikan. Wajah mungilnya, bibir kecilnya omo….”

Entah kenapa mendengar hal tersebut membuat Jungkook merasa risih dan tak suka “YA! YUGYEOM” teriak Jungkook

“kkkk~ Wae kau cemburu dengan perkataan Yugyeom? Jika kau tak suka dengan perkataan Yugyeom sebaiknya kau segera kesini” ujar Bambam

Jungkook terdiam sejenak dan berkata “Ani.. sudah kukatakan aku tak akan datang.”

“Baiklah kalau begitu, aku tutup” ujar Bambam yang sudah menutup telponnya.

Jungkook tak mampu berkata apa-apa, ia kembali merebahkan tubuhnya. Namun perasaan gamang menyeruak begitu saja, saat itu juga ia meraih jaket jeans dan kunci motornya.

^^^

Baru saja Jungkook memasuki Coffee Shop tersebut, sebuah alunan lagudari Chen feat Punch – Everytime terngiang jelas ditelinganya. Bahkan matanya kali ini menatap kearah Jieun yang sibuk menjelaskan pelajaran pada teman-temannya, tak tamak ia pun mendengar salah satu dari temannya  berucap “Eonni, coba kau jelaskan soal yang ini aku masih belum paham”

“Ne, aku akan menjelaskannya kembali” kata Jieun, apa yang dikatakan Bambam dan Yugyeom memang benar Jieun terlihat semakin cantik dan tak dapat dipungkiri oleh Jungkook ia berusaha mencuri pandang ketika melewati tempat duduknya.

“Oke! Yugyeom aku menang, sudah kukatakan orang ini akan datang” ujar Bambam ketika mendapati Jungkook yang langsung terduduk didepannya.

“Sial aku kalah. Ya, kenapa kau harus datang?” ujar Yugyeom membuat Jungkook menatapnya.

“Aiishhh, kau ingin aku tak datang dan membiarkanmu menatapnya. Sampai bibir tipisnya kau perhatikan?” ujar Jungkook tanpa sadar mengeluarkan argumennya, seolah meluapkan rasa cemburunya.

“Hahaha, secara tak langsung kau benar-benar menunjukkan rasa sukamu pada Jieun.” Ledek Bambam

“Ani…” Jungkook berusaha menyangkal, namun dengan cepat teman-temannya berseru.

“Kau tak perlu menyangkalnya lagi Jungkook, sudah kukatakan bukan semakin kau menyangkalnya justru kau semakin mengatakan iya. Terlihat jelas dari ekpresimu, bahkan kau datang kesini dan dapat dipastikan hanya untuk melihatnya.” Ujar Yugyeom

Sejujurnya dalam lubuk hatinya ia cukup menyadari kalau ia memang menyukai Jieun, namun ia tak mampu mengakuinya didepan teman-temannya. Jungkook hanya diam tak menjawab ucapan temannya ini, ia memilih menatap Jieun.

“Meski kau tak mau mengaku, akan kuberitahu. Sepertinya Jieun seorang senior disekolahnya, dan sepertinya teman-temannya bukan dari satu sekolah saja. Meski aku bingung ia bersekolah dimana yang jelas ia seorang noona untukmu” tutur Bambam menurut alibinya dan Jungkook pun sebenarnya cukup sadar kalau Jieun seorang noona. Namun tampaknya itu tak diperdulikannya.

****

Mading sekolah sudah dikerumuni banyak murid di Saekang higschool, dimana papan pengumuman akan semua peringkat dari yang terkecil hingga tertinggi sudah terpampang jelas. Tak jarang raut kecewa hingga senang tampak jelas pada mimik wajah para siswa dan siswi sekolah ini.

“Eoh, Jungkook peringkatmu tidak berubah tetap diposisi yang sama. Tidak turun dan tidak naik” seru Yugyeom

“Ahh~ apa mereka tak ingin menaiki peringkatku sedikit saja” protes Jungkook

“Sadar dirilah, sudah bagus kau tetap pada peringkat yang sama. Jika kau lebih rajin mengerjakan tugas dan tak bolos mata pelajaran. Mungkin kau bisa protes” ledek Bambam

“Aissh~ kau lihatlah peringkatmu pun turun Bambam. Apa karena efek karena mengejar seorang noona disekolah ini dapat mengurangi peringkat” kali ini Jungkook pun meledeki Bambam.

“Aigo, geu namja… Ah~ apa yang harus kujelaskan pada orangtuaku dan Yugyeom justru naik dua angka.” frutasi Bambam

“Ghwencana, kita harus belajar dengan giat lagi bersama-sama” ujar Yugyeom dengan bijak dan merangkul kedua temannya.

Tepat dari samping ketiga siswa ini, seorang senior tak lain tak bukan Taehyung berseru “Ya, Jimin peringkatmu turun 5 angka.”

Jimin hanya terdiam dan menatap mading, namun sesaat ia tersenyum “Ah~ Syukurlah” seru Jimin tersenyum seakan puas dengan hasil peringkatnya.

“MWO???” seru teman-temannya tak percaya dengan pernyataan Jimin yang bersyukur kalau peringkatnya turun. Jimin bukan hanya dikenal pemain baseball, playboy saja ia pun dapat dikatakan anak yang cukup cerdas. Karena ia selalu berada di peringkat 3 dari seluruh siswa dan siswi disekolah ini, maka tak jarang pula banyak yang minta untuk diajari olehnya.

“Ya, neo micheoseo! Nilaimu turun Park Jimin” ujar Hanbin

“Itu yang aku harapkan, dengan begitu aku bisa diajari lagi olehnya” ujar Jimin penuh penekanan dan senyuman simpul.

Yugyeom dan Bambam yang mendengar ini tak dapat percaya kalau Jimin berkata demikian. Susah payah mereka mengejar peringkat tinggi, sedang Jimin justru menginginkan peringkatnya turun. Lain halnya dengan Jungkook yang tak perduli dengan hal tersebut, ia memilih untuk meninggalkan tempat ini.

****

Coffee Shop merupakan tempat favorite Jungkook, minggu ini pun ia memilih pergi ke Coffee Shop tentunya bersama Yugyeom dan Bambam. Jieun pun sudah ada di Coffee Shop ini, ia begitu sibuk dengan teman-temannya entah apa yang dibicarakannya. Namun itu cukup membuat Jungkook terus menatap kearah Jieun, seakan tak bosan untuk melakukan hal tersebut. Terlebih lagi Jieun yang duduk berhadapan dengan Jungkook, membuatnya jelas dapat melihat wajah Jieun.

“Mau sampai kapan kau hanya menatapnya? Lebih baik kau berkenalan dan meminta nomor ponselnya” ujar Bambam seakan tak tahan melihat sikap Jungkook.

Tidak ada jawaban justru Jungkook mencuri pandang untuk menatap Jieun, bahkan berkali – kali ia tersenyum simpul. “Kau tidak dapat mengelak lagi Mr.Jeon, kau sudah tertangkap basah menyukainya. Jika kau bersikap seperti itu, mungkin ia akan menyadarinya” ujar Yugyeom

Bambam dan Yugyeom tak tahu harus berkata apa lagi, karena terlihat Jungkook benar-benar seperti orang yang jatuh cinta tingkat akut. Bahkan tak segan Jungkook memainkan ponselnya hanya untuk mengambil gambar Jieun, meski tak terlihat oleh kedua temannya ini namun mereka tahu benar apa yang dilakukan Jungkook. Bahkan beberapa minuman yang dibeli Jungkook berkali-kali hanya untuk dapat melihat Jieun dari jarak dekat.

Hingga waktu sudah sore, Jungkook, Bambam dan Yugyeom masih berada di Coffee Shop ini. senda gurau yang keluar dari mulut mereka membuat waktu begitu tak terasa, bahkan Jieun yang biasanya pulang tak selarut sore terlihat jelas ia tengah duduk sendirian. Tampaknya teman-temannya pulang lebih dulu dan ia terlihat tengah menunggu seseorang, hal itu tampak jelas ia tengah menelpon seseorang.

“Ya, Jungkook. Ini kesempatanmu, kau bisa berkenalan dengannya” ujar Yugyeom

Belum menjawab Bambam sudah bersua “Yugyeom benar, bukankah kau ingin lebih dekat dengannya. Palli, jika aku jadi kau. Aku akan menghampirinya saat ini juga”

Tak ada jawaban dari mulut Jungkook, ia seakan bergelut dengan pikirannya, haruskah ia melakukan hal tersebut. Sungguh tidakmencerminkan seorang Jeon Jungkook, namun hatinya seakan ingin melakukan hal tersebut. “Ya, tunggu apa lagi. aissshhh” gerutu Bambam

“Ya, kenapa jadi kalian yang begitu antusias? Tanpa kalian suruh pun aku akan menghampirinya. Aku hanya menunggu momen yang pas” Ujar Jungkook santai.

Bambam dan Yugyeom bertukar tatap “Menunggu moment yang pas atau kau malu berhadapan langsung dengannya?” ledek Yugyeom.

“Aisshh” hanya desisan yang keluar dari mulut Jungkook, belum sempat Jungkook berdiri dari kursinya berniat untuk menghampiri Jieun. Seseorang sudah lebih dulu menghampiri Jieun dan orang itu tampak tak asing bagi ketiga pria ini.

“Ya! Park Jimin, sudah berapa lama aku menunggumu. Aiisshh” seru Jieun yang siap ingin memukul Jimin, namun ditahan oleh Jimin.

“Noona mianhae” sambil mengeluarkan sebuah aegyo Jimin berucap.

Jieun tampak mengerutkan keningnya “Ya, simpan aegyomu itu! Ayo pulang, aku sangat lelah.” Jieun berjalan duluan, namun dengan cepat Jimin merangkul Jieun tampak hal yang biasa untuk keduanya, karena tak ada protesan dari Jieun kala itu.

Menyaksikan hal tersebut membuat ketiga pria ini terdiam membeku, terutama Jungkook yang entah harus mengatakan apa. Hatinya seakan teriris pisau saat ini, bak luka dalam menyayat hatinya.

“Daebak, mereka tampak akrab. Apa mungkin mereka berpacaran?” ujar Yugyeom tak percaya.

“Aku pernah mendengar, kalau Jimin sunbae tak pernah melakukan Aegyo didepan kekasihnya. Tapi kali ini ia melakukan aegyo dan tampak begitu gembira bertemu dengan Jieun, bahkan bertemu dengan kekasihnya disekolah pun ia tampak biasa saja. Meski pun mereka berpacaran, Jimin sunbae pun mempunyai kekasih disekolah” papar Bambam

Bambam dan Yugyeom menatap Jungkook yang hanya diam saja sedari tadi “Jungkook-ah” panggil keduanya pada Jungkook

Kali ini Jungkook menatap kedua temannya, ia tampak menghelakan napas beratnya “Itu yang kutakutkan” ujar Jungkook dengan kalimat yang klise.

“Mwo??”

“Aku takut, kalau Jimin sunbae hanya mempermainkan hati Jieun” ujar Jungkook dan kali ini ia memilih pergi dari tempat Coffee Shop.

Yugyeom dan Bambam justru dibuat tak mampu berkata apa-apa, mereka seakan paham dengan perasaan Jungkook. Hingga Bambam bergumam “Dia benar-benar menyukai Jieun, ia bahkan tak memikirkan dirinya yang tersakiti. Ia justru memikirkan perasaan Jieun.”

****

Seminggu kemudian

Tut piano yang dimainkan Jungkook membuat sebuah melodi indah terngiang jelas di telinganya. BTS – Love is not over lagu tersebut tengah ia bawakan dengan piano ini, dengan penghayatan ia mengalunkan lagu tersebut. Bahkan ia pun menyanyikan lagu tersebut penuh perasaan, hingga ia memejamkan matanya bayangan di Coffee Shop tersebut kembali terekam dalam otaknya bak sebuah drama.Hingga diakhir tut Jungkook mampu memainkan dan menyanyikan lagu tersebut dengan sempurna “Ahh~ kenapa aku jadi seperti orang bodoh” gumam Jungkook.

Bahkan ketika disekolah saat berhadapan dengan Jimin, bayangan Jieun dengannya pun seakan terekam. Namun ia mampu mengontrol emosinya, layaknya seperti biasa ia masih bersikap acuh tak acuh dengan seniornya itu. Maka dari itu Bambam dan Yugyeom pun sempat heran apakah Jungkook akan bersikap penuh kekesalan, ternyata Jungkook memang bersikap tak perduli meski dalam lubuk hatinya terasa sakit.

Hingga waktu sudah sore memang minggu ini pun ia memilih dirumah, aktifitasnya pun ia lakukan hanya bermain game dan bermain piano, tapi herannya ia dapat bagun pagi padahal ini kesempatan untuk bangun siang. Tidak ada rencana untuknya untuk datang ke Coffee Shop tersebut, biasanya ia bangun pagi untuk pergi ke tempat itu. Namun kali ini seakan mengerti Bambam dan Yugyeom pun tak mengajaknya, biasanya mereka yang begitu antusias mengajak Jungkook ke tempat tersebut. bahkan pesan singkat mereka selalu menanyakan satu kata pada Jungkook ‘Ghwencana?’ sungguh konyol memang namun mereka cukup khawatir dengan Jungkook.

“Jungkook-ah, bisa kau belikan Cappucino di Coffee Shop yang biasa kau beli” ujar ibunya yang tak segan langsung menyodorkan kartu miliknya pada Jungkook, mendengar hal tersebut Jungkook membulatkan kedua matanya.

“Eomma, aku sedang enggan untuk ke tempat itu” ujar Jungkook

“Aigo bocah ini. Malam ini akan ada rekan appa berkunjung kerumah, cepat belikan” perintah ibunya

“Keunde eomma, beli ditempat lain saja ya” usul Jungkook

“Aniyo, aku lebih suka di Coffee Shop. Beli 5 jika kau mau beli saja dan ini kunci mobilnya, setelah itu langsung pulang.Arasseo” jelas ibunya panjang lebar.

Jungkook tak dapat berkata apa-apa, ia hanya mampu menuruti ucapan ibunya dan berlalu menuju Coffee Shop tersebut.

^^^^

Memang tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai dicoffee shop ini. Jungkook memarkirkan mobilnya, namun ia terdiam sejenak “Apa dia masih diam disini?” gumamnya teringat akan Jieun, namun hari sudah sore sepertinya Jieun sudah pulang.

Kali ini Jungkook memasuki Coffee Shop tersebut, berbeda dari biasanya ia akan mencari sosok Jieun. Kali ini ia justru langsung kekasir dan memesan Cappucino pesanan ibunya. Hingga ia berada dimeja tunggu, tanpa sengaja matanya mendapati Jieun yang masih terduduk dikursi sendirian “Aisshh, apa ia menunggu Jimin lagi?” gumam Jungkook memperhatikan Jieun yang masih duduk terdiam.

Kala itu line Grup kelasnya begitu ramai, biasanya Jungkook tak pernah membuka pesan grup kelas. Namun entah kenapa terpampang jelas dinotifikasi salah seorang teman sekelasnya menyebut nama Jimin, saat itu ia membuka pesan tersebut.

‘Daebak, baru kemarin Jimin oppa berpacaran dengan emmi. Siang ini ia memutuskannya begitu saja’

‘Bukan hanya itu Yerim eonni pun beberapa kali meminta balikan ditolaknya’

‘Jika ia sudah putus, aku akan mengejarnya. Kkkkkk’

Cukup banyak argumen-argumen yang keluar dari teman wanita sekelasnya yang memang mengagumi Jimin. Jungkook hanya mengelengkan kepalanya “Apa mereka bodoh, sudah jelas banyak wanita yang disakitinya. Ini justru ingin mengejarnya” gumam Jungkook seakan tak perduli ia memasukan kembali ponselnya pada saku jaketnya dan mengambil pesanan miliknya yang sudah jadi.

Sebelum meninggalkan tempat ini Jungkook pun masih sempat menatap Jieun “Pulanglah, untuk apa menunggunya seperti orang bodoh” gumam Jungkook. Ia menggelengkan kepalanya berusaha tak perduli dan keluar dari Coffee Shop. “Kau tak perlu memperdulikannya Jungkook” kembali Jungkook bergumam, ia membuka pintu mobilnya menaruh Cappucino yang sudah dibelinya lebih dulu. Tepat ia ingin menutup pintu mobilnya, sebuah suara dari arah samping membuatnya terdiam sejenak.

“Jimin-ah, aku tak ingin putus denganmu. Jebal” ujar seorang wanita dengan lirihnya, mendengar hal tersebut  membuat rasa penasaran pada diri Jungkook. Ia keluar kembali dari mobil dan sedikit mengintip pada gang kecil disamping Coffee Shop ini.

Jungkook mendapati Jimin bersama Yerim, dimana Yerim terlihat meneteskan air matanya. “Noona, bukankah kau yang ingin hubungan kita berakhir” ujar Jimin

“Aniyo, aku mengatakan sebal padamu. Karena aku cemburu pada wanita itu, aku tidak bermaksud untuk putus denganmu Jimin-ah.”Ujar Yerim

“Mian noona. Waktu itu kau terlihat ingin putus denganmu, maka dari itu aku mengabulkan keinginanmu” ujar Jimin

“Aniyo Jimin-ah, bisakah kita berpacaran lagi. Aku janji aku tak akan cemburu padanya, jebal. Aku sangat menyukaimu Jimin-ah” ujar Yerim yang kali ini ia justru memeluk Jimin.

Sadar dengan apa yang disaksikan Jungkook langsung memutar tubuhnya, entah apa yang ada dipikirannya kali ini ia hanya diam saja dan kembali bersikap seakan tak perduli. Namun matanya tertuju pada Jieun yang baru saja keluar dari Coffee Shop, ia terlihat mencari seseorang dan Jungkook tahu benar siapa yang dicari Jieun. Berkali-kali ia menatap Jieun dan Jimin yang masih dipeluk oleh Yerim.

“Ige mwoya? Kenapa kau harus masuk dalam situasi seperti ini Jeon Jungkook” gumam Jungkook

Bahkan kali ini Jieun berjalan menuju samping Coffee Shop ini, entah gerakan apa Jungkook seakan menghalangi langkahnya berdiri tepat didepan Jieun. Jieun tampak bingung, ia melangkah kearah kiri Jungkook pun melakukan hal yang sama, Jieun melangkah kearah kanan Jungkook pun melakukan hal yang sama. Kali ini Jieun menatap Jungkook “Permisi” ujar Jieun

Jungkook sadar dengan tingkahnya ini, ia pun segera memberi jalan pada Jieun “Josonghamnida” kata Jungkook.

Ketika Jieun semakin mendekat kearah samping Coffee Shop ini, entah gerakan apa Jungkook menarik tangan Jieun dan memutar tubuhnya hingga kepelukan Jungkook. Sukses membuat dirinya pun kaget akan tindakannya ini, namun ia bersikap seperti ini tak ingin Jieun melihat Jimin yang berpelukan dengan wanita lain, mungkin itu akan membuat hati Jieun sakit. Menerima hal ini Jieun pun tampak kaget dan menatap Jungkook, ia sama sekali tak mengerti dengan pria dihadapannya ini.

Hingga Jungkook melihat Yerim yang berlari kecil meninggalkan Jimin, saat itu Jungkook seakan bernapas lega “Syukurlah” gumam Jungkook.

“Yogiyo bisa kau melepaskan pelukan ini?” ujar Jieun yang tak mampu bergerak akan pelukan Jungkook.

Mendapati hal ini Sontak Jungkook menatap Jieun yang tengah menatapnya, saat itu juga ia melepaskan pelukannya “Ahh~ Jeosonghamnida, Jeosonghamnida. Aku pikir kau teman lamaku, jeongmal Jeosonghamnida” ujar Jungkook berkali-kali sambil membungkukkan kepalanya.

“Ah~ begitu rupanya,kau salah orang. Ghwencana, keunde lain kali kau tak bisa memeluk orang sembarangan” ujar Jieun sedikit terkekeh dan cukup terlihat memaklumi tindakan Jungkook walau sempat dibuat bingung.

Melihat senyuman Jieun dari jarak sedekat ini, membuat Jungkook tersenyum kecil “Ne, Jeosonghamnida. Aku permisi” ujar Jungkook disambut anggukan Jieun, dan meninggalkan tempat ini begitu saja. Meski rasa malu dan jantungnya seakan berdetak dua kali lebih cepat, itu sukses membuatnya tersenyum. Bahkan kali ini terlihat Jelas dikaca spoon mobilnya, Jimin menarik tangan Jieun. Jungkook hanya menghelakan napas beratnya enggan melihat kearah kedua orang tersebut.

****

Seperti biasa pagi hari siswa dan siswi disekolah ini sudah banyak berkeliaran, Jungkook pun yang sudah datang kesekolah ia masih saja berjalan santai melewati lobi sekolahnya ini. Meski begitu pikirannya pun tak fokus, bayangan ketika ia memeluk Jieun kembali terekam dalam otaknya. Bahkan ia merasa tidak enak pada Jieun sudah memeluknya tanpa pamrih, namun hal itu pun sukses membuatnya terus membayangkan wajah Jieun.Wajah Jieun didalam pelukannya dan menatapnya, sungguh tak dapat ia pungkiri ia sangat senang.

“Hayooo… Apa yang kau pikirkan Jeon Jungkook, kami memanggilmu sedari tadi dibelakang. Tapi sepertinya kau tak mendengar” seru Bambam yang merangkulnya dari belakang.

“Ahh~ kau masih memikirkan Jieun?” ujar Yugyeom

“Haruskah kita mencari tahu lebih jelasnya seorang Jieun” ujar Bambam.

Belum sempat Jungkook ingin menjawab ucap Bambam, kembali kerumuhan menggema di lobi ini. sudah dapat dipastikan senior dari tim baseball sudah datang, membuat para siswi sibuk ingin memberi hadiah pada para senior tersebut. Namun tampak sebuah pemandangan dimana Jimin tengah berjalan dengan seorang siswi, bahkan siswi tersebut menggamit tangan Jimin.

“Daebak, kemarin putus dengan emmi. Sekarang ia berpacaran dengan Hyera tingkat 1” seru seorang siswi dibelakang ketiga siswa ini.

“Aigo.. Bagaimana nasib Jieun, apa ia memutuskan Jieun” ujar Bambam namun mendadak terdiam ketika Jungkook menatapnya.

“Aniyo, mereka tampak masih berpacaran. Kemarin aku melihatnya” ujar Jungkook

Bambam dan Yugyeom membulatkan kedua matanya “Mwo!!!!” secara bersamaan keduanya berseru. Namun Jungkook tetap diam saja, karena matanya begitu fokus pada Jimin.

Hingga kali ini Jungkook berjalan menghampiri Jimin, tepat ia berada didepan Jimin “Sunbae, berhentilah untuk mempermainan perasaan yeoja” ujar Jungkook membuat semua tersentak kaget dengan ucapan Jungkook.

Jimin seakan tak perduli, ia justru tersenyum “Wae? Kau ingin menceramahiku?” tanya Jimin

“Aniyo, itu sebuah peringatan” ujar Jungkook yang berlalu begitu saja dari hadapan Jimin, tanpa menunggu respon dari Jimin.

Bambam dan Yugyeom yang menyaksikan ini, cukup kaget dengan tindakan Jungkook “Ini baru namanya Jeon Jungkook, Daebak!” ujar Bambam mengajak Yugyeom untuk mengejar Jungkook.

Lain halnya dengan Jimin yang masih diam membeku dengan perkataan Jungkook. Hingga teman-temannya pun dibuat heran karena baru kali ini ada seseorang disekolah yang menegur Jimin seperti ini “Kau ada masalah dengannya?” tanya Taehyung pada Jimin.

“Molla, geunde ghwencana. Akan kusimpan peringatan itu tsk” ujar Jimin tersenyum namun sulit diartikan dan berlalu meninggalkan lobi ini.

****

Siang ini Jungkook disibukkan dengan bermain P’s, ia begitu sibuk dengan stick yang dipegangnya. Bahkan ia sesekali berseru pada kemenangannya yang mutlak, seperti inilah ia mengalihkan perasaannya dengab bermain game. Meski pun begitu sesekali pikirannya tak terarah pada layar lcdnya, pikiran kecilnya pun memikirkan seorang Lee Jieun. Namun bagaimanapun juga ia berusaha sebisa mungkin tak memikirkannya.

“Ya, apa seperti ini tingkah anak sekolah selalu bermain game. ” seru seseorang yang langsung duduk disamping Jungkook, ia tahu siapa pemilik suara tersebut.

“Wae SeokJin hyung, bermain game untuk mengisi kepenatan seorang pelajar dihari minggu” ujar Jungkook pada sepupunya Kim SeokJin.

Belum sempat menimpali ucapan Jungkook, ibu Jungkook sudah berseru “Seokjin-ah, rupanya kau sudah datang? Bagaimana pembicaraan kita waktu itu? Temanmu mau kan? Aku sudah menghubunginya, dia mengatakan mau. Tapi aku takut ia berubah pikiran “

Seokjin tersenyum dan berkata “Tentu saja imo. Kau tak perlu khawatir,  dia Juniorku  dikampus tak mungkin ia menolak keinginan sunbaenya yang tampan ini”

Ibu Jungkook terkekeh “Arasseo! Keponakanku satu ini memang tampan. Kapan dia akan datang? “

“Sesuai keinginan imo, hari ini pukul 1. Aku sudah memberi alamat rumah ini. Keundae yang bersangkutan sudah diberi tahu? ” tanya Seokjin sambil menatap kearah Jungkook.

“Aku hampir lupa. Jungkook-ah cepatlah mandi,aku sudah memanggil guru private untukmu.” Jelas ibunya

Jungkook yang tak begitu mwmperdulikan ucapan ibunya dengan Seokjin tadi. Sontak saat itu ia membulatkan kedua matanya mendengar ucapan ibunya “Mwo???? Eomma, nilaiku baik-baik saja. Bahkan peringkatku tak turun masih ada diposisi yang sama, kenapa eomma memanggil guru private tanpa sepengetahuanku? “

“Jika aku memberitahumu lebih dulu, kau akan menolak mentah-mentah Jeon Jungkook. Nilaimu mungkin baik-baik saja, tapi aku tahu dari beberapa gurumu. Kalau kau jarang mengerjakan tugas, bahkan bolos dipelajaran itu. Dan satu lagi karena peringkatmu yang tak kunjung ada peningkatan itupun merupakan alasanku memanggil guru private.”Jelas ibunya

“Eomma…”rengek Jungkook

Namun ibunya mengelengkan kepalanya “Cepat mandi, setelah itu kau harus menerima pengajaran darinya.”

“Shireo! Biar saja dia mengajarku yang belum mandi” tolak Jungkook terkesan kekanakan.

“Terserah kau saja, Aku sedang membuat kue untuk guru privatemu. Seokjin kau mau mencicipinya” ujar ibu Jungkook yang berjalan kedapur lebih dulu.

“Ne, imo. Nanti aku menyusul” ujar Seokjin dan kali ini ia justru menatap sepupunya Jungkook “Mandilah, kau akan menyesal. Karena guru private mu itu seorang gadis cantik” lanjut Seokjin

“Aku tak tertarik dengan seorang noona kulihan” ujar Jungkook santai,kembali bermain gamenya.

Seokjin hanya mengelengkan kepalanya “Yasudah kalau begitu” ujar Seokjin santai berlalu menuju dapur.

Seakan kesal dengan hal tersebut, Jungkook menekan tombol pada sticknya dengan keras dan berkali-kali. “Apa-apaan guru private?  Memangnya aku bodoh” gumamnya kembali menekan tombol stick dengan keras.

Ting tong

Terdengar jelas oleh Jungkook suara bell rumahnya, namun tak dihiraukannya. Ia justru sibuk menekan tombol sticknya mengalahkan lawan.

Ting tong

Kembali suara bell berbunyi, namun lagi-lagi tak dihiraukan oleh Jungkook. Padahal ia pun sadar sedari tadi Seokjin berseru kalau bell berbunyi, hingga ibunya memukul kepalanya dengan buku “Aigo anak ini bukan dibuka pintunya. Itu pasti guru privatemu” seru ibunya yang berlari kecil menuju pintu.

Terdengar jelas ibunya berseru mempersilahkan guru private Jungkook untuk masuk “Mianhae, semua sedang didapur. Jadi tak mendengar suara bell, seokjin pun ada didapur. Jungkook-ah beri salam pada guru privatemu” ujar ibu Jungkook

Belum sempat Jungkook menoleh, Seokjin sudah berseru “Lee Jieun-ah.  Sudah datang?”

‘Lee Jieun?’ Batin Jungkook, apa dia tak salah mendengar nama itu. Sontak ia menoleh kearah ibunya yang bersama guru private. Betapa kagetnya ia mendapati Jieun, wanita yang sudah sukses membuat hatinya bergetar berada didalam rumahnya.

“Seokjin sunbae, tentu saja aku datang” ujar Jieun tersenyum dengan ciri khasnya.

“Ini sepupuku, Jeon Jungkook anak yang harus kau beri pengajaran.  Dan ini Lee Jieun junior ku dikampus yang memiliki ipk tertinggi difakultas” ujar Seokjin

Jieun pun seakan baru sadar dengan Jungkook, namun ia bersikap biasa saja ” Sunbae, kau berlebihan” ujar Jieun sedikit malu.

Sedang Jungkook tak bergeming sedikit pun, ia masih menatap Jieun tak percaya. Disaat ia sudah tak ingin ke Coffee Shop justru ia dipertemukan kembali dengan Jieun. Sungguh ia tak mengerti dengan keadaan ini, bahkan ia baru tahu kalau Jieun seorang mahasiswi.

*****

Fin~

 

 

#EPILOG

Jieun tampak mengerutkan keningnya “Ya, simpan aegyomu itu! Ayo pulang, aku sangat lelah.” Jieun berjalan duluan, namun dengan cepat Jimin merangkul Jieun tampak hal yang biasa untuk keduanya, karena tak ada protesan dari Jieun kala itu.

Tepat di depan Coffee Shop, tanpa basa – basi Jieun melepaskan rangkulan Jimin “Aisshh tanganmu berat bocah! Sudah kukatakan jangan merangkulku didepan umum.” Ujar Jieun

“Wae? Takut orang lain menganggap kita berpacaran? Joha Joha” ujar Jimin membuat Jieun menghelakan napasnya.

“Ahh~ aku bisa gila punya adik sepertimu Park Jimin” ujar Jieun seakan frustasi pada adik tirinya ini.

“Ya! Noona seharusnya kau bangga mempunyai adik tampan sepertiku” ujar Jimin dengan percaya diri.

“Aishhh bangga? Playboy kelas kakap apa yang harus aku banggakan!” Ledek Jieun

“Aigo, kenapa aku mempunyai noona sepertinya. Kau tak melihat kharismaku? Lihat ini” Jimin menunjukkan sisi tampan pada Jieun.

Jieun tak menghiraukan ia justru meneloyor Jimin “Geumanhae! Katakan pada pacar-pacarmu untuk berhenti menghubungiku. Banyak yang salah paham karena kau sering menjemputku, haruskah aku mengganti nomor ponselku lagi? Ahhh Aniya, aku ganti nomor pun mereka pun tampaknya akan tahu lagi, padahal aku sudah mengatakan aku kakakmu. Mereka tak percaya” Protes Jieun

“Mianhae noona-ya, jika mereka melakukan macam- macam katakan padaku. Mulai sekarang aku akan memperingatkan mereka agar tidak menghubungimu. Jangankan mereka,orang lain yang melihatmu pun tak percaya kalau seorang anak kuliahan kkkkk” ujar Jimin

“Tsk! Kajja” seakan sebal dengan ucapan adiknya, Jieun berjalan lebih dulu. Namun Jimin segera mengejarnya dan tersenyum simpul dengan tingkah kakaknya ini.

Bahkan kini Jimin menahan helm yang ingin dikenakan Jieun “Noona, peringkatku turun”

Jieun hanya menatap Jimin dan merebut helm dari tangan Jimin”Apa perduliku”

“Tentu saja kau harus perduli, peringkat adik kesayanganmu ini turun dan kau harus mengajariku seperti dulu.”

“SHIREO! Peringkatmu turun karena ulahmu sendiri, jadi belajarlah sendiri”

Jimin mengerucutkan bibirnya “Noona-ya, kau begitu tega pada adikmu. Apa karena anak sekolah yang kau ajari itu, kau tak ada waktu untukku?”

Mendapati ini Jieun tersenyum “Aigo, Apa adikku ini sedang Marah. Neomu kiyowo” Jieun justru mencubit pipi Jimin

“Geumanhae! Kita pulang” ketus Jimin dan menstater motornya. Jieun hanya mengelengkan kepalanya, hal yang biasa mendapati Jimin bersikap seperti ini.

*****

Jimin telat menjemputnya itu merupakan hal yang biasa bagi Jieun. Sampai ia memutuskan keluar Coffee Shop, ia berniat untuk pulang sendirian. Namun sebuah isakan terdengar dari samping Coffee Shop ini, Bahkan ia cukup mendengar nama Jimin disebut.

“Aigo, apa bocah itu memutuskan yeoja lagi. Akan ku ceramahi habis-habisan bocah itu” Jieun tahu benar Jimin seperti Apa, ketika ia ingin kesamping Coffee shop ini seseorang menghalangi langkahnya. Bahkan ia tampak sengaja menghalangi Jieun, hingga ia berkata “permisi” ia baru memberi Jalan.

Namun tak diduga olehnya, orang tersebut memeluknya. Ia tampak bingung dengan orang tersebut,  tapi ia sadar wajahnya pria ini tampak tak asing baginya. Hingga Jieun meminta melepaskan pelukan tersebut,  ia meminta maaf dan memberi alasan yang klise. Meskipun begitu Jieun bersikap memaklumi membiarkan pria tersebut pergi.

Ketika pria itu pergi Jimin berseru “eoh, Noona Kajja” Jimin langsung menarik tangan Jieun tanpa menunggu jawaban kakaknya.

Namun saat itu Jieun memukul pelan kepala Jimin dengan tas kecilnya “Ya. Apa kau memutuskan yeoja lagi?”

“Noona, bagaimana kau…?” Ucapan Jimin tertahan

“Kau pikir aku tuli? Bahkan sampai ada orang memelukku,  seakan menghalangiku untuk memarahimu. Apa mungkin itu temanmu, agar kau tak kena omelanku” tutur Jieun

Mendengar itu Jimin membulatkan matanya “Ya! Siapa yang memelukmu sembarangan? Akan kuberi peringatan padanya”

Jieun mengelengkan kepalanya “Aigo. Bocah ini pintar sekali mengalihkan pembicaraan. Sudah aku mau pulang”

“Ya, aku serius bertanya. Siapa yang memelukmu sembarangan? “Tanya Jimin seakan tak terima kakaknya diperlakukan seperti itu.

“Molla” jawab Jieun santai dan meraih helmnya.

Jimin pun tak berkata apa-apa lagi, ia hanya menatap Jieun penuh penasaran. Sedang Jieun berusaha mengingat pria tersebut yang tampak tak asing baginya “Jungkook” gumamnya pelan mengingat akan minuman yang pernah tertukarDan sempat berbicara dengan pria tersebut.

*****

7 thoughts on “What is love ? [Chapter 2] End

  1. ceilah sebelumnya aku udh bisa tebak klu jimin tuh pasti adiknya Jieun.hehe aku kira jieun masih ank sekolahan. eh ternyata udh kuliah. masih gantung nih thor kisah Jungkook dan Jieun. ditunggu sequelnya. good job.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s