[Songfic] Rose

 

rose copy

 

 

Author :: Kim Raemi

Tittle :: Rose

Length :: Songfic, Oneshoot

Rating :: T

Genre :: Romance, angst, fluff

A/N :: Ini hanya FIKTIF BELAKA , Just Fanfiction not REAL  okay!

 

Cast ::

Lee Jisoon / Ocs (YOU)

Kim Jongin (EXO-K)

Zelo/Choi Junhong/Lee Junhong (B.AP)

 

My love is like a red rose

It may be beautiful now

But my sharp thorns will hurt you

My love is like a red rose

Yes, I may be fragrant

But the closer you get, the more I’ll hurt you

 

Malam ini bumi di basahi dengan derasnya hujan dari permukaan langit, dentingan rintik hujan terdengar jelas di telinga seorang yeoja yang tengah menatapi seorang namja. Seorang namja yang berdiri tegap dengan guyuran hujan membasahinya, namja itu mengharapkan sebuah cinta dari yeoja ini.

“Jisoon Noona, apa kau tidak kasihan pada namja itu? Apa caranya ini tidak membuatmu luluh untuk menerima cintanya padamu?” ujar seorang namja menatap tidak percaya kakak perumpuannya ini. Tatapan datar yang terlontar dari yeoja ini, seolah tidak menghiraukan ucapan adik semata wayangnya itu “Jongin Hyung , beberapa jam berada di luar dan di guyur hujan. Apa kau tidak kasihan padanya ? hah” kembali adiknya melontarkan sebuah kata.

“Jisoon-ya, ucapan Junhong ada benarnya. Sepertinya kau sudah keterlaluan pada Jongin, lihat dia berdiri dan di guyur hujan seperti itu. Apa kau tidak ingin membuka pintu hatimu untuk namja itu sedikit saja? Aku rasa ia tulus menyukaimu” ujar yeoja paruh baya yang juga memperhatikan anaknya ini.

Yeoja yang di panggil Jisoon ini menatap keluarganya dan menghelakan nafas beratnya “Kumohon jangan ikut campur dalam urusan cintaku” tanpa berkata apa-apa lagi Jisoon meninggalkan ruangan tengah ini menuju kamarnya yang berada di atas.

“YA! Noona kalau kau terus menganggap semua namja sama seperti Kyuhyun seniormu itu, kau salah besar ! karena tidak semua namja sepicik yang kau pikirkan” ujar Junhong penuh penekanan, namun Jisoon tidak menghiraukannya.

Sedang keluarganya saling bertukar pandang satu sama lain, ayahnya yang tidak mengeluarkan satu katapun sedari tadi ia menatap keluar jendela menatap namja bernama Jongin yang masih berdiri tegap melawan hawa dingin di luar sana.

****

‘Aku mencintaimu Lee Jisoon, aku benar-benar mencintaimu dan aku tidak akan pergi sebelum kau menerima cintaku. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mencintamu’

Ucapan itu terngiang jelas di telinga Jisoon, kata-kata yang terlontar dari mulut namja yang selama ini mengejar-ngejar dan mengatakan cinta padanya. Namun selalu ia abaikan ucapan itu, seolah tidak mempercayai tiap kata yang terlontar dari mulut namja itu.

Di tatapnya sekuntum mawar merah yang terdapat di meja kamarnya ini “sudah ku katakan padamu Jongin cintaku bagai bunga mawar, cantik namun durinya akan membuatmu terluka” Jisoon meraih bunga mawar itu dan berjalan kearah jendela kamarnya.

Ia cukup miris menatap Jongin yang kehujanan di luar sana, ia tidak bermaksud jahat padanya hanya saja. Masalalu yang membuatnya menjadi sekuntum mawar yang tajam, menutup hatinya dengan  rapat tidak membiarkan satu namja manapun menceloskan hatinya ini.

Beberapa tahun yang lalu dimana Jisoon masi SMA ia menyukai seniornya sebut saja ‘Cho Kyuhyun’. 2 tahun ia menyukai namja itu dan banyak perlakuan yang di lakukan Jisoon untuk mendapatkan hati seniornya itu. Membawakan bekal, menyemangatinya saat bermain basket, menemaninya di ruang lab ketika mendapat tugas menjaga lab. Mungkin bukan menyukai saja namun sebuah obsesinya terhadap Cho Kyuhyun membuatnya semakin dalam.

Sampai dirinya sudah tidak bisa menahan rasa sukanya ini, ia menyatakan perasaannya pada seniornya itu. Sayangnya takdir berkata lain, Kyuhyun yang di anggapnya sangat baik di banding namja-namja lain, ia menolaknya secara mentah-mentah dan membuat hati Jisoon seolah tercabik begitu saja.

Perasaan gamang merasuki dirinya dan semenjak itu dia tidak pernah mau mengenal seorang namja, lebih tepat ia tidak ingin membuka hati untuk seorang namja. Ia tidak ingin mencintai ataupun di cintai. Semenjak itu ia seolah berubah menjadi Jisoon yang berbeda , dulu Jisoon yang ramah dan murah senyum.

Namun sekarang semenjak itu sampai saat ini , ia menjadi Jisoon yang dingin dan seolah tidak perduli dengan ucapan namja yang mendekatinya. Hatinya sudah beku tidak bisa di cairkan lagi dan entah kenapa ia sempat menatap bunga mawar yang membuatnya mendeskripsikan hatinya bagai bunga mawar.

Bunga mawar terlihat sangat cantik nan elok di pandang, ia pun memiliki makna mendalam. Banyak yang mengatakan kalau bunga mawar melambangkan ketulusan cinta dan romantic. Itu memang benar namun di balik itu bunga mawar pun memiliki batang yang berduri dan apabila mengenai duri tersebut akan  terluka.

Sama seperti hati Jisoon , hatinya sudah tertutup dan bak batang berduri yang tertanam dalam hatinya. Cinta memang rumit dan tidak semua cinta akan berakhir bahagia bak sebuah dongeng.

Haruskah ia membuka hatinya kembali untuk orang lain? Bertahun – tahun ia mengubur rasa cinta yang baginya itu hanya omong kosong. Tidak ada cinta tulus baginya, karena mencintai tulus pun akan merasa sakit di ujung cerita.

Ia kembali menatap Jongin yang masih berdiri tegap melawan hujan membasahi tubuhnya “Babo” gumamnya pelan. Namun ia cukup sadar usaha namja ini memang tidak dapat di katakan main-main, hanya saja Jisoon berpikir namja playboy bagaimana bisa menyukainya dengan mudah seperti ini.

 

– Flashback-

Jisoon tengah asik menikmati makan siangnya, sendirian itu yang selalu di lakukan Jisoon. Karena kesendirian membuatnya lebih nyaman, terlebih lagi ia memang tidak menyukai keramaian. Walau ia sadar di kantin ini terlihat ramai.

Terlebih lagi dengan beberapa namja popular di kampus ini yang memang berada di kantin membuat keadaan semakin ramai. Terlihat jelas dari kasat mata Jisoon dimana namja yang memang terkenal dengan keplayboy-annya tengah berkumpul dengan teman-temannya serta berberapa yeoja tidak lain tidak bukan fans mereka.

Jisoon tidak memperdulikan hal itu, sambil memakan-makanannya Jisoon sesekali membaca novel . Sesaat ia  menatap setangkai bunga mawar merah yang memang selalu ia bawa, tidak jarang teman-teman Jisoon mengatakan dirinya aneh. Sayangnya tanggapan mengenai keanehannya itu hanya angin bagi Jisoon, karena ia tidak akan pernah menghiraukannya.

“Bunga mawar memang sangat indah dan cantik, sama sepertimu Rose” Jisoon cukup menyadari ucapan seseorang di hadapannya dan membuatnya terarah pada orang itu. Ia cukup sadar siapa yang sekarang berada di hadapannya, namun bagaimana bisa namja ini menghampirinya begitu saja kalau tidak ada maksud.

Jisoon menatap kearah teman-teman namja ini yang seolah mengisyaratkan ‘Rayu dia’. Ya, namja yang  sekarang ada di hadapan Jisoon adalah Kim Jongin seniornya yang berada di tingkat 6. Namja ini sangat terkenal dengan sikap playboynya, sering merayu yeoja dan berganti-ganti pacar.

Namun Jicoon sadar akan ucapan namja ini yang berusaha merayunya ‘aku tidak bodoh seperti yeoja lain yang dapat kau bodohi Kim Jongin’ Batin Jisoon. Ia menatap datar Jongin yang tersenyum merayu padanya.

“Kau sangat menyukai bunga mawar? Aku sering melihatmu membawa bunga mawar merah dan banyak anak di kampus ini yang menganggapmu aneh” ujarnya memulai pembicaraan, Jisoon menyadari banyak anak mata yang tengah menatap kearahnya terlebih lagi dengan para fans namja ini, tapi tidak di hiraukan olehnya.

“Kau aneh? Namun itu tidak berlaku bagiku, karena yeoja yang membawa bunga mawar akan terlihat sempurna bagiku” mendapati ucapan Jongin, Jisoon hanya menatap datar namja ini ia tahu Jongin tengah merayunya “Aku pun sangat menyukai bunga mawar, karena bunga mawar melambangkan cinta yang tulus”

Jisoon tidak beraksi apa-apa tatapannya datar membuat namja yang bernama Jongin ini sedikit bingung, karena biasanya kalau yeoja yang ia godai akan senyum-senyum malu padanya. Namun yeoja yang ada di hadapannya ini tak bergeming sedikitpun.

‘Sayangnya aku tidak melihat dari keindahan bunga ini” ucapan Jisoon membuat Jongin mengerutkan alisnya “Perhatikanlah batangnya yang berduri, jangan berbicara apa-apa jika kau tidak mengerti maksud semua itu” Jisoon menarik sebelah bibirnya dan berlalu meninggalkan Jongin.

Mendapati hal ini Jongin hanya diam membeku mencerna ucapan Jisoon tadi, ia berusaha merayu Jisoon namun apa yang di dapat timpalan kata-kata yang membuatnya bingung. Sungguh baru kali ini ada seorang yeoja yang acuh dengan rayuannya.

“ckck Kau di cueki yeoja itu? Jangan heran dia memang yeoja aneh Jongin” ujar salah satu teman namja ini yang sudah ada di sampingnya.

“Sehun .. Bunga mawar? Batang yang berduri?” mendengar ucapan Jongin teman-temannya hanya mengerutkan alis mereka, mereka tidak mengerti apa yang di bicarakan Jongin saat ini.

****

Don’t trust me too much

You don’t know me that well yet

So just run away run away

I said ooh ooh ooh

Don’t love me

You don’t know me that well yet

I said run away just run away

Don’t come to me

 

-2 minggu kemudian-

Semenjak kejadian itu Kim Jongin ia cukup penasaran dengan sosok Lee Jisoon, entahlah yang jelas kata-kata Jisoon dan sikap acuh Jisoon membuatnya penasaran pada yeoja ini. Sudah dua minggu Jisoon selalu di dekati oleh Jongin.

Jongin terus berusaha merayu Jisoon dengan kata-kata gombalnya. Namun Jisoon tetaplah Jisoon yang tidak mudah mempercayai ucapan namja, ia selalu mengabaikan gombalan Jongin dan menganggap angin lalu baginya.

Jisoon tengah menatap air mancur yang ada di taman kampusnya sambil membaca novel , ia memang sangat suka membaca terlebih lagi novel. “Tempat ini memang sangat nyaman, terlebih lagi kalau ada yeoja cantik sepertimu” Jisoon sadar kehadiran seseorang disampingnya.

Ia sudah tahu pemilik suara itu, Kim Jongin namja satu ini tidak jera memberi rayu bualan pada Jisoon. “Aku juga menyukai taman ini, sangat indah sama sepertimu” Jongin memberikan senyum terbaiknya pada Jisoon.

Namun Jisoon mengerutkan alisnya saja dan cukup bosan dengan tindakan namja ini padanya “Berhenti menggombal, karena aku tidak menyukai sebuah gombalan” tekan Jisoon membuat Jongin terdiam sebentar.

“Wae? Hanya kau yeoja yang tidak termakan rayuanku Lee Jisoon, kau membuatku penasaran” ujar JOngin penuh rasa ingin tahu pada Jisoon.

“Berhenti dengan rasa penasaranmu itu” ujar Jisoon, namun namja di sampingnya ini hanya tersenyum tipis.

“Tidak bisa, sepertinya rasa penasaran ini sudah lebih dari sebuah penasaran” Jisoon menatap tajam Jongin, ia cukup mengerti maksud ucapan namja ini.

“Jangan asal berbicara, Karena kau belum tahu tentang diriku yang sebenarnya” ujar jisoon, Jongin pun mengerti maksud ucapannya.

“Aku tidak asal berbicara, karena aku pun akan mencaritahumu dan mengenalmu jauh lebih dalan” mendengar ucapan Jongin yang terkesan serius membuat Jisoon mengehelakan nafas beratnya.

“Tsk! Konyol” tanpa permisi Jisoon meninggalkan Jongin, namun dengan cepat Jongin mengikuti arah yeoja ini melangkah seolah tidak ingin kehilangan jejaknya..

****

Jisoon tengah duduk di halte bus , ia menatap lurus jalanan menunggu bus yang berhenti pada tempatnya. Namun matanya tertuju pada sebuah mobil mewah dan ia sadar siapa pemilik mobil tersebut.

Seketika itu seorang namja keluar dari mobil itu yang  tidak lain tidak bukan adalah Kim Jongin, saat itu Jisoon langsung berdiri .

Mendapati Jisoon yang berdiri, Jongin tersenyum puas “Ji—“ ucapan JOngin tertahan karena ia sadar Jisoon berdiri bukan untuk menghampirinya melainkan langsung menaiki sebuah bus yang sudah berhenti.

Jisoon pun cukup  menyadari tindakan JOngin tadi namun cepat di hiraukannya, karena sudah kesekiankalinya ia menghindari namja ini namun Jongin selalu menghampirinya. Ketika bi situ melaju Jisoon hanya menatap lurus kearah depan tanpa menatap kearah Jongin.

Padahal namja ini tengah menatapnya pilu, namun senyuman tegar mengembang pada bibir namja ini.

“Kau sudah menyukainya Jongin?” ujar temannya yang menghentikan mobilnya karena mendapati Jongin berdiri di halte sambil menatap bus.

“Ne Sehun, aku sangat menyukainya , sangat menyukainya” jelas Jongin membuat teman-temannya ini saling bertukar pandang.

****

 

Jisoon baru saja keluar dari kelasnya, namun di buat kaget dengan kehadiran Jongin yang sudah ada di depannya.

“Jisoon-ah, kita pulang bersama” seru Jongin langsung meraih tangan Jisoon, namun dengan cepat Jisoon melepaskannya membuat Jongin menatapnya “Wae?”

Jisoon cukup sadar pandangan para mahasiswa lainnya, karena sudah kesekiankalinya Jongin bertindak seperti ini dan ia selalu di pandang heran oleh mahasiswa lainnya.

“Aku bisa pulang sendiri” Jisoon berjalan meninggalkan Jongin, namun namja satu ini menyetarakan langkahnya dengan Jisoon.

“Aku hanya ingin mengantarkanmu dan ingin tahu rumahmu” Jisoon menatap tajam Jongin.

“Kau tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri” Jisoon mempercepat langkahnya, namun Jongin kembali menyetarakan langkah Jisoon.

“Wae? Jongin oppa ingin mengantarkanmu pulang Jisoon-ah” ujar Jongin dengan lembut.

Jisoon menatap tajam Jongin “Berhenti bersikap seperti ini Kim Jongin” jujur Jisoon merasa risih dengan sikap Jongin yang seolah-olah mengejarnya.

“Wae? Apa aku salah mulai menyukaimu?” ucap Jongin cukup membuat Jisoon kaget dengan pernyataannya, namun dengan cepat Jisoon menetralisir keadaan.

“Gheure kau salah besar! Jangan menyukaiku dan jangan datang padaku, karena aku akan membuatmu terluka” penuh penekanan Jisoon mengucapkan kalimat tersebut membuat Jongin diam membeku,  sesaat Jisoon pergi meninggalkan Jongin.

“Aku tidak akan akan menyerah Lee Jisoon” setengah berteriak Jongin mengucapkan kalimat tersebut.

 

****

Pagi yang cerah Jisoon sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kampusnya, namun tepat ia menuruni anak tangga rumahnya ini dirinya di buat kaget dengan seseorang namja yang duduk sambil berbicara dengan ibunya.

“Eoh? Jisoon-ah , kau sudah rapi rupanya. Jongin temanmu sudah menunggumu” Ujar Ibunya menunjuk pada namja disampingnya yang tidak bukan Jongin , namun Jisoon menatap tajam pada namja itu. Bagaimana ia bisa tahu rumahnya ini . Batin Jisoon

“Ahjjuma, aku dan Jisoon pergi dulu ya?” pamit Jongin dan meraih tangan Jisoon.

“Ne, hati-hati”

Tepat di depan rumah Jisoon , ia semakin menatap tajam Jongin “Wae? Kenapa kau bisa berada disini?”

“Tentu saja aku menjemputmu” tawa renyah Jongin sambil membukakan pintu mobilnya untuk Jisoon “ Cepat naik”

Jisoon tidak bergeming ia tetap menatap tajam namja ini “Bagaimana kau tahu rumahku?” Jongin terlihat memutar bola matanya.

“Kau tidak perlu tahu yang jelas aku selalu ada di dekatmu”

“Kau membuntutiku?” Jisoon semakin menatap tajam Jongin

“Aku harus mencari tahu semua tentang yeoja yang kusuka ini dan sebaiknya kau cepat naik. Kau tidak ingin terlambatkan” mungkin kali ini Jisoon harus menuruti ucapan Jongin, karena ia sadar kalau dia sudah cukup telat ke kampus.

Tidak ada kata yang terucap dari mulut Jisoon di sepanjang perjalanan, karena yang lebih banyak bicara adalah Jongin. Sampai di dekat halte Jisoon meminta Jongin untuk menurunkannya dihalte, awal Jongin menolak namun Jisoon menatap tidak suka dengan penolakan Jongin. Alhasil ia menuruti keinginan Jisoon.

Namun ia pun cukup senang, setidaknya ini langkah awal yang baik untuk Jongin.

****

Don’t look at me with that light glance

Don’t speak of love easily

If you want my heart, you need to take my pain too

Because you will be pricked by my thorns someday

 

 

Hari demi hari

Minggu demi minggu

Bulan demi bulan

Perubahan seorang Kim Jongin sangat drastic, kenapa? Ia berpusat pada satu yeoja saja yaitu Lee Jisoon, entah apa yang ada di pikiran namja ini. Sekian lama ia mengikuti seorang Jisoon  dan selalu mengajak bicara Jisoon , namun si lawn bicara selalu menjawab singkat dan terkadang ucapannya tidak jawab sama sekali.

Bahkan ia tidak memperdulikan para yeoja-yeoja yang menghampirinya, entahlah pikirannya terpusat pada satu yeoja saat ini.

Jisoon tengah berada di perpustakaan, karena memang Jisoon menyukai tempat ini dan banyak buku yang dapat di bacanya. Waktu luang sebelum masuk kelas Jisoon lakukan untuk membaca..

Acara membacanya cukup tidak focus karena banyak anak mata tengah menatap kearahnya dan ini untuk kesekian kalinya. Kenapa?

Karena Jongin tengah menatapnya yang asik membaca dan sambil tersenyum cerah ia memandangi Jisoon, tanpa menyadari anak mata tengah menatap kearah mereka. Sekian kali merasakan hal ini Jisoon selalu mengabaikan, namun kali ini sepertinya ia sedang tidak mood.

“Berhenti menatapku!”

“Wae? Bukan biasanya kau tidak pernah complain”

“Lihat sekelilingmu” saat itu Jongin melirik beberapa anak kampus dan yeoja yang memang menjadi fansnya itu menatap kearah mereka. Namun Jongin tidak memperdulikannya.

“Bukannya ini hal yang biasa dan kau selalu mengabaikannya”

“Sudah ku bilang berhenti, karena aku akan lebih menyakitimu” mendengar ucapan yeoja di hadapannya ini, Jongin hanya tersenyum.

“Aku tidak perduli, aku hanya menginginkan hatimu” Jisoon diam enggan membalas ucapan Jongin , karena ia sadar apabila ia menanggapi akan menjadi panjang arah pembicaraan Jongin.

****

Jisoon yang sibuk memperhatikan dosen tiba-tiba di buat kaget, begitu juga dengan seisi kelas ini. Kenapa? Sebuah balon udara yang cukup besar tepat berada di luar jendela kelasnya dan yang membuat Jisoon membulatkan matanya adalah

‘LEE JISOON SARANGHAE’

Sebuah tulisan besar tersebut tertera jelas pada balon itu “Omo Jisoon ada yang menyatakan cinta padamu” seru beberapa teman sekelasnya.

“JISOON-AH SARANGHAE” Teriak seseorang di luar jendela dan membuat semua melihat keluar jendela. Namun Jisoon tidak berniat untuk melihatnya karena ia sudah tahu siapa yang berani melakukan hal ini.

“JISOON-AH SARANGHAE”

Kembali teriakan bergema dan membuat para yeoja di kelas ini berteriak histeris “Omo Jongin oppa sangat gentle sekali”

“Jongin oppa sangat keren”

Sudah dapat di duga kalau orang itu Jongin dan semua mata tertuju pada Jisoon yang masih diam di kursinya “Ya, Jisoon apa kau tidak berniat untuk melihatnya?” beberapa teman yeoja menarik tangan Jisoon untuk melihat Jongin di luar jendela .

“JISOON-AH SARANGHAE”

Jisoon melihat jelas Jongin yang berteriak dengan semangat dan melambaikan tangannya mendapat Jisoon yang berdiri menatapnya. “SARANGHAE” Teriaknya kembali membuat sorak soray menggema, namun entah hati Jisoon terbuat dari baja hatinya seolah tak bergetar sedikitpun.

“Tunggu apa lagi Jisoon, turunlah ke bawah dan katakan padanya NADO SARANGHAE” seru teman-temannya , dengan malas Jisoon meraih ranselnya dan turun kelantai dasar.

“TERIMA, TERIMA, TERIMA”

Teriakan itu menggema jelas di telinga Jisoon ketika ia menuruni anak tangga dan teriakan tersebut semakin menjadi-jadi karena saat ini Jisoon berada di hadapan Jongin membuat senyum mengembang pada namja ini “Saranghae, Jeongmal saranghae Jisoon-ah”

Jisoon tidak banyak berbicara, ia berjalan medekati kearah Jongin dan memegang pundak kekar Jongin. Sedikit berjinjit Jisoon berbisik terpat di telinga Jongin “Jangan berbicara tentang cinta dengan mudahnya, karena aku tidak suka !” Tekan Jisoon membuat Jongin menatap kearah Jisoon.

“Aku tulus mencintaimu , aku menginginkan hatimu dan menginginkan cintamu” Jongin pun  membalas bisikan Jisoon.

“Jika kau ingin hatiku, kau harus merasakan rasa sakitku juga. Karena cintaku seperti mawar merah terlihat cantik namun berduri dan duri itu akan menyakitimu Kim Jongin” Jisoon menaruh sekuntum mawar merah berduri tepat di tangan  Jongin.

Jongin terdiam mencerna ucapan Jisoon, ia baru sadar maksud ucapan Jisoon padanya dulu adalah ini durinya yang tajam akan membuat terluka. Namun ucapan Jisoon itu menyadarkan Jongin untuk tetap bertahan pada Jisoon.

Sesaat ia sadar kepergian Jisoon bergitu saja, namun dengan cepat Jongin meraih tangan Jisoon dan menghadap kearahnya. Tanpa pikir panjang Jongin langsung mendaratkan ciuman lembut di bibir Jisoon, ia menghisap bibir bawah Jisoon penuh kelembutan.

Sedang Jisoon membulatkan kedua matanya dan mendorong tubuh Jongin darinya.

PLAKKK

Satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus Jongin “MICHESSEO” Teriak Jisoon tidak percaya dengan perlakuan Jongin ini.

“Gheure MIchesseo ! Aku tidak akan menyerah Lee Jisoon , aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan duri itu tidak akan membuatku goyah untuk tetap mencintaimu” Jisoon diam tanpa kata, ia enggan berbicara apa-apa pada Jongin dan berlalu meninggalkannya yang masih beridiri “Aku tulus Jisoon, aku tulus” gumam Jongin menatap punggung Jisoon.

Menyaksikan hal ini semua cukup kecewa, tindakan Jisoon tadi menandakan JOngin sudah di tolak olehnya. Teman –teman Jongin pun menepuk pundak sahabatnya ini memberi ketergaran.

****

 

Seeing your confidence makes me feel so bad for you

Your confident footsteps toward me looks so pitiful today

Emotions? That’s an extravagance to me

Love? That’s Obsession’s best friend

So run away just run away

Cuz you and I must come to an end

 

 

Jisoon baru saja memasukan buku – buku miliknya kedalam ransel, dimana semua mata kuliah sudah selesai hari ini dan begegas untuk pulang.

“Tadaaaaaa” tiba-tiba satu coklat batangan berada tepat di hadapan Jisoon dan ia tahu siapa yang menaruh coklat itu di hadapannya “Kau sangat suka coklat kan ?”

“Jangan sok tahu Kim Jongin” dengan nada dingin Jisoon ingin meninggalkan namja ini. Semenjak kejadian itu sesuai dengan ucapan Jongin ‘ia tidak akan menyerah’ rupanya benar. Meski Jongin sudah di tolak oleh Jisoon, Jongin seolah tidak perduli.

Kenapa?

Karena ia terus mengikuti Jisoon kemanapun berada, terlebih lagi Ia sering memberikan boneka teddy bear dan makanan kesukaan Jisoon. Ia pun heran bagaimana namja ini tahu kesukaannya dalam waktu yang cepat.

“Tentu saja aku tahu Jisoon, jangan mengelak. Karena aku sudah mencari tahu tentangmu semuanya” Jisoon menahan langkahnya dan menatap Jongin dingin.

“Tidak sepenuhnya kau mengetahui aku Jongin, mungkin kalau kesukaan kau dapat dengan mudah mencari tahu dari adikku Junhong. Tapi selebihnya kau tidak tahu apa-apa tentang aku”

Jongin cukup terdiam sebentar mencerna ucapan Jisoon, namun itu hanya sesaat karena Jongin menikuti gerak langkah Jisoon sekarang.

Memang Jisoon tahu Jongin sering ke rumahnya dan bertemu dengan Junhong adiknya. Meski yang ingin di temui adalah Jisoon, jangan harap Jisoon akan bertahan lama apabila di dekat Jongin. Karena ia akan meninggalkan namja ini begitu saja dan selanjutnya di temani Junhong adiknya.

****

Seiringnya waktu berjalan Jongin semakin menjadi-jadi, ia lebih sering ke rumah Jisoon. Bukan sekedar untuk bertemu Jisoon, melainkan mengobrol dengan orangtua Jisoon seolah mendekatkan diri pada keluarga Jisoon.

Memberi makanan kesukaan Jisoon, mengantar jemput Jisoon dan bahkan di kampus namja satu ini tidaka akan lepas untuk menemani seorang Jisoon.

Sekarang Jisoon baru saja menuruni anak tangga rumahnya, ia di buat kaget karena Jongin sedang berbicara seru dengan keluarganya seolah berbagi cerita.

“Eoh? Jisoon noona, lihat Jongin hyung membawa banyak makanan untukmu dan untuk kita juga” Seru Junhong sambil menunjuk pada bingkisan yang di bawa Jongin.

“Ne, Jisoon. Jongin sudah terlalu baik dan sering membawa makanan untuk kita, dia namja yang baik” puji ibu Jisoon pada Jongin, namun reaksi Jisoon seperti biasa ‘datar’.

“Jongin ingin bertemu denganmu, kau harus menemaninya” ujar ayahnya menimpali.

“Jisoon-ah, aku membawa ice cream kesukaanmu” Jongin mengeluarkan satu kotak ice cream coklat kesukaan Jisoon.

Jisoon tidak bergeming dengan ucapan Jongin, namun sesaat ia berkata “Aku sedang banyak tugas Jongin, sebaiknya kau pulang saja” tanpa berkata apa-apa lagi Jisoon kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Mendapati hal ini keluarga Jisoon sontak menatap Jongin yang memberikan wajah kecewanya “Ghwencana hyung, nanti akan ku berikan pada noona dan sebenarnya aku yakin ia sangat senang” Ujar Junhong menghibur Jongin.

Jongin hanya tersenyum dan sadar kalau Junhong berusaha menghiburnya. Hal ini sudah sering di dapat Jongin dan ia pun sadar benar mendapatkan Jisoon sangat sulit.

****

                Jisoon tidak masuk kuliah karena demam melanda dirinya, seharian ini ia hanya terbaring lemas di kamar. Dengan berat ia membuka matanya, karena benar-benar kepalanya terasa sangat pening kali ini.

“Eoh? Jisoon-ah kau sudah bangun” suara itu Jisoon sangat mengenalnya dan bagaimana bisa namja itu berada di kamarnya saat ini.

“Jongin, bagaimana bisa kau berada disini?” Jisoon sadar siapa yang sekarang tengah duduk dekat ranjangnya ini , Jongin tidak menjawab ucapan Jisoon karena ia menaruh kedua tangannya tepat di pipi dan kening Jisoon.

“Kau demam sekali” begitu jelas di mata Jisoon kalau Jongin menunjukkan rasa khawatirnya “Aku mencarimu seharian di kampus, namun aku menelpon Junhong dan ternyata kau sakit. Kenapa tidak memberitahuku?”

Penuh rasa khawatir Jongin mengucapkan kalimat itu, sedang Jisoon hanya diam saja membaca ketulusan mata Jongin “Kau tidak usah repot-repot, karena aku tidak apa-apa”

Jongin menatap tajam Jisoon “Demam seperti ini bagaimana bisa kau mengatakan tidak apa-apa, sudah sekarang makan bubur ini lalu minum obat. Aku tidak ingin melihat yeoja yang ku cinta menderita seperi ini”

Tanpa ijin Jisoon, Jongin segera menyuapinya dengan tulus. Sedang Jisoon tidak dapat berbuat apa-apa ia tidak berdaya dengan keadaannya kali ini, ia hanya dapat mengikuti perlakuan Jongin saat ini.

Tanpa sadar Jisoon menatap lekat Jongin, namja ini memang tulus adanya ‘Kim Jongin melihat kepercayaan dirimu ini membuatku merasa buruk untukmu, percaya dirimu ini membuat dirimu terlihat menyedihkan. Jebal jangan mengharapkan diriku Jongin, pergilah dari kehidupanku yang penuh duri ini. Jebal’ batin Jisoon menatap miris namja di hadapannya ini.

****

Every rose has its thorn

Every rose has its thorn

Every rose has its thorn

 

Malam ini Jisoon di ajak makan malam bersama Jongin, awal Jisoon tidak mau namun di paksa oleh orangtuanya untuk ikut ajakan Jongin. Ia mau tidak mau mengikuti ucapan orangtuanya itu meski sebenarnya ia tidak ikhlas.

Suasana restaurant yang tengah di singgahi mereka sangat bernuansa romantic, terlebih lagi mereka berada di balkon restaurant langit indah penuh bintang terlihat jelas dari kasat mata mereka.

“Ottokhe? Makanannya kau suka kan?” ujar Jongin memulai pembicaraan, Jisoon hanya mengangguk tidak mengucapkan kalimat apapun. Hal yang biasa di dapat Jongin ia hanya tersenyum walau sebenarnya cukup miris mendapati perlakuan seperti ini.

Di sela makan malam, alunan music klassik mengalun merdu membuat keindahan malam semakin sempurna.  Keadaan restaurant ini mendadak gelap seketika membuat aura romantis semakin terasa, tiba-tiba dari jarak yang cukup dekat .

Tepatnya kolam renang yang memang berhadapan dengan balkon ini , tiba-tiba terang dengan sebuah tulisan indah yang sepertinya sudah di rangkai.

Jisoon yang menghadap ke kolam renang cukup kaget. Kenapa? Karena di kolam renang itu terdapat lilin yang mengapung dengan hiasan bunga di sampingnya dan terdapat sebuah tulisan ‘I LOVE U LEE JISOON’.

Jisoon dia tersentak seketika, namun kembali di buat kaget Jongin meraih tangan Jisoon “I Love U Lee Jisoon” ia sadar hal itu adalah ulah Jongin.

Jongin mengenggam erat tangan Jisoon dan menatap lekat yeoja ini penuh makna “Jisoon-ah , mungkin kau bosan. Namun aku tidak akan jera karena aku sangat mencintaimu dan aku ingin kau menjadi milikku” Jongin mengeluarkan kotak kecil dan berisikan cincin cantik di dalamnya.

Mendapati hal ini Jisoon hanya diam saja, ia paham ucapan Jongin tapi ia tidak bisa “Ji—“ Belum Jongin melanjutkan ucapanya sudah di potong.

“Jongin, aku ingin pulang” mendapati ucapan Jisoon, Jongin membulatkan matanya.

“Wae? Ada yang ingin ku tunjukkan lagi padamu” ujar Jongin yang memang ingin menyanyikan lagu untuk Jisoon, walau ia hanya bisa rapp namun setidaknya sebuah rapp ini bisa mewakili perasaannya. Tapi sepetinya gagal karena Jisoon sudah berdiri.

“Aku ingin pulang” Jongin tidak bisa berbuat apa-apa karena Jisoon sudah meninggalkannya, namun Jongin tidak tinggal diam bagaimanapun Jisoon datang bersamanya dan ia pun harus mengantarnya meski tidak aka nada pembicaraan di antara mereka.

#####

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah Jisoon “Gomawo” dengan datar Jisoon keluar dari mobil dan memasuki rumahnya. Namun tepat di halaman rumahnya, Jisoon merasakan tangannya di tahan.

“Jisoon-ah” ia mendapati Jongin yang tengah menatapnya sendu “Cincin ini untukmu, ku mohon terimalah”

Jisoon menatap lekat kotak kecil yang berisikan cincin cantik itu,namun sesaat ia menatap Jongin “Berhentilah Jongin” Jisoon mendorong tangan Jongin yang memang memegang kotak kecil, Jongin mengerutkan alisnya “Jebal berhentilah bersikap seperti ini, jangan mencintaiku”

Mendengar itu Jongin menatap tajam Jisoon, tapi tanggapan datar Jisoon kembali terungkap “Pulanglah, cincin itu tidak pantas untukku” Jisoon ingin masuk kedalam rumah namun tertahan dengan ucapan Jongin.

“ Tidak pantas? Atau memang kau tidak ingin menerimanya?” Jisoon sontak menatap kearah Jongin “Tidak sadar aku bersikap seperti ini karena siapa? Karena kau Lee Jisoon, aku benar-benar mencintaimu. Tapi kau tidak pernah melihatku, berjuang untuk mendapatkan hatimu. Namun kau selalu mengacuhkanku dengan ucapanmu itu” tatapan Jongin seolah tengah mengintimidasinya.

“Kalau kau lelah maka berhentilah”

“Aku tidak lelah ! Hanya saja apa kau tidak dapat melihat segi diriku yang mencintaimu? Aku tulus mengucapkan kata cinta, dulu aku sering bermain-main cinta. Namun setelah bertemu denganmu aku mengerti akan cinta sesungguhnya dan aku merasa kau cinta pertamaku”

“Aku tidak percaya cinta” ucapan Jisoon kali ini membuat Jongin membulatkan matanya.

“Karena kau tidak merasakan! Mencintai seseorang namun tidak terlihat sama sekali oleh orang itu , malah di abaikan! Itu benar-benar terasa sakit” Tekan Jongin namun di tatap tajam Jisoon.

“Kata siapa aku tidak pernah merasakan hal tersebut. Justru karena mencintai seseorang membuatku tidak akan pernah percaya apa itu cinta!” Jisoon pun mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan.

Jongin mendekat pada Jisoon “Apa perlakuanku selama ini bukan dinamakan cinta? Aku mencari tahu tentangmu, mengikutimu seperti orang bodoh, berceloteh meski kau abaikan, itu karena apa? Karena aku benar-benar mencintaimu Jisoon, Aku tulus mencintaimu Jisoon. Apa kau tidak bisa membuka hatimu untukku sedikit saja?”

“Sejauh mana kau mencintaiku?” Jongin terdiam mendengar ucapan Jisoon, ia tidak tahu harus menjawab apa “Berhentilah, karena aku tidak akan membuka hatiku untuk siapapun” saat itu juga Jisoon meninggalkan Jongin.

Namun cepat Jongin berkata “Jisoon-ah, aku benar-benar mencintaimu. Aku akan menunjukkan kalau aku mencintaimu” mendengar hal itu langkah Jisoon tertahan kembali dan menoleh kearah Jongin “Aku akan menunggumu disini sampai kau memberikan jawaban yang pasti padaku, Jika kau menerimaku temui aku dan jika kau benar-benar tidak ingin membuka hatimu berikan mawar merah berduri itu padaku. Setelah itu aku akan menyerah mendapatkanmu”

Jisoon menghelakan napas beratnya dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah tanpa menengok kearah Jongin.

-End Flashback-

****

Jisoon kembali menatapi Jongin yang terguyur hujan, sebenarnya ini malam kedua untuk Jongin berada di depan rumah Jisoon. Pikiran Jisoon melayang – layang, sungguh ia tidak percaya lagi akan cinta. Perasaannya benar-benar gamang ia cukup miris melihat Jongin yang menunjukkan rasa cintanya itu.

Apa yang harus ia lakukan?

Ia tahu Jongin membutuhkan jawabannya! Haruskah ia membuka hatinya, hati yang sudah terkubur selama bertahun-tahun untuk tidak mencintai seseorang.

Dengan cukup berat Jisoon menghelakan napas beratnya, ia berjalan menuju balkon kamarnya dan memandang jelas Jongin dari jarak yang lumayan ini. Jisoon menutup kedua matanya entah perasaan sesak menyelimutinya.

Tanpa pikiran apa-apa lagi Jisoon melemparkan bunga mawar merah berduri kearah Jongin “Mianhae Jongin-ah, Mianhae” dengan nada tercekat dan genangan air dimana, ia mengucapkan kalimat tersebut. Ia sadar Jongin menatap yeoja ini penuh sendu.

Raut wajah Jongin pun penuh kekecewaan ia tidak percaya Jisoon akan memberikan mawar merah ini padanya dan cukup dirasakan air mata jatuh begitu saja.

“Kau benar-benar kejam noona” gumam Junhong yang menyaksikan adegan ini dan menghelakan napas beratnya.

 

Fin~

 

 

Huwaaaaaaaaaaaa GAJE FF super GAJE yang saya buat hihi #pissss

Terinfirasi dari lagu Lee Hi – Rose, maklum yah aku gak deskripsiin semuanya. Cuma berniat menyalurkan apa yang ada di lagu tersebut.

Udah gitu ending gaje gini .. maaf yahh

No bash yahh aku juga maunya Jongin bahagia, tapi mau di sesuaikan sama lagu aja .. mianhae

Zelo disini jadi adiknya Jisoon marganya jadi bukan Choi hehe

 

 

 

 

 

 

14 thoughts on “[Songfic] Rose

  1. aduh arti lagu ini memang nyelekit deh. kalo cinta udah tumbuh kan gk bisa di abaikan begitu saja, tapi kekerasan hati juga gk mudah untuk di goyahkan
    jangan mencintaiku!!! huhuhu kata yg sederhana tp punya bnyak makna

    serius ini jong in kok jadi menyedihkan bgt. mau dong jadi jisoon yg di cintai jong in sampe sgtunya, tp aku gk mau jdi jisoon yg gk peduli sama jong in

    jong in kacian kehujanan, cara menunggu sang cewek sampai keluar menemui itu benar2 romantis deh, mengungkapkan pengorbanan bgt

    suka pke banget eonni, ni lagu lee hi memang aduhai, apalagi mvnya, ekspresi dia di mv itu, great!!
    eh ad junhong nyempil, jadi adik jisoon?? wkwkwkwkw ciyee yg lagi kasmaran ma baby zelo..XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s