I’m waiting in the rain

im waiting in the rain poster1

Author :: Kim Raemi

Tittle :: I’m waiting in the rain

Length :: Ficlet

Genre :: AU, Romance, Fluff

Rating : T

 

Cast ::

Han YooJin

Choi Junhong / ZELO (B.A.P)

Terik matahari yang terpancar jelas sinarnya, menembus tiap ruang universitas inha. Sekiranya disebuah kantin seorang yeoja tengah meneguk habis minumannya dan bahkan memesan kembali minuman segar.

“Ya! Han YooJin, sudah berapa gelas orange jus yang kau minum babo.” Protes seorang yeoja dihadapannya yang tidak lain tidak bukan sahabatnya.

“Haneul-ah ,cuaca hari ini sangat panas membuatku ingin minum lebih banyak.” Jawaban yang cukup masuk akal, faktor cuaca membuat tenggorakan yeoja satu ini cukup dehidrasi. Namun teman sekelasnya ini menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Kau jangan terkecoh dengan cuaca Yoojin, terkadang cuaca sering kali memberikan harapan palsu.” Ucapan Haneul membuat Yoojin menahan tawa.

“Ya jangan membuat lelucon babo” ingin YooJin meneloyor kepala temannya itu namun sudah menghindar lebih dulu.

Kembali kedua yeoja ini sibuk dengan makanan dihadapannya, seraya membicarakan beberapa matakuliah umum yang masih sulit dimengerti. Bagi mereka semester 4 ini masa sulit dalam sebuah tugas, tidak jarang jurusan managemen yang mereka ambil ini terdapat pelajaran yang belum dipahami.

Mereka masih asik membicarakan beberapa mata kuliah, namun sebuah aksi seorang namja dan teriakan namja tersebut membuat keduanya teralihkan oleh namja itu.

“Sueun-ah Saranghae” terdengar jelas ditelinga Yoojin dan Haneul. Sontak mata kedua yeoja ini menatap pada namja yang tengah memberikan pernyataan cintanya di kantin “Saranghae, mau kau menjadi kekasihku?” kembali namja tersebut melontarkan kalimatnya.

Banyak yang berseru memberikan semangat pada namja tersebut. “Tsk! Jung Daehyun, masih saja dia membuat pernyataan cinta didepan umum.” Haneul cukup mengelengkan kepalanya tidak percaya melihat namja yang cukup ia kenal itu “YooJin untung kau menolaknya waktu membuat pernyataan cinta padamu. Kenapa aku merasa ia menjadi playboy seperti itu.” Lanjut Haneul

YooJin menatap kearah namja bernama Daehyun itu, ia cukup sadar mata namja tersebut pun tengah menatapnya. Tapi itu tidak bertahan lama, YooJin sudah kembali menatap Haneul “Entahlah, tapi aku rasa dia tidak seburuk yang kau pikirkan” ujar YooJin

“Kalau tidak seburuk yang kau pikirkan?  Kenapa kau menolaknya waktu itu?” YooJin terdiam sejenak mendengar ucapan Haneul, lalu ia melemparkan sebuah senyuman.

“Aku jauh lebih suka seorang namja yang menunjukan rasa cintanya dengan tindakan, disbanding dengan sebuah ucapan yang mungkin mudah dikeluarkan oleh siapa saja. Kalau ada namja yang membuatku cukup terharu akan tindakannya mungkin aku akan jatuh cinta saat itu juga” ujar YooJin sederhana namun membuat temannya ini mengerutkan alisnya.

“Konyol jangan berbicara sembarangan, kalau terjadi bagaimana?” ujar Haneul membuat YooJin memutar bola matanya.

“Molla, itu hanya sebuah pengandaian bodoh. Tapi aku belum pernah menemukan namja seperti itu” YooJin menopang dagunya dengan kedua tangannya, namun …

BUGG

Pukulan pelan mendarat tepat dikepala YooJin “Aiisshh Kecil tau apa kau tentang namja? Cinta? Aiihh urusi saja tubuh kecilmu itu di banding cinta.” Ujar seorang namja yang langsung menghentakan kakinya meninggalkan YooJin mengantisipasi agar ia tidak mengenjarnya.

Menyadari ucapan itu YooJin menatap tajam pada namja tersebut “YAK! YOO YOUNGJAE KAU” teriakan YooJin tidak diperdulikan sama sekali oleh namja itu yang tidak lain tidak bukan adalah teman sekelasnya. Tubuh mungil YooJin memang sering kali menjadi bahan ledekan dikelasnya, bahkan temannya sering meledeki kalau ia lebih cocok sekolah dibanding menjadi mahasiswi (?)

Sedang Haneul yang mendengar ledekan Youngjae hanya menahan tawa, namun anak matanya menangkap satu tatapan yang berpusat pada YooJin.

****

YooJin berjalan sendirian diterotoar bertujuan pada sebuah halte bus yang lumayan cukup jauh dari kampusnya. Ia sudah berjalan lama sambil sedikit mengeluarkan senandung kecil, namun matanya terarah pada langit mendung disore ini.

“Mendung?” gumam YooJin sambil mendongakkan kepalanya menatap langit gelap, ia sedikit mengerutkan alisnya karena sedari tadi tidak ada tanda- tanda langit mendung. Bahkan siang tadi pun cuaca sangat panas, sedang sekarang langit seolah berubah begitu saja.

Ia teringat akan ucapan Haneul tadi ‘Kau jangan terkecoh dengan cuaca Yoojin, terkadang cuaca sering kali memberikan harapan palsu’ ia sedikit berpikir ucapan temannya memang ada benarnya, cuaca memang sulit diprediksi seperti saat ini.

Tik

Satu titik air yang berasal dari anak langit jatuh tepat di puncak hidung YooJin, sontak ia mengerjapkan kedua matanya tersadar dengan titikan air yang jatuh begitu saja “Tidak mungkin kan akan hujan?” kembali ia bergumam, mengingat dirinya tidak membawa payung.

TIK

Kembali ia rasakan titikan air jatuh tepat di puncak hidungnya, tanpa ragu ia mempercepat langkahnya menuju halte bus untuk meneduh. Walau halte bus kecil setidaknya ia dapat meneduh dengan flafon yang berukuran sedang disana.

Namun tiba-tiba gemercik hujan turun begitu saja, YooJin sadar gerimis air hujan sudah terada di puncak kepala. Kebetulan langkahnya ini cukup mendekati dengan halte bus yang sudah di depan mata, ia segera berlari kecil ke halte bus.

Air hujan terlihat semakin deras dan dercikannya terdengar jelas di telinga YooJin, untung saja ia sudah di halte bus. Namun semakin derasnya hujan, semakin banyak orang lain yang meneduh di halte bus ini. Membuat dirinya terdesak dan berdiri di pinggir, cukup dirasakan air hujan menetes di pundaknya.

‘kalau seperti ini percuma saja meneduh’ pikirnya mendapati banyak orang yang kian meneduh dan tubuhnya yang mungil cukup membuatnya semakin ke pinggir.

“Aiisshh” gerutunya kecil menyadari desakan kian membuatnya kehujanan, namun ia tidak dapat berkata apa – apa ia memilih diam dan mungkin hari ini hari sialnya. Rintik hujan yang kian membasahi pundaknya membuat ia hanya menghelakan napas “Huh..”

Ia menatap kosong arah depannya tidak memperdulikan hujan yang sudah membasahi setengah tubuhnya ini, namun ia sedikit kaget ketika ia rasakan dercikan air hujan tidak membasahi bahunya. Ia melihat bayangan seperti payung tengah menjaganya dari sebuah rintikan hujan.

Ia pun cukup sadar kalau ada seseorang disampingnya, ketika ia menengok kesamping betapa kaget dirinya seorang namja memegang sebuah payung dan berdiri setara dengannya. ia menatap jelas pada namja tersebut.

Namja tinggi dan tampan terlihat jelas dari kasat matanya saat ini, terlihat namja ini tengah menatap arah depannya. YooJin masih menatap lekat namja disampingnya, cukup menyadari dengan tatapan YooJin, namja ini sontak menatap kearahnya meleparkan sebuah senyuman pada YooJin.

YooJin semakin tersentak melihat kesempurnaan pada garis wajah namja ini, wajah polos dan mata teduhnya ketika tersenyum membuat YooJin tidak bisa berkutik “Kau bisa berteduh di payungku” ujarnya

“Eoh?” ujar YooJin seolah tidak mengerti dengan ucapan namja ini, karena ia sedari tadi memandangi namja dihadapannya ini tanpa mendengar ucapannya tadi.

“Kau bisa berteduh di payungku” ujarnya lagi mengulangi ucapannya yang tadi dan membuat YooJin mengerti, namun tidak ada kata yang terucap entah kenapa lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kalimat pada namja ini.

Seolah tidak memperdulikan YooJin, namja ini berbagi payungnya dengan YooJin. Lagi – lagi matanya berpusat pada wajah namja ini, ia semakin lekat menatap namja ini. Sesaat ia pun sadar ini hal yang bodoh untuk menatap seorang namja.

Ia diam seribu bahasa membiarkan namja ini membagi payung yang dipegang kepadanya. Gemercik air hujan seolah melantun merdu bak alunan music mengiri nuansa hujan dan terdengar cukup indah.

Hujan yang tidak kunjung henti, membuat halte bus kian banyak yang meneduh. Desakan pun membuat YooJin terdesak ke pinggir dan kembali gemercik hujan dirasakan pada bahunya, namun payung yang di pegang namja ini membuatnya tidak tersulut air hujan seperti tadi.

Tapi YooJin menyadari namja disampingnya semakin berbagi payungnya dan tidak dirasakan olehnya tetesan air membasahi bahunya. Namja ini berbagi payungnya tanpa memikirkan dirinya yang terlihat jelas dari mata YooJin, setengah tubuhnya sudah basah akan air hujan.

Namja ini terlihat tidak memperdulikan dirinya sendiri dan semakin membagi payung tersebut pada YooJin. Sungguh YooJin tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menatap perlakuan yang di berikan namja ini padanya.

DEG!

Entah kenapa ia merasa perbedaan pada namja ini, perlakuan yang ia berikan benar – benar membuatnya merasa kagum. Seolah namja ini tengah melindunginya, YooJin semakin menyadari kalau namja ini kian berbagi payungnya tersebut dan tetesan air hujan kian membasahi punggungnya.

Sungguh perlakuan namja ini tidak dapat ia ungkapkan dan untuk pertama kali baginya menerima perlakuan seperti ini oleh seorang namja.

Hujan yang tadi terasa sangat deras, kali ini sudah tersurutkan dan dapat di katakan sudah reda. YooJin benapas lega dengan keadaan ini, terlebih lagi bus yang di tunggu sudah datang. Ia ingin berjalan kearah bus tersebut namun ia sadar namja di sampingnya..

Ia menatap lekat namja tersebut ingin bertanya, namun sepertinya namja tersebut seolah paham apa yang di pikirkan YooJin saat ini “Aku sedang menunggu teman, kau naik duluan saja.” Ujarnya

YooJin mengangguk paham dan tersenyum, ia segera berjalan kecil menuju bus. Namun ia teringat sesuatu dan membalikan tubuhnya menatap namja jangkung tersebut “Gomawo.” Akhirnya kata tersebut terucap juga dari mulutnya.

Namja itu hanya menganggukkan kepalanya dan YooJin segera menaiki bus tersebut, hingga bus sudah jalan tanpa ia sadari ia terus menatap pada halte bus. Memperhatikan namja yang masih berdiri di halte bus ‘Gomawo, gomawo’ batin YooJin tidak lepas mengucap kata tersebut.

***

-Dua minggu kemudian-

Semenjak saat itu sudah berlalu dua minggu, YooJin masih memikirkan namja yang membagi payung dengannya. sungguh ia merasakan hal yang beda ketika teringat namja itu, bahkan sering sebuah senyuman yang ia lontarkan saat teringat wajah namja tersebut.

Perasaannya pun terasa berbeda ia merasa senang memikirkan namja tersebut, ketika ia menceritakan pada Haneul. Temannya tersebut mengatakan kalau YooJin menyukai namja tersebut, namun ia tidak ingin menafsirkan hal tersebut dengan mudahnya.

Tapi ia sadari ia pun merasa berbeda dari biasanya, dua minggu ini YooJin sering berdiam diri di halte bus. Sesungguhnya ia berharap akan kehadiran namja tersebut, namun entah penantiannya tidak kunjung datang.

Hingga saat ini Hujan turun kembali sama seperti hari – hari lalu biasanya, entah ia merasa sangat senang ketika turun hujan. Ia merasa yakin saat turun hujan namja tersebut akan datang, seperti saat ini ia sudah berada di halte bus.

Menunggu ?

Mungkin kata tersebut cocok untuknya, menunggu namja yang pernah berbagi payung miliknya pada YooJin. Sambil menatap rintik hujan YooJin menunggunya.

Namun satu jam sudah berlalu, namja yang di tunggunya tak kunjung datang. Bahkan hujan sudah berubah menjadi gerimis, tapi namja tersebut tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

Perasaan kecewa menyelimuti dirinya begitu saja, tapi ia tidak merasa lelah untuk menunggu namja tersebut. Rasa penasaran tidak dapat ia pungkiri terhadap namja itu.

“Ige” tiba – tiba seseorang menyodorkan sebuah payung di depannya.

DEG!

Entah kenapa ia merasa detak jantungnya berdegup sangat kencang, ia sontak menatap pada seseorang tersebut namun ….

Detak jantungkan berhenti seketika menyadari siapa orang tersebut “Daehyun, kau ?” pekik YooJin yang menyadari kalau orang itu bukan namja yang ia tunggu.

“Tentu saja aku, memangnya siapa lagi. Pakai payung ini, bukan kau ingin pulang” Daehyun menyodorkan payung tersebut pada YooJin. Namun yeoja ini seolah tidak menanggapi, ia hanya tersenyum.

“Tidak terima kasih, kau tidak perlu repot Daehyun . annyeong ” sambil tersenyum hambar YooJin meninggalkan Daehyun menuju bus yang sudah ada di depannya. Terlihat Daehyun yang diam membeku menerima perlakuan YooJin tadi, tanpa di sadari YooJin dari kejauhan Daehyun masih menatapnya.

****

Tiga minggu sudah berlalu, entah kenapa YooJin masih saja terlintas akan bayang namja itu. Ia pun bingung kenapa ia terus memikirkan namja itu, Haneul pun semakin meyakinkan YooJin kalau ia menyukainya.

Memang cukup ia sadari kalau memikirkannya membuatnya merasa senang, mengingat wajah polos dan mata namja tersebut senyuman tidak luput dari bibir YooJin. Terlebih lagi ia masih menunggu hadirnya namja tersebut di halte bus.

Tapi sangat disayangkan lagi olehnya, namja tersebut tidak kunjung datang. Alhasil dengan perasaan kecewa ia meninggalkan halte bus tersebut. Hingga makan malam yang ada di depannya belum di sentuhnya sama sekali.

ia benar – benar merasa bodoh teringat akan namja itu, ia pun bingung kenapa bayangan namja tersebut seolah terlintas dibenaknya begitu saja.

“YooJin-ah, YooJin . Han YooJin” seru seorang yeoja paruh baya menyadarkan akan lamunannya “Kau tidak memakan  makananmu?” ujarnya kembali

“Ahh ne eomma” YooJin langsung menyantap makan malam ini,sedang orangtuanya hanya mengelengkan kepala.  ‘Aiiissh YooJin kau tidak boleh memikirkannya, Tidak boleh!’ gumamnya dalam hati memperingati agar ia tidak memikirkan namja tersebut.

“YooJin. Teman appa keluarga Choi, mereka akan berbisnis ke swiss selama dua bulan. Mereka mempunyai anak yang masih sekolah dan akan menitipkannya pada kita. Lusa anak itu akan datang ke rumah.” Tutur ayahnya membuat YooJin membulatkan matanya.

“MWO? Anak sekolah itu akan di titipkan pada kita?” Pekik YooJin di jawab anggukan kepala oleh orangtuanya “Kenapa baru memberitahuku sekarang?” kesal YooJin.

“Kalau kita memberitahumu dari awal, aku yakin kau tidak akan setuju. Kalau sudah mendekati, kau tidak bisa protes.” Ujar ayahnya

“Keunde appa. Memangnya rumah ini tempat penitipan anak? Appa ingat kan dulu anak kim ahjjusi yang di titipkan pada kita, dia merusak buku milikku”tutur YooJin dengan rasa kesalnya mengingat masa lalu.

Kedua orangtuanya saling bertukar tatap satu sama lain “Ya, kau pikir anak yang akan di titipkan anak TK yang suka merusak bukumu? Tidak YooJin, dia sudah kelas 3 sma. Kau tenang saja” penjelasan kembali terlontar dari mulut ayahnya.

YooJin terdiam sejenak namun …. “Tapi tetap saja appa, anak sekolah masih butuh pengawasan. Bisa saja kan dia asal merusak barang – barang dirumah” tukas YooJin.

“Justru itu kau harus mengawasinya YooJin, anggap dia adikmu. Karena dia sepertimu anak tunggal” mendengar ucapan ayahnya, YooJin mengerutkan alisnya.

“Mengganggap adik? Tapi aku tidak ingin mempunyai adik” kembali YooJin menukasnya dan sebuah tatapan tajam tertuju padanya.

Yeah, ayahnya tengah menatapnya tajam “Aiisshh anak ini pintar sekali menukas ucapan orangtua, kau tidak boleh protes ini sudah keputusan appa dan eomma. Arraseo !” tekan ayahnya yang memang sudah tidak bisa di ganggu gugat olehnya. Alhasil YooJin hanya terdiam dan mau tidak mau ia harus menerima keputusan ayahnya.

****

YooJin menuruni anak tangga dengan malas, ia sedikit merenggangkan otot – otonya agar menetralisir darah pada sel tubuhnya. Ia cukup bingung mendapati pelayan dirumahnya sibuk seolah menyiapkan sesuatu.

Namun tidak di perdulikan olehnya, dengan santai ia berjalan menuju dapur “Ya, jangan karena hari ini kau tidak ada mata kuliah. Kau bisa bangun siang YooJin.” Suara itu dia sadar siapa pemilik suara tersebut, yang tidak lain tidak bukan adalah ibunya.

Ia menatap kearah ibunya yang sibuk menyiapkan makanan, YooJin membulatkan matanya karena ibunya menyiapkan makanan yang sangat banyak “Omo eomma, untuk siapa makanan sebanyak ini?” belum sempat YooJin ingin meraih kue, tangannya sudah ditahan lebih dulu oleh ibunya.

“yang jelas makanan ini bukan untukmu, untuk seorang anak yang akan menjadi keluarga kita” YooJin mengerutkan alisnya mendengar ucapan ibunya.

“Kau berbica apa eomma? Anak yang akan menjadi keluarga kita?”

Ibunya mengangguk mantap “Ne, kau tidak lupa kan. Hari ini anak itu akan datang, anak keluarga Choi. Kita harus menyambutnya dengan hangat YooJin.”

“Tsk! Memangnya dia siapa, sampai – sampai harus menyambutnya dengan special?” raut wajah kesal tersirat begitu saja dari wajah YooJin.

“Dia seorang pangeran, kita harus menyambutnya dengan special” tekan ibunya memberi argumennya, namun YooJin terdiam sejenak mencerna ucapan ibunya dan….

“Emmppptt hahahaha, pangeran? Eomma berhenti membuat leluconmu itu.” YooJin masih menahan tawanya tidak percaya dengan ucapan ibunya yang terdengar sangat mustahil, ibunya ingin menimpali ucapan anaknya ini namun sebuah bel rumah berbunyi begitu saja.

Sudah beberapa kali bell itu berbunyi namun sepertinya seisi ruma sedang sibuk “Kau buka pintunya dulu, sepertinya pelayan sedang sibuk menyiapkan kamar untuk anak itu.” YooJin mengerutkan alisnya saja tidak menjawab ucapan ibunya “Palliwa, kalau yang datang anak itu kau beritahu aku oke.”

Tanpa berkata YooJin meninggalkan dapur, tapi yang ada di pikiran YooJin saat ini bagaimana bisa dia mengenali anak sma itu sedang dia tidak tahu wajah anak itu. Dengan malas ia berjalan menuju pintu, karena bel terus berbunyi .

“Sabar, sabar..” sedikit malas YooJin membuka kenop pintu rumahnya dan mendapati seorang namja berdiri membelakanginya “Permisi kau siapa dan ada keperluan apa?” Tanya YooJin to the point.

Terlihat namja itu membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan YooJin.

DEG!!

Napas YooJin terasa tercekat melihat pemandangan dihadapannya, namja bertubuh tinggi dan mempunyai garis wajah sempurna berada di hadapannya. Lidahnya terasa kelu dan detak jantungkanya berdegup sangat kencang.

“Kau—“ ucapan YooJin tercekat tidak bisa melanjutkan kalimatnya, namja itu hanya tersenyum melihat YooJin. Kembali YooJin terasa tercekat melihat hal ini.

“Eoh? Junhong-ah , kau sudah di depan rupanya?” seru ibunya membuyarkan lamunan YooJin “YooJin, kau kenapa tidak menyuruhnya masuk. Dia anak dari keluarga Choi, Junhong-ah cepat masuk” ibunya langsung menarik namja itu untuk memasuki rumah.

Sedang YooJin masih diam membeku menyadari hal ini dan berhadap hanya mimpi, tapi cukup disadari olenya kalau ini bukan mimpi. Terlebih lagi ia semakin tercekat menyadari namja itu yang akan tinggal selama 2 bulan di rumahnya dan namja yang selama ini ia tunggu adalah seorang anak SMA.

Tidak terpikir olehnya sebelumnya, ia benar – benar tidak bisa berkata apapun. Perasaannya seolah kalut, ia pun tak paham dengan apa yang ia rasakan ini.

Disisi lain namja yang bernama Choi Junhong sedikit menatap kearah YooJin dan bibirnya tetarik begitu saja membentuk sebuah senyuman.

****

Fin~

 im waiting in the rain poster2

8 thoughts on “I’m waiting in the rain

  1. Maaaaeeeeeeee…
    Ini epep d.lanjut kan yaaa ? Awas ajeh ga d.lanjut gue gibeng !!
    Elo noona marry me blom selese udh bkn yg baru .. Wkwkwk
    Dasar maeeeee
    Lanjutkan .. Bagus ko .. Hahaha
    Sekarang bahasa lo makin kece ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s