We Know Each Other,Right ?

541650_281849878617864_427379956_n

 

Author :: Isthiluphsmile

Tittle :: We Know Each Other,Right ?

Length :: Oneshoot

Genre :: AU, Romance, School

Rating :: T

A/N :: mohon maaf sebelumnya aku dateng bukan bawa fanfic aku, tapi aku bawa fanfic buatan eonni aku. Fanfic Isthi eonni, aku udah baca lohhhh. Jangan sungkan untuk membacanya ya..

 

Cast ::

Lee Jieun (IU)

Kim Sihyoung (History)

 

 

Jieun’s POV

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah tapi aku sudah membuat kesalahan yang bodoh, aku tertidur di dalam bis dalam perjalanan menuju sekolah. “Babo, Lee Jieun.”

Aku berlari sekuatku menuju sekolah meski aku tahu aku sudah terlambat. Kalau kau terlambat mana yang akan kalian lakukan? Berjalan dengan pelan karena berlari tidak akan mengubah kenyataan kau sudah terlambat. Atau kau akan tetap berlari? Setidaknya kau menunjukkan rasa bersalah karena terlambat.

Aku tiba di gerbang sekolah dan … gerbang sudah ditutup. Aku berusaha merengek tapi petugas tetap tidak mau membukakan gerbang. Bagaimana bisa beliau kejam pada siswa baru sepertiku? Aku melangkah lesu meninggalkan sekolah lalu melihat seorang anak laki – laki yang memakai seragam yang sama sedang berusaha melompati dinding sekolah.

“Jeogiyo?”

Dia berhenti ketika akan melompat dan membalikkan badannya, melihatku dengan tatapan bingungnya.

“Kau memanggilku? ”

*Laki – laki itu. Apa itu dia?*

Dia mengamatiku dari kepala sampai kaki.

“Apa kau murid baru?”

“Ne?”

“Bagaimana bisa seorang murid baru terlambat di hari pertamanya?”

“Ne?”

Dia melompat lagi ke sisi luar dinding sekolah.

“Kau bisa memanjat kan?”

“Ne?”

“Kau bodoh atau apa? Berhenti mengatakan “Ne”?”

“Ne? Uh, joeseonghaeyo.”

Lagi, dia melihatku dari kepala sampai kaki kemudian berjongkok di hadapanku.

“Kau cepat naik ke punggungku dan panjat dinding ini!”

“Ne?”

“Ya, berhenti mengatakan “Ne”. Cepatlah! Kita tidak akan ketahuan karena mereka sedang mengadakan upacara penerimaan siswa baru. Cepatlah!”

Aku bingung dengan apa yang laki – laki ini katakan tapi aku tetap melakukan apa yang dia minta, naik ke pundaknya dan melompati dinding sekolah. Beberapa detik kemudia dia menyusulku.

“Apa kau yakin ini sudah saatnya kau masuk SMA? Kau terlalu pendek dan kurus untuk anak seumuranmu.”

“Ne?”

“Ah, lupakan. Aku harus ke kelasku. Pergi lewat jalan itu. Upacara penerimaan siswa baru diadakan di sana. Jika kau berhati – hati, kau tidak akan ketahuan.”

Lalu dia berlari meninggalkanku. Aku tetap memandang punggungnya sampai akhirnya menghilang. “Apa itu dia?”

Sihyoung’s POV

“Apa yang sedang kau pikirkan, Sihyoung?” tanya Jaeho.

“Eung? Hari ini aku bertemu seorang gadis.”

“Seorang gadis? Apa dia cantik? Kau bertemu di mana? Siapa namanya?”

“Bisakah kau bertanya satu per satu saudara “kecil”ku?”

“Ya, berhenti menghina tinggi badanku!”

“Sireo. Aku menyukainya …” Aku menjulurkan lidahku ke. “Aku membantu gadis itu melompati dinding sekolah.”

“Kau apa?”

“Aku membantunya melompati dinding sekolah.”

“Lalu apa yang begitu istimewa soal gadis itu hingga kau memikirkannya seperti itu? Dia pasti cantik, iya kan?”

“Ehm, yeah, dia cantik. Tapi bukan itu yang membuatku memikirkannya.”

“Lalu?”

“Aku sepertinya pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.”

“Mungkin dia adik kelas kita waktu SMP.”

“Mungkin.”

Jieun’s POV

“Jiyeon, aku rasa aku bertemu dengannya.”

“Siapa?”

“Laki – laki yang menolongku malam itu.”

“Oppa itu?”

Aku menganggukkan kepalaku perlahan.

“Akhirnya, Jieun. Penantianmu berakhir, kau bisa bertemu dengannya. Siapa namanya?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Molla.”

“Heh? Kau akhirnya sukses bertemu dengannya tapi tidak bertanya siapa namanya?”

“Aku tidak yakin kalau itu benar dia”

“Eung?”

“Dia tidak mengenalku.”

“Eung. Kalian hanya bertemu satu kali, jadi wajar kalau dia melupakanmu. Kau yang harus membantunya untuk mengingatmu.”

“Untuk apa, Jiyeon?”

“Untuk apa? Kau sudah mencarinya selama hampir 1 tahun ini, Kau seringkali datang ke tempat terakhir kali kalian bertemu, berharap bisa bertemu dengannya. Meskipun aku merasa kau gila karena melakukannya tapi tetap saja itu sangat romantis. Itu cinta pada pandangan pertama, Jieun.”

“Cinta pada pandangan pertama? Kau tahu aku tidak percaya pada hal seperti itu. Dan ini bukan cinta, Jiyeon. Aku hanya … Aku tidak tahu. Perasaan ini berbeda dari yang pernah aku rasakan pada Kyungil oppa.”

“Ya, kenapa kau menyebut namanya lagi? Aku kan sudah bilang …”

“Ayo kembali ke kelas! Pelajaran segera dimulai.”

Aku meninggalkan Jiyeon dan tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Kyungil oppa, apa kabarmu sekarang?”

Sihyoung’s POV

“Jeogiyo?”

Aku dan Jaeho berhenti berjalan dan membalikkan badan ketika mendengar sebuah suara. Aku melihat gadis yang aku pernah aku bantu.

“Ne? Apa kau memanggil kami?” tanya Jaeho.

Gadis itu tersenyum dan membungkukkan badannya.

“Annyeonghaseyo, sunbaenim. Sunbaenim mengingatku?”

“Siapa dia?” tanya Jaeho.

“Dia … gadis yang aku tolong minggu lalu.”

“Annyeonghaseyo. Ada apa?” Aku balas menyapanya.

“Ah … Aku … ”

“Oppa!” Tiba – tiba aku merasakan tangan melingkar di dadaku.

“Dasom?”

“Kau tahu aku bersekolah di sini tapi kenapa kau seolah tidak peduli, tidak ambil pusing untuk menemuiku, oppa. Kejam!”

“Mianhae, aku hanya …”

“Siapa dia oppa?” Dasom menunjuk pada gadis kecil yang sekarang sedang menatap kami dengan lekat.

“Dia… Aku juga tidak tahu siapa dia. Aku hanya pernah membantunya minggu lalu.”

“Jeo meollayo, sunbaenim?”

“Nal arayo?”

Dia menatapku lama sebelum akhirnya tersenyum. Senyuman itu, entah di mana, aku merasa pernah melihatnya.

“Aniyo. Uri alji anayo. Aku … Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuan yang sunbaenim berikan. Maaf tidak langsung mengatakannya saat itu. Sekali lagi, terima kasih sunbaenim.”

Gadis kecil itu membungkukkan badannya lagi sebelum akhirnya melangkah meninggalkan kami. *Gadis itu, siapa sebenarnya dia?*

Jieun’s POV

“Dia benar – benar tidak mengenalku.”

“Siapa?”

“Oppa yang baik hati itu.”

“Kau bertemu dia lagi?”

“Eum, tadi.”

“Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, jika dia tidak mengingatmu, kau yang membuatnya mengingatmu. Kau …”

“Tidak perlu.”

“Eo?”

“Itu tidak penting sekarang.”

“Apanya yang tidak penting?”

“Jika dia tidak mengingatku, aku pikir dia merasa pertemuan kami malam itu bukanlah hal yang penting. Mungkin akulah yang terlalu berlebihan.”

“Tapi …”

“Lagipula … dia sudah punya kekasih. Mari kita berhenti membicarakannya!”

Aku tahu aku tidak punya hak untuk merasa terluka ketika aku melihat gadis cantik itu memeluk sunbae. Aku tidak punya hubungan apa – apa dengannya. Kami hanya bertemu malam itu dan dia melupakanku.

Sihyoung’s POV

“Kim Sihyoung, Sihyoungi! Ya!”

“Eo?”

“Apanya yang eo? Kau melamun lagi hari ini.”

“Eo?”

“Apa kau ada masalah? Kau bisa mengatakannya padaku.”

“Padaku juga.” Dasom ikut menyahut.

“Tidak ada apa – apa.”

“Oppa, apa kau tidak percaya padaku dan Jaeho oppa?”

“Bukannya begitu, geunyang…”

“Kalau begitu berhentilah melamun. Kau melamun sepanjang hari, oppa. Hari adalah hari ulang tahunmu. Kau seharusnya gembira. Benar begitu, Jaeho oppa?”

“Eung. Matji. Kita akan merayakan hari ulang tahunmu setelah pulang sekolah. Bibi bilang beliau akan menyiapkan makan malam untuk kita. Memikirkan masakan bibi, membuat perutku lapar.”

“Kalian pulanglah duluan!”

“Eh?”

“Ada hal yang ingin kulakukan sebelum pulang ke rumah.”

“Oppa!”

“Jangan khawatir, aku akan tetap pulang untuk makan malam. Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.”

Jieun’s POV

Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang musik. Dari kejauhan aku bisa mendengar suara piano. “Siapa yang ada di ruang musik di jam seperti ini?”

Aku mempercepat langkahku dan melihat pemandangan yang sangat indah. Kalian mungkin berpikir aku gila, bagaimana melihat punggung seseorang dikatakan sebagai pemandangan yang indah. Mungkin aku memang gila. Aku senang bisa melihatnya lagi setelah dua bulan. Aku menghindarinya. Tentu saja. Aku berharap bisa menghilangkan perasaan “tidak masuk akal” yang aku rasakan untuknya. Tapi gagal. Sekarang, melihatnya di depanku, aku tahu perasaan itu masih ada. Perasaan itu masih sama. Peraasaan yang tidak aku mengerti tapi membuatku bahagia. Mungkin Jiyeon benar, ini cinta.

Dia bermain piano dengan sangat baik. Aku menikmatinya. Ini sangat indah. Kehadirannya di duniaku sudah merupakan hal yang indah. Tapi kemudian dia berhenti bermain, dan membalikkan badannya untuk menatapku. Aku langsung membeku di tempat.

“Jeogi? Nuguya?”

Dia berjalan ke arah pintu, ke arahku. “Omo, eotteoke? eotteokaji?” Aku melompat di tempat karena panik, sebelum akhirnya mendapat kontrol atas tubuhku dan memutuskan untuk berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan ruang musik.

Sihyoung’s POV

Aku sedang bermain piano ketika aku merasa seseorang sedang mengamatiku dari luar pintu dan bingo, aku memang memang melihat seseorang tapi tidak bisa melihat wajahnya karena lampu di luar yang tidak begitu terang.

“Jeogi? Nuguya?” Tidak ada jawaban dari luar jadi aku berjalan menghampiri siapapun yang sedang berdiri di luar pintu. Segera setelah aku membuka pintu, aku tidak melihat siapapun tapi aku bisa mendengar suara orang berlari di koridor. Aku memutuskan untuk berlari mengikuti asal suara dan bisa melihat seorang gadis sedang berlari di depanku. Aku mempercepat lariku dan dia juga melakukan hal yang sama. “Jeogiyo”. Mataku melebar ketika aku melihat gadis itu jatuh, ah, aku harus bilang gadis itu terbang sebelum akhirnya mendarat di atas lantai.

GUBRAK

“Aaargh, apo!”

Aku berjalan mendekatinya dan dengan jelas bisa mendengarnya menangis. Dia memeluk kakinya yang berdarah. DEG. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya.

“Gwaenchana?”

Gadis itu mengangkat kepalanya dan aku bisa melihat wajahnya.

“Neo?” Aku berjongkok di depannya dan bisa melihat air mata mengalir di pipinya.

“Apha” ~terisak~

“Neo, apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah terlalu malam.”

~terisak~ “Aku juga tidak tahu.”

“Naiklah!”

“Ne?”

“Aku akan menggendongmu.”

“Ne? Tidak perlu sunbaenim. Aku baik – baik saja.”

Gadis itu berusaha berdiri tapi terjatuh lagi. Aku pikir kakinya terkilir.

“Aaargh.”

“Cepat naik!”

“Ne. Joesonghaeyo, sunbaenim. ”

Jieun’s POV

Aku merasakannya lagi. Kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu. Tepat 1 tahun aku bertemu dengannya, dengan cara yang sama. Apa ini takdir?

“Ini terlalu malam bagimu untuk berada di sekolah. Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Aku sungguh tidak tahu.”

“Apa maksudmu tidak tahu?”

“Aku hanya ingin ke ruang musik. Aku tidak tahu untuk apa.”

“Lalu kenapa kau berlari ketika melihatku? Apa aku terlihat seperti laki – laki jahat yang akan melakukan sesuatu yang buruk padamu hingga kau harus berlari menghindariku?”

“Geuge Anira. Geunyang.”

“Sudahlah, lupakan saja. Aku akan mengantarmu ke rumah.”

“Tidak perlu, sunbaenim. Antar saja sampai halte. Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku yang membuatmu seperti ini. Kau melihatku lalu berlari dan terjatuh. Jadi ini salahku. Lagipula, kau tidak berat sama sekali.”

“Tapi sungguh, ini bukan kesalahan sunbaenim.”

“Apa kau pikir aku akan tega meninggalkan seorang gadis yang terluka, menunggu sendirian di halte bis?”

*Tentu saja tidak, sunbaenim. Kau laki – laki yang baik. Kau adalah orang asing terbaik yang pernah aku temui. Tepat satu tahun yang lalu, kau melakukan hal yang sama, menolongku meskipun kau tidak mengingatku.*

Sihyoung’s POV

Kami duduku di halte bis yang terletak di dekat sekolah. Aku lega, setidaknya gadis kecil ini sudah tidak menangis lagi. Tunggu dulu, kenapa aku tidak bertanya siapa namanya.

“Gadis kecil?”

“Ne?”

“Siapa namamu?”

“Ne? Jieun, sunbaenim. Lee Jieun.”

“Lee Jieun? Nama yang bagus, aku menyukainya.”

“Eh? Gamsahaeyo, sunbaenim.”

“Kau tidak ingin tahu siapa namaku?”

“Ne?” Jieun menganggukkan kepalanya.

“Aigo, lucunya dirimu.”

Dia memegang dua pipinya. Aku bisa melihat pipinya memerah dan aku suka apa yang aku lihat sekarang.

“Kim Sihyoung.”

“Kim Sihyoung?” Aku melihatnya tersenyum lebar.

“Kenapa? Namaku aneh?”

“Tidak, geuge anigoyo. Aku senang akhirnya tahu namamu.”

Sekarang dia menutup mulut dengan kedua tangannya, sepertinya dia tidak bermaksud mengatakannya. Lagi, aku suka apa yang aku lihat.

“Aku juga senang akhirnya tahu namamu, Jieuni.”

Jieun’s POV

Sunbaenim sibuk dengan ponselnya sejak kami duduk di halte bis.

“Yeojachingumu?”

“Eh? Yeojachingu?”

“Itu” Aku menunjuk pada ponselnya.

“Ah, dari dasom. Sepupuku. Kau mengenalnya kan? Dia juga di kelas 1.” “Dasom?”

“Eung.”

“Dia bukan yeojachingumu?”

“Dasom? Hahahaha, ani. Aku tidak punya yeojachingu.”

“Jinjja? Jeongmalyo?”

Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Aku merasa bodoh menghindari Sihyoung sunbaenim selama dua bulan ini karena merasa cemburu pada sepupunya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

Aku menggelengkan kepalaku berkali – kali.

“Apa kau senang karena dia bukan yeojachinguku?”

“Eh?”

“Hahaha, aku hanya bercanda. Apa kau punya namjachingu, Jieuni?”

“Ne? Eobseoyo.”

“Berita bagus.”

“Ne?”

“Tidak apa – apa.”

Sihyoung’s POV

“Sunbaenim, aku bisa berjalan sendiri. Aku sudah baikan, sungguh.”

“Sireo. Aku suka menggendongmu.”

Aku tidak mendengar respon darinya.

“Jieuni?”

“Ne?”

“Gwaenchana?”

“Ne sunbaenim.”

Lagi, dia diam. Aku tidak tahu apa yang salah dengannya. Dia sangat cerewet ketika kami di bis tadi.

“Jieuni?”

“Ne?”

“Kau tahu hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Ne? Jeongmalyo? Kenapa tidak mengatakan itu sebelumnya, Sihyoung sunbaenim.”

“Hehe, mianhae. Aku pikir itu tidak penting untukmu.”

“Lalu kenapa sekarang kau mengatakannya padaku?”

“Eh?”

“Tentu saja penting. Saengil chukahaeyo, sunbaenim.”

“Bisakah kau menyanyikan lagu ulang tahun untukku?”

“Tentu saja.”

“Saengil chukahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun Sihyoung sunbae, saengil chukahamnida.”

Lagu ini, aku puluhan kali mendegarnya. Tapi mendengar Jieun menyanyikannya, aku merasa lagu ini istimewa. Aku merasa sangat bahagia. Kemudian aku berhenti berjalan ketika aku mengingat sesuatu. Aku … entah di mana, aku pernah mendengar suara ini.

“Sunbaenim, kenapa berhentu? Apa kau lelah? Kau bisa menurunkanku di sini. Aku bisa …”

“Jieuni?”

“Ne?”

“Uri … uri alji anayo?”

Flashback

 

Tahun lalu, 15 Mei

 

Sihyoung sedang berjalan tanpa arah ketika mendengar seorang gadis menangis sendirian di sebuah taman. Dia perlahan berjalan mendekatinya.

“Gwaenchana?”

Gadis itu mengangkat kepalanya, masih menangis.

“Ah, lututmu?”

~terisak~ “Aku terjatuh ketika berlari.”

“Kau sendirian?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Lalu kenapa kau masih di sini? Apa kau tidak tahu berbahaya bagi seorang gadis sendirian di luar di malam selarut ini?”

~terisak~ “Aku tidak bisa berjalan.”

“Eh?”

~terisak~ “Kakiku terkilir.”

“Naiklah!”

“Eung?”

“Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu.”

“Tapi”

“Naiklah!”

“Eung.”

Gadis itu naik ke punggung Sihyoung.

“Di mana rumahmu? Apa jauh dari sini?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Antar aku sampai halte bis di depan sana. Appa akan menjemputku di sana.”

“Baiklah.”

Mereka tidak bicara selama berjalan menuju halte bis.

 

“Oppa?”

Sihyoung tersenyum pada gadis yang duduk di sampingnya, dia senang dipanggil “Oppa”. Untuk alasan yang tidak dia ketahui, dia merasa nyaman dengan panggilan itu.

“Eo?”

“Jam berapa sekarang?”

Sihyoung melihat layar ponselnya.

“1 malam.”

“Bolehkah aku bernyanyi?”

“Eh?”

“Hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Benarkah?”

“Setiap tahun, di hari ulang tahunku, oppaku selalu menyanyikan lagu ulang tahun untukku tepat jam 12 malam. Tapi tahun ini, aku rasa dia tidak bisa melakukannya.”

Sihyoung melihat gadis di sebelahnya menangis tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Boleh aku bernyanyi?”

“Eung. Tentu saja.”

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun uri Euni, saengil chukhahamnida.”

Gadis itu mulai terisak. Sihyoung menariknya ke dalam pelukannya dan membiarkannya menangis sepuasnya.

“Saengil chukhahae, Euni.” Sihyoung mengatakannya setelah gadis itu berhenti menangis.

Dia menarik diri dari pelukan Sihyoung dan tersenyum lembut. “Gomawo, oppa. Meski aku tidak tahu siapa kau, meski kau tidak tahu siapa aku, aku senang bisa merayakan ulang tahunku denganmu.”

“Eung.Aku juga senang.”

Jieun’s POV

“Kau gadis kecil itu?” Pertanyaan yang sama dia tanyakan sejak tiga menit yang lalu kami sampai di rumahku.

“Kau gadis kecil itu kan?”

“Sampai kapan sunbaenim akan menanyakan pertanyaan yang sama?”

“Tunggu dulu! Kau mengingatku kan?”

Aku menganggukkan kepalaku.

“Ya, bagaimana bisa kau berpura – pura tidak mengenalku?”

“Karena … Aku pikir pertemuan kita malam itu tidak penting. Sunbae … sunbae bilang sunbae tidak mengenalku.”

“Eh? Geuge … Mianhae. Aku merasa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya aku hanya tidak tapi di mana. Kau tahu aku menghabiskan banyak waktu berpikir kalau kita pernah saling mengenal sebelumnya.”

“Mianhaeyo, sunbaenim …”

“Oppa! Panggil aku oppa seperti yang kau lakukan tahun lalu.”

“Eh? Tapi … ”

“Aku suka ketika kau memanggilku oppa.”

“Eh? Ne, op … oppa.”

“I neukkimi joa. Senang bertemu denganmu lagi, Euni!”

“Nado, oppa.”

“Aku senang bisa merayakan ulang tahunku bersamamu.”

“Nado, oppa.”

“Ini sudah larut. Cepat masuk! Kita bertemu lagi besok. Eung? ”

Aku menganggukkan kepalaku. Aku melangkahkan kakiku ke rumah tapi membalikkan badanku ketika aku mendengar Sihyoung oppa memanggilku.

“Jieun?”

“Ne?”

~Chu ~

Aku merasakan sesuatu yang lembut di pipi kiriku. Mataku membesar karena terkejut.

“Saengil chukhahae, Euni. Senang bisa merayakan hari ulang tahunmu lagi.”
“Eu … eung.”

“Bye!”

Aku masuk ke rumah dengan separuh jiwaku terbang. Aku memegang pipi kiriku dan tersenyum lebar.

For Jieun, today is a good day.

For Sihyoung, today is the beginning of his story with Jieun.

 

~ End ~

5 thoughts on “We Know Each Other,Right ?

  1. Waaah, sepertinya aku commentator pertama nih. Hehehe seru nih ceritanya, aku kira bakalan ada part jieun sm kyungil oppa, soalnya td sempet d sebut sih namanya hehehe. Daebak authornim🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s