[Songfic] Coffee Shop

poster sf cs

Author :: Kim Raemi & SuviLs

Tittle :: Coffee Shop

Length :: Songfic

Genre :: AU , Fluff, Romance

 

Cast ::

Bang Yongguk

Kim Himchan

Jung Daehyun

Yoo Youngjae

Moon Jongup

Choi Junhong

*****

 

>Daehyun Part<

 

Achim haessare nuneul tteugo haendeupon siryereul bogo

Eoje junbihal oseul ipgoseo seodullo jibeul naseojyo

Ku buka kedua mataku Bersinar mentari pagi

Melihat waktu dan berpakaian Segera ku lekas pergi

 

Neowa gadeon coffee shop

Uri dulmanui coffe shop

Kamu dan the coffe shop

 Bersama di the coffee shop

 

Ajik itji motaeso

Uri gioeogi namaseo

Masih tak terlupakan

kenangan antara kita

14

Saat pertama ku buka kedua mataku hari ini, sinar mentari pagi itulah yang menyambutku, memberiku kehangatan dengan cahaya terangnya. Ku lihat waktu pada ponselku kemudian segera bersiap diri, mengenakan pakaian yang sudah ku siapkan semalam. Ku langkahkan kakiku menuju pintu, kini aku bersiap pergi.

Langkah pelanku menjadi pengiring suasana hatiku saat ini, matahari yang tadi sempat memancarkan sinarnya kini telah bersembunyi di balik awan. Aku menghentikan langkahku dan mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan yang ku lalui, tidak masalah jika matahari itu tidak ada, semua itu tergantikan dengan suasana sejuk yang mendasari cuaca mendung saat ini.

15

Entah untuk berapa lama aku berjalan. Aku sendiri tidak tau kapan persisnya waktu telah berganti menjadi siang, cuaca kini mejadi terik. Ku telusuri jalanan masih dengan langkah pelanku. Dan saat itu aku teringat…. jalanan ini adalah jalanan yang dulu sering kita lalui, aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau, dengan muka cerahmu selalu bermain-main di sepanjang jalan ini, memutari tiang-tiang trotoar dengan cerianya. Seperti merasakan kau ada di sampingku saat ini, aku melakukan hal yang sama sepertimu, memutari tiang-tiang itu….

Saat kulihat arlojiku, lagi-lagi aku teringat…. persis seperti waktu sekarang ini, adalah waktu di mana kita biasanya berada di Coffee Shop.

Lagi aku berjalan. Disana…. disana aku dapat melihat, itu adalah Coffee shop yang biasanya kita kunjungi, coffee shop kita….. dimana kita banyak menghabiskan waktu bersama. Kau dan Coffee Shop, dua hal yang masih lekat dalam ingatanku.

16

Kali ini tujuanku bukanlah di sana. Aku masih setia berjalan… di tengah perjalananku, aku berhenti di sebuah pantai. Semilar angin pantai yang menerpa kulit wajahku membuat perasaanku tenang, aku duduk di salah satu pagar di sana, merentangkan kedua tanganku, agar angin itu leluasa berhembus dan masuk di pori-poriku. Rasanya nyaman, sejuk, dan tentram. Ku hirup dalam-dalam aroma angin pantai yang melambai ria, aroma yang sangat khas. namun aroma ini masih kalah…. kalah dengan aroma kuat dari tubuhmu.

 17

Sampai akhirnya aku benar-benar sampai pada tujuanku. Di sebuah air mancur di tengah taman ini. banyak orang yang berlalu-lalang, tapi keramaian ini tidak menutupi suasana lembut yang ada. Suara gemercik air mancur itu masih jelas terdengar… aku duduk pada pinggiran kolam itu… sambil memainkan sebuah koin yang ada di tanganku.

Ada mitos yang mengatakan, permohonanmu akan terkabulkan jika kau melemparkan sebuah koin ke dalam air mancur. Memang kolam air mancur tempat aku berada saat ini hanyalah kolam air mancur biasa, tapi tidak ada salahnya bukan jika aku mempraktekkannya di sini?

Sebelum ku lakukan hal itu, aku memutar memori otakku. Mengingat tentang dirimu yang masih tak bisa ku lupakan. Kenangan tentang kita kini berputar dengan indah di benakku. Meskipun saat ini semua itu telah berlalu… tapi ingatan akan dirimu akan tetap lekat di pikiranku.

Sekarang aku berdoa untuk dirimu, permohananku pada koin kecil ini adalah “agar kau bahagia di mana pun kau berada, aku di sini akan baik-baik saja tanpamu’.

Dengan pelan tapi pasti ku lemparkan koin itu ke dalam kolam, bunyi riakan air itu menjadi pertanda bahwa kini koin itu telah jatuh ke dalam dan sampai pada dasarnya….. dan….. Aku tersenyum……

 

—Coffee Shop—

>Youngjae Part<

 

Maeil jeulgyeo deutdeon norareul honja heungeolgeorigo

Iksukhan i bilding saireul honja geot

Nikmati lagu terdengar, sendiriku bersenandung

Antara gedung – gedung ini, kuberjalan sendiri

 1

 

Maeil jeulgyeo deutdoen noraereul” sebuah lagu bersenandung begitu saja dari bibirku, menatap pemandangan dihadapanku.

Gedung – gedung yang menjulang tinggi kian mengiri langkah kakiku dan senandung pelan. Tak tentu arah yang akan kutuju, namun menikmati lagu yang bersenandung dari bibirku seolah mengisi kekosongan hatiku saat ini.

Langkahku terhenti begitu saja dan bersandar pada sebuah pagar yang berkarat “Andai hatiku berkarat seperti pagar ini, mungkin aku sudah melupakanmu” Ku sentuh deretan pagar yang berkarat ini dan memegang dadaku yang terasa pilu.

Dapatkah kau mendengar jeritan hatiku ini? Jeritan seorang namja yang berharap kau dapat kembali.

Sebuah penantian ..

Penantian akan sebuah cinta, cinta yang tidak dapat ku genggam sama sekali. Hingga saat ini aku masih terbelenggu akan bayanganmu,berharap kau kembali dalam keseharianku.

Untuk kesekian kali bagiku berjalan melewati deretan gedung – gedung sambil bersenandung pelan. Berharap sebuah keajaiban berpusat padaku, keajaiban sebuah penantian akan dirimu “kuharap kau dapat mendengar isi hatiku.” Ku benamkan wajahku dengan topi merahku ini berharap dapat melihatmu kembali setelah ini.

~~~~~~

 

Ni hyanggiga naneun igoseseo

Meonghani anjaisseo

Kucium aromamu, Mengingatmu

Ku duduk diam disini

 2

Di sebuah Coffee Shop ku duduk terdiam, menatap secangkir coffee yang ku pesan sejak tadi namun tak ku sentuh sedikit pun. Hanya memandang coffee tersebut dan mencium aroma coffee bagai candu berada disini.

Sebuah kenangan masalalu teringat jelas dalam benakku, mengingat akan tentangmu itu yang kurasakan saat ini. “Espresso con panna” ucapan itu teringang jelas ditelingaku, dimana setiap kali berkunjung pada Coffee Shop kau selalu mengucapkan kalimat itu.

Espresso Con panna minuman kesukaanmu,hal tersebut tidak bisa ku lupakan begitu saja. Ku pejamkan mataku berniat menghidup udara segar, namun justru aromamulah yang masih tercium jelas pada cuping hidungku.

Begitu banyak kenangan akan dirimu di tempat ini membuatku tidak luput mencium aromamu ketika berada di tempat ini. Setiap kali memejamkan mata menghirup udara namun yang kucium aroma indahmu.

Bahkan setiap kali ku membuka mata berharap kau sudah berada di hadapanku, kenyataannya sungguh memilukan. Kau sudah tidak tergapai lagi namun berada di benakku, sampai ku tak sadari ku terus berada disini menunggu kehadiranmu.

~~~~~

 

Nado moreuge tto beoreutcheoreom

Yeogi wanneunji molla

Tanpa ku sadari, Ku terus disini

Menunggu engkau datang

 3

Menelusuri jalanan tanpa arah dan menatap orang lain berlalu lalang dengan senyum cerah mereka, benakku sedikit tersirat ‘Dapatkah aku tersenyum secerah itu lagi. Sama sedia kala dimana ada dirimu yang selalu memberikan senyuman yang cerah untukku.

 4

Perjalanan tanpa arahku akan berujung pada pusat pantai, suara desiran ombak dan semilir angin sejuk membuat hati ini merasa tenang.  Perlahan ku terduduk menikmati desiran ombak dan pemandangan indah yang membuatku terbiasa berada di tempat ini.

Ku tatap sebuah novel berwana merah cukup mencermati judul yang terdapat pada novel ini, secara perlahan ku membaca tiap bait kata yang terdapat pada novel ini. Desiran ombak bagai alunan music mengiri bait kata yang ku baca.

“Youngjae-ah” tiba-tiba suara lembut dan bayangan wajahmu seolah muncul begitu saja pada benakku, membaca tiap bait kata yang terdapat pada novel ini membuatku teringat akan dirimu.

Kisah pada novel ini kenapa begitu mirip dengan kisahku saat ini, bayangan wajahmu semakin terekam jelas pada otakku. ‘Kau tahu, aku benar-benar merindukanmu’ sedikit gumaman dari bibirku dan ku taruh novel tersebut tepat menutupi wajahku.

Berharap akan semua kenangan tentangmu hilang, melupakan hal yang tersulit untuk dilakukan. Namun tanpa sadarpun aku disini masih menunggumu.

 

—Coffee Shop—

>JongUp Part<

 

Monday, thrusday, everyday

Geureokjeoreok nan jaljinae

Monday, thrusday, everyday

Berhari t’lah kulalui

Summer, winter, spring, and fall

Sigganeun palli ganeunde

Summer, winter, spring, and fall

Waktu kan berjalan cepat

Summer, winter, spring, and fall

Modeunge byeonhae ganeunde

Summer, winter , spring and fall

Semua pasti kan berlalu

 18

Aku berjalan melewati jalanan kota ini sambil mengingat dirimu, membayangkan tentang waktu-waktu yang telah kita lalui bersama dulu.

Monday, thrusday, everyday. Tanpa terasa berhari-hari t’lah berlalu. Sampai saat ini aku baik-baik saja, aku menjalani hari ku dengan baik meski tanpa kehadiranmu.

Langkahku terasa pelan, kuakui aku memang menjadi lemah jika sedang memikirkan dirimu. Jalanan kota yang dipenuhi dengan aktifitas orang-orang ini, terasa sepi ku lalui saat kau ada dalam pikiranku.

19

Berjalan tanpa tau arah yang ku tuju. Aku menoleh…. saat merasakan suaramu memanggilku, tapi saat ku tengokkan kepalaku, kau tidak ada di sana. Hampa terasa… membuatku kembali berpikir, benarkah selama ini aku baik-baik saja?.

20

Masih melanjutkan perjalananku, setiap langkah yang ku ambil selalu terasa dirimu bersamaku. Dan suaramu itu entah kenapa selalu mengikutiku, bahkan berkali-kali aku menoleh… tapi kau tidak ada di sana, ya… memang kau tidak ada di sana. Ini hanya imajinasiku, menyadari apa yang terjadi padaku ini, ekspresiku mengeras! Sosokmu membuatku berhalusinasi….

Summer, winter, spring, and fall. Empat musim itu pun telah ku lalui. Tanpa terasa berjalan begitu cepat, aku bahkan tidak menyadari ke empat musim itu telah berlalu. Aku bersyukur akan itu, setidaknya sampai pada tahap ini aku berhasil membuktikan hidupku masih bisa berjalan tanpamu.

21

Summer, winter, spring, and fall…. ke empat musim itu pasti akan secara bergantian datang, berlalu dengan sendirinya, aku berdiri di sebuah jendela besar, memandangi ke arah luar dengan pikiran yang terfokus tentangmu….

Summer…. mengingatkanku tentang senyum ceriamu….

Winter…. mengingatkanku akan kehangatan tubuhmu, tentang bagaimana kau selalu membagi kehangatan padaku saat musim ini datang, dan salah satu yang tidak bisa ku lupakan adalah, ketika tanganmu itu menggenggam tanganku dengan penuh kasih sayang. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhmu dari kulit kita yang bersentuhan itu.

Spring….. adalah tentang dirimu yang begitu menawan, tidak peduli berapa kali aku melihatmu, kau selalu bisa membuat aku terpesona ketika melihat kecantikkanmu. Ya…. gadisku memang cantik, sama seperti bagaimana bunga-bunga itu bermekaran di musim ini.

Fall…. satu sisi dari dirimu yang lemah. Kembali mengingatkanku tentang perpisahan kita. saat kau mengucapkan kata perpisahan itu, itu adalah saat di mana bunga-bunga di hatiku berguguran. Dan kau lah yang membuatnya layu. kau yang membuatnya tumbuh dan berkembang tapi kau juga yang akhirnya menghancurkannya.

Aku tidak tau sampai kapan bayangmu akan terus ada dalam benakku. Tidak! Bahkan ku rasa kau memang tidak akan pernah musnah dalam pikiranku. Tapi sejauh ini…… kata yang selalu ku lontarkan dari bibirku adalah “tidak apa-apa”.

Ya….. tidak apa-apa, karena bayangmu di diriku pun hanya akan menjadi bagian dari kisah manis hidupku.

 

—Coffee Shop—

 

>HimChan Part<

 

Chingudo manhi mannago

Yojeumeun utneunildo mahajyeosseo

Bersama dengan banyak teman

Kini banyak hal yang buatku tertawa

Wae naneun jejarieseo

Neol gidarineunji

Namun ku t’rus di sini

Untuk menantimu

Bameuneun jamdo jal jago

Seulpeun yonghwado nunmureobsi jal bwa

Pada malam hari ini

Ku tidur lelap tanpa air mata

Wae naneun jejarieseo

Neol gidarineunji

Mengapa ku disini?

Menanti dirimu

 22

Di gedung ini…. dulu kau sering mengajakku… di depan sebuah jendela besar, kau selalu berdiri di sana, memandangi pemandangan luar dengan wajah yang berseri, sementara itu aku hanya berdiri bersandar di hadapanmu, melihat segala ekspresi yang kau tunjukan merupakan kesenangan tersendiri bagiku.

Namun….. sekarang aku di sini, hanya sendirian… aku enggan menolehkan kepalaku ke samping, karena aku tau jika aku menoleh tidak ada kau di sana. Aku hanya tertunduk, membiarkan kesunyian melingkupi, dan saat airmata itu hendak menyeruak keluar, aku mendongakkan kepalaku melihat ke atas. terasa hampa….

23

Masih memikirkanmu… kini aku berada di tengah kota, aku duduk di sebuah bilah panjang yang ada diantara trotoar itu. Sejenak aku tersenyum…. melihat dengan intens pemandangan di hadapanku, di mana orang-orang tertawa saat bercanda gurau dengan teman-temannya. Sama sepertiku….. meskipun kau sudah tidak bersamaku, aku masih bisa bersyukur karena setidaknya aku masih mempunyai banyak teman yang dapat membuatku tertawa. “Kau lihat? Banyak hal yang membuatku tertawa, seperti sekarang ini”. aku mengatakannya sambil menoleh ke samping, berandai jika kau memang ada di sana dan mendengar ucapanku.

24

Kali ini kubiarkan kaki ku melangkah…. tanpa sadar langkah ini membawaku pada taman kota, di mana ada sebuah kolam air mancur di tengah-tengah sana. Aku melihat jam dinding di tempat itu… pukul 12:30. Aku berpikir waktu terasa berjalan begitu cepat….

Aku duduk pada pagar di pinggiran kolam itu, lagi mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ada begitu banyak orang di tempat ini,dan mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

Ini bukan pertama kalinya tanpa sadar aku berada di taman ini, bahkan sudah puluhan kali. Aku tidak tau apa yang membuat langkahku selalu terhenti di tempat ini. apakah aku menunggumu??? Karena memang tempat ini adalah salah satu tempat kenangan kita.

Aku mencoba untuk tidak terlarut dalam segala pikiranku tentangmu, lagi ku langkahkan kakiku…….

25

Kali ini, kaki ini membawaku ke sebuah sungai di tengah kota, sungai yang di atasnya di bentangi oleh jembatan panjang,

Dan…. yah….. tempat ini pun tempat kenangan kita. aku berjalan pelan menyusurinya…. angin yang bertiup sepoy sedikit membuat rambutku tersibak dan menjadi berantakan. Aku duduk di salah satu batu pembatas di sana…. setelahnya aku tercengang!

Hey! Apa yang ku lakukan sekarang? Duduk di sini? Apakah aku sedang menanti dirimu??

Sempat merasa bodoh dengan apa yang ku lakukan ini. oh yahhh, sepertinya aku memang hampir tidak waras karena sering memikirkanmu.

26

Bahkan lagi-lagi langkahku ini selalu terhenti di tempat yang membuat aku teringat padamu. Coffee Shop??? Aku mendesah kecil ketika menyadari langkahku kembali membawaku ke sini.

Malam-malam yang ku lalui tanpamu mungkin terasa biasa, karena pada kenyataannya aku masih bisa tertidur lelap, tapi jika itu adalah siang. Kenapa hati ini selalu gelisah? Setiap derap langkah yang ku ambil teringat akan dirimu. Aku memang tidak bisa menampik sampai sekarang pun aku belum bisa menghapus dirimu dalam ingatanku.

Kembali duduk di sini, kembali mengingatmu di sini, kembali terdiam, kembali menantimu……

Mengapa aku harus menantimu???

—Coffee Shop—

>Yongguk Part<

 

Yeah oh…

Challanggeorineun ni meoritgyeol

Sae hayan T-shirt and sneakers

Yeah oh…

Gemulai rambut halusmu..

Putih T-Shirt and sneakers

 5

Di keramaian kota yang penuh hiruk pikuk cengkrama, ku sandarkan tubuhku pada sebuah tiang keramaian kota Washington. Ku tatap sendu pada langit yang kian meredup cahayanya, kenapa?

Kata itu terlintas begitu saja dalam benakku, kenapa keadaan dengan hiruk pikuk keramaian kota aku merasa sepi. Sepi karena kau sudah tidak lagi di sampingku.

Bang Yongguk-ah

Suara itu aku benar – benar mengingatknya, ku toleh mencari sumber suara sayangnya ketika ku sadari semua itu hanyalah halusinasiku saja. Dikeramaian kita ini entah kenapa tiba-tiba bayangmu seolah hadir kembali dalam benak.

T-shirt dan snaker yang kau gunakan, aku teringat akan hal tersebut. Dimana kau mengenakannya ketika sebuah kencan pertama terjadi, rambut panjang yang tergerai lembut tertiup angin dengan indahnya, bahkan senyuman tidak luput dari bibir mungilmu.

Bayangan wajahmu terbesit begitu saja dalam benakku dan di tengah keramaian kota ini aku menunggumu. Mungkin hal itu tidak akan terjadi lagi, karena sekarang kau tidak lagi di sampingku.

~~~~~

 6

Semilir angin lembut berhembus menerpa tiap inci wajahku, udara segar di pantai yang tengah ku tapaki ini menambah keindahannya tersendiri. Menatap pemandangan dan desiran ombak bagai melodi bersenandung dengan merdunya.

Tempat ini adalah tempat ketenangan dimana apabila ku teringat akan tentangmu, keindahannnya memberikan ketenangan tersendiri tiap kali mengunjunginya. Meski batin ini masih merasa terusik akan bayangan wajahmu yang kian tak pamrih menghampiri.

Tapi kusadari bayangan akan tentangmu sebuah ilusi yang membuat daya fungsi otakku tak menentu, bahkan ketika algoritma kenyataan membutuhkan rumus pencerahan untuk menembus suatu titik jawaban yang tepat dengan keadaanku saat ini.

~~~~

Saechimhan georeumgori

Kkumsoggeseo neol bojiman ijen seolleji anha, girl

Jjihan keopihyangi sarajideusi

Neol huimihaejyeotji mudeomdeomhaejin keugi

Ku lihat dirimu dalam mimpi

namun tak bisa buat hatiku berdegup lag.

Sama seperti Coffee yang beraroma kuat

Perlahan pudar, sama sepertimu yang menjadi acuh

 7

Seharian sudah ku berjalan tanpa arah, namun tiba-tiba langkahku terhenti tepat di sebuah taman. Taman yang begitu banyak kenangannya, ku tatap sebuah piano yang berada tepat di tengah taman ini.

Namun tidak dapat ku pungkiri berkali – kali ku helakan napas beratku, mengingat tempat ini sering kita kuncungi bersama. Perlahan ku pegang piano tersebut “Yongguk-ah, aku akan memainkan piano untukmu.”

Kembali bayangan masalalu terkenang, entah gerakan apa ku duduki piano tersebut di atas nut – nut piano ini. Namun kusadar semua itu hanya masalalu yang tidak bisa ku genggam kembali.

Perlu ku akui kau memang selalu hadir dalam mimpiku, dimana kau tengah tersenyum cerah padaku. Tapi saat ini entah kenapa kedatanganmu dalam mimpiku tidak lagi membuatku berdegup seperti dulu, rasaku seolah berbeda hambar terasa menyelimuti diriku.

Sama seperti hari ini aku tengah berhalusinasi akan dirimu, mengenakan pakaian sama seperti hari itu dimana kau dan aku memainkan piano ini bersama – sama, hingga kau memainkan sebuah lagu dengan piano ini untukku. Namun aku tidak merasakan getaran lagi dimana setiap kali terbayang wajahmu hatiku akan tergetar, saat ini hanya mengingatmu merasa rindu tapi hatiku tidak menggebu – gebu.

Sama seperti aroma kuat sebuah Coffee yang perlahan-lahan akan menghilang, begirulah dirimu.. Perlahan namun pasti hati ini seolah sudah rela menerima kenyataan kalau kau sudah pergi dan tidak di sampingku lagi.

~~~~~

 

Ameoreochi anke georeoon i coffee shop

Iksukhae ni momeseo nadeon i kyaramel hyang right

Ku baik saja, berjalan ke Coffee shop

Ku terbiasa, menghirup aroma caramel tubuhmu

 8

Kembali ku melanjutkan langkahku, sambil memasang earphone di telingaku. Seharian sudah ku berjalan berkeliling kota, menikmati cerahnya perkotaan Washington dengan awan biru menyelimuti langit yang indah.

‘aku baik-baik saja’

Mungkin kata itu yang terlontar dari benakku saat ini, karena entah kenapa perasaan tenang menyelimuti diriku. Bahkan tanpa kusadari kali ini langkahku terhenti tepat di depan sebuah Coffee Shop, tempat dimana aku dan kau sering mengunjunginya.

Tanpa terasa sebelah bibirku tertarik begitu saja merasakan perasaan tenang pada diriku, bahkan aku seolah tidak perduli dengan tempat yang sering kita singgahi ini. Aku pun melanjutkan langkahku meninggalkan kedai kopi ini.

Di temani dengan sebuah lagu dengan senandung merdu aku terus melangkah, bahkan kali ini langkahku terhenti di sebuah pantai merasakan kembali angin lembut yang berhembus pelan menerpa tiap inci wajahku.

Aroma laut yang khas membuatku terhipnotis akan kedamaian terdapat pada tempat ini, tapi kurasakan ada aroma lain yang masih mengusikku. Aroma ini adalah aroma tubuhmu, aroma yang masi dengan jelas ku ingat dan hingga saat ini terus tercium ketika aku mengingat dirimu.

Ini aroma caramel dari tubuhmu, aroma yang biasa ku cium dan khas di indera penciumanku. Ku kembangkan sebuah senyuman simpul dari bibirku, menyadari kalau diriku belum sepenuhnya merelakanmu.. Namun aku terbiasa dengan hal ini…

 

—Coffee Shop—

 

>Zelo Part<

 

Neoege oneul haruneun eottaenneunji mutgo sipeo aju gakkeum

Ijen neukkihan paseutado nan jal meongneunde

How about u? Ajikdo pikeureun mot meongneunji chacheum

Terkadangku ingin menanyakanmu tentang kabar hari ini?

Bagamanakah keadaan dirimu?

How about you?  ku terbiasa bila harus hidup tanpamu

 9

Termenung tepat didekat jendela, itu yang tengah ku lakukan. Mengingat akan masalalu yang membuat perasaan gamang kembali muncul.

Teringat masalalu ketika dulu kita bersama apa kau disana masih mengingatnya ?

Flashback-

 10

Bersandar tepat pada tembok trotoar perkotaan California, mataku memandang kepenjuru arah harap – harap cemas akan kehadiranmu. Banyak orang yang berlalu lalang melewati trotoar ini, namun aku disini menunggu seorang yeoja yang menjadi cinta pertamaku.

Perlahan ku masukan kedua tanganku kedalam saku, mata ini tidak lepas untuk memastikan kehadiranmu yang tiba-tiba. Namun sedari tadi kau pun tak kunjung datang “Neo oddiesseo?” gumaman kecil keluar begitu saja dari mulutku.

Tidak puas aku sedikit berjalan ke pinggir trotoar, mataku berpusat pada arah depanku berharapp kau akan segera datang. “Kau tahu hati ini terasa cemas bila belum melihatmu.” Ku helakan napas beratku dan tetap bersandar menunggu kedatanganmu.

~~~~~~

 11

“Aku pergi sebentar eomma” cukup berteriak ku berucap ketika baru keluar dari rumah. Berjalan santai ku lewati pekarang rumah, namun mataku kali ini berpusat pada ponsel yang ku pegang.

Tanpa ragu ku tekan tombol 1 dan “Yeobboseyo?” aku tersenyum simpul mendengar suara ini, suara yang selalu kurindukan dan selalu ingin kudengar.

“Bagaimana keadaanmu?” selalu ku lontarkan pertanyaan itu setiap kali aku menelponnya.

“Huh. Apa kau menelpon hanya untuk menanyakan kabar? Tentu saja aku baik-baik saja.”

Aku tertawa renyah mendengarnya, sambil memainkan skateboard yang selalu ku bawa sedikit bayanganmu terekam dalam benakku “Apa kau sudah makan?”

“Belum” sedikit kecewa dengan jawaban yang ia berikan, namun aku masih mampu tersenyum mendengar suara indahnya.

“Baiklah, bisa bertemu di Coffee Shop?” tempat favorite yang selalu kami tuju, berkumpul bersama serta tak luput dari senda gurau yang ada.

“Ne, Junhong-ah.” Aku tersenyum cerah mendapati jawabanmu, jawaban yang sesuai keinginanku. Entahlah aku selalu senang apabila ingin bertemu denganmu, bahkan setiap kali ku menelponmu sekedar ingin mendengar suaramu dan kabarmu.

~~~~~~

-end flashback

 

Sebuah kenyataan yang ada, semua itu hanyalah masalalu. Masalalu yang sulit kulupakan, namun harus ku terima. Terkadang terselip dalam benakku ingin menanyakan kabarmu hari ini?

Mungkin dulu dapat dengan mudah aku bertanya seperti itu padamu, namun sekarang semua kisah hanya sebuah kenangan. Bagai hamaparan pasir laut yang kian lama terbawa oleh ombak kesamudranya.

Tidak ku pungkiri dalam benakku ingin mengetahui kabar tentangmu ? Bagaimana keadaaan dirimu?  Segelincir pertanyaan itulah yang ingin sekali ku lontarkan padamu, hanya sekedar mengetahui keadaan mu saat ini.

Seiringnya waktu yang bergulir dengan cepat bak troli yang berputar, bagaimanapun kusadari masalalu hanyalah kenangan. Meski sulit di lupakan tapi kini ku terbiasa bila hidup tanpa mu, menerima kenyataan sebuah kata yang sederhana namun memiliki banyak makna yang terkandung di dalamnya.

“Bagaiamana keadaanmu saat ini? Sejujurnya aku disini baik – baik saja membiasakan diri tanpamu ….” Masih menatap sudut jendela kata tersebut keluar begitu saja dari mulutku.

~~~~~~

iksukhaejineun neo eomneun sarmdo kkwae gwaenchana ni aosigedo useumi nadjo

haessal gaduekhan changgae gidae ieoponeul kkyeo nan oneuldo

Saat ku dengar tentangmu, kini ku dapat tertawa dan ku tersenyum oh

bersandar di jendela dan pasang earphoneku

 12

Beberapa saat sempat aku mendengar kabar akan tentangmu, dimana kau berkata ‘Aku baik-baik saja’ . sungguh seulas senyuman mengembang begitu saja dari bibirku. Setidaknya kau berkata baik – baik saja dan ku rasa itu sudah cukup bagiku.

Mendengar kabar kamu sekarang aku bisa tersenyum, ikut bahagia jika kau juga bahagia. Perasaan tenang menyeruak pada diriku ketika mendengar kabarmu, meski tidak akan ku derngar lagi suaramu. Namun ku berharap kau baik – baik saja dan bahagia.

Kembali kusandarkan tubuhku pada Jendela, seulas senyuman makin mengembang begitu saja. Dengan tenang ku pasang earphoneku lagi pada hari ini mendengar senandung merdu music jazz.

~~~~~~

 13

Di temani dengan Skateboard kesayanganku, aku berjalan santai menyusuri perkotaan California.

Tenang~

Mungkin kata itu yang sekarang tengah kurasakan, berkali – kali ku kembangkan senyuman dari bibirku menikmati perkotaan ini. Kini aku benar – benar sudah terbiasa tanpamu, ,menjalani kehidupan tanpa beban.

“Langit yang cerah” gumamku kian menikmati perkotaan ini dan senyuman tetap mengambang dari bibirku.

—Coffee Shop—

 

FIN

 

 poster coffee shop ff

One thought on “[Songfic] Coffee Shop

  1. Wah AuThor-nim ini Sangat kereeeeeen.. >_<
    Q g' bisa b'kata pha2 lgi. .🙂
    trLalu senang..
    Bwt ugHa SoNgFic dgan laGu lain yA..
    Hwaiting AuThor-nim!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s